Showing posts with label Movies. Show all posts
Showing posts with label Movies. Show all posts

Sunday, December 2, 2012

Breaking Dawn Part Two.. Surprisingly Shocking! :)


Hari Sabtu kemarin, akhirnya saya memutuskan untuk jalan gara-gara diajak sama temen saya yang kepengen banget nonton Breaking Dawn Part 2. Nggak jauh-jauh juga sih jalannya, cukup mall yang deket sama kosan aja. Yang penting nonton kan? :D

Sempet kesiangan, saya langsung bergegas mandi karena janjiannya jam setengah 12. Sarapan dengan terburu-buru, dan akhirnya memutuskan untuk langsung jalan karena saya sudah hampir telat. Dengan angkot yang sumpah-lama-banget-ditungguin-nggak-dateng-dateng, akhirnya temen saya sampai duluan di sana. Dan dengan baik hatinya teman saya mengantrikan. Antrian yang katanya cukup panjang dan ternyata masih banyak juga yang pada mau nonton Breaking Dawn meskipun ini entah sudah minggu keberapa setelah filmnya rilis di  bioskop.
Anw, setelah menemui teman saya di bioskop, kami duduk-duduk sebentar sambil saya mengatur nafas yang ngos-ngosan gara-gara lari sehabis turun dari angkot. Dan setelah itu, memutuskan untuk singgah di Gramedia sebentar sambil menunggu waktu nonton yang dijawalkan mulai jam 12.15.

Di toko buku, saya berusaha menahan diri untuk nggak beli buku, which is sesuatu banget kalau buat saya. Beneran deh saya harus mengencangkan ikat pinggang. Ngirit-sengiritnya mengingat saya sudah menghabiskan banyak banget sebulan terakhir .. T^T
Dan malah nemu satu buku yang pengen banget saya beli gara-gara tag-line-nya mengingatkan saya sama seseorang. Yang ada, saya nggak beli tapi cuma moto itu buku, ringkasan di belakangnya, dan mengirimkan fotonya ke salah seorang teman saya yang nasibnya mirip sama saya dalam hal ini. Errr.. 

Sebelum jam 12.15, kami sudah kembali lagi ke bioskopnya, berpikir bahwa sebentar lagi pasti teaternya dibuka. Dan ternyata sampai sana, masih belum dibuka. Kami dengan setia menunggu di depan teater 1 (yang jadi tempat nonton BD nanti) sambil berdiri dan ngobrol2 karena sudah kehabisan tempat duduk. Dan saya dengan polosnya berujar ke temen saya, "kenapa ya kalau nonton di sini kita selalu dapatnya teater 1, nggak pernah teater yang lain?" which is true.. :D
Semakin lama menunggu, saya merasa ada sesuatu yang aneh. Pintu teater nggak dibuka-buka dan orang yang nunggu semakin banyak padahal udah hampir jam setengah 1. Dan teman saya langsung bilang kayaknya ada masalah di dalam. Bener aja, akhirnya ada pengumuman kalau film Breaking Dawn diputer di teater 4. Yang menunggu langsung berbondong-bondong menuju ke sana, dan kami mengikuti arus.
Yang saya nggak sadar, kalimat yang dengan polosnya saya utarakan barusan, kejadian. Kami akhirnya punya kesempatan mengunjungi teater yang lain selain teater 1.. *lol*
Really, still confused of how the mind works.. :p

Dan sekarang kita beralih ke filmnya..
Personally, saya punya ekspektasi tinggi terhadap film ini. Secara Bill Condon sudah cukup membuktikan di film sebelumnya bahwa penceritaannya benar-benar sesuai dengan yang di buku. Okelah, saya memang dapat kabar kalau film ini beda dari bukunya. "Sebeda apa sih?", pikir saya waktu itu. Dan ternyata saya menemukan jawabannya.
Dari awal sampai akhir, saya bisa merasakan atmosfer bukunya yang benar-benar tergambar di film. Memang sih, di film penggambarannya tidak terlalu detil, tapi hal-hal yang penting seperti waktu si Bella senewen gara-gara Jacob meng-imprint anaknya, terus adu panco sama Emmett yang berujung si Emmett kalah, dan beberapa adegan penting yang lain bisa tergambar dengan baik. Hanya saja, detil-detil deskripsi yang dirasakan sama Renesmee terutama, yang saya rasa masih agak kurang. Gimana dia merasa posesif sama Jacob, even dari bayi, yang akhirnya bikin Bella agak gimanaa gitu. Atau waktu Renesmee ketemu sama Charlie pertama kali dan harus menahan rasa haus akan darahnya. Dan yang jelas tidak ada penggambaran tentang gimana si Alice nggak pernah bisa melihat Renesmee sama Jacob di visinya karena kromosom mereka yang berbeda dari vampir dan manusia yang pada akhirnya bikin dia sering sakit kepala dan senewen sendiri kalau deket-deket Renesmee. Justru di film beda banget. So sweet-nya Edward sebagai ayah kalau sama Renesmee juga kerasa belum maksimal. Malah kadang saya mikir dia lebih kaya mas-nya.. wkwkwk
Well, agak kurang puas dengan itu tapi nggak papa lah.. 
Dan kejutannya memang benar-benar ada di akhir film. Mmmm.. hampir menuju akhir lebih tepatnya..

Spoiler Alert!!
Kalau di buku, kita akan langsung menemukan keluarga Volturi pergi dengan damai setelah diberikan penjelasan oleh Alice.
Nah, kita nggak akan melihat itu di film.

Alice, yang datang dengan Jasper mencoba memberikan penjelasan ke Aro terkait Renesmee. Tapi tiba-tiba, Alice berseru bahwa Aro tetap tidak akan mengubah keputusannya untuk menyerang. Dan tau-tau, Alice ditahan oleh pengawal Volturi, dan hal ini membuat Carlisle maju menyerang Aro.
Ini nih, yang bikin saya kaget. Waktu mereka berdua tubrukan, tau-tau kepala Carlisle udah copoooot aja. And I'm shock! Sangat shock! Berani bener Bill Condon bikin ceritanya kayak gini?? Apa dia mau mati dikeroyok sama Twi-Hard? DX
Intinya, adegan Carlisle mati dan dibakar tadi jadi pemicu penyerangan. Seru sih.. Volturi sama vampir sekutu keluarga Cullen saling serang begitu. Bunuh-bunuhan. Dan banyak banget kepala vampir yang terpenggal. Cuma.. saya merasa semakin aneh setelah si Jasper mati juga, terus Leah juga, pokoknya karakter yang seharusnya menurut saya tidak boleh mati (T,T) tapi dimatiin di adegan perang itu.. Bahkan akhirnya 3 petinggi Volturi (Caius, Marcus, dan Aro) mati juga. "Lhah! Terus siapa yang menegakkan hukum vampir kalo Volturi mati? Kacau dong dunia vampir habis ini?", pikir saya waktu itu.

Dan benar saudara-saudara, hal itu tidak mungkin terjadi. Karena ternyata, itu semua hanyalah visi yang ditunjukkan oleh Alice ke Aro supaya Aro menghentikan niatannya untuk menyerang keluarga Cullen. Dan karena si Aro takut nasibnya seperti yang digambarkan sama si Alice di visinya tadi, Aro akhirnya nyuruh pasukan Volturi mundur.

Ngomong-ngomong, saya cukup terkesan dengan Dimitri yang matinya kok susah banget meskipun pada akhirnya bisa juga dibunuh. Dan juga waktu Jane dikejar sama Alice setelah dia dilindungi shield dari Bella. Sungguh, Jane itu bukan apa-apa tanpa kemampuannya melumpuhkan orang dengan pikiran. Ha!

Lega. Akhirnya cerita sama seperti yang di buku. Dan lega juga, si sutradara bisa bikin saya hampir jantungan dengan ceritanya yang berbeda tapi ternyata jadinya nggak berbeda. Salut!

