Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

Monday, March 14, 2016

I Breathe Words. And I Eat Books.



Not literally though.. Tapi saya memang orang yang nggak bisa hidup tanpa buku. Entah sejak kapan saya suka buku, saya juga nggak ingat sih. Hanya saja saya cukup yakin influence orang tua saya yang suka membaca dan banyak membelikan buku bacaan dari kecil membuat saya suka sekali sama membaca. Mulai dari majalah Bobo, komik Donald bebek dan teman-temannya, sampai dengan buku bergambar berjudul Kisah Simi Semut (saya paling suka buku ini, jadi sampai sekarang masih ingat judulnya meskipun bukunya entah sudah pergi ke mana) dan juga kisah-kisah Nabi. Saya bukan berasal dari keluarga yang sangat berada, jadi kalau buku bacaan saya habis, saya biasanya akan mencari tempat persewaan untuk memperbanyak daftar bacaan. Sampai ketika sudah menginjak SMA, saya mulai berpikir untuk mengoleksi buku. Yes, nggak cuma baca, tapi juga koleksi. Hambatan saya waktu itu adalah uang saku yang terbatas dan harga buku yang cenderung mahal. Belum lagi saat itu saya sudah mulai mengoleksi kaset lagu dari musisi yang saya sukai. Jadi jalan satu-satunya yang bisa dilakukan selain menyewa dan meminjam buku dari perpustakaan adalah menabung. Saya masih ingat, buat beli satu buku Harry Potter saja saya harus nabung hampir dua bulan.

Setelah fase sekolah terlewati, masuk fase kuliah. Di fase ini, uang saku sedikit bertambah. Dan karena saya cukup beruntung mendapatkan beasiswa dan orang tua tetap keukeuh mau membiayai kuliah saya, berarti uang beasiswa yang saya dapatkan bisa ditabung untuk membeli barang dan kebutuhan sekunder. Selain gadget, saya mengalokasikan tabungan saya lagi-lagi untuk membeli buku. Dan semakin bertambah lah koleksi buku saya, sampai-sampai Bapak dan Ibu di rumah terheran-heran kenapa saya hobi sekali membeli buku padahal sudah jelas kamar saya nggak ada space lagi untuk menyimpannya. Tapi yang namanya hobi, siapa sih yang bisa melarang? Toh membelinya juga pakai uang saya sendiri. Dan saat saya sudah bekerja pun, saya semakin bahagia karena saya bisa mengalokasikan gaji saya per bulan untuk beli buku. Dan bukannya semakin surut, kebiasaan saya yang satu ini malah semakin menjadi-jadi.

Apa sih enaknya beli buku? Banyak teman sekantor saya yang bertanya demikian. Mereka beranggapan bahwa membeli buku itu “useless”, apalagi ketika saya bisa meminjam buku yang sama dari orang lain. Bahkan tidak jarang dari mereka yang merasa bahwa akan lebih baik jika uangnya dibelikan makanan. Tapi menurut saya, membeli buku = investasi. Saya lebih royal menghabiskan uang untuk beli buku daripada membeli makanan yang sekali makan langsung habis.  Saya lebih suka pergi ke toko buku daripada wisata kuliner ke tempat-tempat yang menyajikan aneka hidangan baru yang sekarang sudah semakin aneh-aneh jenis dan namanya. Dan saya lebih sering menunggu paket kiriman buku daripada baju atau tas atau sepatu dan barang-barang lainnya. Bukan berarti saya tidak suka makan atau belanja barang, tapi kalo ditelusuri, “Achilles heel” saya adalah “buku”. Ke mall, yang disambangin pertama kali toko buku. Ke bandara juga begitu. Saking seringnya beli, beberapa bulan sekali, saya bisa mengirimkan satu kardus koleksi buku saya yang sudah dibaca dari kosan ke rumah saya di Jogja supaya ke depannya masih ada space buat saya menyimpan buku di kamar rantauan yang space-nya mepet itu.
Saya suka excitement-nya membuka buku baru yang masih dibungkus plastik (dengan wangi khasnya yang tidak tergantikan itu), menelusuri cover dan kertasnya dengan tangan saya; merasakan teksturnya serta menemukan jawaban apakah material cover-nya sesuai dengan prediksi saya. Dan saya orang yang sangat menyayangi buku-buku yang saya beli sampai-sampai setiap orang yang akan meminjam akan saya “kuliahi” terlebih dahulu dengan hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat mereka meminjam buku saya, termasuk aturan yang saya terapkan sendiri dimana buku saya hanya boleh dipinjam ketika saya sudah selesai membaca atau minimal sudah saya beli selama 1-2 bulan. Crazy, right? But that’s how much I love my books. Well, lebih tepatnya protektif.

Saya punya bayangan yang agak gila untuk mewariskan buku-buku yang saya miliki kepada anak saya kelak. Selain keinginan untuk memiliki perpustakaan pribadi suatu hari nanti, saya merasa bahwa bisa jadi ketika nanti anak saya sudah besar (katakanlah), pasti akan ada buku-buku yang sudah tidak ada diproduksi lagi (atau sudah sangat langka). Kalau saya punya, pasti bakalan jadi surga buat mereka. Dan yang paling keren, mereka bisa meneruskan koleksi bukunya dari tahun ke tahun, yang nantinya akan semakin banyak dan semakin banyak. How cool is that? :D

Dengan akses internet yang sangat gampang jaman sekarang, saya juga lebih suka memesan buku secara online. Karena disamping saya tidak ada waktu banyak untuk survey langsung ke toko buku, membeli buku secara online memiliki banyak nilai plus, termasuk banyak diskon yang ditawarkan. Dan selain buku konvensional yang berwujud buku, saya juga suka membaca buku dalam bentuk digital. Bahkan akhir-akhir ini malah sering menghabiskan waktu membaca e-book dibandingkan dengan buku normal. Kenapa? Apakah saya beralih ke e-book karena lebih murah? Enggak juga sih.. Lebih karena kepraktisannya saja. Selain bisa baca buku dimana pun dan kapan pun lewat HP, akan kesulitan buat saya menenteng buku kemana-mana karena mostly buku yang saya baca berupa novel yang cenderung tebal. Bahkan terkadang kalau saya sudah membeli versi hard copy-nya, saya akan mencari versi e-booknya supaya sewaktu-waktu bisa dibaca. Dan kadang kebalikannya, kalau saya baca e-book dan suka banget sama ceritanya, saya akan pastikan untuk membeli versi hard copy-nya. Atau bisa jadi malah beli dua versi hard copy; bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Ini termasuk perilaku yang kata teman-teman saya sudah lebay.
Tapi pada akhirnya hal inilah yang membuat saya menjadi hoarder; kebiasaan untuk membaca buku hard-copy maupun e-book. Kenapa? Karena to-be-read saya jadi semakin banyak. Sedangkan saya yang masih menjadi kuli kantor ini suka susah mendapatkan waktu luang untuk membaca. Belum nanti membagi waktu luang antara membaca dengan menonton film atau series favorit saya. Rasanya saya jadi seperti pengemis waktu yang nggak terima kalau sehari hanya ada 24 jam. Terkadang pulang kantor pun kalau sudah capek rasanya sayang banget kalau langsung tidur, jadi pada akhirnya harus memanfaatkan waktu untuk bisa lebih produktif.

Isn’t it exhausting? 
Not really.. Karena saat saya membaca, saya akan lupa masalah yang saya alami, apalagi kalau saya suka banget sama bukunya. Buku adalah sarana saya belajar untuk lebih berempati terhadap semua karakter (mau baik, jahat, grey area, semuanya lah). Saya bisa melihat pola pikir mereka dan karena background pendidikan (dan pekerjaan) saya adalah psikologi, hal ini menjadi sangat membantu, terutama untuk bisa lebih memahami latar belakang perilaku dan alasan mengapa seseorang melakukan hal tertentu. Sering kok saya sesenggukan habis menyelesaikan satu buku saking menghayatinya, bahkan bisa terdiam bermenit-menit cuma mikirin cerita/endingnya. Pernah juga saya merasa muak dengan karakter yang penjadi penutur cerita bukunya sampai-sampai saya berpikir pengen stop baca dan lanjut ke buku lain, tapi akhirnya saya teruskan (saking kerennya si pengarang membuat tokohnya sangat dislikeable). Buku juga media yang sangat perfect untuk mencoba menjadi orang lain (ya, alasan utama saya cinta sekali dengan buku); karena buku adalah escapism saya, dan setiap selesai membaca satu buku, saya merasa menjadi setidaknya 1% lebih komplit dari sebelum saya membaca buku itu, terutama karena saya serasa mendapatkan pengalaman baru. Belum lagi fakta bahwa dengan membaca apapun saya bisa mendapatkan informasi yang berguna, meskipun terkesan remeh temeh sekalipun. Trust me, I’ve been there. Hal ini terkesan sangat cliché tapi pada faktanya memang benar begitu. Sering saya menemukan pertanyaan, pernyataan, argument, atau hal lainnya yang membuat otak saya merefer ke buku tertentu dan informasi “tidak penting” di dalamnya yang sesuai dengan topik yang dimaksud. Dan ketika saya tahu hal itu sedangkan orang lain tidak, rasanya seperti menjadi orang terkeren (saat itu).

Jadi, saya suka heran dengan orang yang sama sekali nggak suka membaca. Tapi memang tipe orang beda-beda sih ya.. Yang penting saya bersyukur bisa menjadi orang yang mengapresiasi dan menikmati kegiatan “membaca” seperti bernafas. Effortless dan natural. Oke, kecuali textbook tapi.. XD

Thursday, December 31, 2015

Renungan Singkat di Akhir Tahun

Ya.. Ya.. Saya memang hampir bisa dibilang blogger murtad gara-gara kelamaan nggak nulis di blog. Tapi di penghujung tahun ini, saya jadi kepikiran sesuatu. 

