Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Monday, March 14, 2016

I Breathe Words. And I Eat Books.



Not literally though.. Tapi saya memang orang yang nggak bisa hidup tanpa buku. Entah sejak kapan saya suka buku, saya juga nggak ingat sih. Hanya saja saya cukup yakin influence orang tua saya yang suka membaca dan banyak membelikan buku bacaan dari kecil membuat saya suka sekali sama membaca. Mulai dari majalah Bobo, komik Donald bebek dan teman-temannya, sampai dengan buku bergambar berjudul Kisah Simi Semut (saya paling suka buku ini, jadi sampai sekarang masih ingat judulnya meskipun bukunya entah sudah pergi ke mana) dan juga kisah-kisah Nabi. Saya bukan berasal dari keluarga yang sangat berada, jadi kalau buku bacaan saya habis, saya biasanya akan mencari tempat persewaan untuk memperbanyak daftar bacaan. Sampai ketika sudah menginjak SMA, saya mulai berpikir untuk mengoleksi buku. Yes, nggak cuma baca, tapi juga koleksi. Hambatan saya waktu itu adalah uang saku yang terbatas dan harga buku yang cenderung mahal. Belum lagi saat itu saya sudah mulai mengoleksi kaset lagu dari musisi yang saya sukai. Jadi jalan satu-satunya yang bisa dilakukan selain menyewa dan meminjam buku dari perpustakaan adalah menabung. Saya masih ingat, buat beli satu buku Harry Potter saja saya harus nabung hampir dua bulan.

Setelah fase sekolah terlewati, masuk fase kuliah. Di fase ini, uang saku sedikit bertambah. Dan karena saya cukup beruntung mendapatkan beasiswa dan orang tua tetap keukeuh mau membiayai kuliah saya, berarti uang beasiswa yang saya dapatkan bisa ditabung untuk membeli barang dan kebutuhan sekunder. Selain gadget, saya mengalokasikan tabungan saya lagi-lagi untuk membeli buku. Dan semakin bertambah lah koleksi buku saya, sampai-sampai Bapak dan Ibu di rumah terheran-heran kenapa saya hobi sekali membeli buku padahal sudah jelas kamar saya nggak ada space lagi untuk menyimpannya. Tapi yang namanya hobi, siapa sih yang bisa melarang? Toh membelinya juga pakai uang saya sendiri. Dan saat saya sudah bekerja pun, saya semakin bahagia karena saya bisa mengalokasikan gaji saya per bulan untuk beli buku. Dan bukannya semakin surut, kebiasaan saya yang satu ini malah semakin menjadi-jadi.

Apa sih enaknya beli buku? Banyak teman sekantor saya yang bertanya demikian. Mereka beranggapan bahwa membeli buku itu “useless”, apalagi ketika saya bisa meminjam buku yang sama dari orang lain. Bahkan tidak jarang dari mereka yang merasa bahwa akan lebih baik jika uangnya dibelikan makanan. Tapi menurut saya, membeli buku = investasi. Saya lebih royal menghabiskan uang untuk beli buku daripada membeli makanan yang sekali makan langsung habis.  Saya lebih suka pergi ke toko buku daripada wisata kuliner ke tempat-tempat yang menyajikan aneka hidangan baru yang sekarang sudah semakin aneh-aneh jenis dan namanya. Dan saya lebih sering menunggu paket kiriman buku daripada baju atau tas atau sepatu dan barang-barang lainnya. Bukan berarti saya tidak suka makan atau belanja barang, tapi kalo ditelusuri, “Achilles heel” saya adalah “buku”. Ke mall, yang disambangin pertama kali toko buku. Ke bandara juga begitu. Saking seringnya beli, beberapa bulan sekali, saya bisa mengirimkan satu kardus koleksi buku saya yang sudah dibaca dari kosan ke rumah saya di Jogja supaya ke depannya masih ada space buat saya menyimpan buku di kamar rantauan yang space-nya mepet itu.
Saya suka excitement-nya membuka buku baru yang masih dibungkus plastik (dengan wangi khasnya yang tidak tergantikan itu), menelusuri cover dan kertasnya dengan tangan saya; merasakan teksturnya serta menemukan jawaban apakah material cover-nya sesuai dengan prediksi saya. Dan saya orang yang sangat menyayangi buku-buku yang saya beli sampai-sampai setiap orang yang akan meminjam akan saya “kuliahi” terlebih dahulu dengan hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat mereka meminjam buku saya, termasuk aturan yang saya terapkan sendiri dimana buku saya hanya boleh dipinjam ketika saya sudah selesai membaca atau minimal sudah saya beli selama 1-2 bulan. Crazy, right? But that’s how much I love my books. Well, lebih tepatnya protektif.

