Showing posts with label Hobbies. Show all posts
Showing posts with label Hobbies. Show all posts

Monday, March 14, 2016

I Breathe Words. And I Eat Books.



Not literally though.. Tapi saya memang orang yang nggak bisa hidup tanpa buku. Entah sejak kapan saya suka buku, saya juga nggak ingat sih. Hanya saja saya cukup yakin influence orang tua saya yang suka membaca dan banyak membelikan buku bacaan dari kecil membuat saya suka sekali sama membaca. Mulai dari majalah Bobo, komik Donald bebek dan teman-temannya, sampai dengan buku bergambar berjudul Kisah Simi Semut (saya paling suka buku ini, jadi sampai sekarang masih ingat judulnya meskipun bukunya entah sudah pergi ke mana) dan juga kisah-kisah Nabi. Saya bukan berasal dari keluarga yang sangat berada, jadi kalau buku bacaan saya habis, saya biasanya akan mencari tempat persewaan untuk memperbanyak daftar bacaan. Sampai ketika sudah menginjak SMA, saya mulai berpikir untuk mengoleksi buku. Yes, nggak cuma baca, tapi juga koleksi. Hambatan saya waktu itu adalah uang saku yang terbatas dan harga buku yang cenderung mahal. Belum lagi saat itu saya sudah mulai mengoleksi kaset lagu dari musisi yang saya sukai. Jadi jalan satu-satunya yang bisa dilakukan selain menyewa dan meminjam buku dari perpustakaan adalah menabung. Saya masih ingat, buat beli satu buku Harry Potter saja saya harus nabung hampir dua bulan.

Setelah fase sekolah terlewati, masuk fase kuliah. Di fase ini, uang saku sedikit bertambah. Dan karena saya cukup beruntung mendapatkan beasiswa dan orang tua tetap keukeuh mau membiayai kuliah saya, berarti uang beasiswa yang saya dapatkan bisa ditabung untuk membeli barang dan kebutuhan sekunder. Selain gadget, saya mengalokasikan tabungan saya lagi-lagi untuk membeli buku. Dan semakin bertambah lah koleksi buku saya, sampai-sampai Bapak dan Ibu di rumah terheran-heran kenapa saya hobi sekali membeli buku padahal sudah jelas kamar saya nggak ada space lagi untuk menyimpannya. Tapi yang namanya hobi, siapa sih yang bisa melarang? Toh membelinya juga pakai uang saya sendiri. Dan saat saya sudah bekerja pun, saya semakin bahagia karena saya bisa mengalokasikan gaji saya per bulan untuk beli buku. Dan bukannya semakin surut, kebiasaan saya yang satu ini malah semakin menjadi-jadi.

Apa sih enaknya beli buku? Banyak teman sekantor saya yang bertanya demikian. Mereka beranggapan bahwa membeli buku itu “useless”, apalagi ketika saya bisa meminjam buku yang sama dari orang lain. Bahkan tidak jarang dari mereka yang merasa bahwa akan lebih baik jika uangnya dibelikan makanan. Tapi menurut saya, membeli buku = investasi. Saya lebih royal menghabiskan uang untuk beli buku daripada membeli makanan yang sekali makan langsung habis.  Saya lebih suka pergi ke toko buku daripada wisata kuliner ke tempat-tempat yang menyajikan aneka hidangan baru yang sekarang sudah semakin aneh-aneh jenis dan namanya. Dan saya lebih sering menunggu paket kiriman buku daripada baju atau tas atau sepatu dan barang-barang lainnya. Bukan berarti saya tidak suka makan atau belanja barang, tapi kalo ditelusuri, “Achilles heel” saya adalah “buku”. Ke mall, yang disambangin pertama kali toko buku. Ke bandara juga begitu. Saking seringnya beli, beberapa bulan sekali, saya bisa mengirimkan satu kardus koleksi buku saya yang sudah dibaca dari kosan ke rumah saya di Jogja supaya ke depannya masih ada space buat saya menyimpan buku di kamar rantauan yang space-nya mepet itu.
Saya suka excitement-nya membuka buku baru yang masih dibungkus plastik (dengan wangi khasnya yang tidak tergantikan itu), menelusuri cover dan kertasnya dengan tangan saya; merasakan teksturnya serta menemukan jawaban apakah material cover-nya sesuai dengan prediksi saya. Dan saya orang yang sangat menyayangi buku-buku yang saya beli sampai-sampai setiap orang yang akan meminjam akan saya “kuliahi” terlebih dahulu dengan hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat mereka meminjam buku saya, termasuk aturan yang saya terapkan sendiri dimana buku saya hanya boleh dipinjam ketika saya sudah selesai membaca atau minimal sudah saya beli selama 1-2 bulan. Crazy, right? But that’s how much I love my books. Well, lebih tepatnya protektif.

Saya punya bayangan yang agak gila untuk mewariskan buku-buku yang saya miliki kepada anak saya kelak. Selain keinginan untuk memiliki perpustakaan pribadi suatu hari nanti, saya merasa bahwa bisa jadi ketika nanti anak saya sudah besar (katakanlah), pasti akan ada buku-buku yang sudah tidak ada diproduksi lagi (atau sudah sangat langka). Kalau saya punya, pasti bakalan jadi surga buat mereka. Dan yang paling keren, mereka bisa meneruskan koleksi bukunya dari tahun ke tahun, yang nantinya akan semakin banyak dan semakin banyak. How cool is that? :D

Dengan akses internet yang sangat gampang jaman sekarang, saya juga lebih suka memesan buku secara online. Karena disamping saya tidak ada waktu banyak untuk survey langsung ke toko buku, membeli buku secara online memiliki banyak nilai plus, termasuk banyak diskon yang ditawarkan. Dan selain buku konvensional yang berwujud buku, saya juga suka membaca buku dalam bentuk digital. Bahkan akhir-akhir ini malah sering menghabiskan waktu membaca e-book dibandingkan dengan buku normal. Kenapa? Apakah saya beralih ke e-book karena lebih murah? Enggak juga sih.. Lebih karena kepraktisannya saja. Selain bisa baca buku dimana pun dan kapan pun lewat HP, akan kesulitan buat saya menenteng buku kemana-mana karena mostly buku yang saya baca berupa novel yang cenderung tebal. Bahkan terkadang kalau saya sudah membeli versi hard copy-nya, saya akan mencari versi e-booknya supaya sewaktu-waktu bisa dibaca. Dan kadang kebalikannya, kalau saya baca e-book dan suka banget sama ceritanya, saya akan pastikan untuk membeli versi hard copy-nya. Atau bisa jadi malah beli dua versi hard copy; bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Ini termasuk perilaku yang kata teman-teman saya sudah lebay.
Tapi pada akhirnya hal inilah yang membuat saya menjadi hoarder; kebiasaan untuk membaca buku hard-copy maupun e-book. Kenapa? Karena to-be-read saya jadi semakin banyak. Sedangkan saya yang masih menjadi kuli kantor ini suka susah mendapatkan waktu luang untuk membaca. Belum nanti membagi waktu luang antara membaca dengan menonton film atau series favorit saya. Rasanya saya jadi seperti pengemis waktu yang nggak terima kalau sehari hanya ada 24 jam. Terkadang pulang kantor pun kalau sudah capek rasanya sayang banget kalau langsung tidur, jadi pada akhirnya harus memanfaatkan waktu untuk bisa lebih produktif.

Isn’t it exhausting? 
Not really.. Karena saat saya membaca, saya akan lupa masalah yang saya alami, apalagi kalau saya suka banget sama bukunya. Buku adalah sarana saya belajar untuk lebih berempati terhadap semua karakter (mau baik, jahat, grey area, semuanya lah). Saya bisa melihat pola pikir mereka dan karena background pendidikan (dan pekerjaan) saya adalah psikologi, hal ini menjadi sangat membantu, terutama untuk bisa lebih memahami latar belakang perilaku dan alasan mengapa seseorang melakukan hal tertentu. Sering kok saya sesenggukan habis menyelesaikan satu buku saking menghayatinya, bahkan bisa terdiam bermenit-menit cuma mikirin cerita/endingnya. Pernah juga saya merasa muak dengan karakter yang penjadi penutur cerita bukunya sampai-sampai saya berpikir pengen stop baca dan lanjut ke buku lain, tapi akhirnya saya teruskan (saking kerennya si pengarang membuat tokohnya sangat dislikeable). Buku juga media yang sangat perfect untuk mencoba menjadi orang lain (ya, alasan utama saya cinta sekali dengan buku); karena buku adalah escapism saya, dan setiap selesai membaca satu buku, saya merasa menjadi setidaknya 1% lebih komplit dari sebelum saya membaca buku itu, terutama karena saya serasa mendapatkan pengalaman baru. Belum lagi fakta bahwa dengan membaca apapun saya bisa mendapatkan informasi yang berguna, meskipun terkesan remeh temeh sekalipun. Trust me, I’ve been there. Hal ini terkesan sangat cliché tapi pada faktanya memang benar begitu. Sering saya menemukan pertanyaan, pernyataan, argument, atau hal lainnya yang membuat otak saya merefer ke buku tertentu dan informasi “tidak penting” di dalamnya yang sesuai dengan topik yang dimaksud. Dan ketika saya tahu hal itu sedangkan orang lain tidak, rasanya seperti menjadi orang terkeren (saat itu).

