Sunday, April 17, 2011

Perburuan Tengah Malam

Kemarin malam mungkin bisa dibilang sebagai saat yang aneh dan menyebalkan buat saya. Kenapa??
Karena ... *jengjengjeng (musik drum)* enggak biasanya malam hari saya isi dengan berburu kecoak.
Yeah, berburu kecoak. Lebih tepatnya, terpaksa berburu kecoak di kamar saya. Can you believe it??
Sekitar jam 23.20 malam, lagi enak-enaknya nonton tivi sendirian, saya dikejutkan oleh sebuah siluet di atas kepala saya. Hewan bersayap yang ukurannya lumayan gede dan terbang dengan tergesa-gesa ke tirai jendela. Oke. Saya pikir itu kupu-kupu, minimal ngengat lah, soalnya seinget saya warnanya coklat. Tapi kok setelah saya selidiki (dengan menjulurkan kepala dan memincingkan mata untuk melihat dengan jelas), saya baru sadar kalo hewan itu adalah kecoak. Yak! Benar sekali. Memang kecoa.
Bagi yang nggak percaya kalau kecoak bisa terbang, trust me! Saya sudah menyaksikan lebih dari 3 kali kalau kecoak memang kadang-kadang suka berharap nyaingin kupu-kupu. Hobinya loncat sana loncat sini dengan sayap bergetar yang, yah.. pretty much looks like flying. Bagi yang percaya, baguslah. Berarti saya nggak berhalusinasi. Jadi, saya langsung mikir, 'what the hell??'. Ngapain ni kecoak malem-malem hang-out di kamar saya? Nggak tau juga datang dari mana, masa tau-tau nongol? perasaan juga dikunci pintu sama jendelanya... Benar-benar kecoak yang kurang kerjaan.
Jadi, saya perhatikan gerak-geriknya. Pertama-tama, dia cuma nggremet (merambat) di sepanjang gorden jendela. Lalu tiba-tiba, kesannya kayak sok pamer gitu, kecoaknya terbang menyeberangi ruangan, melewati atas badan saya. Wuzzzz.. saya langsung dalam posisi siaga. Hmmm.. kecoak sebenarnya bukan hewan yang paling menyebalkan buat saya, selama mereka masih menghormati privasi saya dan nggak mengganggu. Tapi yang ini?? Pengecualian!! Saya nggak suka tiba-tiba ada intruder di kamar saya, bikin geli pula. Alhasil, saya siap-siap menyerang. Tapi ternyata, lama saya tunggu kecoaknya tetep stay di lantai bawah kasur dan nggak keliatan lagi. Okelah kalau gini, saya cukup tidak merasa terganggu, meskipun rasa sebel masih ada.
Di tengah menikmati film di tivi yang cukup menegangkan, tau-tau ada sesuatu yang nggremet di kaki saya. Awalnya saya pikir semut. Tapi saya langsung ingat kalau tadi ada kecoak terbang, langsung saya tangkis 'sesuatu' di kaki saya itu, yang tiba-tiba langsung pindah ke tangan saya. Great! Saya dirambati kecoak.. T^T *sesuatu yang tidak patut dibanggakan*. Kecoaknya, seakan sadar diri kalau jadi buruan, langsung lari bersembunyi di balik tumpukan majalah saya. Langsung aja saya ambil botol minum dan satu buah buku setebal 4 cm untuk persenjataan. Dan perburuan kecoak pun dimulai.
Saya obrak-abrik tumpukan majalah saya, saya hujam-hujamkan botol minum, tapi masih meleset. Saya pancing kecoaknya keluar dari tempat persembunyian pelan-pelan, dan langsung saya timpuk pake buku. Eh, nggak kena juga (sebenernya kasian sama bukunya, kan sayang kalo kenapa-kenapa. Tapi mau gimana lagi?? Kecoaknya?? Nggak, saya nggak kasian sama sekali ><). Akhirnya setelah berkali-kali muter-muter di kamar untuk memburu kecoa (sampai masuk ke kolong tempat tidur dan berkali-kali dikagetkan dengan serangan langsung kecoak ke arah saya yang saya respon dengan loncat karena saya nggak mau 'disentuh' kecoak lagi), tiba-tiba kecoaknya ilang.
Aaaaaarghhhh..!!! Antara geregetan, gemes, kesel, dan hasrat pengen nimpuk sesuatu. Males banget kan kalau di tengah tidur nyenyak saya harus terganggu dengan kehadirannya lagi?? Tapi nyatanya itu makhluk satu menghilang tanpa jejak. Akhirnya perang harus berakhir tanpa kemenangan.