Masalah hidup dan pekerjaan.
Ya, ketika dulu menjadi mahasiswa, saya nggak berpikir saya akan bekerja di bidang yang saya tekuni sekarang. Saya bahkan sama sekali tidak menyangka saya bakal terjun ke dunia PIO. Tapi nyatanya, jalan yang saya hadapi saat ini berkata demikian. Jauh berbeda dengan idealisme saya semasa kuliah dulu dimana saya "sukanya" adalah mata kuliah yang berbau klinis dan sosial. Sisanya? Nggak mbakat rasanya waktu itu. Terbukti juga dari nilai makul Pendidikan dan PIO yang cenderung di bawah yang lain. *sighs
Tapi toh sekarang apabila saya diminta masuk ke ranah klinis, saya malah bakalan kelimpungan. Bukan apa-apa, beberapa tahun mencoba mengenal diri sendiri dengan lebih dalam, saya tahu saya bukan orang yang sabaran. Dan saya bukan orang yang pas buat mencurahkan perhatian seperti di klinis. Mungkin kalo saya masuk Psikologi Klinis, saya bisa stress (walaupun belum bisa dibuktikan juga sih, soalnya kan belum pernah menjalani).

Empat tahun menjadi asesor adalah perjalanan yang seperti roller coaster buat saya. Saya masih ingat waktu pertama kali masuk kerja, saya bener-bener nggak bisa ngapa-ngapain. Bahkan presentasi aja deg-degannya minta ampun di depan bos-bos saya. Saya masih cupu-cupunya. Masih kurang PD, nggak ngerti apa-apa, dan apa yang saya punya di kepala hanya teori yang bahkan kalau diminta mengaplikasikan pun saya bakalan kelabakan. Gimana enggak? Praktikum yang saya lakukan itu jauh sangat berbeda dengan tuntutan di kantor. Dari titik awal itu saya digembleng, diajari langkah-langkahnya menjadi asesor dari nol, dari mulai prinsip melakukan observasi, interview, skoring, praktek interview (yang astaghfirullah panjang sekali tahapannya supaya bisa menjadi interviewer yang maknyus di competency based), dan akhirnya diarahkan pelan-pelan menjadi PIC proyek yang langsung berhubungan dengan klien dan bertanggung jawab sama prosesnya dari awal sampai akhir. 
Ada momen-momen "saya rasanya gila" di situ. Ada momen-momen burn-out karena saking numpuknya pekerjaan dan sedikitnya orang, rasanya ini kepala dan badan mau rontok dan tidak sanggup bertahan. Setiap hari ada proses pembelajaran dan pencarian pengalaman. Setiap komunikasi yang saya lakukan dengan klien adalah langkah saya untuk belajar dan mencermati apa yang harus saya lakukan di situasi-situasi tertentu. Ya, pengalaman itu nggak bisa bohong. Pengalaman adalah titik dimana kita bisa tahu kalau klien nanya ini jawabannya apa, atau kalau mereka bargain seperti ini kira-kira apa yang harus kita tawarkan, dll. Dan saya juga bisa merasakan bedanya; dulu yang awalnya saya culun banget sampai-sampai semua langkah harus dikonfirmasikan dan dikoreksi si bos dulu, sampai sekarang yang kewenangan hampir selalu diberikan ke saya untuk proyek-proyek sendiri, asal laporan. 

Ada nggak sih kebosanan? 
Jelas ada. Apalagi di perusahaan consulting seperti tempat saya bekerja, career path saya tidak mungkin akan berjalan lebih jauh seperti di perusahaan kantoran lain yang strukturnya lebih luas dan jelas (meskipun secara jobdesc kerjaan saya bisa jadi bertambah dan berkembang dari waktu ke waktu). Ini yang masih saya coba cari, ke mana saya mau jalan? Nggak mungkin saya jalan di tempat. Nggak mungkin ada yang mau seperti itu. Tapi bukan berarti saya langsung akan lari tanpa arah dan tujuan kan?
Saya bukan orang yang suka pindah-pindah pekerjaan sebenarnya. Meskipun saya orangnya bosenan, tapi saya juga ada tendensi untuk berada dalam comfort zone di waktu-waktu tertentu. Dan ini juga karakter dalam diri saya yang ingin saya rubah. Saya mau lebih berani mengambil resiko. Saya nggak mau jadi so-so dan cenderung melakukan hal yang sama berulang-ulang. Untuk orang yang bisa berempati dengan character differences masing-masing orang, saya harus akui saya mendapatkan challenge tersendiri untuk hal yang satu ini. Dan yang pasti, saya masih punya keinginan untuk belajar terus. Karena otak saya masih setengah kopong dan belum ada apa-apanya.

Di penghujung tahun ini, keinginan saya nggak muluk-muluk. Saya nggak niat bikin resolusi sih, saya cuma ingin kualitas hidup saya meningkat di tahun depan. Bisa dari mimpi saya yang pada akhirnya kesampaian, atau aktualisasi diri yang bisa terpenuhi dalam hal karir dan kehidupan pribadi saya. Intinya, saya ingin menjadi orang yang bahagia. Nggak usah jadi orang paling kaya atau paling sukses lah.. Tapi ketika saya melihat orang lain (contohnya teman) yang hidupnya keliatan keren dan merasa tidak ingin bertukar tempat dengan mereka, saat itulah saya bisa menyatakan bahwa saya bahagia. Sulit kah? Semoga tidak. Dan semoga impian saya pelan-pelan akan tercapai tahun depan dan dimudahkan jalannya. Bismillah.. 

Happy New Year, everyone! And 2016, here I come~ :)


Thursday, September 10, 2015

Because I love "fantasy" too much

Frekuensi saya menulis blog kayaknya sudah dalam tahapan kritis. Saya baru sadar tahun ini saya cuma berhasil nulis satu postingan. Duh.. 
Rasanya pengen sebenarnya menulis hal lain selain nyeritain buku. Namun apa daya, saya lagi lebih bersemangat nulis review buku daripada yang lain, so.. bear with me, please.. 

Baru saja saya menyelesaikan satu buku karangan David Levithan yang judulnya Every Day, dan saya langsung pengen membahas buku ini. I'm excited! Kenapa? Karena temanya yang nggak biasa.




First of all, saya harus bilang kalau saya beli buku ini dengan situasi yang sangat accidental rasanya. Waktu nge-mall, mampir ke toko buku favorit saya, dan saya niat banget sebenernya beli The Book Thief. Terlepas dari filmnya yang sudah saya tonton (dan saya suka banget), rasanya pengen aja beli bukunya dan baca. Karena buat saya, semenarik apapun filmnya, buku adalah sumber informasi yang lebih kaya. Eh, tapi.. pas saya udah mau bayar bukunya, tiba-tiba di depan saya nongol sampul buku Every Day dengan tagline-nya yang waow banget, 

"Every day a different body,
Every day a different life, 
Every day in love with the same girl."

Bayangan saya waktu itu, "buset.. kok ngenes banget hidupnya orang ini". Dan saya mencoba mencari-cari cerita yang mirip, dan ternyata saya belum menemukannya. Akhirnya setelah gamang selama beberapa saat, teman saya menyarankan supaya saya beli bukunya David Levithan ini. Sebelumnya, saya kurang familiar dengan karya-karyanya. Saya juga baru tahu kalau dia bikin buku bareng John Green yang judulnya "Will Grayson, Will Grayson". Tapi udah, itu aja. Dasarnya saya nggak mbaca John Green juga sih, jadi ya begitulah..

Anyway, pas baca halaman-halaman pertama, rasanya sudah menarik banget. Saya nggak bisa lepas dari itu buku. Ceritanya sendiri terkait seorang being (saya bilang being karena saya belum bisa menyimpulkan sebenarnya tokoh utamanya itu apa) bernama A yang dari lahir, hidupnya berpindah dari satu manusia ke manusia lain. Setiap hari dia akan terbangun di tubuh yang berbeda. Bisa dibilang kayak host mungkin. Ia juga hanya bisa hinggap sekali untuk satu tubuh. Jadi nggak mungkin dia jadi orang yang sama dua kali. Selain itu, si A ini cuma bisa masuk ke tubuh orang yang umurnya sama dengan dia. Di novel, diceritakan bahwa A berumur 16 tahun, jadi ya yang dihuni sama dia tubuh remaja berusia 16 tahun semua, baik cowok maupun cewek. Saat "menghuni" satu tubuh, dia bisa mengakses memori orang tersebut sehingga bisa berpura-pura menjadi orang yang ia huni tubuhnya. Sampai suatu ketika, si A ini jatuh cinta sama seorang cewek yang namanya Rhiannon saat dia "hinggap" di tubuh cowoknya si cewek yang namanya Justin. Dari situ, A yang dari awal bisa dikatakan hidupnya standar-standar aja, jadi berubah total. Setiap hari dia kepikiran sama Rhiannon. Dan setiap pagi setelah ia bangun, hal yang dia pikirkan adalah Rhiannon, serta jarak diantara mereka. Nah kan? Gimana  kira-kira hubungan cinta yang begini? Yang bahkan ceweknya pun nggak tau kalau cowok yang ternyata dia sukai dan damba-dambakan banget ini sebenarnya bukan pacarnya? Gimana pula dia bisa jatuh cinta sama cowok yang bahkan tidak punya tubuh?

Pace buku ini cepat, jadi bacanya juga nggak bosan. Dan jelas banget kita jadi menebak ending-nya bagaimana, terutama karena banyak sekali pertanyaan terkait A itu siapa, kok bisa begitu, dan gimana akhir hubungannya dengan Rhiannon, dst. 