Saya punya bayangan yang agak gila untuk mewariskan buku-buku yang saya miliki kepada anak saya kelak. Selain keinginan untuk memiliki perpustakaan pribadi suatu hari nanti, saya merasa bahwa bisa jadi ketika nanti anak saya sudah besar (katakanlah), pasti akan ada buku-buku yang sudah tidak ada diproduksi lagi (atau sudah sangat langka). Kalau saya punya, pasti bakalan jadi surga buat mereka. Dan yang paling keren, mereka bisa meneruskan koleksi bukunya dari tahun ke tahun, yang nantinya akan semakin banyak dan semakin banyak. How cool is that? :D

Dengan akses internet yang sangat gampang jaman sekarang, saya juga lebih suka memesan buku secara online. Karena disamping saya tidak ada waktu banyak untuk survey langsung ke toko buku, membeli buku secara online memiliki banyak nilai plus, termasuk banyak diskon yang ditawarkan. Dan selain buku konvensional yang berwujud buku, saya juga suka membaca buku dalam bentuk digital. Bahkan akhir-akhir ini malah sering menghabiskan waktu membaca e-book dibandingkan dengan buku normal. Kenapa? Apakah saya beralih ke e-book karena lebih murah? Enggak juga sih.. Lebih karena kepraktisannya saja. Selain bisa baca buku dimana pun dan kapan pun lewat HP, akan kesulitan buat saya menenteng buku kemana-mana karena mostly buku yang saya baca berupa novel yang cenderung tebal. Bahkan terkadang kalau saya sudah membeli versi hard copy-nya, saya akan mencari versi e-booknya supaya sewaktu-waktu bisa dibaca. Dan kadang kebalikannya, kalau saya baca e-book dan suka banget sama ceritanya, saya akan pastikan untuk membeli versi hard copy-nya. Atau bisa jadi malah beli dua versi hard copy; bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Ini termasuk perilaku yang kata teman-teman saya sudah lebay.
Tapi pada akhirnya hal inilah yang membuat saya menjadi hoarder; kebiasaan untuk membaca buku hard-copy maupun e-book. Kenapa? Karena to-be-read saya jadi semakin banyak. Sedangkan saya yang masih menjadi kuli kantor ini suka susah mendapatkan waktu luang untuk membaca. Belum nanti membagi waktu luang antara membaca dengan menonton film atau series favorit saya. Rasanya saya jadi seperti pengemis waktu yang nggak terima kalau sehari hanya ada 24 jam. Terkadang pulang kantor pun kalau sudah capek rasanya sayang banget kalau langsung tidur, jadi pada akhirnya harus memanfaatkan waktu untuk bisa lebih produktif.