Malam-malam yang seharusnya diisi dengan santai dan bersiap tidur, ternyata harus dilalui dengan sedikit olah raga gara-gara hama kecil menyebalkan yang nyasar ke kamar saya. Kadang-kadang saya merasa kamar saya jadi semacam tempat persinggahan untuk hewan-hewan penyusup. Sebelumnya, saya pernah kejar-kejaran dengan tikus kecil abu-abu yang suka tepe-tepe (mejeng) di atas lemari saya, dua kali. But that's another story. Untuk saat ini, males aja ketika tidur harus diresahkan oleh satu wujud yang bau dan menggelikan seperti kecoak.

Harapan di masa yang akan datang: Nggak ada lagi binatang-binatang yang nyasar ke kamar saya, kecuali kalau memang saya undang... (BeTe)

Sunday, March 27, 2011

Bukan.. Ini bukan Regresi..

Akhir-akhir ini saya masih lumayan sering meneruskan hobi membaca buku-buku karya pengarang favorit saya dulu, R. L. Stine. Yep! Saya memang lagi hobi baca (kembali) Goosebumps dan Fear Street. Dikarenakan saya nggak punya bukunya (maklum, dulu kan hobinya nyewa ato pinjem temen), maka yang sekarang saya lakukan adalah mencoba download e-booknya.. Yeiy!! Bernostalgia sambil mengisi waktu yang banyak sekali lowong karena secara teknis sudah jadi pengangguran (eh, nggak ding, profesi saya kan jobseeker? ahaha). Intinya, saya mulai banyak-banyak hunting donlotan buku R. L. Stine gratis. Tapi sayangnya, sumbernya terlalu sedikit. Dan saya nggak panen banyak. Padahal kan seri Fear Street sama Goosebumps banyak banget ya.. *pouts*

Dibandingkan dengan masa lalu (wkkkkk), saya merasa nggak bernyawa baca buku-buku ini. Tidak bernyawa bukan berarti tidak menikmati. Justru ketidakbernyawaan itu sangat saya nikmati. Dulu waktu baca, cukup ada perasaan tense yang keluar (maklum, masih sangat muda), apalagi Fear Street Saga. Sekarang, saya baca lagi, rasanya sangat biasa, bahkan ceritanya gampang banget ketebak. Tapi.. justru itulah seninya. Saya merasa sedang refreshing. Cerita yang mudah ketebak ini malah kadang-kadang terdengar konyol, nggak masuk akal. Yah.. namanya juga buku anak-anak. Tapi kok saya nggak nemu Fear Street Saga gratisan di internet ya?? Padahal di antara semua seri Fear Street, Saga yang paling saya suka. Lebih horor gitu. L

Terkadang saya merasa aneh, kenapa ya saya suka baca buku petualangan anak-anak sampai sekarang? Bahkan ada beberapa yang saya beli. Ketika teman-teman saya beli chicklit, novel berat, bahkan buku non-fiksi ataupun yang isinya sangat-sangat filsafat banget, saya justru suka sekali baca buku petualangan anak-anak. Saya dulu sempat-sempatnya beli buku How To Train Your Dragon (karangan Cressida Cowell) gara-gara jatuh cinta sama filmnya. Denger kalo ceritanya beda, saya penasaran setengah mati seperti apa ceritanya. Sampai di toko buku, ternyata ada, dan tanpa pikir panjang langsung saya beli. Setelah dibaca, hmmm... saya merasa jadi anak SD (huhuhu). Bukunya bagus, tapi sangat sederhana. Saya jadi mikir, "ini buku harus saya simpen sebaik-baiknya, untuk dilungsurkan pada anak saya nanti".
Meski sekarang pas beli buku hampir selalu dipikir dulu, saya masih suka hunting buku petualangan (anak-anak) via online (baca: gratisan). Katakanlah Percy Jackson. Di salah satu toko buku impor, saya menemukan buku itu dikategorikan di area 'children'. Hmm.. padahal saya suka banget sama Percy Jackson Series. Ngumpulin dari buku 1 sampai 5, plus companion book-nya, bahkan versi audio book-nya sering saya dengarkan sebelum tidur. Rasanya kayak didongengin. Believe it or not, it helps me to fall asleep. D

Basically, saya merasa buku-buku ringan ini membantu menjernihkan pikiran yang sudah sangat penat. Terkadang di tengah membaca, akan ada suara tawa yang terselip. Tapi yang penting adalah prinsip 'membaca buku menambah ilmu'. Nggak peduli se-nggakpenting apapun bukunya, pasti akan selalu ada hal baru yang saya dipelajari. Entah tersembunyi atau terang-terangan. Entah fakta atau pemahaman.