Jadi, saya suka heran dengan orang yang sama sekali nggak suka membaca. Tapi memang tipe orang beda-beda sih ya.. Yang penting saya bersyukur bisa menjadi orang yang mengapresiasi dan menikmati kegiatan “membaca” seperti bernafas. Effortless dan natural. Oke, kecuali textbook tapi.. XD

Thursday, September 10, 2015

Because I love "fantasy" too much

Frekuensi saya menulis blog kayaknya sudah dalam tahapan kritis. Saya baru sadar tahun ini saya cuma berhasil nulis satu postingan. Duh.. 
Rasanya pengen sebenarnya menulis hal lain selain nyeritain buku. Namun apa daya, saya lagi lebih bersemangat nulis review buku daripada yang lain, so.. bear with me, please.. 

Baru saja saya menyelesaikan satu buku karangan David Levithan yang judulnya Every Day, dan saya langsung pengen membahas buku ini. I'm excited! Kenapa? Karena temanya yang nggak biasa.




First of all, saya harus bilang kalau saya beli buku ini dengan situasi yang sangat accidental rasanya. Waktu nge-mall, mampir ke toko buku favorit saya, dan saya niat banget sebenernya beli The Book Thief. Terlepas dari filmnya yang sudah saya tonton (dan saya suka banget), rasanya pengen aja beli bukunya dan baca. Karena buat saya, semenarik apapun filmnya, buku adalah sumber informasi yang lebih kaya. Eh, tapi.. pas saya udah mau bayar bukunya, tiba-tiba di depan saya nongol sampul buku Every Day dengan tagline-nya yang waow banget, 

"Every day a different body,
Every day a different life, 
Every day in love with the same girl."

Bayangan saya waktu itu, "buset.. kok ngenes banget hidupnya orang ini". Dan saya mencoba mencari-cari cerita yang mirip, dan ternyata saya belum menemukannya. Akhirnya setelah gamang selama beberapa saat, teman saya menyarankan supaya saya beli bukunya David Levithan ini. Sebelumnya, saya kurang familiar dengan karya-karyanya. Saya juga baru tahu kalau dia bikin buku bareng John Green yang judulnya "Will Grayson, Will Grayson". Tapi udah, itu aja. Dasarnya saya nggak mbaca John Green juga sih, jadi ya begitulah..

Anyway, pas baca halaman-halaman pertama, rasanya sudah menarik banget. Saya nggak bisa lepas dari itu buku. Ceritanya sendiri terkait seorang being (saya bilang being karena saya belum bisa menyimpulkan sebenarnya tokoh utamanya itu apa) bernama A yang dari lahir, hidupnya berpindah dari satu manusia ke manusia lain. Setiap hari dia akan terbangun di tubuh yang berbeda. Bisa dibilang kayak host mungkin. Ia juga hanya bisa hinggap sekali untuk satu tubuh. Jadi nggak mungkin dia jadi orang yang sama dua kali. Selain itu, si A ini cuma bisa masuk ke tubuh orang yang umurnya sama dengan dia. Di novel, diceritakan bahwa A berumur 16 tahun, jadi ya yang dihuni sama dia tubuh remaja berusia 16 tahun semua, baik cowok maupun cewek. Saat "menghuni" satu tubuh, dia bisa mengakses memori orang tersebut sehingga bisa berpura-pura menjadi orang yang ia huni tubuhnya. Sampai suatu ketika, si A ini jatuh cinta sama seorang cewek yang namanya Rhiannon saat dia "hinggap" di tubuh cowoknya si cewek yang namanya Justin. Dari situ, A yang dari awal bisa dikatakan hidupnya standar-standar aja, jadi berubah total. Setiap hari dia kepikiran sama Rhiannon. Dan setiap pagi setelah ia bangun, hal yang dia pikirkan adalah Rhiannon, serta jarak diantara mereka. Nah kan? Gimana  kira-kira hubungan cinta yang begini? Yang bahkan ceweknya pun nggak tau kalau cowok yang ternyata dia sukai dan damba-dambakan banget ini sebenarnya bukan pacarnya? Gimana pula dia bisa jatuh cinta sama cowok yang bahkan tidak punya tubuh?

Pace buku ini cepat, jadi bacanya juga nggak bosan. Dan jelas banget kita jadi menebak ending-nya bagaimana, terutama karena banyak sekali pertanyaan terkait A itu siapa, kok bisa begitu, dan gimana akhir hubungannya dengan Rhiannon, dst. 

Endingnya cukup menyentuh, meskipun saya nggak sampai nangis (tapi hampir, dan mengingat saya baca di kantor kayaknya wajar kalau emosi agak saya tahan biar saya nggak diketawain karena tiba-tiba nangis sendiri). Tapi ada beberapa hal yang masih tidak saya temukan dalam buku ini, termasuk pertanyaan di kepala saya kenapa kok dia pindah tubuhnya ke orang-orang yang tinggalnya deket-deket situ aja. Dan kalau satu orang tidak mungkin dia "hinggapi" sekali, dan dia hanya menghuni tubuh orang yang seumuran, apa nggak habis ya hostnya? Kan kalau umurnya dari kecil sama berarti dia hanya bisa hinggap di orang-orang itu saja. Ah sudahlah..
Kalau bisa mengesampingkan beberapa pertanyaan itu, buku ini pasti menarik kok. Meskipun memang misterinya malah jadi menggelitik. Jadi berharapnya, akan ada penjelasan terkait sejarahnya A dan cara kerja hidupnya dengan lebih detil, terutama karena di akhir buku juga ada surprise lagi terkait latar belakangnya A. Dan dia akhir pun belum ada konklusi pastinya A ini makhluk apa. Dia orang kah? Apa alien? *sighs*

Dan ternyata sudah terbit buku ke duanya yang berjudul Another Day. Dan buku ini diceritakan dari sudut pandang Rhiannon, terutama ketika dia tahu kalau "cowoknya" ternyata bukan cowoknya. Saya belum baca buku ke dua sih, tapi kayaknya seru juga. Saya sangat penasaran dengan endingnya, terutama karena POV-nya A tidak bisa meng-cover situasi saat itu. 

Mungkin setelah baca buku ke dua, saya bisa tambahkan review-nya di sini. Yang penasaran, silahkan dicari dan dibaca. Sudah jadi best-seller juga ternyata ini. Saya yang telat.. -__-"

Tuesday, December 30, 2014

Free Stuff!

Everyone (at least everyone who knows me) knows I love books. Dan akhir-akhir ini saya merasa kalap beli buku. Semacam, I used to see myself as a book reader, but now I feel more like a book hoarder. Yah, mungkin karena udah bisa menghasilkan duit sendiri, yang namanya hobi jadi gampang banget tersalurkan. Ada diskon buku dikit langsung mborong. Bahkan saking parahnya, saya pernah niat ngecek website salah satu online bookstore favorit saya dan niatnya cuma liat buku apa aja yang baru. Tapi beberapa menit kemudian, saya sudah menghabiskan beberapa ratus ribu untuk belanja. I mean, come on.. =__= *timpuk diri sendiri*

Nah, ngomong-ngomong soal online bookstore favorit, beberapa waktu yang lalu saya dapat e-mail kalo periplus (I've decided not to hide the name) lagi ada program bagi buku-buku gratis. Sebagai orang yang ngakunya bookworm sejati (dan tentunya suka sama gratisan), saya merasa saya harus wajib ikutan program ini kalau memungkinkan. Setelah dicek, ternyata mereka emang bagi-bagi buku gratis di tanggal tertentu dan waktu tertentu. Meskipun kita tetap bayar ongkirnya, buat saya hal ini nggak masalah sama sekali. Karena harga satu buku di situ aja kadang bisa bikin saya nangis sambil elus-elus dompet. Akhirnya, dengan tekad baja, saya niatkan untuk hunting buku gratisnya. Programnya namanya Books Haul. Jelasin dikit deh ya.. Jadi, setiap jam 11-12 siang di tanggal tertentu, ada dua buku yang dibagikan dengan stok terbatas. Kita bisa pilih satu di antara dua buku itu. Nah, supaya bisa dapet gratis, kita mesti masukin kode voucher yang ada di tiap judul buku (yang muncul tepat jam 11). Habis itu, cepet-cepetan selesein proses belanjanya seperti biasa. Saya nggak tau jumlah yang dibagi per buku berapa biji. Tapi waktu pertama kali saya nyoba, saya bisa dapet! *Thank God for wifi*
Buku pertama yang saya dapat adalah Bird Box karya Josh Malerman. Saya belum tahu sih bukunya kayak apa, tapi diantara buku ini dan The Drop (yang katanya udah di film-in), entah kenapa saya lebih tertarik baca yang ini, makanya saya pilih buku ini dari awal. 