Isn’t it exhausting? 
Not really.. Karena saat saya membaca, saya akan lupa masalah yang saya alami, apalagi kalau saya suka banget sama bukunya. Buku adalah sarana saya belajar untuk lebih berempati terhadap semua karakter (mau baik, jahat, grey area, semuanya lah). Saya bisa melihat pola pikir mereka dan karena background pendidikan (dan pekerjaan) saya adalah psikologi, hal ini menjadi sangat membantu, terutama untuk bisa lebih memahami latar belakang perilaku dan alasan mengapa seseorang melakukan hal tertentu. Sering kok saya sesenggukan habis menyelesaikan satu buku saking menghayatinya, bahkan bisa terdiam bermenit-menit cuma mikirin cerita/endingnya. Pernah juga saya merasa muak dengan karakter yang penjadi penutur cerita bukunya sampai-sampai saya berpikir pengen stop baca dan lanjut ke buku lain, tapi akhirnya saya teruskan (saking kerennya si pengarang membuat tokohnya sangat dislikeable). Buku juga media yang sangat perfect untuk mencoba menjadi orang lain (ya, alasan utama saya cinta sekali dengan buku); karena buku adalah escapism saya, dan setiap selesai membaca satu buku, saya merasa menjadi setidaknya 1% lebih komplit dari sebelum saya membaca buku itu, terutama karena saya serasa mendapatkan pengalaman baru. Belum lagi fakta bahwa dengan membaca apapun saya bisa mendapatkan informasi yang berguna, meskipun terkesan remeh temeh sekalipun. Trust me, I’ve been there. Hal ini terkesan sangat cliché tapi pada faktanya memang benar begitu. Sering saya menemukan pertanyaan, pernyataan, argument, atau hal lainnya yang membuat otak saya merefer ke buku tertentu dan informasi “tidak penting” di dalamnya yang sesuai dengan topik yang dimaksud. Dan ketika saya tahu hal itu sedangkan orang lain tidak, rasanya seperti menjadi orang terkeren (saat itu).

Jadi, saya suka heran dengan orang yang sama sekali nggak suka membaca. Tapi memang tipe orang beda-beda sih ya.. Yang penting saya bersyukur bisa menjadi orang yang mengapresiasi dan menikmati kegiatan “membaca” seperti bernafas. Effortless dan natural. Oke, kecuali textbook tapi.. XD

Thursday, December 31, 2015

Renungan Singkat di Akhir Tahun

Ya.. Ya.. Saya memang hampir bisa dibilang blogger murtad gara-gara kelamaan nggak nulis di blog. Tapi di penghujung tahun ini, saya jadi kepikiran sesuatu. 

Masalah hidup dan pekerjaan.
Ya, ketika dulu menjadi mahasiswa, saya nggak berpikir saya akan bekerja di bidang yang saya tekuni sekarang. Saya bahkan sama sekali tidak menyangka saya bakal terjun ke dunia PIO. Tapi nyatanya, jalan yang saya hadapi saat ini berkata demikian. Jauh berbeda dengan idealisme saya semasa kuliah dulu dimana saya "sukanya" adalah mata kuliah yang berbau klinis dan sosial. Sisanya? Nggak mbakat rasanya waktu itu. Terbukti juga dari nilai makul Pendidikan dan PIO yang cenderung di bawah yang lain. *sighs
Tapi toh sekarang apabila saya diminta masuk ke ranah klinis, saya malah bakalan kelimpungan. Bukan apa-apa, beberapa tahun mencoba mengenal diri sendiri dengan lebih dalam, saya tahu saya bukan orang yang sabaran. Dan saya bukan orang yang pas buat mencurahkan perhatian seperti di klinis. Mungkin kalo saya masuk Psikologi Klinis, saya bisa stress (walaupun belum bisa dibuktikan juga sih, soalnya kan belum pernah menjalani).