Pesan moral dari sini: banyak-banyaklah baca buku!! *serasa jadi duta membaca*

FYI, saya masih sangat heran sama orang yang nggak suka baca buku. Bahkan ada teman saya yang liat buku tebel aja udah alergi. Oh! Oh!
Tapi semua itu kan pilihan ya? Kalo saya sih suka... J

Saturday, March 26, 2011

Pada Akhirnya Masuk Daftar Favorit Saya

Wew…
Ternyata saya udah lama absen. Yak, waktunya kembali menulis.

Beberapa hari yang lalu, saya baru nonton film yang judulnya Schindler’s List. Okay, I know. Saya telat banget nontonnya. Itu film udah buatan taun 1993, udah gitu visualisasinya black & white yang membuatnya tampak seperti film sangat jadul. Tapi pembelaan saya: saya nggak pernah nemu film itu di TV, dan saya dulu (sebelum SMA) bukan penggemar film. Jadi..  wajar-wajar saja kalo saya baru tau film ini. Lagipula rilisnya juga pas saya masih umur 4 tahun. Hee… *meringis

Oke. Lanjut ke topik.

Akhirnya saya dapat jawabannya kenapa saya nggak pernah nemu film ini diputer di channel TV kita. Satu, filmnya sadis, mayat bergelimpangan dimana-mana. Dua, filmnya rasis, Jews sangat sangat sangat sangat direndahkan di sini. Okelah, ini emang film sejarah, jadi bisa dimaklumi. Dan yang ke tiga, kejam! Saya nggak habis pikir gimana seseorang dengan gampangnya membunuh untuk bersenang-senang. Terlepas dari semua fakta yang membuat film ini dapat rating ‘R’, saya menemukan keharuan yang luar biasa di akhir cerita. I must admit, saya nggak hanya menangis di akhir film ini. Saya menangis tersedu-sedu. Mungkin bagi beberapa orang, menangis (tersedu-sedu) untuk sebuah film adalah hal yang cukup bodoh, tapi faktanya saya merasakan atmosfer adegan itu. Saat dimana seorang pebisnis yang awalnya memulai bisnis dengan memanfaatkan situasi dan korban perang berakhir menjadi sosok yang inspirasional karena keteguhannya mempertahankan orang-orang “rendah” bahkan sampai membuatnya bangkrut. Sosok yang sangat dihormati sampai-sampai Nazi sadis yang hobi membunuh orang mulai belajar tentang ide ‘memaafkan’ meskipun pada akhirnya nggak mempan juga.

Saya terpesona dengan sosok Schindler ini. Saya terpesona dengan ketulusan yang dia berikan pada orang-orang yang waktu itu dianggap menjijikkan oleh golongan tertentu, padahal sebenarnya ia berada di golongan yang sama. Saya terpesona dengan penyesalan yang ia rasakan ketika ia merasa seharusnya bisa melakukan lebih. Dan ya, ketika menulis ini, saya kembali terharu. Saya ingat musik yang dimainkan dalam adegan itu. Believe it or not, that music can ruin my day. Bisa-bisa seharian saya jadi melodramatis gara-gara ndengerin lagu itu. But yeah, this film is definitely on my list. Siapapun yang belum nonton, recommended! Emang sih.. lumayan banyak adegan kejamnya, tapi setidaknya gambar hitam-putih-nya bisa menklamufasekan darah yang banyak ‘mengalir’ di sini. :D





After all, salut untuk Steven Spielberg yang mengangkat kisah ini. Meskipun selama nonton saya ngerasain pegel-pegel (maklum, ini film durasinya 3 jam), dan bahkan sebelum mulai sudah harus berjuang mencari subtitle yang pas (bahasa Jermannya lumayan banyak euy! Aksennya juga sangat ngeblend), akhirnya puas juga. Satu hal yang saya pelajari dari film ini: Apapun yang terjadi, semua orang harus diperlakukan sama. Di masa-masa krisis perdamaian ini, sudah saatnya menerapkan diversity management. Berbeda itu indah. Dan memang begitulah adanya… :)