Satu hal. Satu hal yang bikin saya amazed dari film ini adalah scoringnya..
Sumpah Carter Burwell keren banget bikin semua momen ter-captured dengan baik dengan backsound yang bikin saya merinding dari awal sampai akhir.
Di awal film, Twilight Overture bisa bikin saya bernostalgia dengan film pertama karena Bella's Lullaby-nya.. Dan introduction yang cukup simpel tapi terkesan Twilight banget dengan permainan warna dari grayscale sampe merah-item itu memang sungguh sangat sesuatu. Rasanya saya nggak bisa mengalihkan pandangan dari layar dan menikmati pemandangan bukit dan pegunungan sama tulisan nama-nama pemain (yang sebenernya biasa aja tapi entah kenapa berasa bagus).
Belum lagi waktu keluarga Cullen dkk dan Volturi berkumpul di padang salju.. Wew.. scoringnya bikin saya merinding disko dengan sound choir yang mendayu di belakang. Dan PAS banget! X)
Dan dengan demikian, official sudah, hal yang ada di pikiran saya waktu keluar dari bioskop adalah, "saya harus dapet ini score, no matter what"! And here I am, still looking for it.. *sigh*


sumber dari sini

Akting pemainnya sih masih biasa aja menurut saya. Cuma Kristen Stewart beneran sudah lebih bagus kalo menurut saya dibandingkan film-film sebelumnya (terutama di awal-awal yang kesannya datar). Mackenzie Foy manis.. Tapi masih kurang greget memerankan Renesmee yang karakternya sebenernya nggak terlalu suka ngomong. But that's fine.. 
Dan entah kenapa sampai sekarang saya masih terpesona sama Jasper.. Jackson Rathbone is way too cool.. O.O *meleleh*

Oia, yang perlu digarisbawahi adalah, Bill Condon bisa membuat saya bernostalgia dengan film-film pendahulunya. Terutama ketika dia mulai memainkan scene dengan cuplikan kata-kata yang tertulis di bukunya. Dan bagian terakhir sukaaaa banget. Saya jadi mengingat-ingat lagi perasaan saya ketika membaca ending di buku pertama kali, meresapi cerita yang baru saja saya baca. Jeez.. itu bener-bener memorable banget deh.. :)
Nggak lupa juga sang sutradara mengajak kita bernostalgia dengan cast yang sebelumnya sudah pernah ikut andil di Twilight Saga meskipun itu tokoh di film terakhir ini udah nggak ada. Let say.. tiga vampir nyebelin di buku pertama yakni James, Victoria, Laurent; bawahannya Victoria yang manis tapi kasihan yaitu si Riley yang muncul di Eclipse, dan nama-nama lain yang pernah mendukung juga meskipun udah nggak keliatan. Saya sebenernya pengen duduk sampai layar bener-bener item, nggak ada apa-apa lagi. Tapi sayang, saya harus beranjak dari sana dan keluar..
Intinya, film terakhir ini beneran seperti penutup Saga secara keseluruhan meskipun sutradaranya ganti-ganti terus. 

Worth it untuk ditonton. Terutama bagi penggemar Twilight. Menghibur, dan surprisingly, it's kinda shocking.. :)

Monday, June 4, 2012

Curhatan Random #1*


Astagaaa..!! Sudah berapa lama ya saya nggak nulis di sini?? Fiuuh~
Setelah sekian minggu lamanya disibukkan dengan kerjaan dan donlotan (ehm), saya jadi pengen nulis lagi. Dan jujur, meskipun kalo secara emosional hal-hal yang pengen saya tuliskan itu banyak banget, saya malah bingung mau cerita apaan.. Mmhh..

Dimulai dengan PR menggunung dan harus menghabiskan waktu weekend(s) [karena nggak cuma sekali weekend aja] saya untuk ngerjain PR *T.T*, saya jadi agak nggak minat untuk menulis. Bahkan due date essay yang sudah mendekat tetap membuat saya sulit mengalihkan fokus untuk mulai menulis. Eneg saya sama tulisan. Beneran deh. Bawaannya kalau pulang kerja cuma pengen buka laptop buat foya-foya (baca: nonton series dan video-video konser klip terbaru). I know, kurang will kayaknya.. Perlu dimodif nih prokrastinasinya.. *sigh*

Anw, beberapa minggu lalu, karena kehabisan series yang biasa saya update (habisnya, masa udah pada finale semua...!!!), saya mulai cari-cari series apa yang kira-kira bagus dan bisa saya donlot. Ketemulah di majalah Cinemags series berjudul Pretty Little Liars yang ternyata juga udah selesai season 2-nya. Setelah mencari-cari reviewnya, dan juga jumlah penontonnya per show, saya merasa series ini cukup worth it buat didonlot. Dan akhirnya, selama beberapa minggu, saya berasa kejar setoran. Nggak pengen berhenti nonton. Season 2-nya juga udah selesai ditonton. Sekarang saya bingung lagi mau nonton apaan sambil nunggu The Glee Project 2.. *muka nelangsa*

Jenuh. Jenuh. Jenuh.
Rasanya pengen keluar dari rutinitas sebulaaaaaann aja! Bisa nggak ya kerjanya libur sebulan gitu? Kan lumayan buat me-refresh pikiran dari beban pikiran yang numpuk dan tambah bikin galau.. *ngarep.com
Oke. Kembali ke realita.
Saya akhirnya dapat tantangan untuk donlot kali ini. See, DVD/BluRay Yokohama Arena Special Tour-nya ONE OK ROCK sudah keluar dan saya harus bisa dapet documentary-nya!!! (Sudah terbukti bahwa isi documentary sangat worth it buat DILIAT!!) Nah, masalahnya.. yang ngaplot ini BluRay terlalu baik dan bersedia memberikan aplotan kualitas super HD (1920x1080p) yang kalau diputer di laptop saya, kayaknya nyala pun enggak saking gedhenya. Guess what?? Documentary yang durasinya 1 jam lebih itu memakan space 13 GB. Belom konsernya mencapai 27 GB!! Kok rasanya tiba-tiba si Jobie (laptop saya) pengen tak kunyah ya?? T_______T
Dari situ, saya mulai berpikir, gimana caranya donlot ini file dulu (dengan cari JDownloader biar praktis), baru mikirin storage-nya dimana (dan artinya juga harus bersih-bersih HD yang space-nya cuma tinggal 30an GB), dan kemudian saya harus mikir gimana ngonvert file-nya ke .mkv dan lebih bagus lagi kalo resolusinya bisa dikecilin. Eh. Mbayanginnya aja saya udah pusing duluan. Tega nian ini yang ngaplot ngasih video 40 GIGA??!! *nangis darah*

Dan kesimpulannya:
Tulisan ini sangat random dan nggak jelas ke arah mana, meskipun bisa dikatakan semua yang saya tuliskan adalah curahan hati seorang karyawan yang dilematis gara-gara haus informasi akan band idolanya. Dan tambahan lagi, partner yang sefrekuensi dan bisa diajak berimajinasi malah susah dihubungi, meninggalkannya dalam kompleksitas yang lebih-lebih. Heaaaaa~

Sudahlah. Saya harus kerja lagi.
See ya.. *salam pinguin*


Note:
*) Siapa tahu lain kali ada curhatan eror yang kedua kalinya.. :p

Monday, March 26, 2012

Happy Hunger Games!! :)


Setelah beberapa waktu lalu galau menunggu film yang saya nanti-nantikan, akhirnya Jumat tanggal 23 kemarin, saya sukses nonton The Hunger Games.