Pas saya lihat-lihat daftar buku yang dibagikan di hari-hari sebelumnya, saya sempat kaget karena besoknya, ternyata ada Pivot Point yang dibagikan. Bagi yang tahu, Pivot Point adalah salah satu novel favorit saya, dan pernah saya review di sini. Berhubung saya waktu itu baca soft-file-nya, pastinya saya pengen dong dapet versi buku beneran-nya.. Akhirnya saya niatkan harus ikut lagi besok. Dan mau nggak mau harus dapet. Sumpah saya nggak bisa tidur malemnya gara-gara kepikiran dan pengen banget. Dan esoknya, Alhamdulillah saya bisa dapet lagi.. X3


Basically, setelah kejadian ini, saya nyoba ikut Books Haul di setiap kesempatan. Tapi di hari ketiga, pas saya udah mau proses bukunya di web, ada notif yang mengatakan bahwa saya nggak bisa dapet bukunya. Berhubung waktu itu koneksi wifi kantor memang lagi ajeb-ajeb, saya asumsikan bahwa saya memang belum rejeki dapet bukunya Moira Young yang Blood Red Road (padahal pengen juga). Beberapa hari setelah itu saya belum ikutan lagi karena posisi lagi di Jogja dan ada acara yang tidak bisa diganggu gugat. Nah, hari ini, hari terakhir Books Haul, saya nyoba lagi. Sebelumnya saya memastikan dulu koneksi wifi udah yahud, supaya prosesnya lancar dan bikin senewen kayak sebelumnya. Eh, tapi.. pas udah saya masukin ke cart, nggak bisa aja gitu diproses, sama kayak sebelumnya. Katanya sih tiap customer cuma bisa dapat satu buku gratis. Saya agak bingung sebenernya. Dan setelah diusut, saya baru sadar kalo aturannya sudah diperbaharui. Jeng jeng jeng!!!
Sebelumnya, aturannya tidak membatasi bahwa satu customer hanya bisa dapat satu buku. Tapi aturan yang baru bilang, kalo intinya, yang udah dapet buku gratis nggak bisa dapet lagi. Mehh.. kecewa lah saya.. -___-" Saya bahkan baru nyadar kalo di bawah sendiri ada tulisan stok bukunya cuma satu dan di daftar masing-masing buku ada tulisan nama pemenangnya. Nama saya ada dua. Tapi di salah satu daftar, mereka menghilangkan nama depan saya sehingga nama saya terlihat beda (hoho~ kenapa coba? :p).


Well, mungkin mereka berpikir bahwa mereka harus adil, makanya orang-orang yang dapet buku lebih dari satu langsung di-blacklist. lol

But however, saya udah bersyukur bisa dapet beginian. As I said many times before, saya tidak merasa saya adalah orang yang beruntung. Hal-hal seperti ini (undian, cepet-cepetan, atau pokoknya yang ada unsur keberuntungan) selalu menjadi momok buat saya karena saya nggak pernah menang. Itu juga salah satu alasan kenapa saya paling males ikutan kuis berhadiah atau hal-hal semacam itu. Tapi entah kenapa kalo urusannya di seputar buku, saya merasa jauh lebih beruntung dibandingkan hal-hal terkait urusan selain itu. 
Yah, mungkin udah rejekinya juga kali ya.. Anyway, harus meluangkan waktu buat baca Bird Box-nya. Pas saya buka bukunya, saya langsung jatuh cinta sama tampilannya. Kertas cover-nya nggak biasa; tipe-tipe yang bertekstur gitu.. So pretty~ Dan nggak nyangka juga ada hadiah pembatas buku dari tokonya. Pokoknya online bookstore ini emang favorit saya. Selain suka ngasih diskon (yang lumayan signifikan dan di saat tidak terduga), mereka juga suka banget bikin program-program yang menarik dan bikin customer jadi setia sama service-nya. And I'm telling you, saya ini customer bawel (meskipun nggak bawel-bawel banget dan biasanya bawelnya beralasan). Jadi kalo saya udah muji-muji servis, tandanya memang worth it
Oke, kok malah jadi promosi.. -_-"

Tuesday, August 5, 2014

Tentang Baca..


[cr on the pic] [source: www.rifflebooks.com]

Saya kepingin bisa mendaftar target buku apa yang harus saya baca dalam kurun waktu tertentu, dan men-checklist mana yang berhasil saya selesaikan. Secara pribadi tentunya. Yah, simple. Tapi entah kenapa saya merasa bahwa harusnya saya sudah lakukan itu minimal setahun yang lalu.

Sebagai penggila buku, entah sudah berapa buku yang sudah saya baca, baik yang bentuknya buku beneran atau digital (e-book), buku sendiri atau buku pinjeman. 
Sejak pertengahan tahun lalu, saya semacam kejar target baca buku, setelah beberapa waktu sebelumnya saya merasa males-malesan, terutama karena deadline kerjaan yang menggila dan saya merasa kecapekan setelah pulang sehingga nggak ada waktu untuk baca. Tapi setelah menemukan pace yang pas, pada akhirnya saya berturut-turut bisa menyelesaikan buku-buku yang saya targetkan waktu itu. Jadilah, sejak awal tahun ini, saya mulai mencari buku-buku yang asyik untuk dibaca, dan mulai menghabiskan waktu luang untuk benar-benar melahap halaman demi halaman. Terutama karena akhir-akhir ini saya menemukan banyak sekali referensi buku-buku bagus yang daftarnya seolah nggak ada habisnya. Kadang saya bisa baca satu buku dalam sehari, dua hari, atau yang agak berat seperti Inferno-nya Dan Brown atau beberapa buku tebal lain, saya habiskan dalam seminggu atau lebih. Nggak maksa juga sih, yang penting ada waktu dan mood untuk melanjutkan ( <- biasanya kalau ini tergantung sama ceritanya juga). Tapi, saya baru merasa butuh membuat checklist dan target karena ada beberapa buku yang saya bahkan nggak ingat sudah pernah dibaca atau belum. Ada juga buku-buku yang baru saya baca sebagian dan terabaikan begitu saja, tanpa terselesaikan. Nggak bagus sebenarnya, karena kalau saya loncat dari buku tersebut ke buku lain jadinya memusingkan. Tapi faktanya gitu sih.. -_-

Pas saya lagi demam-demamnya (lagi) sama HTTYD, sama mulai membaca semua buku Cressida Cowell yang bisa saya temukan (dan ternyata sudah ada di file saya). Awalnya sih saya pikir memang saya belum baca, karena seingat saya juga saya baru baca buku pertama. Tapi menjelang buku-buku selanjutnya, pas saya baca, rasanya kok familiar dengan ceritanya. Bahkan saya sudah bisa menebak endingnya seperti apa. Semacam déjà vu gitu. Dan benar.. saya aslinya sudah baca tapi lupa. Apaan coba? -__- Semacam buang-buang waktu buat baca ulang nggak sih?

Dan beberapa waktu yang lalu, saya membeli buku 1Q84-nya Haruki Murakami yang tebelnya na’udzubillah itu (gabung 3 buku jadi 1). Nah, buku ini adalah salah satu buku yang paling lama saya selesaikan. Selain tulisannya yang kecil-kecil macam semut, saya juga bacanya kalau pas sempet aja, jadinya entahlah waktu itu dua buku saya selesaikan dalam waktu berapa lama. Pokoknya cukup lama. Dari segi ceritanya sih bagus, cuma mungkin saya agak bosen dengan pace yang agak lambat dan halamannya yang banyak. Meskipun terjemahan bahasa Inggrisnya enak banget sih, jadi nyaman-nyaman aja bacanya. Tapi di buku ke tiga, akhirnya saya stop. Niatnya sih waktu itu rehat dulu, tapi sampai sekarang akhirnya saya belum ngelanjutin baca lagi. Kenapa?
Satu. Saya banyak tergoda oleh buku-buku bagus lainnya yang sudah antri minta dibaca. Bahkan saya sempat dipinjami beberapa buku oleh teman saya di Jogja dan dari sekian buku tersebut, pada akhirnya saya cuma berhasil menyelesaikan satu buku. Lagi-lagi, karena interest saya terhadap buku lain lebih besar. Pada akhirnya, terbengkalailah beberapa buku yang niatnya saya baca.
Dua. Akhir-akhir ini, saya merasa lebih suka membaca buku digital/e-book. See, saya biasanya baca buku sebelum tidur. Pokoknya sampai mata rasanya berat dan akhirnya tertidur. Masalahnya, kalau saya baca buku beneran, saya harus menghidupkan lampu kamar (yang harus dimatikan kalau tidur) dan jaraknya jauh sama tempat tidur *excuse paling lame*. Nah, kalau ketiduran, lampu bakalan terus menyala dan tidur saya jadi nggak nyenyak. Akhirnya, saya jadi lebih suka baca e-book. Karena di HP kan sudah ada cahaya. Jadi gelap pun tidak masalah. Bahkan terkadang saking ekstrimnya, meskipun saya sudah punya buku fisiknya, saya tetap download yang ebook untuk dibaca sebelum tidur. Selain itu juga praktis, bisa dibaca dimana saja dan kapan saja.