Empat tahun menjadi asesor adalah perjalanan yang seperti roller coaster buat saya. Saya masih ingat waktu pertama kali masuk kerja, saya bener-bener nggak bisa ngapa-ngapain. Bahkan presentasi aja deg-degannya minta ampun di depan bos-bos saya. Saya masih cupu-cupunya. Masih kurang PD, nggak ngerti apa-apa, dan apa yang saya punya di kepala hanya teori yang bahkan kalau diminta mengaplikasikan pun saya bakalan kelabakan. Gimana enggak? Praktikum yang saya lakukan itu jauh sangat berbeda dengan tuntutan di kantor. Dari titik awal itu saya digembleng, diajari langkah-langkahnya menjadi asesor dari nol, dari mulai prinsip melakukan observasi, interview, skoring, praktek interview (yang astaghfirullah panjang sekali tahapannya supaya bisa menjadi interviewer yang maknyus di competency based), dan akhirnya diarahkan pelan-pelan menjadi PIC proyek yang langsung berhubungan dengan klien dan bertanggung jawab sama prosesnya dari awal sampai akhir. 
Ada momen-momen "saya rasanya gila" di situ. Ada momen-momen burn-out karena saking numpuknya pekerjaan dan sedikitnya orang, rasanya ini kepala dan badan mau rontok dan tidak sanggup bertahan. Setiap hari ada proses pembelajaran dan pencarian pengalaman. Setiap komunikasi yang saya lakukan dengan klien adalah langkah saya untuk belajar dan mencermati apa yang harus saya lakukan di situasi-situasi tertentu. Ya, pengalaman itu nggak bisa bohong. Pengalaman adalah titik dimana kita bisa tahu kalau klien nanya ini jawabannya apa, atau kalau mereka bargain seperti ini kira-kira apa yang harus kita tawarkan, dll. Dan saya juga bisa merasakan bedanya; dulu yang awalnya saya culun banget sampai-sampai semua langkah harus dikonfirmasikan dan dikoreksi si bos dulu, sampai sekarang yang kewenangan hampir selalu diberikan ke saya untuk proyek-proyek sendiri, asal laporan. 

Ada nggak sih kebosanan? 
Jelas ada. Apalagi di perusahaan consulting seperti tempat saya bekerja, career path saya tidak mungkin akan berjalan lebih jauh seperti di perusahaan kantoran lain yang strukturnya lebih luas dan jelas (meskipun secara jobdesc kerjaan saya bisa jadi bertambah dan berkembang dari waktu ke waktu). Ini yang masih saya coba cari, ke mana saya mau jalan? Nggak mungkin saya jalan di tempat. Nggak mungkin ada yang mau seperti itu. Tapi bukan berarti saya langsung akan lari tanpa arah dan tujuan kan?
Saya bukan orang yang suka pindah-pindah pekerjaan sebenarnya. Meskipun saya orangnya bosenan, tapi saya juga ada tendensi untuk berada dalam comfort zone di waktu-waktu tertentu. Dan ini juga karakter dalam diri saya yang ingin saya rubah. Saya mau lebih berani mengambil resiko. Saya nggak mau jadi so-so dan cenderung melakukan hal yang sama berulang-ulang. Untuk orang yang bisa berempati dengan character differences masing-masing orang, saya harus akui saya mendapatkan challenge tersendiri untuk hal yang satu ini. Dan yang pasti, saya masih punya keinginan untuk belajar terus. Karena otak saya masih setengah kopong dan belum ada apa-apanya.

Di penghujung tahun ini, keinginan saya nggak muluk-muluk. Saya nggak niat bikin resolusi sih, saya cuma ingin kualitas hidup saya meningkat di tahun depan. Bisa dari mimpi saya yang pada akhirnya kesampaian, atau aktualisasi diri yang bisa terpenuhi dalam hal karir dan kehidupan pribadi saya. Intinya, saya ingin menjadi orang yang bahagia. Nggak usah jadi orang paling kaya atau paling sukses lah.. Tapi ketika saya melihat orang lain (contohnya teman) yang hidupnya keliatan keren dan merasa tidak ingin bertukar tempat dengan mereka, saat itulah saya bisa menyatakan bahwa saya bahagia. Sulit kah? Semoga tidak. Dan semoga impian saya pelan-pelan akan tercapai tahun depan dan dimudahkan jalannya. Bismillah.. 

Happy New Year, everyone! And 2016, here I come~ :)