Hal yang menarik di sini adalah, saya nggak nyangka bioskop yang paling deket dengan kosan saya, yang notabene bisa dibilang termasuk bioskop kecil dan filmnya selalu telat, sukses menayangkan The Hunger Games on time, even bebarengan dengan bioskop besar yang lain. Yes! Serentak di seluruh dunia memang benar adanya. Bahkan yang jadwal rilisnya tanggal 23 pun, di Indonesia jadi tanggal 22.. Yeaaaaayyy~ \(^^,)/

Tanggal 22 malam, saya kebingungan menentukan jadwal nonton film. Jujur saya males sendirian. Nggak asik kan ya, nonton film di bioskop sendirian, nglangut gitu.. Berasa anak ilang. Akhirnya saya sukses membujuk temen sekantor saya untuk ikutan nonton. Meskipun dia nggak tau filmnya, saya mencoba membujuk dengan rayuan bahwa film ini bakal bagus (padahal belum yakin juga), dan akhirnya mau juga lah dia.. :D
Dan karena takut bakal ngantri panjang (parno dengan kondisi bioskop di Jogja yang kalau ngantri tiket berasa kayak ngantri BLT), akhirnya saya putuskan untuk datang dan ngantri lebih awal. Jam setengah 11 kalau menurut waktu bioskop Jogja adalah udah siang. Tapi ternyata, di bioskop yang saya tuju, jam setengah 11 = tutup! Belum buka!!
Dhoeeennnkkk!! Saya langsung masang tampang bete di depan bioskopnya. Please deh! Ini udah hampir tengah hari, hellooo...
Dengan penuh kedongkolan, sambil menunggu buka dan menunggu teman saya dateng, saya masuk dulu ke Gramedia. Cari buku buruan saya yang sudah lama pengen dibeli. Waktu dilalui dengan jalan-jalan, wira-wiri sendirian nggak ada juntrungannya, dan pada akhirnya jam setengah 12 bioskopnya buka juga. Dan udah banyak juga yang antri mau beli tiket.

Saya sempet takut nggak dapet tiket. Theater-nya kan terbilang kecil. Udah gitu antriannya lumayan panjang. Untungnya, hari itu, saya masih terselamatkan dengan film The Raid yang tayang perdana, dan Negeri 5 Menara (ngomong2, saya belom nonton dua-duanya :p) yang masih banyak diminati, dan untungnya juga (berdasarkan hasil analisis saya), belum banyak orang Indonesia yang tau kalau The Hunger Games adalah film dari buku yang bagus. Jadinya, waktu saya akhirnya sampai ke counter tiket dan ditanyain sama Mbak-nya mau nonton apa, yang beli tiket The Hunger Games ternyata baru satu orang. Yes! Bebas milih seat.. huhuhu

Bisa dibilang, acara nonton saat itu adalah pengalaman nonton terniat yang pernah saya lakukan di Jakarta. Sebelumnya, saya selalu nonton pas filmnya udah nggak banyak diminati dan theaternya sepi banget. Dan kemarin, saya harus rela ngrogoh kocek lebih dalam, mengingat hari itu tanggal merah dan libur *sigh*. Nggak papa lah, demi Peeta.. -______-

Tentang ceritanya (omong-omong, saya sudah pernah sedikit ngreview di sini), dari beberapa artikel review, banyak banget yang bilang film ini bagus. Even kalau di luar sana, The Hunger Games udah dapet critical acclaim. Salah satu faktornya bisa dibilang adalah akting Jennifer Lawrence sebagai Katniss yang saya akui keren banget. Dia bisa menghidupkan sosok Katniss sesuai dengan bayangan saya dari bukunya. Dan faktor ke dua, mungkin karena pengaruh si pengarang yang juga jadi script writer-nya?? :)
Sempet sih, saya agak ragu sama kebagusannya karena di bagian awal musiknya minim banget. Backsound-nya nggak banyak, berasa krik-krik! Cuma ternyata dari tengah sampai ending, terutama pas udah masuk bagian training dan di arena Games-nya, emosi saya bisa cukup dipermainkan, baik dengan dialognya maupun adegannya yang cukup banyak bikin kaget dan meringis (hey, it's a battle :D). Josh Hutcherson sebagai Peeta juga nggak mengecewakan saya. He's too cute. Dan dia berhasil jadi anak cowok yang agak cengeng sekaligus "Lover Boy" yang terlihat innocent banget dan pantas dilindungi, tapi cukup melumerkan hati. Terutama pas di scene interview Peeta dengan Caesar Flickerman yang bener-bener bisa bikin geleng-geleng kepala dan juga bilang, "awww..".




But, tetep aja, meskipun filmnya bagus, ada bagian-bagian yang menurut saya masih bisa diperbaiki. Beberapa detil di buku memang sengaja ditiadakan karena rasanya durasinya udah nggak mungkin ditambah lagi (hampir 2.5 jam lho filmnya). Masih bisa ditolerir lah, mengingat detil yang nggak ada juga nggak terlalu signifikan kalau ditaruh di filmnya. Cuma, saya merasa adegan romantisnya si Peeta sama Katniss masih kurang greget! Terutama dialognya yang terkesan sekenanya dan agak nanggung. Di buku, saya bener-bener bisa kebawa emosi membaca dinamika feeling-nya mereka berdua. Tapi di film kok rasanya agak kurang ya.. :( Rasanya belum cukup memainkan emosi gitu, meskipun udah nyrempet-nyrempet dikit. Bahkan kalau di film, saya jadi lebih suka bagian pas si sekutu kecil Katniss, Rue, mati. Daleeeeemmm banget. Sumpah saya nangis. Setidaknya adegan romantis yang masih kurang greget (menurut saya) itu terbayar dengan action yang keren. Brutal, tapi nggak berlebihan (masih oke lah kalau ditonton remaja tanggung). Bunuh-bunuhannya juga sesuai banget sama penceritaan yang di buku. Dan ini adalah poin plus dari film ini.






Kekurangan lain mungkin terasa karena di buku, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama (Katniss) yang membuat pembacanya bisa merasakan emosi sang tokoh dengan lebih dalem. Dengan sudut pandang orang pertama ini juga, konflik batin Katniss dan anggapannya ke Peeta bisa membuat pembaca merasa bingung motif si Peeta yang sebenernya apa. Bikin gregeten dan menduga-duga. Hal ini tentunya beda dengan film yang penceritaannya lebih objective dan cenderung membuat rasa penasaran ke Peeta jadi nggak terlalu mencolok. Cuma, kalau di film, kita jadi tahu kondisi di luar Games yang nggak pernah bisa digambarin Katniss di buku. Misalnya, kondisi di distrik-distrik pas mereka lagi nonton Hunger Games pake semacam layar tancep, atau pas si Gale jealous sama Peeta di adegan 'cave' dan membuat semua penonton di bioskop tertawa geli.. :p

Overall, saya merasa The Hunger Games pantas dapat review bagus. Dan saya nggak rela kalau banyak orang masih saja membandingkan film ini sama Twilight. Animo masyarakat luar sama Trilogy Hunger Games bisa dibilang sebanding dengan Twilight. Tapi saya merasa film ini nggak bisa dibandingkan. Dan kesukaan saya dengan Jennifer Lawrence (dari aktingnya, tentu saja) ternyata jauuuuuuuuhhhh banget melampaui 'kesukaan' saya sama Kristen Stewart (no offense buat para penyuka Kristen, personal opinion aja). Ditambah lagi, pace film ini nggak seperti Twilight yang fokusnya di romance. Pace film ini cepet, ceritanya padat, dan tentunya lebih kental aksi. Nggak sia-sia saya duduk di bioskop lama dan membayar uang ekstra (gara-gara libur) karena sepanjang film, fokus saya tetep ke layar.
Dan ternyata saya juga berhasil membujuk temen-temen saya yang nggak tau biar nonton ini. Yeah! :DDD

FYI, film ke dua katanya rilis November 2013 (lamaaaa... T.T). Tapi harus sabar, dan berdoa film ke dua juga sebagus bukunya, even bisa lebih bagus dari film pertama. Amin. *fingers crossed*

Monday, March 5, 2012

"Hunger" for More!


The Hunger Games.

Preview filmnya saya baca pertama kali di Cinemags edisi Desember 2011. Waktu itu, saya cukup penasaran karena meskipun previewnya cuma dikit banget, sepertinya filmnya menarik. Tipe-tipe action tapi pasarnya adalah remaja. Dan dari situ, minat saya yang lebih jauh belum tampak.


Saya suka lambangnyaaaa..!!! >.<

Baru akhir-akhir ini pas saya dapat lagunya Taylor Swift ft. The Civil Wars yang judulnya Safe & Sound, dan di situ dicantumkan ini soundtrack film The Hunger Games, saya mulai tambah ngeh. Well, tambah penasaran tepatnya. Lirik lagunya bener-bener bikin merinding. So sweet banget kalo kata saya sih.. :p. Dan karena saya orangnya visual, apa yang saya dengerin langsung saya bayangin. Berasa kembali ke masa euforia Twilight meskipun beda versi dan ini cuma dari satu lagu!
Akhirnya saya putuskan untuk cari videonya. Tambah merinding, tambah penasaran, dan penggambaran sendunya juga gimanaaaa gitu. Dari situlah akhirnya keinginan untuk hunting buku Suzanne Collins akhirnya tak terbendung lagi. Yep, film ini memang adaptasi novel.