Endingnya cukup menyentuh, meskipun saya nggak sampai nangis (tapi hampir, dan mengingat saya baca di kantor kayaknya wajar kalau emosi agak saya tahan biar saya nggak diketawain karena tiba-tiba nangis sendiri). Tapi ada beberapa hal yang masih tidak saya temukan dalam buku ini, termasuk pertanyaan di kepala saya kenapa kok dia pindah tubuhnya ke orang-orang yang tinggalnya deket-deket situ aja. Dan kalau satu orang tidak mungkin dia "hinggapi" sekali, dan dia hanya menghuni tubuh orang yang seumuran, apa nggak habis ya hostnya? Kan kalau umurnya dari kecil sama berarti dia hanya bisa hinggap di orang-orang itu saja. Ah sudahlah..
Kalau bisa mengesampingkan beberapa pertanyaan itu, buku ini pasti menarik kok. Meskipun memang misterinya malah jadi menggelitik. Jadi berharapnya, akan ada penjelasan terkait sejarahnya A dan cara kerja hidupnya dengan lebih detil, terutama karena di akhir buku juga ada surprise lagi terkait latar belakangnya A. Dan dia akhir pun belum ada konklusi pastinya A ini makhluk apa. Dia orang kah? Apa alien? *sighs*

Dan ternyata sudah terbit buku ke duanya yang berjudul Another Day. Dan buku ini diceritakan dari sudut pandang Rhiannon, terutama ketika dia tahu kalau "cowoknya" ternyata bukan cowoknya. Saya belum baca buku ke dua sih, tapi kayaknya seru juga. Saya sangat penasaran dengan endingnya, terutama karena POV-nya A tidak bisa meng-cover situasi saat itu. 

Mungkin setelah baca buku ke dua, saya bisa tambahkan review-nya di sini. Yang penasaran, silahkan dicari dan dibaca. Sudah jadi best-seller juga ternyata ini. Saya yang telat.. -__-"

Wednesday, November 26, 2014

Thailand! (part 2)


Nah, lanjut deh ceritanya ke hari ke-3.. :D


DAY 3

Seperti biasa, kami harus udah check-out jam 9 biar langsung bisa berangkat. Sarapan di hotel di Pattaya hari ini agak beda karena kami nggak nemu nasi. Jadinya ya cuma sedapatnya. Tapi saya kenyang juga sih.. Yang agak bikin bete adalah temen-temen saya yang menganggap bahwa makan tanpa nasi itu semacam kiamat, nggak bakalan survive. Agak annoyed sih dengerin mereka ngomel mulu. Tapi ya saya diemin aja.
Kelar sarapan (which took too long because some people just kept filling in their plates though they won’t eat anything), kami langsung menuju mobil. Pas di dalam mobil, si bos pamer foto-foto di pantai yang mengindikasikan bahwa ternyata sebelum berangkat mereka mampir ke pantai sebentar. Mana foto-fotonya bagus banget lagi. Saya langsung nuduh si bos curang, dan malah diketawain.. -__-

Sepanjang perjalanan mengarungi Pattaya, si guide ini banyak banget cerita tentang daerah ini. Menurutnya, daerah ini merupakan daerah yang banyak ditinggali sama turis Rusia. Katanya, karena di negara mereka sendiri bulan-bulan begini udah musim dingin (yang teramat parah kalo di Russia), akhirnya mereka “migrasi” ke Pattaya. Dan memang sebagian besar turis didominasi oleh orang Russia. Nilai plus daerah ini buat para turis itu adalah karena biaya hidup di Pattaya murah. Dan mereka banyak nyari cewek lokal untuk dijadikan pasangan kawin kontrak. Yah, semacam itulah.. Memang agak horor sih ceritanya. Dan kesannya jadi negatif banget. Tapi kalau lihat suasana kotanya memang banyak sekali bar. Apalagi kalo siang hari, kotanya sepi banget; toko-toko juga pada tutup. Pattaya itu kota malam. Jadi pas udah malem, baru deh semua orang keluar buat have fun dan party-party..

Jadwal pagi itu kami diajak ke Gems Jewelry Factory. Katanya, GJF ini adalah tempat wisata yang sama pemerintah diwajibkan untuk dikunjungi bagi semua turis. Katakanlah, kalau ada travel agent atau tour semacamnya yang bawa turis, mereka harus memasukkan GJF ini ke agenda. Jadi bisa dibilang memang pemerintah Thailand ikut andil dalam men-support pariwisata di sana.
Nah, sekilas tentang GJF, tempat ini adalah tempat pembuatan perhiasan. Waktu sampai di sana, kami sempet bingung karena kami disuruh antri menuju semacam lorong, dan ternyata di lorong itu ada keretanya. Kata si guide, nanti kami akan diminta masuk ke semacam wahana kayak di Dufan. Dan bener aja, pas masuk keretanya, kami dibawa ke lorong-lorong gelap dan ternyata di situ ada banyak dorama-dorama yang menjelaskan asal muasal dan bagaimana pembuatan batu-batu untuk perhiasan. Bagusnya, di keretanya, ada terjemahan untuk masing-masing turis dari berbagai negara. Jadi kami bisa ndengerin penjelasannya lewat bahasa Indonesia. Di dalam lorong, terus terang agak spooky. Patung-patung dorama yang bergerak-gerak juga kesannya nyeremin. Tapi cukup fun juga sih, dan perjalanan juga tidak terlalu panjang. Yang jelas yang bikin cukup menarik adalah patungnya bisa bergerak karena dikasih tali-tali penggerak supaya bisa memeragakan proses yang dilakukan dalam penceritaannya.

Contoh bebatuan yang selanjutnya akan diproses

Contoh dorama yang ada di sana
(Orang ini ceritanya lagi menyaring bebatuan yang jatuh dari atas setelah disiram air)

Setelah keluar dari kereta, kami diantar ke area pembuatan perhiasannya. Di situ, kita bisa lihat proses yang dilakukan oleh para pekerja di pabrik ini. Ada yang mengasah batu, memotong batunya, sampai masang ke perhiasannya. Selanjutnya, kami juga diantar untuk melihat-lihat produk jadi dan yang dijual di sana.
Masuk ke areanya, perhiasan yang ditunjukkan ke kami adalah perhiasan yang mahal-mahal dengan kisaran harga 50 juta ke atas. Hadehh.. Akhirnya kami cuma mupeng liat cincin-cincin yang biasa dijadikan properti lamaran di film-film itu dengan berbagai warna batu di atasnya. Saya naksir banget sama cincin dengan batu berwarna hitam, tapi saya nggak nanya itu batu apaan. Di area ini, range harga menjadi acuan utama penempatan produk, jadi kita bisa tahu mana area mahal mana area yang lebih murah. Oh, dan di sini juga nggak boleh ngambil foto sama sekali. Padahal saya pengen banget foto-foto perhiasannya. Huhu..

Banyak banget perhiasan yang bisa ditelusuri di sini. Kami juga diantar ke area yang isinya mutiara. Lumayan murah sih sebenarnya. Liontin mutiara asli di sana dijual antara 200-600 Baht. Saya sempat pengen beli satu buat ibu. Tapi tiba-tiba inget ibu saya nggak terlalu suka pakai kalung. Akhirnya saya cari yang gelang. Dapet sih.. tapi harganya lebih mahal karena mutiaranya jauh lebih banyak. Akhirnya diurungkan dan saya cuma beli gantungan kunci berbentuk perangko yang unyu sekali buat oleh-oleh. Rasanya nggak sanggup beli yang mahal-mahal, mengingat oleh-olehnya harus didistribusikan secara adil dan merata *tsaaah*.. <- mupeng parah padahal (T___T)

Oh iya, waktu ngelewatin beberapa informasi yang dipigura, saya sempat baca bahwa orang yang lahir di bulan Juli itu batu alami yang pas untuknya adalah Ruby. Agak kaget juga, soalnya selama ini saya memang lebih tertarik sama rubi diantara batu yang lain. Entah apakah memang ngefek dan benar.. :p
Dan di sana sepertinya memang banyak yang bisa bahasa Indonesia. Bahkan salah satu mas-mas yang njelasin produk-produk perhiasan di sana sepertinya orang Indonesia asli. Bahkan dia sempat “nyetani” kami dan bertukar joke ketika kami galau beli apa enggak. Tapi menyenangkan sih.. dan sekali lagi saya yakin bahwa memang banyak orang Indonesia yang liburan ke Thailand. Jelas banget soalnya akses bahasanya gampang banget.

Kelar dari GJF, kami langsung menuju ke Nong Nooch Village. Nong Nooch Village ini semacam area resort yang luaaaaaas banget. Mungkin ada sekitar 40 hektar-an, dan dimiliki oleh orang bernama Nong Nooch. Katanya, Ibu Nong Nooch ini merupakan orang paling kaya di daerah itu, dan kalo dilihat dari lahannya, emang sih.. Luas aja pake banget-banget! Dan waktu perjalanan menuju ke area utamanya, kami ngelewatin pepohonan berkilo-kilometer jauhnya. Dan di sepanjang jalan, ada pohon-pohon palem yang ditaruh di pot besar di kanan-kiri jalan. Kata si guide itu pohonnya dijual. Semakin gedhe dan semakin berbunga semakin mahal. Tapi bingung juga sih bawanya gimana itu pohonnya, orang jarak main road sama areanya aja jauhnya minta ampun. Tapi saya menemukan bahwa ternyata para bule banyak yang memilih jalan kaki menuju ke sana. Geez.. (O_O)

Sampai di sana, kami langsung ke tempat pertunjukan. Jadi, jadwal kami hari itu adalah nonton pertunjukan budaya yang ada semacam thai boxing-nya juga, dan setelah itu nonton elephant show. Pas cari posisi buat pertunjukan seni-nya, kami dihadapkan pada panggung yang cukup besar, dan di depan panggungnya ini sudah di set kursi-kursi buat duduk. Tapi setengah area duduk dari depan cuma pake busa aja yang ditaruh di bawah, di anak tangga. Jadi kesannya duduknya ngedeprok gitu. Baru di belakangnya ada kursi. Saya duduk di kursi bareng rombongan. Dan sumpah, ramenya… Bahkan banyak banget anak-anak kecil (mungkin anak-anak TK) yang berwisata ke sana hari itu.