Saat ini saya sedang baca series A Song of Ice and Fire karya George R.R. Martin. Awalnya, saya nggak begitu tertarik dengan series ini. Serial TV-nya juga saya nggak ngikutin. Tapi karena semua orang suka dan bilang bagus, saya akhirnya penasaran. Ditambah teman chatting saya pamer beli kelima bukunya pake harga diskon dan jadi murah meriah (padahal sini pengen beli boxed set-nya aja harganya hampir 700 ribu sendiri. Huhu). Setelah memutuskan untuk nonton seriesnya dan suka banget, saya akhirnya ingin coba baca. Dan, well.. ketagihan deh.. -__-
Sudah masuk buku ke tiga, dan saya nggak sabar sampai ke bagian lanjutan dari seriesnya. Wohoo!

Intinya, sebagai seseorang yang ngaku maniak buku, saya merasa harus punya target baca. Buat saya, bisa menyelesaikan buku dalam waktu yang cepat itu termasuk produktif. Sehari bisa berapa chapter aja sudah lumayan. Dan dengan men-checklist apa yang mau saya baca, mana yang sudah saya selesaikan, saya juga jadi tahu berapa banyak rata-rata jumlah buku yang saya selesaikan dalam waktu setahun. Keren nggak sih kalau kita sadar ternyata kita sudah baca ribuan buku (misalnya)? :3
Dan impian saya selanjutnya, saya mau bikin perpustakaan pribadi. Saya ingin mewariskan buku-buku saya ke anak-anak saya nanti *tsaaah*. Saya mbayangin saat dimana anak saya nanti akan tanya, “ini buku apa?” dan saya bisa memberikan dia edisi pertama terbitannya misalnya. Kan keren ya.. Atau saya bisa memberikan mereka buku-buku yang mungkin di jaman itu sudah tidak ada atau langka. Pokoknya saya pengen anak saya nanti nggak usah pusing-pusing kalau baca buku. Tinggal ambil aja mana yang mau dia baca, dan pilih. Berbagai genre, dan untuk berbagai rentang usia (disesuaikan pastinya).

Ngomong-ngomong, saya lagi seneng cari-cari bargain books yang harganya dibawah 50rb atau 100rb. Buku-buku itu aslinya bisa nyampe harga 200-300an. Tapi karena katanya cacat sedikit, akhirnya jadi buku bargain. Beberapa kali saya beli, dan saya puas banget karena saya bahkan nggak nemu cacatnya di sebelah mana, alias masih tampak baru dan lengkap. Dan ada satu pop-up book yang khusus saya simpan buat anak saya kelak (XDDDD) karena bagus dan jadi murah (padahal aslinya mahal banget).. :p

Sepertinya sindrom bookworm saya sudah mulai akut nih. Hmm… 

Wednesday, June 4, 2014

YEAH..!! DIVIDED!!!

Berasanya blog saya akhir-akhir ini isinya cuma review buku semua. Tapi ya gimana.. lagi seneng baca.. :p
Dan barusan kelar baca bukunya Elsie Chapman yang judulnya Divided

Sebelumnya, saya pernah review Dualed (buku pertamanya) di sini. So now, it's time for the sequel! :D

Way earlier, Elsie asked me for a review. Sebelumnya sempat mikir apa mau bikin review pake bahasa Inggris (which is gonna be the first time for this blog), tapi karena dia bilang nggak papa pake bahasa Indonesia aja (dan saya berharap dia nggak baca :p), so here it is. As promised, Elsie. My review for Divided

Jauh-jauh hari sebelum bukunya terbit, saya udah pengen order. Jadi, lewat periplus.com (saya nggak iklan, tapi beneran ini online store satu servisnya sangat memuaskan. I suggest you buy your books from here) saya coba browsing, mengingat saya beli Dualed juga di situ. Tapi ternyata, pas dicari-cari, bukunya belum nampak. Akhirnya saya e-mail customer service-nya, dan menanyakan ketersediaan buku buat PO. Satu minggu sebelum rilis, saya cek masih belum ada juga di daftar, akhirnya saya ingatkan biar saya dikasih notif kalo udah bisa PO (yea, well.. saya memang semacam reminder kalo pengen order sesuatu di tempat-tempat tertentu). Dua hari kemudian, saya diemail dan dikasih link bukunya. Instantly, saya langsung PO. Sebenarnya agak merasa rugi karena biasanya kalo beli buku baru, member bisa dapat diskon 10%, which is lumayan banget itu, karena harganya kan lumayan juga. Tapi karena saya nggak mau nunggu lama dan mau cepet-cepet dapet, dan takutnya malah ribet dan nggak sempet order di kemudian hari, saya ikhlaskan saja itu diskon. Eh, ternyata bukunya nyampe ke saya cuma selang waktu 6 hari (plus hari libur) dari tanggal rilis. Padahal di situsnya dibilang kalo proses pemesanannya sendiri memakan waktu 12-20 hari (hari libur nggak dihitung) dari tanggal rilisnya. Saya jadi mikir, mungkin tidak adanya diskon membuat saya bisa dapat buku lebih cepat dari yang saya duga.. :3


Daaan.. cukup menghabiskan waktu 1,5 hari saja membaca Divided. Dan buku ini jauuuuhh lebih bagus daripada buku pertamanya! huhu
Well, saya suka buku pertamanya, tapi ada beberapa hal yang menurut saya masih agak minus. Bahkan di beberapa bagian saya juga merasa kurang puas. Tapi ternyata, buku kedua ini benar-benar sesuai ekspektasi. Nggak salah review yang saya temukan di Goodreads beberapa hari sebelumnya, yang bilang kalo yang nggak suka Dualed pun bakal seneng sama sequel-nya. Karena memang improvement-nya keliatan banget! >.<

Okay. Now the story..
Cerita dari buku ini sendiri masih meneruskan kisah dari West Grayer, di suatu tempat bernama Kersh, yang sekarang sudah berstatus complete karena dia berhasil membunuh Alt-nya, hasil rekayasa genetika yang menggabungkan gen orang tua-nya dan sepasang orang tua lain untuk nantinya menghasilkan dua anak yang sangat identik dan dikemudian hari mereka harus bertarung untuk membuktikan siapa yang bisa survive dan lebih layak hidup. Setelah lepas dari kecemasan harus diburu dan bertarung dengan Alt-nya, West berusaha hidup normal seperti sebelumnya dengan bekerja sebagai asisten guru kelas weaponry-nya yang bernama Baer. West juga bisa dibilang sedikit mendapatkan trauma psikologis gara-gara pengalamannya tersebut, jadinya dia juga masih dalam proses pemulihan dan terapi. 
Suatu hari, West diminta ikut ke Board headquarters (semacam pemerintahannya Kersh) oleh seorang officer. Awalnya West curiga dan takut kalau dia akan ditangkap gara-gara dia pernah jadi Striker (meskipun udah nggak lagi). Tapi ternyata, sesampainya di fasilitas Board tersebut, seorang officer level 1 (level yang paling tinggi), menawarkan sebuah pekerjaan untuk West, yaitu menjadi striker lagi, dengan membunuh tiga orang Alt yang katanya adalah Alt dari tiga anak petinggi Board di level 1. Jika bersedia, West dijanjikan kalau anaknya nanti nggak bakalan punya Alt dan tidak harus membunuh demi bertahan hidup. Tapi permintaan si officer ini sendiri sebenarnya lebih ke arah ancaman, karena dia tahu West bekerja sebagai Striker sebelum beralih status sebagai seorang complete. Karena menginginkan masa depan yang baik untuk anaknya nanti, dan karena hampir tidak ada pilihan lain, akhirnya West menyetujui. Tapi ternyata, dari sini, banyak hal-hal tidak terduga yang ditemukan oleh West yang juga mengungkap rahasia di balik permintaan sang officer dan menyangkut masa lalu dari Board dan beberapa orang yang West kenal. Intinya begitu.

Banyak sekali twist di buku ini yang menjadikan ceritanya sendiri semakin kompleks. Saya suka surprise-surprise di beberapa bagian yang cukup tidak bisa ditebak, dan akhirnya bikin betah baca dan nggak pengen berhenti. Di buku ini, deskripsi yang diberikan juga lebih detil. Bahkan saya merasa banyak sekali jawaban-jawaban yang saya temukan untuk pertanyaan yang saya pikirkan sewaktu baca buku pertama. Sejarah Kersh sendiri diberikan dengan detil, bagaimana ternyata Kersh itu adalah wilayah terisolasi dari sekelilingnya (yang di buku disebut dengan Surround, dunia kita yang biasa), dan dibangun oleh tiga orang sahabat yang masing-masing punya kapasitas dan skill di area-area tertentu dan alasan akhirnya mereka mencetuskan aturan untuk penciptaan Alt itu sendiri. Pembagian wilayah Kersh juga diceritakan, termasuk tingkat kesejahteraannya. Dan karena yang dijual dalam ceritanya adalah aksi, saya harus akui nilai plus penceritaan Elsie ada di area itu. Oh, satu lagi. Di buku sebelumnya, saya sempat merasa agak aneh dengan jalinan cinta West dan Chord yang masih kurang smooth. Tapi saya nggak menemukan keanehan itu di sini karena romance mereka berdua jauh jauh jauh lebih pas dan lebih mulus di sini. And I love Auden!! X) *jarang-jarang saya naksir sama cowok yang bukan tokoh utama dan munculnya agak belakangan*

Overall, bukunya recommended banget! Meskipun di bagian awal-awal saya merasa agak susah memahami deskripsinya (Elsie banyak banget pake vocab yang bikin saya harus ngulang baca setiap kalimatnya), seiring berjalannya waktu dan seiring bertambahnya chapter, bacanya juga lebih mengalir. Nggak terlalu mengganggu lah.. 
Oh. And you know what? Gara-gara baca buku ini semalam suntuk saya jadi kesiangan paginya dan hampir nggak ngantor kalau nggak di BBM sama teman saya dan akhirnya bisa bangun.. XD Bahkan saya juga bela-belain baca buku ini di kantor dan setelah selesai rasanya langsung sumringah mbahas isinya dan ngirim mesej ke Elsie sampe pengen ngasih spoiler ke yang belum baca. 