See, setelah susah payah cari sana-sini, akhirnya saya dapat tiga-tiganya. The Hunger Games Trilogy sudah di tangan. Dan pertanyaannya adalah, kapan mbacanya?? T.T
Oke. Saya memang sedang berada di tengah kegalauan karena dibanjiri oleh kerjaan yang menuntut rontoknya rambut saya satu-satu karena harus berpikir, dan juga tentunya, menyita banyak waktu. Pun dari pagi sampai malem saya di kantor, pulang juga biasanya nonton series atau film. Tapi akhirnya pelan-pelan (meskipun jalannya bisa dibilang merambat), saya coba membaca satu buku. Saking penasarannya sih..

Dan ternyataaaaaaa... (jeng! jeng! jeng!)
I LOVE THE BOOK!! 


Buku yang membuat saya enggan ngapa-ngapain. :)

Sedikit review; buku ini bersetting di masa depan di sebuah wilayah bernama Panem yang dulunya adalah kawasan Amerika Utara. Nah di Panem ini, wilayahnya terbagi menjadi 12 distrik. Setiap tahun, ceritanya untuk mengingatkan semua orang bahwa dulunya pernah terjadi perang yang mengakibatkan hilangnya banyak nyawa, diadakan sebuah games yang intinya adalah pertarungan hidup dan mati. Jadi, sepasang remaja cowok dan cewek dari masing-masing distrik dengan rentang usia 12 sampai berapa tahun gitu saya lupa (18 tahun kalau nggak salah), akan dipilih untuk berpartisipasi di games ini. Nah, nantinya, ke-24 remaja ini ditempatkan di satu arena untuk bisa bertahan hidup. Games dihentikan kalau sudah ada 1 pemenang, which means, 23 peserta yang lain mati dan hanya satu orang yang bertahan hidup.
Tokoh utama yang bernama Katniss, mengajukan diri untuk jadi tribute (sebutan untuk peserta The Hunger Games) gara-gara nama adiknya yang masih berumur 12 tahun yang terpilih. Katniss mewakili distrik 12 bersama dengan satu cowok yang namanya Peeta. Dan pokoknya, dari situ cerita berkembang, mulai dari persahabatan, permainan strategi untuk bertahan hidup, sampai cinta segitiga.

Idenya lumayan familiar sih sebenarnya. Semacam Battle Royale (film Jepang tahun 2000) tapi dengan kemasan yang beda. Cinta segitiganya juga cukup bisa ditebak mungkin. Tapi alur cerita buku ini bikin ceritanya jadi spesial kalau menurut saya. Dengan latar belakang action yang menurut saya kental banget (even agak sedikit brutal), gaya penceritaannya nggak membuat semua jadi suram. Konfliknya juga seru. Juga karakter tokohnya mencuri hati. > <
Bahkan, saya yang di awal cerita lumayan simpatik sama Gale (ini cowok lho, sahabatnya Katniss), lambat laun bisa dibikin jatuh cinta sama sosok Peeta yang diam-diam ternyata menghanyutkan. Dan akhirnya sama sekali saya nggak terlalu peduli sama Gale. Mwahahahaha..!!

Sumpah ini salah satu buku yang bisa membuat saya terpesona. Sumpah ini buku bisa bikin saya merasa beraaaaaat banget harus menutup laptop dan tidur karena sudah jam 12 malam dan besoknya harus bangun pagi. Dan sumpah ini buku bisa bikin saya ketawa-ketiwi, ngikik2 sendiri di kamar yang mungkin kalau temen kos saya denger bakalan mikir ini anak kenapa, dan ternyata ini buku juga bisa membuat saya menitikkan air mata karena terharu sama ceritanya.
Totally recommended! (terutama buat yang suka sci-fi dan kisah percintaan remaja) Hehehe..

Dan akhirnya, tiga buku selesai dibaca. Mencoba mencuri-curi waktu di tengah mengerjakan PR dan berhasil memalaskan diri di weekend (baca: nggak kemana-mana, cuma mantengin laptop seharian), rasa penasaran akhirnya terpuaskan juga. Bener-bener deh, entah emang lagi galau atau kenapa, kalau mbayangin Peeta (yang merepresentasikan cowok idaman saya *ngarep* :p) bawaannya pengen nangiiiiiis terus. Kebawa banget sedihnya.. Berasa kayak manusia selang air beneran deh..  T.T

Ngomong-ngomong, promosi filmnya gencar juga. Cara promosinya juga termasuk kreatif. Jadi, di official website filmnya, kita bisa tahu semua informasi tentang distrik-distrik di Panem. Kita juga bisa membuat semacam ID Card sebagai warga Panem, lho.. Jadi ceritanya seolah-olah kita ini imigran dari kota yang kita diami sekarang dan masuk ke Panem. Log in-nya lewat Facebook atau Twitter, dan nanti semacam tebak-tebak berhadiah, coba lihat kita dapat distrik berapa. Even pekerjaan kita juga udah ditentukan, mengingat di setiap distrik spesialisasi Sumber Daya-nya beda. Kalau mau coba boleh ke sini.

Tebak, saya nyoba dan dapat distrik berapa.. :p


Right. Saya dapetnya distrik 8.
Dan tau-tau saya berubah job jadi factory worker. Doh! (-o-)"

Dan sekarang tinggal berharap semoga film ini bisa segera datang ke bioskop Indonesia.. (-o-)
Secepatnya, please.. *keinginan nonton tingkat tinggi*

Saturday, December 31, 2011

Introspeksi.. Komparisasi.. Adaptasi.. (Name It! It's All Here..)

Setelah beminggu-minggu pengen banget nonton Mission: Impossible Ghost Protocol, akhirnya kemarin keinginan saya kesampaian juga. Pas di Jogja, keinginan nonton MI harus dibendung karena Sherlock Homes: A Game of Shadow udah keluar dan saya (sama temen-temen) rasanya lebih berat nonton itu dulu.. Akhirnya, balik ke Jakarta, ngidam Tom Cruise-nya baru kesampaian.. Muahahahahahhh! *evil laugh*

Oke. Saya memang ngefan banget banget banget banget sama Tom Cruise.. Auranya tu lho.. Nggak nguatin! Pun film-filmnya juga saya suka.. Anaknya (si Suri) juga.. :p Pokoknya, Tom Cruise adalah om-om keren.. Yeah~ *geje mode: on*
Mari kembali ke topik. Nah, karena saya baru bisa nonton MI sepulang kerja, tentunya bioskop yang diincar adalah yang paling deket sama kantor (dan kos). Hasilnya, pulang kantor jam 5, mesti lari-lari nembus hujan dan berburu tiket demi dapat jadwal nonton jam 6 sore. Setelah ngos-ngosan dan menahan lapar, dapet juga di barisan tengah. Sempet juga habis cari tiket saya mampir ke Gramedia dulu buat cari buku buruan yang belum kebeli.
Anw, ada beberapa poin yang membuat saya bete abis-abisan ketika nonton di situ. Disamping disitanya minuman botol dan roti saya sama Pak Satpam yang herannya ngotot banget nggledah tas saya (padahal banyak banget tas yang nggak digeledah, mentang-mentang saya pake tas punggung.. Dasar!), saya menemukan beberapa hal yang disturbing yang mau nggak mau mesti saya bandingkan sama bioskop di Jogja (Hey, gini-gini saya tetep cinta bioskop Jogja.. T.T). Satu hal yang saya notice tentunya penggeledahannya tadi. Yang mencolok selanjutnya adalah;. di dalem bioskop, sempet-sempetnya ada petugas yang jualan pop-corn sama minuman, ngider! Beneran! Ditawarin aja gitu satu-satu sama pengunjung bioskopnya yang udah duduk stand by di depan layar. Annoying banget nggak sih? Ini bioskop apa kereta?? =.=a
Dan lagi, yang agak mengganggu pas itu adalah fakta bahwa film ini di jadwal tayang Indonesia ratingnya D (di luar ratingnya PG-13 sih..). Tapi rasanya tetep aneh aja liat banyak banget anak SD diajak orang tuanya nonton film ini, even worse saya liat balita sekitar umur 3 tahun digandeng bapaknya naik tangga ke kursi mereka. What the..??