Saturday, March 5, 2011

Pertama Kalinya Ujian Skripsi (Chapter 2)

Oke. Lanjut ceritanya ke chapter 2

So, setelah dosen pembimbing saya masuk dengan muka yang agak horor (salah satu supporter -temen saya- mengakui kalau pertama kali liat beliau auranya memang cukup menyeramkan), beliau keluar lagi dengan langkah pasti. Hmmm.. Jangan-jangan sebel gara-gara dosen pengujinya telat semua? Maklum, DPS saya memang terkenal on-time.
Nggak lama kemudian, dosen penguji 1 (atau dosen B) datang. Bertanya kemana dosen A. Setelah saya jelaskan, beliau duduk sambil menunggu. Suasana ruangan jadi agak krik-krik. Beberapa menit kemudian, dosen C  datang dengan pertanyaan standar yang sama, kemana DPS saya. Setelah menjelaskan, dosen C duduk, ngobrol dan bersenda gurau dengan dosen B (bahkan sempat tukeran kursi segala. what the..??). Saya sih cuma bisa berdoa dalam hati, menyadari bahwa waktu saya tinggal sedikit lagi.
Mungkin kelamaan nunggu, dosen C tanya ke saya, kok dosen A nggak balik-balik? Akhirnya beliau mengajukan diri untuk nyari dosen A. Eh, pas dosen C keluar, dosen A masuk (aneh banget). Baru beberapa saat lagi dosen C muncul. Ini yang sama orang Jawa dinamakan 'tlisiban'. Dan setelah tiga-tiganya ngumpul, pembataian dimulai...

Oke. Jadi, yang pertama saya lakukan adalah presentasi. Pas diminta presentasi, jujur saya masih merasa nervous setengah mati. Entah kenapa, hal yang paling saya benci dari kuliah adalah presentasi. Tapi melihat bahwa saya nggak diperhatiin oleh ketiga dosen itu, saya jadi lebih santai. Setelah mempercepat kecepatan ngomong (karena waktu dibatasi 20 menit), dan mengakhiri presentasi dengan ngos-ngosan, saya dipersilahkan duduk. Oke. waktu itu saya berpikir, it isn't so bad (karena dosen pembimbing saya senyum dan menyuruh saya minum). Meskipun setelah itu saya melakukan hal yang bodoh dan membuat ketawa, saya bersyukur ajah. Setidaknya es-nya udah pecah. :p

Actually, kalau disuruh cerita detil prosesnya gimana, saya sudah lupa-lupa ingat. Soalnya kan emang fokus saya pas itu lebih kepada bagaimana menjawab pertanyaan tajam yang diajukan para dosen itu, jadi malah nggak ingat seluk-beluknya. Tapi intinya, saya cukup dibabat. Yang jelas, judul saya yang panjang banget itu dipermasalahkan. Jalan keluarnya, ditambahin jadi lebih panjang *sigh*. Lanjut, permasalahan saya dipertanyakan. Plus rumusan hipotesisnya.. T-T
Dan yang jelas, metode penelitian saya dibabat abis, secara dua dosen penguji adalah expert statistik. Tapi untungnya, saya bisa ngeles. Setidaknya konsep metode saya sudah bener. Cuma kurang ngeh aja.. ha! (bingung mesti)
Oh, iya. Kesimpulan dan Saran saya juga dikomentari. Pokoknya intinya adalah salah. huhuhuhu
Pada dasarnya, yang parah dari skripsi saya adalah tata tulis. Yang istilahnya nggak ajeg lah.. pemakaian kata hubung lah.. bahasa yang masih ambigu.. dan seterusnya. Cuma, yang cukup mengagetkan saya adalah ketika dosen penguji 2 atau dosen C meminta saya untuk mengganti analisis. I thought, "okay. I am so dead". FYI, sebelum ujian skripsi saya sendiri, saya menyempatkan untuk liat ujian temen saya yang dapat dosen yang sama di hari sebelumnya. Parahnya, temen saya itu juga disuruh ganti analisis. Waktu itu saya cuma mbatin, jangan sampe aku disuruh ganti analisis, eh.. ternyata malah kejadian beneran *sigh*. Nasib... Dan akhirnya, mau nggak mau saya mesti coba pake analisis baru dengan resiko:
  1. Hasilnya beda
  2. Kalau hasilnya beda, ganti pembahasan
  3. Diskusinya juga ganti
I mean, seriously. I really don't need this.
Satu-satunya yang membuat saya cukup bernafas lega adalah ketika DPS saya meminta supaya saya nggak ganti analisis. Secara terang-terangan, DPS mengasihani saya (yes!) dan menyarankan kepada dosen C untuk tetap memakai analisis semula. Tapi apa mau dikata, sang profesor yang satu lagi tetep keukeuh minta saya ganti. Jadi ya.. keluar dari ujian (dengan adanya perdebatan seru antardosen 'ganti analisis atau enggak', saya malah nggak tau jadinya ganti apa nggak. Meskipun saya disuruh maen-maen (yeah, can u believe that? maen-maen?) pake analisis yang diminta.