So yes, Elsie! Congrats!! You've done a great job finishing the story! (in case you read it, but I still hope you don't) Sayang karena bukunya cuma dwilogi, jadinya ya nggak ada terusannya. I sure hope she'll write more great books in the future! :D

Oke. Sekarang lanjut baca buku yang lain lagi.. :3

Friday, May 23, 2014

Just Another Thoughts on Books

Akhirnya, setelah berminggu-minggu tenggelam oleh ber-season-season series, saya akhirnya bisa lagi baca buku yang masih banyak diutangin. Belum selesai sih baca IQ84-nya Haruki Murakami (tinggal buku terakhir, semangat!), tapi karena bukunya terlalu tebal dan saya masih agak males nerusin, akhirnya mencoba membaca buku lain. Selesailah dua buku, The Graveyard Book karangan Neil Gaiman, dan Pivot Point karangan Kasie West

Temen saya minjemin The Graveyard Book pas saya pulang ke Jogja bulan lalu. Diantara 5 buku yang dia pinjemin, baru satu ini yang bisa saya selesaikan, meskipun sebenarnya saya sudah punya ebook-nya sejak jaman dahulu kala. Yang lain masih antri. Untuk Pivot Point sendiri, buku ini sudah masuk waiting list berbulan-bulan yang lalu. Salah satu teman di tumblr bikin saya ngeh sama buku ini dan kayaknya seru. Akhirnya kesampaian juga menyelesaikan satu buku, tinggal cari waktu untuk baca lanjutannya. 

Well then, here are the reviews.. :3


THE GRAVEYARD BOOK

source: girlreporter.blogspot.com
Buku karangan Neil Gaiman ini terbilang unik. Selain setting ceritanya di pemakaman, tokohnya juga seorang anak bernama Bod (Nobody Owens) yang akhirnya diadopsi oleh sepasang hantu suami-istri yang sudah meninggal di pemakaman gara-gara waktu masih bayi, keluarganya dibunuh oleh seseorang bernama Jack. Sebenarnya sih si Bod juga harus dibunuh, tapi dia merangkak aja ke pemakaman, ditemu sama hantu-hantu di sana, dan akhirnya bisa lepas dari pembunuhnya. Penjaga makam yang bernama Silas (yang nggak jelas orang hidup atau orang mati) juga menjadi walinya dan bisa menghindarkan si Bod dari pembunuh (yang ngikutin dia sampai pemakaman). Hal ini juga menjadi salah satu alasan si Bod nggak boleh keluar dari pemakaman ketika tinggal di pemakaman.
Buku ini banyak menceritakan petualangan Bod sebagai seorang anak yang cukup nggak normal, karena dia nggak punya teman dan sehari-harinya hanya bergaul dengan hantu. Di sini juga diceritakan gimana si Bod bisa punya kemampuan yang cukup berbeda dari manusia kebanyakan. Sampai misteri tentang pembunuhan keluarganya dan rahasia di balik itu. 

Saya bilang sih bukunya seru. Jujur saya nggak terlalu banyak baca karangan Neil Gaiman, meskipun banyak yang bilang bukunya bagus-bagus. Tapi pas baca buku ini, memang tampak ketidakbiasaan yang tidak banyak ditemui di buku-buku lain. Saya juga merasa kasihan sama Bod. I mean, come on.. Selama belasan tahun dia hidup di pemakaman, belajar dari orang-orang mati (bahkan sekolah pun cuma berapa saat dan dia harus memudar diantara teman yang lain supaya nggak menonjol). Yah, meskipun tetap ada hal-hal yang agak ganjil sih buat saya. Bayi yang jalan merangkak menaiki bukit sampai ke pemakaman itu terdengar agak berlebihan (but I'm not complaining tho, the story turned out well). Sama satu lagi, obrolan Bod pas umur 5 tahun sama temannya yang dia temui di pemakaman itu terdengar terlalu cerdas, terutama untuk anak 5 tahun. But well.. yang penting endingnya sangat menyentuh buat saya. 

Saya bilang sih bukunya recommended. Bukan buku yang berat, tapi juga nggak ringan-ringan banget. Pas lah buat hiburan. Dan nggak terlalu tebal juga,. :p


PIVOT POINT

Sebelum tau buku ini, saya nggak pernah dengar tentang Kasie West. Tapi saya bersyukur saya bisa nemu ini buku di tumblr dan akhirnya penasaran untuk baca. Because I loved it!
Mungkin buku YA ini nggak terlalu jauh dari genre yang lagi booming sekarang. Tapi saya suka sekali dengan gaya penceritaan sang pengarang, yang akhirnya membuat saya ketagihan baca terus-terusan sampai selesai.. :)

source: kasiewest.com
Ceritanya berpusat pada Addison Coleman, remaja cewek yang tinggal di Compound (tempat yang terisolasi dari dunia manusia normal (Norm World) dan isinya full orang-orang yang punya kekuatan tidak biasa) dengan kemampuannya untuk melihat masa depan ketika dia dihadapkan pada dua pilihan. Kemampuannya ini disebut Divergence, tapi orang suka salah kaprah bilang dia Clairvoyant. Jadi, kalau dia merasa bimbang dengan apa yang harus dia pilih, dia bisa melakukan Search dan tau hasil dari masing-masing pilihan yang akan dia ambil. Yah, semacam cenayang mungkin, tapi hanya berlaku untuk dirinya sendiri, dan dalam situasi harus menentukan sebuah pilihan. 
Addie punya satu sahabat namanya Laila, yang punya kekuatan untuk menghapus ingatan seseorang. Dua orang ini sudah berteman sejak kecil, and practically, kemana-mana selalu berdua. Suatu hari, orang tua Addie bilang kalau mereka mau bercerai. Dan Addie, sebagai anak satu-satunya diminta untuk memilih mau tinggal dengan siapa. Addie tadinya ingin bisa membagi waktu untuk mereka berdua, tapi ternyata sang Ayah (yang punya kekuatan bisa mendeteksi kebohongan) ini merencakan akan hidup di Norm, dunia biasa, yang isinya orang-orang normal dan tidak punya kekuatan. Yang mana jika Addie memilih tinggal bersama ayahnya, dia harus ikut ke sana. Atau ia bisa tinggal bersama ibunya (yang punya kekuatan Persuasiveness) di Compound dan melanjutkan hidupnya sekarang. Mau tidak mau, untuk menentukan pilihan, Addie harus melakukan Search.

Setelah sampai pada plot ini, bukunya dibagi menjadi dua kisah. Kisah pertama adalah jika Addie ikut ayahnya tinggal di Norm dan jauh dari sahabatnya, Laila, dan kisah ke dua adalah jika ia tinggal bersama ibunya di tempat ia tinggal sekarang. Ceritanya sediri berganti di setiap chapter. So the point of the story is WHAT IF. Dan semakin ke belakang, semakin kita menebak-nebak mana masa depan yang kita inginkan buat Addie, atau yang akhirnya dia pilih. 

Saya suka sekali cara pengarangnya membangun hubungan Addie dengan Laila, sahabatnya. Bahkan di titik-titik tertentu, komunikasi mereka sangat relatable dengan saya sendiri (yang agak dramatis - lol). Seperti misalnya, cara Laila merespon curhatan Addie yang sumpah mirip banget sama obrolan saya dengan teman saya dan bikin saya ngakak berkali-kali. Atau gimana alurnya benar-benar smooth, memainkan emosi, dan meskipun ide ceritanya nggak realistis tapi tetap bisa terkesan "biasa" sekali, saking manusiawinya. Pokoknya buku ini enak banget buat dibaca. Saya cuma butuh waktu dua hari buat menyelesaikan. Yes, THAT interesting! 
Saya juga suka gimana cara si pengarang membangun emosi antara Addie dengan cowok yang dia sukai secara perlahan. And oh my God, I looooove Trevor. Dia nggak dreamy-dreamy banget kayak lead character di kebanyakan buku, nggak perfect, even he seems so normal and sometimes he could be a weirdo. Tapi saya sukaaaaaa banget. Dan karakternya.. *sighs*  
Meskipun ada bagian-bagian yang membuat saya shock dan nangis (karena yang saya harapkan nggak kesampaian), tapi pada akhirnya jadi semakin penasaran sama lanjutannya. huhu

Jadi, ini buku sangat recommended! Silahkan dicari dan dibaca! :3 *manas2in*

And now I'm reading Split Second, the sequel.. *excited*

Saturday, November 2, 2013

What I've Been Doing Lately..