Duh, jujur saya masih nggak habis pikir sama orang tuanya. Mungkin sebagian besar kasus yang terjadi adalah, yang ngebet nonton film ini adalah orang tuanya. Lagian, Tom Cruise kan masuk jajaran aktor yang lumayan jadul.. Mana ada anak SD familiar banget sama film-filmnya Tom Cruise? Padahal banyak banget adegan yang sebaiknya nggak dilihat sama anak-anak, apalagi anak sekecil itu. Memang sih, adegan romance-nya bisa dibilang nggak ada (cuma ciuman satu kali aja), tapi violence-nya itu lhoh.. even nggak ada darah pun, tetep aja yang namanya violence ya violence. Breaking necks, pengeboman, suara-suara tulang patah pas berantem, sampai aksi yang tense-nya tinggi dan memacu adrenalin disajikan. Rasanya agak nggak pas anak kecil disajikan adegan yang seperti itu.
Nah, di sebelah saya, ada anak seumuran kelas 3 SD yang juga nonton. Pertama kali saya duduk di situ, saya udah mbatin, 'buset nih ibuknya, geje tenan ngajak anaknya nonton ginian..'. Dan bener! Si adik itu, di adegan-adegan yang bisa dibilang memacu adrenalin (kayak berantem, kebut-kebutan, dll) mantengin layarnya penuh minat. Tapi pas adegannya berganti dialog panjang yang isinya percakapan berbobot dengan penuh istilah yang saya yakin anak kecil nggak bakalan bisa ngerti (kecuali dia jenius), apa yang adik itu lakukan? Dia mengeluarkan BlackBerry dari sakunya, sodara-sodara.. Yep! Bener! Dia punya BB!! BB!! His own BB!! Rasanya saya pengen banget nangis! Nangis karena melihat betapa tidak bertanggungjawabnya orang tuanya.. *sigh*
See, BB yang di luar negeri dikategorikan sebagai smart phone yang sering dipake businessman dan identik dengan device untuk bisnis, ternyata di sini anak kecil aja udah punya BB. Beneran deh! Saya jadi semakin anti sama BB (doa colongan: semoga saya tidak harus melalui tahap beli dan punya BB suatu hari nanti, kecuali dikasih.. :p).

Masih ada satu hal yang annoying lagi. Tapi ini lebih ke personal sih..
Nah, ceritanya,, penonton yang duduk di depan saya itu, seorang mbak-mbak yang awalnya-biasa-aja-tapi-ujung-ujungnya-nyebelin-bukan-main, adalah mbak-mbak yang sumpah ketawanya sangat-sangat lepas dan tidak bisa menahan keinginan sotoy-nya menjadi komentar tidak berbobot dan akhirnya mengganggu kenyamanan orang lain. Di tengah-tengah adegan lucu, dia yang ketawanya paling keras. Setelah momen itu, sepertinya dia malah nggak segan-segan mengeluarkan komentar setiap kali ada plot yang membuat penonton menebak-nebak. Sumpah rasanya pengen saya bungkem mulutnya. Saya yang terbiasa nonton film dengan tenang, langsung merasa kenyamanan saya ternodai gara-gara ini. Even saya pun kalo komentar ke temen sebelah juga pakenya bisik-bisik. Eh, ini.. di loudspeaker.. full volume lagi.. *damnyou!* Saat itu saya langsung berdoa someday bisa bikin home theater sendiri.. (Amiin)

Yah, bagaimanapun, adalah hal yang lumrah untuk membandingkan sesuatu yang mirip di tempat yang berbeda. Kayak saya ini, sebagai pendatang baru di Jakarta, adaaaaa aja yang saya liat dan saya bandingkan dengan Jogja. Entah harga barang-barang atau makanannya lah, kondisi jalan lah, apa lah.. Dan di bioskop kemaren, rasanya saya pengen nangis balik ke bioskop serupa yang di Jogja. Tentunya hal ini hasil dari perbandingan; nggak ada "pedagang asongan"nya lah.. kursi yang di jogja lebih nyaman lah.. lebih enak liat nomer kursinya lah.. setting jalan masuknya lah.. kapasitasnya.. even space antara satu kursi dengan kursi belakangnya juga lebih luas..

Intinya, memang sepertinya tersiksa banget kalau kenyamanan yang sudah biasa saya dapatkan tiba-tiba harus lenyap dan tergantikan dengan sesuatu yang menurut saya kurang nyaman. Tapi tetep, someday saya harus terbiasa. Saya harus menerima apa adanya. Mungkin sekali kompensasi hal negatif ini akan terbayar dengan hal lain yang lebih bagus dan belum pernah saya rasakan.
Tapi tetep.. semua orang harus bersabar dengan adaptasi. Mungkin memang annoying buat orang lain ketika kita selalu berkomentar negatif dan membandingkan sesuatu (saya juga pasti bikin annoyed teman nonton saya hari itu). Tapi saya yakin, ada saatnya semuanya akan hilang. Dan itu yang coba saya lakukan. Meanwhile, nggak ada salahnya kan sebelum semuanya menghilang, saya abadikan dulu dalam tulisan?? :)

Thursday, October 20, 2011

Anywhere I Look.. Ah! Shoot..

Sepertinya Indonesia lagi diinvasi besar-besaran sama Korea..

Pernyataan saya itu bukannya tanpa alasan. Lihatlah sekeliling kita. Boysband dan girlsband ada di mana-mana. Dari mana asal inspirasinya? Korea. Di Indo***r, drama Korea mulai bejibun. Yang dulunya ada tapi nggak melimpah sekarang malah banjir. Lihat juga deh infotainment dan berita-berita di internet. Sedikit berita tentang artis-artis Korea (bahkan cuma berita tentang artis yang lagi ikut wamil sekalipun) jadi perbincangan hangat. Pun di sekeliling saya, mau nengok ke timur, tenggara, selatan, sampai timur laut juga, semua orang lagi doyan nonton drama dan film Korea. What's happening??!! > <

Don't get me wrong! Saya nggak benci kok sama semua yang berbau Korea itu. Saya juga nggak anti. Malah dulu waktu jamannya Full House, Stairway to Heaven, atau Sassy Girl, saya sering banget nonton drama Korea (dan Jepang). Yang jadi concern di sini sebenarnya adalah demamnya. 
See, sudah banyak sekali (nggak cuma banyak, tapi pake sekali) teman-teman saya yang mencoba mencekoki saya dengan film/drama Korea yang sedang mereka gandrungi. Entah yang lagi diputer di TV apa yang belum, intinya adalah saya dibujuk biar nonton. I mean, temen-temen saya yang biasanya biasa aja sama begituan juga sekarang jadi keranjingan. Gosh, sepertinya memang penyebaran virusnya sangat cepat. 

Di postingan sebelumnya, saya sepertinya pernah bilang saya termasuk orang yang kadang berkebalikan dengan selera mainstream atau 'yang lagi populer'. Nah, sekarang, di saat orang lain pada ribut ngomongin drama-drama dari negeri ginseng itu, saya jadi kaum minoritas yang nggak semangat ngikutin atau nonton sekalipun. Honestly, I tried. Saya sudah mencoba menonton satu drama Korea yang kata temen saya bagus. Saya copy deh akhirnya. Dan ketika saya sudah nggak ada tontonan lagi, saya tonton juga tuh drama. Dan oke, emang bagus saya akui. Cuma setelah itu ya sudah. Selesai nonton, kelar. Nggak ada yang saya ributin lagi, termasuk siapa pemainnya, bla bla bla. 
Dari situ, ada beberapa teman yang menyangka saya sudah mulai kena 'virus'nya. Ditawarilah akhirnya saya beberapa jenis drama dan film. Beberapa saya tampung, beberapa saya tolak. Saya nggak ragu sih ceritanya biasanya emang bagus, tapi entah kenapa setiap mau nyetel satu film aja, rasanya udah malas. Apa memang saya sebegitu antinya dengan mainstream?? 