Overall, semuanya berjalan lancar. Meskipun saya merasa telah melakukan beberapa hal bodoh yang membuat dosen-dosen itu berdecak heran (saking anehnya mungkin), even worse, diketawain, setidaknya saya sudah merasa lega. Waktu dipanggil lagi untuk mbahas revisian, saya sempat shock karena ditawarin untuk sidang ulang. Tapi saya menolak, meskipun pas ditanya kenapa saya cuma bisa senyum-senyum GeJe. Siapa yang mau coba?? Tapi yang melegakan adalah, ketika dosen pembimbing saya tersenyum dan menyatakan kalau saya lulus, yeah! That was the best part. Sayangnya waktu itu nggak bisa langsung tau nilainya berapa (Hey, boleh aja kan kalau penasaran?? :pppp)
Menatap revisian yang diberikan, saya cukup lemes, merasa banyak. Tapi ternyata enggak juga. Apalagi pada akhirnya saya tetep pakai analisis lama (Well, that's another long story). Dan sekarang, semuanya sudah selesai pada akhirnya.

Waktu itu dalam hati, saya cuma berkata, "Congratulation. You are now a jobseeker."
Dan seperti kata teman baik saya beberapa hari yang lalu, "Selamat! Anda resmi berkubang dalam zona jobseeker!"

Oh, life.. Just another dilemma..

Sunday, February 27, 2011

Pertama kalinya Ujian Skripsi (chapter 1)

Setelah minggu sebelumnya saya sempat ditakutkan oleh ujian skripsi, akhirnya semua terlewati juga. Persiapan yang menurut saya kurang maksimal dengan mental yang masih sering merasa parno oleh situasi serupa bagaimanapun mesti dilawan ketika hari-H datang. Yeah, I still remember that time, waktu seolah-olah berjalan lelet.

Okay, here's the story...
Pagi-pagi saya datang ke kampus dari rumah jam setengah 7 lebih dikit. Which means, sampai di kampus sekitar jam 7an. Mungkin lebih dikit, I'm not so sure.
Yang jelas, kampus sepi, secara saya langsung menuju ke gedung selatan yang hanya dipadati oleh karyawan pada jam segitu, dan langsung menuju ke gedung G lantai 2 yang akan menjadi tempat 'pembantaian'. Sebenarnya tempatnya sudah cukup familiar buat saya, mengingat saya sudah beberapa kali melihat proses 'pengganyangan' beberapa ujian, termasuk hari sebelumnya. Karena oh karena, salah satu penguji hari sebelumnya sama dengan penguji saya. Tentunya biar dapat gambaran kira-kira saya ditanya apa.. :p

Oke. Biar lebih jelas, saya cerita dulu siapa saja yang akan 'mambantai' saya waktu itu. Jadi, dari sekian banyak dosen yang bisa menjadi penguji, saya mendapatkan tiga orang dosen yang sama sekali belum pernah saya kenal sebelum saya menyentuh yang namanya skripsi. Dosen pertama, yakni dosen pembimbing saya, ada seorang profesor yang sangat disegani di kampus. Well, gambarannya adalah, bayangkan ketika saya ditanya semua teman-teman saya siapa DPS saya, dan saya jawab dosen A, rata-rata reaksinya adalah:
  1. Waoowww.. Kerennn.. / Mantep tuh! *sambil menyeringai
  2. Oh. Berjuang ya sai... 
  3. Kamu pasti berhasil!!!!
See.. I mean, siapa yang tahan kalo belom-belom udah dikasih gesture yang bikin nggak yakin sama apa yang ada di hadapan kita. Tapi ternyata oh ternyata.. Selama proses bimbingan berlangsung, semuanya berjalan baik-baik saja. Dan sesuai gelar yang disandang, yakni 'Prof. Dr.', beliau memang solutif, sangat membantu, dan ternyata tidak pengen menyusahkan kita dalam mengerjakan laporan akhir ini.