Udah lama banget nggak nulis di blog ini. Antara males tapi nggak ada bahan buat diceritain. Well, sebenernya lebih banyak malesnya sih.. -___-"

Anw, sedang tergila-gila membaca Mortal Instruments akhir-akhir ini. Sejak nonton filmnya dan merasa bahwa ceritanya agak complicated dan juga review yang bilang kalo filmnya jauh kurang bagus dari bukunya, rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Jadilah, cari-cari bukunya sampe ketemu lima-limanya dan sekarang sudah memasuki buku ke empat. Yes, the books are better. IS better than the film. Kalau enggak saya nggak bakal ketagihan. :p

And this? This is (also) my latest addiction!


Knew this book from tumblr. Banyak ngreblog puisi-puisi dari pengarangnya, dan akhirnya memutuskan untuk cari ini buku (yang sumpah susah banget dicari). Pas galau-galaunya nggak bisa dapet dan bingung karena semua toko online minta cc buat bayar, akhirnya nemu di periplus.com. Pun harus diimpor dulu dan harganya bisa dibilang na'udzubillah untuk satu biji buku puisi. Tapi akhirnya tetap memutuskan untuk beli. Godaannya terlalu berat. Dan setelah hampir satu bulan menunggu.. akhirnya bisa megang juga.. X)

I know. Saya nggak pernah mbayangin bakalan beli buku puisi sebelumnya. Tapi entah kenapa puisi-puisi di dalam buku ini bagus banget. Pengen aja punya. Dan setelah menamatkan baca (yang sebenernya bisa diselesaikan dalam waktu setengah jam-an), pengen rasanya bisa ngasih beberapa puisi di buku ini buat seseorang (#eh #kokmalahcurhat).

So that's pretty much what happened. Beside the overwhelming work, pre-concert nervousness and all the preparations related to it, making a (ridiculous) shirt and fanart, I don't think something's really happened. But that's quite a lot if you ask me. Weww~ :3

Okay. Semoga nanti-nanti bakal ada yang lebih seru untuk diceritakan. And to end this post, here's two of my favorite poems from Lang Leav:


Wednesday, September 4, 2013

THE 4TH BOOK! FINALLY!

Karena hari ini saya lagi nggak ada kerjaan yang jelas, baiklah.. review buku aja deh.. 

Sooo.. beberapa hari yang lalu saya dapat lanjutan buku dari The Lorien Legacies. Buku ke empat lebih tepatnya, yaitu The Fall of Five. Dan memang sudah seperti yang saya duga sebelumnya, rasanya waktu baca buku ini.. saya nggak pengen berhenti baca!! X) Seriously.. this book is addictive!! 
Padahal biasanya saya kalau baca buku bisa aja gitu disambi-sambi. Kadang malah bisa juga baru baca dua halaman, terusin lagi nanti sore, atau malemnya. Pokoknya tergantung mood dan bisa lama banget selesai. Nah ini kok.. saya yang lagi nggak mood aja tetep keukeuh mau nyelesein ini buku karena setiap ending di satu chapter, rasanya terlalu penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Yes, I blame the author for making such a good book to read! huhuhu

Jadi, kalau sudah familiar dengan I Am Number Four, intinya adalah cerita lanjutan dari para Garde planet Loric yang dikejar-kejar sama Mogadorian. Lima Garde (nomor 4, 6, 7, 8, dan 9) dan satu orang Loric lagi yang lebih kecil (dan ternyata adalah nomor 10) pada akhirnya bersatu. Nah, setelah di buku sebelumnya mereka hampir kalah dari petinggi Mogadorian yang bernama Setrakus Ra, mereka sepakat untuk mempersiapkan diri mereka dengan berlatih dan berusaha mengembangkan legacy masing-masing sampai maksimal, sambil mencari nomor 5 yang masih belum bergabung dengan mereka. Intinya begitu lah.. 


Oke, karena kalau saya lanjutkan bisa jadi yang baca malah tambah bingung dengan alurnya yang padat, jadi ringkasannya segitu aja. Pokoknya, buku ini masih menceritakan lanjutan perjuangan mereka untuk bisa menyelamatkan Bumi dan menghidupkan kembali planet mereka, Lorien, yang sudah dihancurkan para Mogadorian. And I'm telling you.. twist ceritanya semakin lama semakin seru. 

Bisa dibilang, buku ini punya banyak tokoh. That's why sudut pandangnya pun juga banyak, nggak cuma satu orang saja. Dan gaya penceritaanya pun kalau saya bilang, sangat, sangat, sangat, sangat, bikin penasaran. 
Entah kenapa sejak saya baca buku pertama, saya udah jatuh cinta sama cara si pengarang menceritakan kisahnya. Antara lucu, tapi seru, dan menghibur sekali. Apalagi waktu itu menggunakan sudut pandang nomor 4 yang masih agak cupu dan naif, tapi sometimes juga bisa humoris. Dan semakin ke sini, semakin terlihat perubahan yang terjadi di setiap tokoh. Berkembangnya kedewasaan mereka dengan peristiwa-peristiwa yang dialami, dan bisa dilihat juga bagaimana pada akhirnya si nomor 4 di The Fall of Five ini juga bisa menjadi sosok pemimpin yang dipercaya oleh Garde lain. 
Dan alurnya, smooth banget! Kalau saya bilang sih, ending di setiap chapter bakalan bikin kita nggak tahan untuk buka halaman selanjutnya. Itulah kenapa pada akhirnya saya harus rela nggak tidur semalam suntuk dan membaca buku ini dari jam 2 sampai jam 6 pagi (meskipun akhirnya terpaksa stop ditengah jalan karena kepala saya udah cleng2an). But yeah. That good! :)

Sebenarnya yang bikin agak rancu adalah filmnya. Saya pernah bahas sebelumnya kalau film adaptasi dari I Am Number Four nggak terlalu bagus, dan beda banget sama bukunya. Beberapa orang yang saya kenal juga akhirnya nggak begitu tertarik baca series ini. Tapi kalau kita kesampingkan adaptasi filmnya (yang agak gagal itu) dan baca bukunya dari awal, sudah pasti bakalan betah mantengin kapan buku lanjutannya akan terbit. Terutama untuk yang suka genre fantasy dan action. Semakin lama pertarungannya juga keren. Bahkan pas baca buku ini, saya mbayangin adegan latihan mereka aja udah keren banget.
Oh iya, satu lagi. Saran saya sih baca yang bahasa Inggris karena entah kenapa bahasanya jauh lebih nyaman daripada yang terjemahan. Biasanya saya baca yang bahasa Inggris dulu, baru nanti saya beli versi bahasa Indonesianya untuk me-refresh sebelum buku lanjutannya terbit. Tapi tetep aja, bahasa asli memang lebih dapet feelnya. Dan joke-nya pun berasa lebih mantep. :D

Oh. Dan Lorien Legacies ini juga dilengkapi dengan novella yang terbit terpisah dari buku-bukunya. So far sepertinya sudah ada enam. Dan isi dari novella ini meskipun terpisah dari cerita utamanya (atau bisa dibilang tidak nyambung secara langsung), bisa menjadi cerita kunci yang membuat kita semakin paham alur keseluruhannya. Misalnya, latar belakang salah satu tokoh yang di buku tidak dijelaskan secara detil, atau masa lalu dari Garde yang akhirnya mengakibatkan mereka jadi seperti sekarang, dll. 
Biasanya novella diterbitkan diantara buku-bukunya. Dan untuk edisi bahasa Indonesia, novella 1-3 disatukan di terjemahkan buku kedua (The Power of Six). Mungkin nanti terjemahan The Fall of Five juga bakalan dikasih novella 4-6. Amiin. So far saya baru baca excerpt-nya yang disediakan di akhir buku. Bikin penasaran sumpah.. -_- Nggantung banget!

Bagi yang suka sci-fi, action, dan petualangan, sepertinya memang wajib mencoba membaca buku ini.. :D

Sunday, July 21, 2013

Impulsive Buying. Again.


Beberapa waktu yang lalu, saat saya ke luar kota, ada satu ritual yang lakukan di Bandara. Dan ritual itu adalah book hunting di salah satu toko buku impor yang mudah saja ditemui di sudut-sudut bandara baik di Jakarta maupun di Surabaya (tempat saya pergi waktu itu). Yep, book hunting kali itu menghasilkan dua buah buku yang akhirnya menelan uang saku saya selama ke luar kota 2 hari. No, I'm not complaning.. :D

Anyway, pas di Surabaya, kebetulan penerbangan saya ditunda berapa jam gara-gara semua jadwal penerbangan waktu itu molor. Kami (saya, si bos, dan satu orang klien dari salah satu perusahaan farmasi) akhirnya harus cari tempat santai yang pas untuk menunggu. Pilihan mereka jatuh ke tempat pijat refleksi, sementara saya agak enggan dipencet-pencet meskipun sempat diajak refleksi juga sama si bos. Akhirnya secara impulsif saya putuskan untuk masuk ke toko buku yang letaknya bersebelahan dengan tempat refleksi. 