Mungkin memang dasarnya saya orang yang susah dipersuasi masalah beginian. Saya hobinya mempersuasi orang lain, tapi kebalikannya, agak nggak mempan kalo yang ditawarkan ke saya genrenya jauh sama selera yang udah paten dan biasa saya jadikan acuan. :p
Whatever it is, rasanya memang mainstream bukan tipe saya. Mungkin saya baru suka kalau udah beberapa abad kemudian (saking lamanya), atau mungkin malah memang tidak akan tersentuh sama sekali. Tapi siapapun yang kena virusnya (apalagi yang memang dasarnya dari dulu suka, nggak cuma karena virus), enjoy it! But please, don't ask me to follow.. *sigh*



Monday, October 10, 2011

Balada TOOTHLESS dan SUBBING

Sejak kemunculan film How To Train Your Dragon (HTTYD), saya sudah punya feeling kalo film ini bakalan bagus (for me, at least). Dan ternyata benar. Setelah saya nonton film itu (saking nggak sabarnya, pertama kali nonton dilakukan dengan ngopy kualitas R5 dari warnet) saya langsung jatuh cinta sama semua yang ada di dalamnya. Karakter Hiccup yang "freak" dan inviting, juga adanya Toothless, sang naga 'ompong' yang lucu dan menggemaskan, membuat saya seolah-olah terobsesi dengan film itu. Sampai sekarang, HTTYD adalah film animasi favorit saya, ever, sejauh ini. Serius deh! :)

sumber: fanpop.com

Oke. Mau dibawa kemana postingan ini? Apa saya cuma pengen bilang kalo saya tergila-gila sama naga hitam berintelijen tinggi dengan selera humor bagus yang friendly ini? Don't worry. I'm not gonna preach about that. Tapi dari sinilah pengalaman nge-sub saya dimulai.

See, saya orang yang hobi banget nonton film. Dan tentunya, demi kenyamanan nonton film (yang sebagian besar diperoleh dari donlot --maafkanlah keterbatasan membeli tiket bioskop karena masih-merasa-kemahalan-ini... =.=), kenyamanan nonton berarti tersedianya subtitle yang pas, baik dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Permasalahannya adalah, subtitle bahasa Indonesia yang di-upload para uploader di internet kadang bikin saya pengen gigit bantal. Semua yang ada di subtitle bahasa Inggris cuma di-translate seadanya dengan Google Translate (I know, nggak kreatif banget emang --dasar orang nggak niat bikin sub.. *curcol). Makanya dari situlah, kebanyakan subtitle yang saya donlot adalah subtitle bahasa Inggris. Baru kalo ada orang dengan reputasi bagus yang ngupload sub bahasa Indonesia, saya donlot deh.

Nah, kasus yang akan diceritakan ini diawali dengan film HTTYD pertama saya. Sub yang saya dapat adalah bahasa Inggris. Udah saya bilang kan sebelumnya kalo saya terobsesi sama film yang satu itu? Nah, setelah hampir lima kali film itu saya liat (tenang, saya nggak maniak kok :p), saya mulai berpikir, "kayaknya seru juga kalo bisa bikin sub bahasa Indonesia sendiri."
Berbekal software buat bikin subtitle yang dikasih temen, saya coba deh bikin sub pake menu translator assistant yang ada di situ. Intinya, saya menerjemahkan line per line yang ada di subtitle bahasa Inggris ke bahasa Indonesia manually. And believe me, that's not an easy job. At first at least. Kadang setiap mau translate, saya harus puter ulang filmnya biar nggak salah ngartiin. I mean, kontennya bisa beda hanya dengan nada bicara kan? Dan akhirnya, setelah beberapa hari, dan dengan belasan banyak kali editan, selesai jugalah subtitle Indonesia HTTYD saya sendiri.. *grin

Berminggu-minggu saya menyimpan dan memakai sendiri subtitle itu. Sampai suatu hari, saya nemu kopian DVDRip filmnya yang notabene memiliki kualitas gambar yang lebih bagus dan lebih jernih. Judulnya aja udah terobsesi, otomatis saya copy dong. Saat itu, saya berpikir akan tetap memakai hasil subbing saya sendiri. Eh, ternyata setelah saya taruh subtitlenya di situ, timing-nya tidak pas. Hell! Saya frustasi! Kepala saya mengatakan, "Masa sih! Filmnya sama tapi kok timing-nya bisa beda?". Tapi faktanya, itu memang bener (baru beberapa saat kemudian logika saya mulai jalan, dan intinya, perbedaan sepersekian detik pun bisa sangat berpengaruh dalam dunia per-subtitle-an). Dan akhirnya saya melakukan hal konyol (setidaknya buat saya waktu itu), yakni mencoba memperbaiki timing subtitle saya karena merasa kerja keras saya bakal sia-sia kalau akhirnya subtitle-nya nggak bisa dipake. Jadilah saya mengedit subtitle yang line-nya berjumlah sekitar 800 itu dengan rata-rata pengeditan waktu tiap 3 line sekali. T.T
Dan untungnya, timing DVDRip sama dengan timing BRRip yang terakhir kali saya donlot *merasa nggak sanggup ngedit timing-nya lagi*.. Fiuuuhh~

Mungkin banyak yang merasa saya bener-bener kurang kerjaan. Ada teman saya yang setidaknya bilang, "Ya ampun, kamu niat banget!" dengan kegiatan saya itu. Well, kadang memang agak unbelievable sih menghabiskan banyak waktu untuk mengerjakan hal-hal kayak gitu. Tapi setelah subtitle yang saya kerjakan kelar dan saya bisa nonton hasil karya saya di film yang saya suka, semua ke-"kurang kerjaan" yang saya lakukan itu menciptakan kepuasan tersendiri yang... entahlah.. rasanya cuma puaaas aja bisa lihat nickname kita mejeng sebentar di ending film.

Dan pada akhirnya, saya jadi ketagihan! Well, nggak langsung ketagihan buat nge-sub semua film sih.. Cukup film yang jadi favorit saya dan sering saya tonton ulang. Dan seperti hal-hal lainnya, keahlian nge-sub ternyata juga diperoleh lewat latihan yang banyak (latihan nge-sub maksudnya). Lama-lama, saya yang tadinya nggak jago membuat kata ringkas dan mencakup makna kalimat aslinya (siapa juga yang mau mbaca subtitle yang panjangnya kayak uler dengan kata yang nggak efektif?) mulai bisa meringkas kata yang harus dipake. :p

Setelah hasil beberapa subtitle diketahui oleh teman saya, ada yang mengusulkan, "kenapa nggak upload aja sih?" --Oke. Awalnya saya nggak PD, secara saya masih merasa sangat amatir dan gaptek masalah feature beginian di internet. Tapi setelah beberapa bulan ini saya hobi donlot film sendiri, saya mulai berpikir, "Iya ya? Kenapa nggak upload aja? Toh masih banyak yang hasil terjemahannya lebih jelek dari saya. Lagian itung-itung saya mbantuin orang dapet subtitle yang seenggaknya nggak dibikin dengan setengah hati."

Jadilah, dengan visi "mau share", saya bikin akun di subscene dan ngupload subtitle saya. Dan parahnya, statement kepada diri sendiri yang sebelumnya bilang saya cuma mau nge-sub dua film ini (HTTYD & Le Petit Nicolas) doang, harus terpatahkan karena pada akhirnya saya jadi pengen nge-sub film lain.. XD <-ketagihan juga ternyata

Saya yang dulu merasa 'kurang-kerjaan-banget-ya-para-pembuat-subtitle-di-internet-yang-nggak-dibayar-itu', kini menyadari: 'Thank God for them!'.. Nggak bisa mbayangin kalo nggak ada satu orang pun yang ngupload subtitle  di internet hanya karena nggak ada bayarannya (matre banget ya saya kadang-kadang :o). Tapi pada akhirnya saya menyadari bahwa banyak kebutuhan lain selain uang dibalik itu semua. Dan salut buat para pembuat subtitle (dan peng-upload film tentunya) di luar sana yang meluangkan waktu dan tenaganya untuk membahagiakan pecinta film seperti saya. :p

And finally, buat yang mungkin penasaran dengan hasil subbing saya, boleh kok tengok di sini. Mungkin memang nggak sempurna, but hey, nothing's wrong with sharing, eh?