Depan kami isinya anak kecil semua

Pertunjukan thai boxing yang dipertontonkan

Pertunjukannya sih cukup menarik saya bilang. Banyak tarian dari Thailand, dan bahkan saya juga lihat ada tarian Melayu juga. Sempat ada intermezzo pertandingan thai boxing juga, tapi lebih ke parodi sih, karena ada beberapa orang yang pura-pura jatuh dan semua orang ketawa. Dan di akhir, ada juga pertunjukan yang pake dua gajah gedhe banget dan pura-puranya dua orang yang menunggangi gajah-gajah itu lagi bertempur trus salah satu kalah.

Setelah pertunjukan seninya selesai, orang-orang langsung pada berbondong-bondong ke belakang untuk lihat Elephant Show. Saya sama salah satu teman saya kebawa arus dan akhirnya meninggalkan rombongan lain. Tapi sampai lokasi sudah penuh ternyata. Akhirnya kami berdua duduk “ndeprok” di depan sendiri dan bener-bener di pinggir jalan. Tapi cukup dapet view bagus sih, terutama kalau gajahnya lagi minggir.

Pertunjukannya mungkin mirip-mirip sama pertunjukan gajah pada umumnya (bahkan bos saya bilang lebih bagus yang di Taman Safari). Intinya, gajahnya pinter lah. Main dart, ngelukis, main hula-hup, dan juga ada gajah yang main sepeda. Tapi saya jatuh cinta sama salah satu anak gajah yang hiperaktif banget. Ini anak gajah mungkin salah makan, soalnya dia sangat bersemangat dan ngelempar hulahup-nya pun lebay banget. Dia juga banyak disorakin sama pengunjung saking enerjiknya. Udah gitu kan penonton boleh ngasih makan, nah.. si anak gajah ini kalo dikasih makan nggak mau berhenti. Mana ekspresinya juga seneng banget, lucuuuuu.. pengen saya peluk deh! X)
Oh iya, di akhir pertunjukan, kita boleh foto sama gajah (dikasih tiga pose, termasuk diangkat sama gajahnya). Tapi harus bayar 100 Baht. Saya candid fotonya si anak gajah aja deh, yang gratis.. :p

Anak gajah yang hiperaktif

Anak gajah yang ini juga lucu, tapi lebih anteng

Gajah-gajah yang dipakai di pertunjukan

 Akhirnya di jam makan siang, kami diajak makan di deket situ. Ternyata orang-orang Indonesia ngumpul makan siangnya juga di situ. Saya jujur udah setengah nyawa banget. Kaki udah pegel, mata berat, super ngantuk. Jadi pas makan juga sekenanya nggak niat-niat amat. Tapi lumayan enak sih makanannya. Meskipun toilet lumayan susah dan jarang yang ada air bersihnya.
Setelah makan, kami foto-foto sebentar sambil menuju ke mobil. Bahkan sempet sama si bos kami disuruh naik-naik batu gede di taman biar fotonya bagus.

Pas udah di mobil rasanya pengen tepar. Si guide bilang tujuan kami selanjutnya adalah dried food market, sambil kami juga jalan kembali ke Bangkok. Akhirnya saya bisa tidur juga, meskipun di sepanjang perjalanan, saya berkali-kali kebangun karena nyupirnya “smooth” banget. Terlalu “smooth”.. -__-

Sampai di dried food market, saya bingung mau beli apa. Masalahnya koper saya udah benar-benar terbatas space-nya (mengingat koper saya juga kecil), plus dia juga nggak bisa ditarik lagi, harus dijinjing (mungkin dia memang sudah lelah). Akhirnya dengan mata 5 watt, saya cuma jalan muter-muter nyobain sample makanan. Dan di sini juga banyak yang bisa bahasa Indonesia. Bahkan mas-mas yang pegang halo-halo, nawarin barangnya juga dalam bahasa Indonesia. Produknya sendiri mirip sama produk kita, terutama keripik-keripik buah yang banyak kita temu di Jawa Timur. Dan akhirnya, cuma buat sah-sah-an aja, saya beli teh instan buat ibu kos. Tapi pas bayar kenapa harganya nggak sesuai sama tulisan yang di kartonny? >_< *nggak santai*

Dan akhirnya mobil berjalan lagi menuju Bangkok. Tujuan terakhir kami hari ini adalah MBK. MBK ini semacam pusat perbelanjaan, kayak mall begitu lah.. Mungkin di Jakarta mirip sama ITC Kuningan. Barang-barang di sana kata teman saya cenderung murah dan memang banyak jadi tujuan para turis buat berbelanja. Yang bikin saya lebih excited lagi, pada akhirnya saya janjian dengan teman saya di MBK untuk ketemuan. Sebenarnya awalnya dia pengen nyamperin saya ke hotel. Tapi jarak tempat kerjanya (yang deket dengan MBK) dan hotel saya lumayan jauh, mana dari stasiun kereta juga jaraknya lumayan. Akhirnya, setelah tahu kalau saya mau nyambangin MBK, dia dengan senangnya meminta saya menunggu dia di sana. Sempat agak ragu karena dia ternyata jadwal pulangnya jam setengah 7, dimana saya jam segitu udah harus kumpul lagi buat makan malam dan balik ke hotel. Dan setelah kompromi, teman saya berusaha untuk diam-diam skip kerjaan (*oops*) dan langsung nyamperin saya sekitar jam setengah 6.
Sambil nunggu dia, saya cari-cari oleh-oleh buat dua krucil (aka ponakan) di rumah. Banyak sih baju yang murah-murah, tapi banyak juga model yang saya senengin dan ternyata harganya mahal. Tapi pada akhirnya saya bisa dapat yang saya pengen buat dua krucil itu, plus magnet kulkas buat mainan si krucil yang gedhe. Dan sekali lagi terbukti bahwa di MBK ini banyaaaaak banget penjual yang bisa bahasa Indonesia. Ada yang lancar banget, tapi ada juga yang cuma sepatah-dua patah kata dan tetap harus dibantu kalkulator pas nawarin harga. Tapi setiap lewat lapak orang, kami sering banget disapa pake bahasa Indonesia.

Bisa dibilang waktu di MBK saya nggak bisa tenang. Karena cara satu-satunya menghubungi teman saya itu ya pake sms. Sedangkan roaming mengharuskan saya kena tarif per sms sekitar 8000-an rupiah. Saya sih udah siapin pulsa agak banyak di hape, tapi tetep aja, pasti cepet habis. Dan akhirnya setelah beberapa kali sms-an sama dia, saya bisa ketemu juga.
Tepat setelah saya selesai cari-cari baju, saya dapat sms kalo temen saya ini udah nunggu di dekat information center di lantai 6. Akhirnya saya tanya sama penjual terdekat information center-nya dimana. Pas udah ditunjukin, saya langsung ngacir ke sana. Hal ini juga mengingat jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, which is waktu kami ngobrol cuma sekitar setengah jam.

Pas saya lihat dia dan dia lihat saya, kami langsung berpelukan kayak Teletubbies. I know, cheesy banget! XD Dan di tengah-tengah mall pula (jadi banyak diliatin orang). Tapi saya sih udah nggak peduli, habis rasanya ketemu teman dunia maya itu memang susah dideskripsikan, antara nggak percaya bahwa orangnya beneran ada dan akhirnya setelah menunggu sekian lama bisa ketemu juga.
Pas saya bilang sama Natt (temen saya ini) kalo waktu ketemuan cuma setengah jam, dia mulai bingung mau kemana. Kalo makan, nggak mungkin. Mau jalan-jalan juga bingung kemana. Akhirnya dia nanya sama saya mau nggak saya diajak muter-muter. Saya iyain aja lah, karena saya juga nggak ngerti arah di sini. Tapi saya pastikan dulu kalo jam setengah 7 saya udah harus nyampe di salah satu entrance yang namanya Tokyu Door (dia sempet nggak ngerti Tokyu Door itu dimana, tapi setelah saya jelasin deskripsinya dan saat ini itu ada event boxing, dia langsung ngerti). Dan jadilah, saya dibawa muter-muter jembatan skytrain sama dia.
Jadi, di Thailand ini ternyata ada kereta yang lintasannya di atas, sebutannya skytrain atau BTS; beda dari MRT yang sistemnya underground. Makanya ada jembatan-jembatan (semacam jembatan penyebrangan) yang menghubungkan tempat-tempat di sekitar situ (mostly malls dan gedung tinggi kalo saya lihat) menuju ke stasiun skytrain-nya. Tapi saya sama Natt cuma memutuskan untuk jalan-jalan di bridge-nya aja, jadi nggak naik keretanya. Sekali lagi, karena nggak ada waktu. Dia bilang waktu itu mau nunjukin mall lain ke saya karena menurutnya MBK ini sebenarnya biasa aja (dan memang iya). Saya juga bilang di Jakarta mall beginian juga banyak. Pas kami masuk ke mall lain (saya  nggak tau mall apaan, tapi memang lebih mewah – mungkin siam paragon atau sodaranya), saya langsung diajak ke toko asesoris yang menjual barang-barang lucu. Seleranya dia memang barang-barang lucu begitu, dan pas saya liat banyak banget toy-capsule dari Jepang yang sistemnya pake koin gitu. Tapi saya sih cuma liat-liat aja. Dalam perjalanan keluar dari MBK ke salah satu bridge skytrain-nya, kami sempet-sempetnya nyasar. Ternyata temen saya ini juga sering nyasar di mall kayak saya.. lol
Kami cerita banyak, mulai dari hal-hal yang menyatukan interest kami berdua (termasuk fangirling-an), dan bahkan saya juga curhat kerjaan sama dia. Dia sempet ngasih saya oleh-oleh kripik duren sama kripik pisang dan pas banget, karena saya nggak beli keripik sama sekali.. :p
Pas udah jam setengah 7-an, akhirnya kami turun ke meeting point yang ditentukan sebelumnya. Kami mau foto-foto dong ya.. kan sayang kalo udah ketemuan dan nggak ada bukti foto yang membenarkan kalo kami udah kopdar-an di Bangkok. Tapi pas sampe sana ternyata temen-temen saya belum balik juga. Kami nyoba selfie tapi ternyata gelap, sedangkan saya bingung mau minta tolong siapa buat moto-in. Tapi setelah agak lama ditunggu, temen-temen saya muncul juga. Saya kenalin deh Natt ke mereka, dan saya minta salah seorang temen saya buat motoin. Hasilnya yah.. begitulah. Masih kurang puas sebenernya, tapi kami udah harus balik lagi. Akhirnya Natt nganter saya ke mobil dan kami udah kayak orang pacaran karena gandengaaaaan melulu.. XD (nggak sadar sebenernya gandengannya)
Sampai mobil saya digodain sama si bos yang bilang kami ini kayak anak TK soalnya gandengan melulu.. *facepalm* Yah, semoga next time bisa ketemu lagi di tempat lain dan lebih lama.