Sebenarnya, niat saya waktu itu adalah nyari Dualed (buku si Elsie yang pernah saya bahas di sini). Cuma, saya cari-cari sampai stress pun nggak akan ketemu karena setelah saya tanya, bukunya beneran nggak ada. Bahkan di bandara di Jakarta sekalipun saya sudah coba. Belakangan saya tahu kalo pemesanan di toko ini yang online pun bukunya harus diimpor dulu. Ya ampun, Elsie.. Ngenes banget sumpah cuma mau beli bukumu aja.. -_-
Dan dengan demikian, saya otomatis harus kreatif nyari buku apa yang mau saya beli, mengingat, saya bertekad harus keluar membawa 'sesuatu'. 

Pada saat itulah saya melihat ke dua buku ini: Don't You Forget about Me dan Reboot. Buku pertama, genrenya lebih drama (yang setelah saya baca benar2 masuknya ke romcom - romantic comedy). Sedangkan buku ke dua, lebih mengarah ke action sci-fi. Sejenis Dualed lah. Sangat bertolak belakang bukan?
Entah kenapa waktu pegang DYFAM, saya berasa nggak mau ngelepas buku itu karena tag-line yang dijual adalah, "A story for every girl who wishes she'd never met him" yang pas banget sama perasaan saya waktu itu (#eh, malah curhat). The point is, I didn't wanna let go of this book. And there's this Reboot yang pas dibaca sinopsisnya juga oke banget, dan bikin saya dilema. Meskipun sempat terpikir mau cari versi soft-file-nya Reboot aja, akhirnya saya nggak bisa nahan godaan. Dua-duanya saya bawa ke kasir. Ludes deh uang saku saya selama ke Bandung dan Surabaya.. (-__-)"

And here are the reviews:

1. Reboot (by Amy Tintera)



Buku ini berlatar belakang futuristik dan menceritakan tentang Wren Connolly yang setelah ditembak sampai mati di usia 12 tahun, dia bangkit lagi menjadi seorang reboot. Sebenarnya tidak semua orang yang sudah meninggal bisa jadi reboot. Hal ini bisa terkait beberapa hal, termasuk tangguh atau tidaknya orang tersebut semasa hidup. Adanya reboot sendiri diakibatkan oleh virus KDH yang menjangkit manusia. Jika seseorang kena virus itu dan tewas, maka kemungkinan besar ia akan menjadi reboot. Dan mostlyreboot hanya terjadi pada anak-anak dan remaja (jarang sekali orang dewasa menjadi reboot). Dan kalaupun seseorang meninggal tidak karena KDH, masih ada kemungkinan ia tetap me-reboot jika ia pernah beberapa kali terjangkit virus tersebut. Semakin lama seseorang yang sudah meninggal bangkit menjadi reboot, semakin powerful juga sosok reboot tersebut, termasuk semakin tidak mirip sifat mereka dengan manusia. Reboot digambarkan sebagai sosok yang kurang emosional, and well yeah.. pretty much like a robot. Bahkan reboot bisa menyembuhkan diri sendiri ketika mereka terluka. Jika waktu antara meninggal dengan bangkitnya orang tersebut semakin sedikit, sifat-sifat manusia dalam diri mereka cenderung masih terlihat. Reboot-reboot tersebut pada akhirnya akan diberdayakan menjadi tentara oleh HARC (Human Advancement and Repopulation Corporation). Karena bisa dikatakan bahwa sosok reboot sendiri ditakuti manusia awam (karena kekuatan mereka), sehingga setiap tingkah laku reboot juga harus dipantau dan dikontrol.

Wren sendiri mati selama 178 menit dan hal ini menjadikan dia reboot paling mematikan diantara yang lain (karena waktunya paling lama). Selain aktif berperan sebagai soldierreboot dengan nomor diatas 120 juga diberikan tugas untuk men-training reboot-reboot baru, dan Wren adalah salah satunya. Lima tahun kemudian, saat Wren berusia 17 tahun, dia menikmati sekali perannya sebagai seorang trainer reboot baru. Dan sejauh ini, Wren hanya melatih reboot dengan nomor tinggi yang survival skill-nya sudah tidak diragukan lagi. Tapi, seorang reboot baru dengan nomor 22 bernama Callum Reyes membuat Wren penasaran dimana akhirnya ia memutuskan untuk menjadi pelatihnya. Callum, yang hanya meninggal selama 22 menit sebenarnya bisa dibilang sangat manusiawi, jauh berbeda dengan Wren yang sifat-sifat emosionalnya hampir tidak terlihat lagi. Tapi dengan adanya Callum yang cenderung lemah, ditambah sosoknya sangat bawel dan banyak tanya bahkan memiliki tendensi tidak mematuhi peraturan, pada akhirnya Wren diperintahkan untuk  mengeliminasi Callum. Wren yang selama ini adalah reboot “normatif” dan selalu patuh pada perintah yang diberikan, mulai mempertanyakan keputusan yang diberikan kepadanya. Dan dari situ, serta beberapa fakta lain yang ia temukan terkait HARC, rencana pembelotannya dimulai.

Wokeh. Bahasa ulasan saya kaku banget. Saya nggak ngerti gimana mau mbahas dengan bahasa yang cenderung santai. Intinya adalah, buku ini bagus. Saya enjoy baca dari halaman pertama sampai terakhir. Dengan pace yang cepat, saya tidak merasa bosan. Bahkan hanya dalam beberapa hari saja saya sudah tamat baca ini buku (mengingat sekarang saya kalau baca buku cenderung lama). 

Saya bilang sih ide ceritanya cukup oke buat sci-fiI mean, memang sekarang sudah banyak tokoh perempuan yang tough dan jagoan, tapi novel ini entah kenapa bisa memberikan cerita yang cukup fresh buat saya. Dan saya cinta banget sama flow-nya, sumpah. Di awal, Wren yang digambarkan sangat tangguh, dingin, dan kaku, lama-lama setelah bertemu dan bergaul dengan Callum, jadi sosok yang pelan-pelan lebih hangat, lebih emosional. Dan perubahan itu terjadi dengan smooth. Nggak dadakan. Dan saya menikmati banget peran Callum di situ. Meskipun saya nggak sampai jatuh cinta sama Callum seperti saya jatuh cinta sama Peeta di Hunger Games, saya tetap suka sosok Callum yang di saat-saat tertentu bahkan bisa membuktikan kalau dia lebih tough dari Wren.

Buat yang suka sci-fi dan fantasy, bukunya direkomendasikan. Dan setelah saya cek akun si pengarang di twitter, ternyata movie right-nya sudah dibeli sama salah satu production house di Amrik sana. Tapi entah kapan ini buku mau dibikin film. Yang jelas, saya nunggu-nunggu buku ke duanya. Jelas karena ending-nya cukup nggantung dan bikin saya penasaran.

2. Don’t You Forget about Me (by Alexandra Potter)



Well, sebenarnya saya nggak familiar dengan Alexandra Potter karena saya juga jarang sekali sebenarnya baca buku-buku dengan genre romantis (selain Nicholas Sparks dan beberapa chicklit lain). Tapi saya udah bilang kan kalau saya tertarik banget sama buku ini gara-gara judul dan tag-line-nya? Ehm.

Jadi, sedikit review, tokoh utama di buku ini yang namanya Tess, baru saja diputusin sama pacarnya, Seb (yang digambarkan sebagai sosok yang perfect dan oke banget). Jelas karena patah hati, Tess bertanya-tanya kenapa si Seb sampai bisa mutusin dia. Bahkan dia mulai mengingat-ingat salahnya apa sampai-sampai hubungan mereka harus berakhir. Akhirnya, di suatu malam Tahun Baru, sendirian di apartemen, dan sambil memilah-milah barang-barang kenangannya dengan Seb, Tess melakukan sebuah ritual yang menurut salah satu saluran TV merupakan ritual tahun baru masyarakat tertentu. Tess membakar semua barang kenangannya ke perapian sambil berharap dia nggak pernah ketemu dengan Seb. Dan pagi harinya, dia baru sadar kalau permohonannya terkabul. Merasa mendapatkan kesempatan ke dua untuk memperbaiki hubungannya dengan Seb, Tess lalu merencanakan dengan matang setiap langkahnya untuk merebut hati pujaannya.

Well, cukup klise sih ceritanya kalau saya bilang. Bahkan bisa dibilang, formulanya sudah banyak ditemui di film-film Hollywood. Tapi memang yang menarik dari buku ini adalah cara penceritaannya. Meskipun saya pada dasarnya nggak nge-fan banget sama tokoh utamanya (si Tess ini), ada beberapa bagian yang bisa membuat saya terharu sampai menitikkan air mata. Dan ending-nya, well.. pastinya sudah bisa ditebak happy ending

Saya sih merasa buku ini mengajarkan kepada kita para wanita untuk tetap move on meskipun patah hati, sakit hati, marah dan benci-sebencinya kalau pas diputusin misalnya. Dan satu kalimat yang saya suka sekali dari sini adalah, “You need both the sun and the rain to make a rainbow”..