Friday, September 9, 2011

Antara 'distress' dan 'depressed'



Akhir-akhir ini saya merasa jadi orang depresi. (-.-)
Wait a minute! Kalau orang ngerasa depresi apakah dia bisa dikategorikan depresi?? Hmm..
Tapi tenang aja, depresi saya bukan jenis depresi yang mengarah ke kecenderungan bunuh diri kok. Kalau yang itu saya nggak berani-berani deh!

So, kenapa saya bisa merasa "depresi"? Oke. Yang pertama, tubuh saya yang bilang sendiri. Rambut saya rontok lebih parah dari biasanya (Oh, no! May haiiiiiirrr...!!! > <). Terus kecenderungan saya yang tidak bersemangat dan rasanya pingin tiduuur terus. Belum lagi saya jadi bad mood sepanjang hari. Gosh, what happened to me?? T.T
Apakah itu semua tanda stress? Entahlah.. Saya belum cari faktanya. Mungkin iya, mungkin juga hanya sugesti. Tapi keadaan ini semakin diperparah dengan imunitas tubuh yang menurun. Saya kena flu (lagi) dalam dua bulan terakhir ini. *sigh*

Anw, akhir-akhir ini dengan bekal internet cepat sementara yang dipasang di rumah, saya jadi sering banget download film. Dan film-film yang akhir-akhir ini saya buru kebanyakan adalah film lama. Let say: Life as A House, The Sisterhood of the Traveling Pants 1 dan 2, What's Eating Gilbert Grape, Finding Neverland, dan beberapa lagi yang kalau disebutin rasanya terlalu panjang.
Dan diantara seabreg film itu, ada satu kesamaan penting: saya kalau nggak terharu nontonnya, mesti nangis! Oh, my.. kayak belum cukup galau yang saya jalani, sekarang malah referensi film saya sedih semua.. hyaaa~
Cuma nggak papa, bisa dijadikan katarsis.. Daripada saya marah atau bete nggak jelas kan?? :p *defense*
Basically, saya yang (ngakunya) pecinta film ini merasa terhina karena banyak banget film-film bagus yang selama ini saya lewatkan. Oke. Memang sih, saya baru bener-bener ngikutin info film beberapa tahun yang lalu. Tapi ternyata setelah ditelusur, film bagus yang saya tonton lebih sedikit dibandingkan film bagus yang belum saya tonton selama ini. Huhuhu

Ngomong-ngomong tentang The Sisterhood of the Traveling Pants, itu film bener-bener saya rekomendasiin. Beberapa waktu yang lalu, saya dapat e-book-nya, cuma masih terlalu malas membaca. Setelah liat filmnya, eh.. gairah untuk mulai baca malah muncul lagi. :))

Saturday, March 26, 2011

Pada Akhirnya Masuk Daftar Favorit Saya

Wew…
Ternyata saya udah lama absen. Yak, waktunya kembali menulis.

Beberapa hari yang lalu, saya baru nonton film yang judulnya Schindler’s List. Okay, I know. Saya telat banget nontonnya. Itu film udah buatan taun 1993, udah gitu visualisasinya black & white yang membuatnya tampak seperti film sangat jadul. Tapi pembelaan saya: saya nggak pernah nemu film itu di TV, dan saya dulu (sebelum SMA) bukan penggemar film. Jadi..  wajar-wajar saja kalo saya baru tau film ini. Lagipula rilisnya juga pas saya masih umur 4 tahun. Hee… *meringis

Oke. Lanjut ke topik.

Akhirnya saya dapat jawabannya kenapa saya nggak pernah nemu film ini diputer di channel TV kita. Satu, filmnya sadis, mayat bergelimpangan dimana-mana. Dua, filmnya rasis, Jews sangat sangat sangat sangat direndahkan di sini. Okelah, ini emang film sejarah, jadi bisa dimaklumi. Dan yang ke tiga, kejam! Saya nggak habis pikir gimana seseorang dengan gampangnya membunuh untuk bersenang-senang. Terlepas dari semua fakta yang membuat film ini dapat rating ‘R’, saya menemukan keharuan yang luar biasa di akhir cerita. I must admit, saya nggak hanya menangis di akhir film ini. Saya menangis tersedu-sedu. Mungkin bagi beberapa orang, menangis (tersedu-sedu) untuk sebuah film adalah hal yang cukup bodoh, tapi faktanya saya merasakan atmosfer adegan itu. Saat dimana seorang pebisnis yang awalnya memulai bisnis dengan memanfaatkan situasi dan korban perang berakhir menjadi sosok yang inspirasional karena keteguhannya mempertahankan orang-orang “rendah” bahkan sampai membuatnya bangkrut. Sosok yang sangat dihormati sampai-sampai Nazi sadis yang hobi membunuh orang mulai belajar tentang ide ‘memaafkan’ meskipun pada akhirnya nggak mempan juga.

Saya terpesona dengan sosok Schindler ini. Saya terpesona dengan ketulusan yang dia berikan pada orang-orang yang waktu itu dianggap menjijikkan oleh golongan tertentu, padahal sebenarnya ia berada di golongan yang sama. Saya terpesona dengan penyesalan yang ia rasakan ketika ia merasa seharusnya bisa melakukan lebih. Dan ya, ketika menulis ini, saya kembali terharu. Saya ingat musik yang dimainkan dalam adegan itu. Believe it or not, that music can ruin my day. Bisa-bisa seharian saya jadi melodramatis gara-gara ndengerin lagu itu. But yeah, this film is definitely on my list. Siapapun yang belum nonton, recommended! Emang sih.. lumayan banyak adegan kejamnya, tapi setidaknya gambar hitam-putih-nya bisa menklamufasekan darah yang banyak ‘mengalir’ di sini. :D





After all, salut untuk Steven Spielberg yang mengangkat kisah ini. Meskipun selama nonton saya ngerasain pegel-pegel (maklum, ini film durasinya 3 jam), dan bahkan sebelum mulai sudah harus berjuang mencari subtitle yang pas (bahasa Jermannya lumayan banyak euy! Aksennya juga sangat ngeblend), akhirnya puas juga. Satu hal yang saya pelajari dari film ini: Apapun yang terjadi, semua orang harus diperlakukan sama. Di masa-masa krisis perdamaian ini, sudah saatnya menerapkan diversity management. Berbeda itu indah. Dan memang begitulah adanya… :)

Friday, January 7, 2011

More Than Words


Tenang… Postingan ini nggak mbahas lagunya Mr. Big… =D

Seorang teman pernah berkata kepada saya ketika kami sedang membicarakan musik, “Apa sih enaknya ndengerin musik instrumental? Apalagi musik klasik gitu. Kan nggak ada liriknya. Malah bikin ngantuk.”
Ya, memang. Saya seorang penggemar musik instrumental, meskipun tidak seluruhnya (tetep pilih-pilih, sama kayak kalau kita milih lagu favorit). Saya suka mendengarkan musik klasik, dan saya suka mendengarkan soundtrack film yang biasanya berupa score. Saya nggak pernah bisa membagi kesukaan saya terhadap satu musik instrumental ke orang lain karena kebanyakan dari mereka tidak punya hasrat yang sama. Ketika saya suka satu lagu rock (yang juga merupakan genre favorit saya), saya tahu siapa yang harus saya ajak berbagi, atau ketika saya nemu satu lagu pop yang populer, saya tahu harus minta ke siapa. Tapi ketika saya menemukan score yang saya suka, saya tidak membaginya. Saya menikmati sendiri. Saya membuat kisah sendiri. Seakan-akan saya punya rahasia, kepribadian yang orang lain nggak tahu ada di diri saya.
Saya punya ketertarikan sendiri dengan beberapa instrumen musik, dan bahkan saya akan mendengarkan lagu apa saja yang di dalamnya terdapat unsur alat musik tersebut. Berlebihan kah? Saya rasa nggak. Semua orang punya gejala ‘kegilaannya’ sendiri. Dan saya merasa inilah ‘kegilaan’ saya. 