Me and Natt

Buat makan malam, kami dibawa sama guide ke tempat makan all-you-can-eat lainnya, tapi yang ini menunya lebih lengkap. Ada makanan Indonesia, Jepang, Itali, macem-macem lah pokoknya. Saya juga icip-icip banyak, termasuk makan sushi. See, saya baru sekali ini nyobain makan sushi. Sebelumnya kalo pengen selalu males beli soalnya mahal, dan saya kan belum tahu saya bakalan suka apa enggak. Tapi ternyata pas nyobain saya suka.. :a Dan saya juga sempet-sempetnya ngambil pizza sama bakpau yang super enak dan isinya labu. Padahal saya udah makan banyak juga.. Goodbye, diet! Makan saya sama sekali nggak dijaga di sana.. *cries a river*

Setelah makan malam, kami balik ke hotel yang kami inapi di hari pertama. Lega karena pas masuk lobby saya udah bisa wi-fi-an lagi. Dan ternyata saya dapat kamar yang dekat sama lift di lantai tiga, beda dari dua hari sebelumnya yang kamarnya masih jauh ke belakang. And guess what? Ternyata di kamar saya masih ada bocoran wi-fi dari lobby! X) Seneng dong, saya.. Soalnya kan sebelum ini udah pasrah aja hidup tanpa wi-fi selama di sini. Tapi ternyata malah bisa wi-fi-an sedangkan teman yang lain nggak bisa pada ngenet sama sekali.. *grin* Sebenarnya agak miris rasanya ketergantungan sama wi-fi, tapi mengingat opsi komunikasi di sana cuma itu, ya gimana lagi.. (.__. )
Dan malam itu saya tepar karena kecapekan.


DAY 4

Hari ke-empat adalah hari bebas, jadi tidak ada jadwal dari dari travel yang harus kita ikutin. Tapi dari hari sebelumnya si bos sempat wanti-wanti kalau mereka mau bikin acara buat kita. Belum tahu sih pilihannya mau ke mana, tapi pada dasarnya kami lebih bisa bangun siang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Dan sesuai dugaan, saya bangun siangan dikit dari hari sebelumnya, dan teman sekamar saya udah siap aja gitu. Udah mandi dan udah dandan. Saya merasa dikhianati karena nggak dibangunin. Setelah siap-siap, langsung menuju ke bawah. Nah, karena udah siang, menu sarapannya juga tidak sebanyak kalo kami bangun pagi. Tapi setidaknya makanannya tetep enak dan kami kenyang lah ya..
Pas sarapan juga si bos bilang kalo kami harus check-out jam 10, dan selanjutnya mau diajak jalan-jalan ke Art in Paradise. Semacam galeri 3D interaktif gitu lah. Setelah sarapan, saya dan teman saya balik ke kamar dan saking capeknya, saya sempet-sempetnya ketiduran. Baru bangun setelah teman di kamar lain ketuk-ketuk pintu minta kita turun buat check-out.. *facepalm*

Nah, sebenarnya di hari terakhir ini kami nggak dikasih fasilitas apapun sama travel-nya. Tapi si bos kayaknya minta supaya tetap disediain driver dan mobil dengan charge tambahan di luar paket karena kami nggak tau jalan dan si bos satunya lagi juga males naik MRT. Akhirnya salah seorang driver (yang kali ini tidak bisa berbahasa Indonesia) mengantarkan kami ke tempat tujuan. Art in Paradise ini letaknya di semacam mall, tapi saya nggak lihat tulisan gedungnya apaan. Yang jelas tempatnya di lantai 4 gedung itu, dan belum buka. Jadi, pas kami sampai, kami sambil lihat-lihat apa aja isinya di dalam. Saya sempet mupeng soalnya saya lihat iklan film Mockingjay dan hari itu pas tanggal 19. Pengen nontooooon.. (btw, Mockingjay super keren!!!) Dan saya juga lihat poster Peeta gedhe banget. Oh, iya, sama di lantai atas, di balkonnya, juga dipasang poster film Saint Laurent yang dibintangi Gaspard Ulliel. Mas Gaspard-nya terlalu cakep.. *sesenggukan*

Anw, pas jalan mau ke lantai atas, sempat saya lihat salah satu toko yang masih baru diberesin, dan di depan toko ada satu Teddy Bear hampir segedhe badan. Nah, karena saya suka banget sama boneka Teddy Bear, apalagi yang fluffy-fluffy gitu, saya dari jauh udah nyeletuk “Teddyyy~”, sambil mengulurkan tangan pengen megang. Saya nggak sadar kalo ada mbak-mbak di depan tokonya yang ngeliatin saya dengan pandangan sinis dan bilang “no touch!”. Tapi saya nggak menggubris dan tetep megang tu Teddy yang sangat fluffly. Habis itu saya langsung kabur, takut dimarahin sama mbaknya. Dan temen saya di sebelah langsung ngakak.

Pas nyampe di depan Art in Paradise, ternyata kami pengunjung pertama. Jadi kami masih mondar-mandir aja di depan pintunya sambil foto-foto dan nunggu si bos beli tiket. Nah, ternyata pas kami masuk, si petugasnya bilang kalo hari itu sedang ada promo. Jadi semua pengunjung dikasih satu foto gratis berpasangan (semacam foto trik ilusi gitu), dan gayanya bisa milih dari gaya-gaya yang ada dan ditempel di dinding. Saya sama temen saya milih gaya yang paling simpel, karena dia males ribet-ribet dan nggak mau dikasih gaya yang agak ekstrim.

Pintu masuk Art in Paradise

Masuk ke kawasan lukisannya, ternyata kami disuruh lepas sepatu, jadi saya juga cuma pake kaos kaki (lebih karena males aja pake lagi kaos kaki-nya pas kelar nanti). Nah, masuk-masuk, langsung deh kami disuguhi pemandangan lukisan realis 3D yang masing-masing bisa kami masukin buat pose. Intinya, buat foto di sini, kami harus kreatif karena posenya harus disesuaikan dengan tema yang ada. Nggak bisa cuma berdiri mejeng trus difoto <- mati gaya nanti.
Sebenarnya saya termasuk orang yang nggak terlalu suka difoto. Dari dulu kayaknya. Jadi pas masuk sini, meskipun excited, saya juga nggak sebegitu antusiasnya minta difoto di semua lukisan. Bahkan kebanyakan saya fungsinya jadi juru foto dan pengarah gaya.. (-__-“) Tapi tak apa lah, seenggaknya saya masih punya kenang-kenangan gambar di beberapa lukisan yang cukup oke. Dan favorit saya.. lukisan kucing super besar ini. He’s just too cute.. <3

Ini kucingnya pengen saya peluk beneran deh..
  
Kami stay dan foto-foto di AiP selama hampir 3 jam. Kelar dari sana, badan rasanya pegel semua. Karena ternyata ngambil foto di sana juga nahan posenya bikin pegel. Setelah selesai, si bos ngeliat kami dehidrasi dan memutuskan untuk beli minum di café-nya. Tapi ternyata service-nya lama banget, dan mbaknya juga nggak bisa bahasa Inggris sampai-sampai dia manggil salah satu petugas lainnya yang lebih ngerti bahasa Inggris buat ngomong ke kita.

Salah satu hasil foto favorit saya
  
Kelar dari Art in Paradise, kami langsung ke MBK (lagi). Tujuan utama si bos adalah supaya yang kemarin belum puas belanja bisa cari barang belanjaan lagi. Dan kami juga mau cari makan di sana. Awalnya sih niatnya mau makan McD, tapi si bos malah ngajak kita ke food court-nya. Sistem di food court ini, kita beli makannya pake kartu. Dan masing-masing kartu kisa isi voucher berapa baht, kayak kalo beli pulsa lah ya.. Nah, kami disuruh cari makanan yang kami senengin sama si bos. Tapi ternyata.. pas masuk.. ugh! Banyak banget yang daging babi! Bahkan waktu kami lewat counter makanan pun bau daging babi-nya menusuk banget, dan sumpah nggak enak. Saya ampe rasanya pengen buru-buru menjauh dari konter-konter itu. Dan karena pusing, kami cari makanan yang ada label halal-nya, sampe nanya ke yang masak ini halal apa enggak. Akhirnya kami semua malah makan nasi semacam nasi gurih (yang buat kenduri di desa-desa itu..) sama ayam yang udah direbus dan dikasih bumbu gurih plus ayam goring krispi. Enak sih, dan jujur saya kangen makanan dengan cita rasa begitu. Udah lama nggak makan.