Direkomendasikan bagi yang suka chicklit. Tapi saya sih tidak menganggap buku ini spesial-spesial banget.. :D
Jujur saya malah agak kecewa dengan ceritanya. Sebenarnya lebih karena saya sudah punya ekspektasi tersendiri dengan jalan ceritanya (mengingat dari proses awal beli pun sebenarnya katarsis banget). Bayangan saya si Tess beneran amnesia dan nggak inget pernah pacaran sama si Seb (seriously, this was totally on my mind), eh, ternyata yang “amnesia” malah semua orang selain Tess sendiri. Nggak asik sih.. XD But well, it’s a good read. Bacaan yang ringan dan menghibur..

***

Dua buku yang saya review memang njegleg banget. Bahkan genre-nya sangat jauh.. Tapi karena saya lebih suka buku-buku petualangan dan fantasy, saya lebih suka Reboot-nya. Dan saya bersyukur banget feeling saya tidak membiarkan buku itu lepas dari genggaman. Meskipun buku ke dua belinya dengan latar belakang emosional yang luar biasa..
And the funny thing is, dua karakter di kedua buku ini punya nama belakang yang mirip;  Wren Connolly dan Tess Connelly. How weird is that? :p
Maybe these books were meant to be bought together by me.. *maksa*


Well, then. Sekarang target saya adalah menyelesaikan Awaken-nya Meg Cabot.
Oh iya. Dan saya sudah baca Inferno punya Dan Brown.. Bagus! Meskipun seolah butuh waktu bertahun-tahun buat menyelesaikan buku itu saking lamanya. *lol* Tapi Angels & Demons tetap menjadi buku favorit saya dari pengarang yang satu ini.. :D


So, grab a book and start reading.. :)

Friday, May 17, 2013

Additional Blog


Setelah memutuskan untuk bikin satu blog lagi yang lebih public (which means saya jadinya punya 3 blog termasuk ini), sepertinya saya bakalan jarang nulis di sini. Apalagi sekarang saya lagi hobi bikin gif! Yeah~ I’m in the middle of practicing my gif-ing capability!!! <- bikin istilah sendiri

So, pas weekend panjang kemarin, kebetulan saya memutuskan untuk pulang ke Jogja. Dan ternyata, setelah berhasil ketemu dengan sahabat saya yang selalu saya curhatin masalah apa-apa, saya malah diajari bikin gifset. Secara dia memang lebih jago masalah ngutak-atik photoshop dan hal-hal seperti ini juga. Saya sih seneng-seneng aja. Soalnya udah lama pengen bisa bikin. Apalagi kalau sudah masuk fandom dan liat gif bikinan orang, rasanya penasaran bin gatel gimana cara bikinnya.
Dan hasilnya.. Jengjengjeng!!! Saya malah semacam keranjingan.. wkwkwk

Meskipun pas bikin sangat takes time dan pegel (apalagi saya masih jauh dari jago yang membuat waktu yang saya gunakan jadi lebih lama), tapi setelah liat hasilnya, ada kepuasan tersendiri. Bahkan sekarang kalau ada waktu luang (di sela-sela nonton film atau series), saya bakalan nge-gif.. :3

Bagi yang mau lihat-lihat blog “lain” saya, bisa cek fleurdeliezt.tumblr.com..
But I warn you, bakalan banyak hal-hal yang sangat berbau fangirling di sana, dan juga hal-hal yang jadi kesukaan saya. Apapun itu. Jadi maaf aja nih kalau kebetulan yang mampir nggak satu selera sama saya.. Tapi kalau yang satu selera sih, well.. semoga bisa berbagi.. :)
Anw, the blog is new. Jadi postingannya masih belum banyak. But then, I’d be more active there, almost every day.. :D

Thursday, November 8, 2012

Curhatan Random #2

Ater a long, long time, finally I can write again..

Oke. Jadi setelah disibukkan dengan kerjaan yang menumpuk (dan tambah banyak), saya jadi nggak punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal (nggak penting) yang saya sukai. Errrr.. blogging masuk salah satu yang lumayan bikin stres ilang sih, jadi saya asumsikan nulis di blog adalah kegiatan yang saya sukai.. :p

So, what happened in the last-several weeks?? *baru sadar sudah satu bulan nggak ngeblog*

1. Saya jadi orang yang harus bisa 'organized' dalam melakukan sesuatu.
Organized di sini maksudnya adalah keeping records of what we've done. Termasuk apa yang akan saya lakukan, which is not exactly like me. Oke. Saya emang suka merencanakan sesuatu. Saya suka melakukan apa yang saya rencanakan. Yang saya nggak bisa adalah keeping tracks. Saya selalu me-list kerjaan saya di kepala. Juaraaaaaaaaaang banget pake to-do-list yang harus dipatuhi dan dicentangin satu-satu kalau sudah dilakuin. 
Well, the question is, kenapa saya harus melakukan itu? Karena di kantor, kerjaan saya sekarang adalah mengurus satu proyek yang ditinggalkan oleh teman saya ke saya karena suatu hal selama beberapa bulan ke depan. Dan cara kerja saya harus bisa mengikuti yang ada sebelumnya kalau saya nggak mau tersesat dan gila tertimbun berkas. Dan bahkan di minggu-minggu pertama saya dilimpahi tugas ini, saya sudah overload dan kepala berasa mau pecah. It's getting better though..

Berkas-berkas ini sungguh belum seberapa.. -_-

2. Mengesampingkan simpanan demi petualangan
Gara-gara dapat panggilan seminar dan interview di salah satu perusahaan impian saya, saya yang notabene nggak pernah berani pergi-pergi sendiri (apalagi nggak ngerti jalan) ini, langsung memutuskan akan tetap datang walau harus menempuh cara apapun. Dan cara yang diambil adalah, manggil taksi, yang notabene buat anak kos seperti saya dengan hobi menabung ini adalah semacam tindakan yang salah karena pasti bakalan boros banget. Tapi demi sebuah kesempatan dan pengalaman, saya relakan deh uang tabungan itu buat bayar taksi yang mengantarkan dan menjemput saya dari sana. Dan meskipun hasilnya kurang menyenangkan (tapi sesuai dugaan), saya nggak menyesal. Pengalaman yang saya rasakan jauh lebih berharga meskipun cukup singkat. Dengan jackpot ketemu orang-orang keren dan bisa menyaksikan sebuah visi keren dari orang-orang keren tersebut, saya jadi lebih termotivasi untuk mencoba dan mencari pengalaman lebih banyak lagi.. :D
Dan ternyata ada satu hal lagi yang saya dapatkan dan baru saya sadari setelah memikirkan hal ini cukup lama: pertanyaan yang saya simpan di benak saya hampir satu tahun yang lalu terjawab oleh petualangan ini. Pertanyaan yang bahkan hampir tidak pernah saya gubris lagi. Tapi toh akhirnya terjawab juga.. That's kind of amazing, the power of mind..

3. Saya jadi suka nulis!! 
Oke. Dasarnya saya emang suka nulis. Tapi bukaan.. bukan ngeblog ataupun nulis essay (yang buat beberapa orang, saya jadi semacam hobi bikin essay, padahal nggak juga.. -_-). Nulis yang dimaksud di sini adalah bikin fanfic.. 
Right. Saya dulu anti banget sama fanfic. Saya ilfil banget kalo temen saya yang suka baca fanfic pamer ke saya kalo dia lagi baca fanfic apa dan malah lagi bikin2 begituan. Dan ternyata saya malah jadi suka nulis fanfic. Tapi saya agak jengah menyebutkan "menulis fanfic" karena buat saya, kegiatan menulis ini seperti meraba sebuah kepribadian (seseorang) yang saya tuangkan dalam cerita yang lumayan singkat. Semacam penggambaran situasi. Dan saya juga pake original character. So.. I won't call it a fanfic.. :3
Pengen banget sih bisa nge-post tulisannya, but no.. I still can't share that silly stories.. 

dan terakhir..

4. Bikin proyek nggak jelas tapi sangat ingin dilakukan!
Saya memutuskan untuk membuat sebuah proyek (nggak penting) yang melibatkan saya, satu kegiatan yang saya sukai, dan satu orang lain yang secara tidak langsung akan terlibat proyek ini. 
I decided to write, for someone, dan tulisan yang saya berikan itu akan menjadi semacam informasi random (yang menarik untuk dibaca, I hope), dan juga bisa merepresentasikan curhatan saya serta bisa juga mempromosikan Indonesia. Terdengar abstrak-kah?
Okelah. Pokoknya intinya saya mau nulis tentang banyak hal dalam satu buku, dan ditujukan untuk orang tertentu. That simple. Tapi ternyata ngisi jurnal-nya nggak simpel sama sekali karena saya jarang ada waktu dan juga jarang ada ide mau nulis apaan. Doh! 

Agenda yang saya niatkan untuk ditulisin apa aja yang saya mau dan dijadikan media 'promosi'..
Ow yeah~ :p

Well, that's all what happened. Berasa kaya bikin laporan kegiatan. Tapi whatever lah.. :3

Dan hari-hari saya masih akan berjalan seperti biasa.
Let's hope for something extraordinary to happen. Biar ada yang bisa saya ceritakan.. Dan biar momen yang mengendap di otak saya nggak cuma kerjaan.. :p