Pernahkah terpikirkan bahwa sebuah musik instrumental itu punya makna? Saya sadar kalau kita mendengarkan musik, hal yang cukup diperhitungkan adalah liriknya. Kalau kita mencoba memasukkan sebuah lagu ke dalam video yang kita buat di movie maker misalnya, yang pertama dipertimbangkan mungkin adalah liriknya, sesuai apa nggak. Tapi saya cenderung berpikir bahwa musik instrumen adalah musik yang lebih kaya makna dibandingkan lagu biasa (berlirik). Bagaimanapun juga, musik instrumental diciptakan karena sebuah kisah.

Coba kita liat scoring di film-film. Ketika saya melihat sebuah film, saya menyadari, yang membuat saya nangis (sebagian besar) selain ceritanya yang sedih adalah backsound film yang suaranya sangat syahdu, sendu, dan tanpa terasa air mata udah jatuh (mbrebes mili). Saat saya nonton film horror/thriller, yang bikin merinding adalah musik yang misterius, ‘mengiris’, dan kelam (tapi tidak dengan Paranormal Activity yang ‘garing’ :p). Itulah kenapa saya suka score film. Saya suka karena dalam sebuah lagu itu tersimpan cerita yang dalam, tak terbatas. Dan yang menakjubkan adalah, kita bisa bikin skenario film sendiri di kepala kita ketika dengar theme tersebut. J Saya sangat menikmati score film How to Train Your Dragon yang dikomposisi oleh John Powell. Saya bilang dia jenius. Pertama kali saya dengar Test Drive, saya langsung merinding dan pengen belajar mainnya. Hari berikutnya saya download satu album. Atau ketika saya dengar The Battle karya Harry Gregson-Williams di Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe, saya langsung pengen download dan ndengerin berulang-ulang. Saya memperlakukan musik instrumen seperti saya memperlakukan lagu yang berlirik. Kalau di lagu berlirik biasanya saya nyanyi-nyanyi, di musik instrumen, saya akan humming. Dan itu menyenangkan, meskipun memang rasanya nggak maksimal. (-o-)

Untuk musik klasik, saya berterima kasih pada Nodame Cantabile yang telah memberikan saya pencerahan dan pengetahuan yang baru tentang dunia orkestra, terutama karya-karya luar biasa komposer klasik yang belum pernah saya tahu sebelumnya. Satu obsesi saya yang sebenarnya ragu bakalan bisa tercapai hanya satu: Pianis. Saya dari dulu pengen banget jadi pianis (terlebih lagi setelah suka Maksim). Saya merasa pianis itu keren, karena dia bisa menciptakan nada-nada indah (dan rumit) yang keluar dari piano. Tapi kenapa mesti pianis? Jawabannya gampang: karena selama ini, instrumen yang paling dekat dengan saya adalah keyboard (yang bisa dijadikan mode piano), yang bisa sedikit saya mainkan, dan bisa buat latihan (meskipun saya sama sekali tidak mahir). Saya juga suka biola dan cello, instrumen berdawai yang menurut saya bisa mengeluarkan nada yang sangat syahdu dan menawan. Kalo saya denger suara piano, biola, dan cello dipadupadankan dalam sebuah lagu, saya pasti langsung meleleh. Jadi, buat yang bingung sebenernya selera musik saya apa, ada jawaban gampangnya: Saya suka musik dan lagu yang ada suara pianonya. Sukur-sukur ada suara string orkestra yang biasanya langsung bisa membuat bulu kuduk saya berdiri. Genre lagu yang awalnya susah saya senengin (kata teman-teman, genre lagu kesukaan saya tidak biasa [baca: ekstrim kanan-kiri]), kalo ada salah satu atau lebih unsur tersebut, kemungkinan besar saya akan langsung donlot atau simpen lagunya. Sesimpel itu kan?? *laugh* Saya suka Hurricane-nya 30 Seconds To Mars yang terdengar syahdu sekali dengan sentuhan rocknya yang khas dan tambahan sedikit hip-hop, saya suka Believe Me-nya Fort Minor yang nge-beat dan enak buat joget (meskipun saya nggak bakalan joget-joget), saya suka A Little Piece of Heaven-nya Avenged Sevenfold yang berlirik cukup sadis dengan musik rock yang masih sweet, tapi saya juga suka Piano & Violin Sonata-nya Mozart yang sangat mellow dan mungkin orang-orang bilang itu lagu bikin ngantuk. Atau Apocalyptica yang bisa membuktikan bahwa mereka bisa nge-rock tanpa gitar. Karena mereka punya kesamaan: sama-sama berunsur piano dan string

Saking ngefansnya dengan musik klasik, saya pernah punya satu cita-cita pas semester awal kuliah. Saya pengen skripsi saya nantinya ada hubungannya dengan musik. Saya pengen nantinya saya bisa ngublek-ngublek diri seseorang melewati musik (yang sebenarnya adalah proyeksi pribadi). Rencananya ya tentu saja pake musik klasik (dan rock). Berhasilkah cita-cita saya diwujudkan? Ternyata belum. Saat ini saya masih terlalu praktis untuk mengerjakan skripsi yang ribet, butuh perjuangan dalam eksperimen, dan tentunya persiapan reward yang besar serta waktu yang lama. Akhirnya saya malah mengerjakan skripsi yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan musik. Menyesalkah? Honestly, memang ada sedikit penyesalan. Karena saya pada akhirnya kurang menikmati apa yang saya kerjakan sekarang, dan saya merasa sangat tidak termotivasi membaca jurnal. Tapi saya masih punya mimpi itu. Another research about Music and Emotional Perception? Yeah! Someday, I’ll do it! Idealisme saya harus tetep jalan kan??? ^^

Yang pasti, saya bukan musisi (walaupun saya ingin jadi musisi). Saya cuma penikmat musik. Meskipun ada satu kebiasaan yang ingin saya pertahankan. Saya ingin tetep men-donwnload score-score musik favorit saya, dan berharap suatu saat nanti bisa berlatih memainkan lagu tersebut. Saya berharap suatu hari saya nggak hanya akan mendengarkan musik instrumen dengan cerita di kepala tapi juga bisa menciptakan setidaknya satu bentuk harmonisasi yang berasal dari tangan saya. Namun untuk sekarang, saya hanya bisa melihat dan mendengarkan lewat mp3 dan video, meresapi apa yang saya dengarkan, dan pada akhirnya menjadikan lagunya menetap di playlist saya dan didengarkan setiap hari. Karena masih sering saya terharu mendengar Overture 1812. Sering juga saya terkagum-kagum dengan kejeniusan Tchaikovsky dalam Violin Concerto in D-nya atau Bach dalam Hapsichord Concerto in D minor-nya, dan saya tetap mengagumi Liszt yang bisa menciptakan harmonisasi rumit yang bahkan saking rumitnya orang bisa kurang menikmati. Satu hal yang pasti, saya jadi tahu kenapa musik klasik tidak pernah mati. Musik-musik pop bisa jadi terlupakan, tapi musik klasik adalah hasil karya kejeniusan, yang saya percaya bahkan saat ini sangat tidak banyak orang yang bisa menciptakan jenis musik seperti itu. Dan sebuah musik klasik adalah film, yang panjang, yang memiliki konflik dan resolusinya sendiri, terdiri dari beberapa movements, dengan cerita dan emosi yang berbeda di setiap movement-nya. 

Jadi, kenapa saya suka musik klasik/instrumental? Jawabannya sudah ada: Karena setiap tone punya makna dan emosi yang berbeda-beda. Dan yang terpenting, karena kita bisa belajar bercerita tanpa kata-kata, bahkan melebihi kata-kata. J

Soundtrack of the post: 30 Seconds to Mars – Hurricane; Alex Band – Only One; Apocalyptica – Not Strong Enough, Broken Pieces; The Pretty Reckless – Nothing Left to Lose, Just Tonight