Setelah dari food court, saya dan salah satu teman saya langsung keluar cari baju, yang rencananya mau saya kasih ke bapak. Tapi malah di pintu keluar saya nemu orang yang jualan perhiasan. Katanya sih perak (meskipun saya agak ragu keasliannya karena harganya termasuk murah).  Macem-macem sih jenisnya.. Ada kalung, gelang, bros, dll. Dan karena sebelumnya saya nggak jadi beliin ibu gelang mutiara yang di Gems Jewel Factory, akhirnya saya beliin kalung satu buat ibu. Wkwk..
Dan setelah dapat kaos pun saya memutuskan untuk cari tempat duduk di food court, karena kaki saya rasanya udah minta ampun pegelnya. Jalan pun udah nggak sanggup, dan tiap kali turun tangga bawaannya meringis. Huhu.. *elus2 kaki*

Jam 5 sore, kami langsung menuju mobil karena sudah jadwalnya menuju ke bandara buat pulang. Sampai bandara, ternyata ngantri check-in-nya super panjang. Tapi kami sempet lihat satu mas-mas  cakep dengan gaya nerdy gitu, lagi serius banget mantengin hape-nya dan ngantri di belakang kami. Buat hiburan, kami mantengin aja masnya biar nggak bosen.. XD
Tapi sempat ada balada si bos kehilangan iPhone-nya. Dan setelah dilacak, ternyata iPhone-nya ketinggalan di MBK, tepatnya di Coffee Bean. Akhirnya si bos jadi senewen. Kami juga agak menjaga jarak deh, takut diomelin. Untungnya tour guide kami bisa dihubungin dan dimintain tolong untuk nyimpenin dulu.

Sempat makan dulu di bandara karena ternyata semuanya udah laper lagi. Dan sambil menunggu boarding, kami sempet observe ternyata orang Indonesianya banyak banget. Dan pas di pesawat untungnya saya bisa tidur meskipun cuma bentar. Sampai di Jakarta udah jam setengah 1. Cari taksinya nggak terlalu lama karena antrian juga nggak begitu panjang, dan akhirnya saya sampe kosan sekitar jam 2-an pagi. Langsung tepar. Besoknya, sudah bisa diduga saya kesiangan dan semuanya telat masuk kantor.


***


Overall, trip ke Thailand-nya cukup menyenangkan buat saya. Seenggaknya dari sini saya sudah pernah jalan-jalan ke luar, dan rencana taun depan liburan sama temen pun lebih bisa direncanakan dengan matang karena step-step-nya saya udah familiar. Tapi ya itu.. rasanya jadi pengen ke tempat-tempat lain yang sekiranya lebih seru. Melihat budaya lain memang menarik. Saya juga banyak menyadari bahwa culture Indonesia dan Thailand secara umum tidak jauh berbeda, karena wilayahnya juga dekat dan iklimnya juga sedikit-banyak mirip. Tapi bahasanya memang susah sih.. saya yang diajarin beberapa kata aja kadang inget kadang enggak. Yang jelas, target selanjutnya adalah tempat-tempat yang sudah menjadi impian saya beberapa tahun terakhir untuk dikunjungi.

Tuesday, August 5, 2014

Tentang Baca..


[cr on the pic] [source: www.rifflebooks.com]

Saya kepingin bisa mendaftar target buku apa yang harus saya baca dalam kurun waktu tertentu, dan men-checklist mana yang berhasil saya selesaikan. Secara pribadi tentunya. Yah, simple. Tapi entah kenapa saya merasa bahwa harusnya saya sudah lakukan itu minimal setahun yang lalu.

Sebagai penggila buku, entah sudah berapa buku yang sudah saya baca, baik yang bentuknya buku beneran atau digital (e-book), buku sendiri atau buku pinjeman. 
Sejak pertengahan tahun lalu, saya semacam kejar target baca buku, setelah beberapa waktu sebelumnya saya merasa males-malesan, terutama karena deadline kerjaan yang menggila dan saya merasa kecapekan setelah pulang sehingga nggak ada waktu untuk baca. Tapi setelah menemukan pace yang pas, pada akhirnya saya berturut-turut bisa menyelesaikan buku-buku yang saya targetkan waktu itu. Jadilah, sejak awal tahun ini, saya mulai mencari buku-buku yang asyik untuk dibaca, dan mulai menghabiskan waktu luang untuk benar-benar melahap halaman demi halaman. Terutama karena akhir-akhir ini saya menemukan banyak sekali referensi buku-buku bagus yang daftarnya seolah nggak ada habisnya. Kadang saya bisa baca satu buku dalam sehari, dua hari, atau yang agak berat seperti Inferno-nya Dan Brown atau beberapa buku tebal lain, saya habiskan dalam seminggu atau lebih. Nggak maksa juga sih, yang penting ada waktu dan mood untuk melanjutkan ( <- biasanya kalau ini tergantung sama ceritanya juga). Tapi, saya baru merasa butuh membuat checklist dan target karena ada beberapa buku yang saya bahkan nggak ingat sudah pernah dibaca atau belum. Ada juga buku-buku yang baru saya baca sebagian dan terabaikan begitu saja, tanpa terselesaikan. Nggak bagus sebenarnya, karena kalau saya loncat dari buku tersebut ke buku lain jadinya memusingkan. Tapi faktanya gitu sih.. -_-

Pas saya lagi demam-demamnya (lagi) sama HTTYD, sama mulai membaca semua buku Cressida Cowell yang bisa saya temukan (dan ternyata sudah ada di file saya). Awalnya sih saya pikir memang saya belum baca, karena seingat saya juga saya baru baca buku pertama. Tapi menjelang buku-buku selanjutnya, pas saya baca, rasanya kok familiar dengan ceritanya. Bahkan saya sudah bisa menebak endingnya seperti apa. Semacam déjà vu gitu. Dan benar.. saya aslinya sudah baca tapi lupa. Apaan coba? -__- Semacam buang-buang waktu buat baca ulang nggak sih?

Dan beberapa waktu yang lalu, saya membeli buku 1Q84-nya Haruki Murakami yang tebelnya na’udzubillah itu (gabung 3 buku jadi 1). Nah, buku ini adalah salah satu buku yang paling lama saya selesaikan. Selain tulisannya yang kecil-kecil macam semut, saya juga bacanya kalau pas sempet aja, jadinya entahlah waktu itu dua buku saya selesaikan dalam waktu berapa lama. Pokoknya cukup lama. Dari segi ceritanya sih bagus, cuma mungkin saya agak bosen dengan pace yang agak lambat dan halamannya yang banyak. Meskipun terjemahan bahasa Inggrisnya enak banget sih, jadi nyaman-nyaman aja bacanya. Tapi di buku ke tiga, akhirnya saya stop. Niatnya sih waktu itu rehat dulu, tapi sampai sekarang akhirnya saya belum ngelanjutin baca lagi. Kenapa?
Satu. Saya banyak tergoda oleh buku-buku bagus lainnya yang sudah antri minta dibaca. Bahkan saya sempat dipinjami beberapa buku oleh teman saya di Jogja dan dari sekian buku tersebut, pada akhirnya saya cuma berhasil menyelesaikan satu buku. Lagi-lagi, karena interest saya terhadap buku lain lebih besar. Pada akhirnya, terbengkalailah beberapa buku yang niatnya saya baca.
Dua. Akhir-akhir ini, saya merasa lebih suka membaca buku digital/e-book. See, saya biasanya baca buku sebelum tidur. Pokoknya sampai mata rasanya berat dan akhirnya tertidur. Masalahnya, kalau saya baca buku beneran, saya harus menghidupkan lampu kamar (yang harus dimatikan kalau tidur) dan jaraknya jauh sama tempat tidur *excuse paling lame*. Nah, kalau ketiduran, lampu bakalan terus menyala dan tidur saya jadi nggak nyenyak. Akhirnya, saya jadi lebih suka baca e-book. Karena di HP kan sudah ada cahaya. Jadi gelap pun tidak masalah. Bahkan terkadang saking ekstrimnya, meskipun saya sudah punya buku fisiknya, saya tetap download yang ebook untuk dibaca sebelum tidur. Selain itu juga praktis, bisa dibaca dimana saja dan kapan saja.

Saat ini saya sedang baca series A Song of Ice and Fire karya George R.R. Martin. Awalnya, saya nggak begitu tertarik dengan series ini. Serial TV-nya juga saya nggak ngikutin. Tapi karena semua orang suka dan bilang bagus, saya akhirnya penasaran. Ditambah teman chatting saya pamer beli kelima bukunya pake harga diskon dan jadi murah meriah (padahal sini pengen beli boxed set-nya aja harganya hampir 700 ribu sendiri. Huhu). Setelah memutuskan untuk nonton seriesnya dan suka banget, saya akhirnya ingin coba baca. Dan, well.. ketagihan deh.. -__-
Sudah masuk buku ke tiga, dan saya nggak sabar sampai ke bagian lanjutan dari seriesnya. Wohoo!

Intinya, sebagai seseorang yang ngaku maniak buku, saya merasa harus punya target baca. Buat saya, bisa menyelesaikan buku dalam waktu yang cepat itu termasuk produktif. Sehari bisa berapa chapter aja sudah lumayan. Dan dengan men-checklist apa yang mau saya baca, mana yang sudah saya selesaikan, saya juga jadi tahu berapa banyak rata-rata jumlah buku yang saya selesaikan dalam waktu setahun. Keren nggak sih kalau kita sadar ternyata kita sudah baca ribuan buku (misalnya)? :3
Dan impian saya selanjutnya, saya mau bikin perpustakaan pribadi. Saya ingin mewariskan buku-buku saya ke anak-anak saya nanti *tsaaah*. Saya mbayangin saat dimana anak saya nanti akan tanya, “ini buku apa?” dan saya bisa memberikan dia edisi pertama terbitannya misalnya. Kan keren ya.. Atau saya bisa memberikan mereka buku-buku yang mungkin di jaman itu sudah tidak ada atau langka. Pokoknya saya pengen anak saya nanti nggak usah pusing-pusing kalau baca buku. Tinggal ambil aja mana yang mau dia baca, dan pilih. Berbagai genre, dan untuk berbagai rentang usia (disesuaikan pastinya).

Ngomong-ngomong, saya lagi seneng cari-cari bargain books yang harganya dibawah 50rb atau 100rb. Buku-buku itu aslinya bisa nyampe harga 200-300an. Tapi karena katanya cacat sedikit, akhirnya jadi buku bargain. Beberapa kali saya beli, dan saya puas banget karena saya bahkan nggak nemu cacatnya di sebelah mana, alias masih tampak baru dan lengkap. Dan ada satu pop-up book yang khusus saya simpan buat anak saya kelak (XDDDD) karena bagus dan jadi murah (padahal aslinya mahal banget).. :p

Sepertinya sindrom bookworm saya sudah mulai akut nih. Hmm… 

Monday, March 17, 2014

Avril Lavigne on Tour: A Short Experience


Jadi, beberapa hari yang lalu kebetulan saya nonton konser cewek imut dan cantik ini. I know, I was too lazy to write it immediately, dan baru sekarang sempat menuliskan kesan-kesannya. Hopefully my memory’s not playing tricks on me dan semua yang saya ceritakan akurat. Well, at least sesuai versi saya.
Okay, here we go

Jadi, saya ceritakan dulu kondisi saya di minggu itu. Basically, kerjaan saya cukup menggila. Dari hari Senin sampai Kamis saya sebenarnya menangani proyek di luar kantor yang cukup hectic dan melelahkan. Tapi beruntung saya bisa ambil cuti di tanggal 12-nya (hari Rabu) karena kalau enggak saya nggak mungkin bisa ijin pulang lebih awal biar bisa ngurusin penukaran tiket dan sebagainya. Oh iya, FYI, saya nonton konser dengan satu teman baik saya sejak SMA. Beruntung waktu saya mau beli tiket, dia mau diracuni untuk ikutan. Syaratnya, yah.. saya yang harus ngurusin semuanya karena konsernya weekdays dan dia nggak mungkin merelakan tugasnya di kantor untuk ngurusin beginian. Saya sanggupi deh. Dan akhirnya, datanglah hari H.

Pagi itu, saya bangun dengan badan yang rasanya nggak karuan. Malam sebelumnya sebenarnya saya sudah merasa sedikit meriang. Tapi saya cuma minum obat herbal yang biasa saya minum kalau masuk angin dan berharap rasa nggak enak itu segera pergi setelah saya tidur. Tapi tidak saudara-saudara, badan saya malah semakin nggak karuan paginya. Tangan udah gemetaran, padahal perasaan juga udah lama banget nggak ngerasain begitu. Akhirnya segala cara saya lakukan untuk mencegah kondisi badan semakin parah. Kan nggak asik banget ya, udah cuti, niatnya mau seneng-seneng nonton konser, malah sakit.
Tapi ternyata, setelah mandi dan mau berangkat, saya rasanya malah mau pingsan. Saya udah mencoba BBM dan menghubungi temen saya, ngabarin kalau badan saya nggak karuan dan nggak jelas bisa melanjutkan rencana atau enggak, tapi nggak diangkat. BBM saya pun nggak sampe. Tambah panik. Mana taksi waktu itu udah mau datang dan sudah mendekati jam 3. Akhirnya saya paksakan untuk siap-siap sambil terus berdoa dan balsam-an. Yap, saya balsemin itu semua badan biar anget. Nggak peduli orang bakal nyium bau balsem kalo saya lewat. Yang penting badan saya oke-oke aja. Akhirnya, taksi datang, dan saya meluncur ke venue.

Sampai di venue, yang nggak jauh-jauh banget dari kosan saya, langsung saya ke booth penukaran tiket. Karena saya waktu itu beli kelas VIP Festival, saya dapat poster sama light stick. Lumayan lah. Tapi bodohnya, saya nggak bawa karet buat posternya karena akhirnya itu poster malah menyulitkan saya ngapa-ngapain. Akhirnya saya hubungi teman saya minta dia bawain karet gelang.
Rencana awalnya, saya sebenarnya mau datang lebih pagi supaya saya bisa ngantri. Tau sendiri kan kalau konser masuknya rebutan. Meskipun saya sudah pegang kelas VIP, yang saya bingung adalah, kenapa yang beli VIP banyak banget? Ini sih sama aja bo’ong VIP-nya. Teman saya baru bisa meluncur ke venue setelah jam pulang kerja. Tapi jujur waktu itu saya nggak kuat kalau harus antri langsung, mana berdiri pula. Saya takut pingsan. Itu lebih eww. Akhirnya saya cuma duduk-duduk aja gitu sambil chatting-an sama temen saya itu dan satu teman lain yang cukup bisa mengalihkan perhatian dari badan yang nggak enak. Saya juga sempat jalan ke food area buat beli satu slice pizza yang harganya 10 ribu (astaga!) dan satu bucket fries seharga 25 ribu (ya ampun, ini namanya perampokan -_- ) demi perut dan badan supaya bisa bertahan sampai malam. Diputuskan kami mau ngantri bareng pas teman saya udah datang. Pokoknya nggak usah “ngaya” katanya. Okelah.

Nah, karena gate-nya dibuka jam 6, otomatis saya berharap sebelum jam 6 temen saya udah dateng ya.. Tapi, saya mulai panik karena dia bilang jalanan begitu macet (iya sih, namanya juga jam pulang kantor), dan waktu sudah menunjukkan jam setengah 6. Area sekitar juga sudah mulai crowded. Sudah banyak banget yang antri dan saya jadi semakin panik. Yah, mungkin karena waktu konser sebelumnya saya sudah antri dari pagi demi mematenkan posisi di depan sendiri. Entah deh kali ini saya dapat baris ke berapa. Harapan saya sih setidaknya masih di tengah. Meskipun memang secara keseluruhan antusiasme penonton konser yang ini masih kalah dibandingkan konser yang satunya. Jauh malah..
Dan akhirnya jam 6 kurang seperempat teman saya datang. Langsung kami lari ke arah antrian VIP. Dan ya ampun.. panjangnya.. -____-“

Oh iya, satu hal yang jadi perhatian saya di sini, saya nggak terlalu puas dengan kinerja promotor. Entah kenapa, banyak hal-hal kecil yang mengganjal dan membuat saya eneg setengah mati. Misalnya, keterlambatan pembukaan gate. Katanya gate dibuka jam 6, tapi jam 6 lewat lama baru dibuka. Belum masuknya juga lama banget. Ke dua, mereka terlalu banyak bikin aturan-aturan yang pada akhirnya tidak dilaksanakan sendiri oleh mereka. Misalnya nih ya, beberapa hari sebelum hari H, mereka bikin pengumuman kalau pas konser nggak boleh pakai tas punggung dan hanya boleh pakai tas slempang. Okelah, tapi malam sebelum hari-H, direvisi lagi pengumumannya kalau tas selempangnya hanya boleh sepanjang 30 cm maksimal. WTH. Kenapa juga harus dadakan begini? Oke, saya masih bisa terima. Termasuk aturan tidak boleh membawa kamera dan mereka sudah sangat getol menyuarakan aturan-aturan ini di twitter. Tapi faktanya? Pas masuk venue, boro-boro dilakukan body check sesuai aturan yang mereka tulis, tas saya aja nggak dicek. Sungguh saya muak sama ketidakkonsistenan aturan seperti itu. Helloo.. kalo niat mau bikin aturan dipraktekkin atuh, jangan cuma buat pajangan.. *annoyed*
Oke. Mungkin ada yang merasa saya lebay dsbg. But hey, the last time I attended a concert, the promoter’s so good! Dibandingkan sama yang ini, jauuuuuh banget. Saya nggak tau apakah salah satu penyebabnya karena promotor yang satunya kemarin promotor asing (yang kebetulan ada cabangnya di sini jadi pelaksanaan dan aturannya juga strict), but yeah, it made me enjoy the whole show. A lot! Nanti akan saya jabarkan bedanya apa. Now, moving on to the show..


Setelah masuk ke venue (tanpa dicek apa-apanya itu), saya dan teman saya ternyata cuma bisa mendapatkan spot di tengah. Lumayan lah, batin saya waktu itu. Setidaknya saya masih bisa liat panggung dengan cukup jelas, dan Avril mungkin akan kelihatan cukup jelas. Akhirnya, sambil menunggu, kami ndeprok di lantai dan ngobrol. Sambil nunggu jam 8.
Menjelang jam 8 malam, beberapa anggota band sudah keluar dan melakukan sound check. Penonton tiba-tiba heboh dan semuanya langsung berdiri terus lari berebut spot yang lebih depan. Saya sama teman saya kaget tapi akhirnya terbawa arus. Akhirnya semua orang sudah heboh dan mulai memanggil-manggil nama Avril. Saya juga cukup enjoy mengamati mas-mas band-nya yang mempersiapkan peralatan. Ada satu gitaris yang manis sekali. Saya nggak tau namanya siapa, yang jelas saya ngeliatin masnya terus sambil nunggu.. :p

Oke. Karena memori saya sudah mulai bermasalah dengan runtutan kejadian selama konser, saya cuma mau nulisin intinya aja.
  • Posisi saya di tengah. Lumayan lah bisa keliatan cukup jelas panggungnya. Dan karena teman saya lebih pendek dari saya, dia yang di depan saya. Masalahnya, banyak juga mas-mas berbadan tinggi yang ada di depan kami dan (sepertinya) tidak mau mengalah. Beberapa penonton sempat protes sama mereka tapi siapa sih yang mau menggubris di saat-saat begini? Bahkan sebelah saya pun ada mbak-mbak mungil yang saya yakin nggak bisa ngeliat panggung sama sekali. Di poin ini, saya benar-benar mempertimbangkan mengambil tribune. Lebih keliatan kali. Yah, next concert mungkin..

  • Waktu Avril keluar, semua penonton heboh. Jelas ya.. Saya juga ikutan heboh sih. Saya ikut teriak dan jerit-jerit. Nggak papa lah, mumpung suasananya pas. Kapan lagi saya bisa bebas jerat-jerit? #eh

  • Waktu pertama keluar, Avril tampak mengenakan atribut Hello Kitty. Pas sih sama lagu pertama yang judulnya juga Hello Kitty. Dia pake bando pita gedhe warna pink, blazer yang ada nuansa pink-nya juga, sama rok yang ada ornament kepala hello kitty-nya juga. Girly abis lah pokoknya.

  • Menjelang lagu kedua, Girlfriend, Avril mencopot semua atribut Hello Kitty. Dan yang tersisa adalah tank top hitam sama celana kulit. Pretty cool! Dan satu lagi, bagian kiri kepalanya kembali di shave. Sama rambutnya sudah kembali bernuansa pink setelah sebelumnya lebih cenderung blonde.

  • Suaranya bagus lho.. Cukup jernih untuk live. Tapi memang  kalau saya liat live performance-nya beberapa tahun terakhir, suaranya tambah bagus sih untuk live. Jadi ya nggak heran juga. Meskipun di beberapa lagu agak sedikit tenggelam sama instrumennya. But overall, she’s great! J

  • Di sebelah saya, ada sosok mas-mas yang menurut saya heboh banget. Sepanjang lagu, dia terus nyanyi-nyanyi (saya juga nyanyi-nyanyi terus sih). Tapi mas ini entah kenapa keliatan gimanaaa gitu. Di beberapa lagu, dia tetep keukeuh nyanyi-nyanyi meskipun dia nggak apal liriknya. Dan melihat saya heboh, dia juga sering ngelirik ke arah saya, seakan mastiin apa yang dia nyanyiin bener. Dia juga beberapa kali tanya ke saya ini lagu apa, kalau pas dia nggak tau lagu yang dimainin lagu apa. Sumpah saya berasa fans fanatik di konser itu (meskipun sebenarnya enggak). Dan sepanjang konser, dia selalu ngetwit! Mungkin semacam live report kali ya.. Ada deh setiap lagu dia ngetwit dua atau tiga kali. Saya sih ngerasa aneh aja.. XD

  • Saya harus bilang saya merasa berada di crowd yang salah. Well, don’t get me wrong. Sekitar saya cukup antusias dengan konsernya. Mereka cukup banyak yang nyanyi-nyanyi, terutama di lagu-lagu yang populer. Tapi sebagian besar terlihat kalem dan biasa aja gitu. Saya termasuk orang yang heboh sendiri. Saya akui nggak semua lagu baru di album Avril saya hafal. Misalnya, saya nggak terlalu suka Hello Kitty. Jadi pas lagu ini, saya cuma ngangguk-angguk sambil nyanyi bagian yang saya bisa aja. Atau pas Bad Girl, saya nggak hafal sama sekali. Tapi saya bisa enjoy dengan headbang sepanjang lagu (karena menurut saya musiknya pas sekali buat headbang). Dan sekitar saya banyak yang mliriki saya seolah-olah saya ini alien. Well, that’s my way of enjoying a concert dude.. Saya sih cuek aja.. :p

  • Di lagu Don’t Tell Me, Avril sempat bikin introduction, bilang kalo lagu ini dia tulis sama sahabatnya. Dan tiba-tiba foto Evan Taubenfeld nongol di layar besar. Saya dan banyak fans lainnya jerit-jerit, karena saya suka Evan dari dulu. Nggak nyangka aja namanya bakalan disebut-sebut setelah dia bukan bagian dari band-nya lagi. Tiba-tiba, mas heboh yang disebelah saya tadi bilang ke saya, “Ini Eric kan?”. Saya bingung, dalam hati mempertanyakan ini orang ngomong apa. Saya bilang ke dia, “Bukan. Ini Evan. Evan Taubenfeld.” Dan dia mengangguk, sambil ngetwit info yang saya bilang barusan. Oke, saya cuma bisa ngakak dalam hati.. XD

  • Beberapa kali Avril nggodain penonton. Di lagu He Wasn’t, dia sempet ngangkat tangannya beberapa kali, minta penonton teriak-teriak. Semakin ke atas tangannya semakin keras. Tapi habis itu dia bakalan nurunin tangannya dan musik terdengar semakin pelan, meminta kita untuk diam juga. Begitu terus-terusan, sampai saya rasanya capek dan bingung. Beberapa orang di sebelah saya bilang Avril lagi ngelawak. But it was fun. Dan kita juga asik-asik aja sih “digodain” begitu.

  • Di lagu Hush Hush, saya satu-satunya orang yang ada di area itu yang nyanyinya paling keras dari awal sampai akhir. Di titik ini, saya semakin sadar saya berada di kerumunan yang salah. Ini memang lagu baru sih. Tapi saya suka banget sama lagu ini, jadi udah hafal di luar kepala.

  • Nggak ada Chad Kroeger! Saya sempat berharap Chad bakalan ikutan konser ini. Karena di beberapa report yang saya baca sebelumnya, Chad sempat duet dengan Avril nyanyiin Let Me Go. But well, I guess we didn’t get the privilege. He wasn’t there. Jadi lagunya bukan lagu duet deh di konser ini. Huhu. Padahal kan suaranya Chad keren banget..

  • Lagu terakhir adalah I’m with You. And boy, everybody sang.. Suara koornya menggema sampai sudut stadium dan bikin saya merinding. Ini juga jadi lagu dengan bridge terpanjang. Berkali-kali Avril meminta penonton menyanyikan bridge-nya terus-terusan, over and over again.

  • Saya sudah bilang kan kalau saya naksir sama salah satu gitarisnya? XD He’s so cute! Tapi sayang saya nggak nangkep namanya waktu dikenalin sama Avril. Jeritan penonton mengalahkan suaranya.

  • Daaaaaan.. satu hal yang membuat saya dongkol sepanjang konser adalah, semua orang seakan berlomba-lomba untuk mengambil foto dan merekam. I mean, THE WHOLE TIME! Damn. Saya nggak habis pikir sama orang-orang ini. Sekali-dua kali foto oke lah. Tapi sepanjang konser? Geez! Nggak ada sedetik pun saya nggak liat tangan di udara sambil memegang kamera atau HP. Ini salah satu hal kontradiktif yang saya rasakan dari aturan yang dibuat. See? Pada akhirnya aturannya jebol. Dan ujung-ujungnya saya tidak menikmati. Saya jadi kangen konser OOR dimana semua security strict melarang kamera dan bakal langsung menggiring si perekam keluar venue.

Full Setlist:

Hello Kitty
Girlfriend
Rock N Roll
Here’s to Never Growing Up
I Always Get What I Want
Hush Hush
Let Me Go
My Happy Ending
Don’t Tell Me
Complicated
Bad Girl
He Wasn’t
Losing Grip
Sk8er Boi
What the Hell
Smile
I’m with You

And that’s what happened. Setelah konser selesai suara saya langsung serak, hampir hilang, gara-gara terlalu banyak jejeritan. But hey, it was fun! Dan badan saya juga herannya malah nggak papa. Meskipun bisa dikatakan konser ini jauh tidak melelahkan dibandingkan konser pertama saya sebelumnya, saya cukup puas. Cuma ya itu, tangan dan kamera di mana-mana itu membuat kekhusyukan nonton jadi terganggu. Dan sepanjang konser saya juga nggak ngambil gambar satu pun. Menyesal kah? Enggak juga sih. Saya punya value dan prinsip sendiri dalam menikmati konser. Mungkin buat sebagian orang aneh. Tapi saya justru merasa aneh jika harus menghabiskan waktu satu setengah jam itu struggling dengan kamera dan tidak menikmati lagu dan musiknya sepenuh hati. Saya lebih pengen mengenang semuanya di kepala. Kalau mau gambarnya, kan bisa gugling dan mendapatkan hasil jepretan yang lebih bagus dari fotografer profesional?
Yang jelas, saya juga berharap promoter-promoter di Indonesia bisa lebih baik lagi, terutama dalam menjalankan peraturannya. Kan malu menjilat ludah sendiri. Overall, this promoter is not my favorite. Berharap jika suatu saat band yang saya tunggu kedatangannya ke sini beneran dateng, promoter yang dipakai adalah yang keren seperti yang kemarin. *fingers crossed*

Setelah selesai, saya dan teman saya langsung menuju keluar gedung untuk cari taksi pulang. Kami harus jalan menyusuri pinggir jalan dulu biar dapat taksi, mengingat yang nyetop taksi juga banyak dan pastinya rebutan. Teman saya sudah dapat, dan tinggal saya sendiri. Tapi ternyata, banyak taksi yang menolak ngangkut penumpang jam segitu. Alasannya sih karena mau pulang sekalian. Jadilah saya berkali-kali nyetop dan ditolak lima kali. Tapi akhirnya jam setengah 11 kurang saya bisa dapat taksi dan pulang. Dan meskipun keesokan harinya saya harus bangun pagi-pagi sekali demi melanjutkan tugas sebagai karyawan dengan kaki yang rasanya nggak karuan, saya tetap puas. Bisa refreshing, dapat hiburan dikit. Dan well.. tentunya berharap ke depannya akan lebih banyak konser yang bisa didatangi. That’s pretty much my dream btw.. so yeah, hopefully there would be many more to come.. J