Okay, lanjut ceritanya.
So.. dosen ke dua, sebut saja adalah dosen B, adalah dosen yang tidak pernah mengajar saya. Hmmm.. Nggak terlalu tau karakteristiknya sebenernya. Tapi menurut berbagai sumber, dosen ini enak. Sebenarnya yang membuat saya agak ketar-ketir adalah, dosen satu ini dosen statistik. Jadi, tentunya ada bayangan bagaimana seorang dosen statistik menguji mahasiswa. Saya terus terang takut ditanyain yang macem-macem masalah statistik karena sejujurnya, statistik saya hancur, termasuk pemahamannya. Saya merasa sudah bodoh duluan. Tapi it's ok lah, karena masih ada dosen statistik lain yang terkesan lebih killer.
Nah, untuk dosen ke tiga, sebut saja dosen C, saya mendapatkan beliau karena adanya insiden kecil berupa salah liat jadwal. Jadi, yang dijadwalkan menguji sebenarnya adalah dosen lain. Tapi berhubung dosen tersebut berhalangan, jadinya saya dapat dosen C. Untuk kabar terakhir ini saya langsung panik. Why oh why?? Masalahnya, saya pernah diceritain kalo dosen (yang juga adalah seorang 'Prof. Dr.') ini termasuk orang yang sangat teliti. Selain itu, dosen ini juga pinter statistik. Jadi.. yah, begitulah ketakutan saya. Sesungguhnya saya juga belum pernah diajar dosen yang satu ini (teman-teman saya yang sudah pernah). Nggak ada reputasi buruk memang, justru malah bagus. Tapi terkadang yang bagus itu juga mengkhawatirkan *sigh*
Pada intinya, saya mendapatkan penguji: Dua Profesor Doktor dan dua dosen statistik. Hmm.. Cukup membuat saya bermimpi buruk. And hey, believe it or not, sebelum ujian ini saya sempat memimpikan proses jalannya ujian saya. Wow.. I called it a nightmare.

Intinya, pagi itu hari Kamis, saya sudah nongkrong di depan ruangan ujian sambil berpikir (ya, saya nggak belajar lagi). Membayangkan kira-kira nanti prosesnya bakal gimana. Sebetulnya sambil menunggu teman-teman saya yang janjinya akan datang memberikan support. Sampai-sampai, saking keliatan kayak orang aneh duduk sendirian pagi-pagi banget, salah satu karyawan kampus yang lagi bersih-bersih bertanya, "ngapain?". Setelah saya jelaskan, akhirnya pintu ruang ujian dibuka supaya saya bisa siap-siap.

And there, saya melihat 'ruang keramat' ini untuk pertama kalinya sebelum mulai ujian saya sendiri.




Sumpah rasanya aneh banget. Super degdegan. Dan super khawatir saya nanti ngomongnya bakal kacau. Saya jadi ingat salah satu teman saya bilang, "kalau deg-degan sebelum maju itu bagus, biar nanti pas kamu presentasi dan diskusi deg-degannya ilang. Kalo enggak jadinya malah kacau". Oke. Kata-kata itu saya jadikan pegangan sambil berpikir, semua akan baik-baik saja.

Akhirnya teman-teman saya datang. Sambil mencoba mengobrol ke sana kemari untuk mengalihkan ke-nervousan, saya mencoba menenangkan diri dan tertawa-tawa. Waktu berjalan terus hingga akhirnya hampir semua teman yang saya undang datang. Yeah, at least I'm not gonna do this by myself, pikir saya waktu itu. Setidaknya ketika saya di depan nanti, saya bisa menoleh pada mereka dan mencari dukungan untuk menguatkan hati. :)

Dan tiba-tiba, setelah jam menunjukkan pukul 08.00 lebih sedikit, dosen pembimbing saya datang. Berjalan dengan mantap sambil menunjukkan ekspresi yang sebenarnya mengkhawatirkan. Oh, oh, oh! Ada apa ini? Saya jadi ingat sekali waktu saya konsultasi dan beliau sedang dalam kondisi nggak mood, keluar dari ruangannya saya langsung menjerit dalam hati (tentunya karena pengalaman di dalam yang membuat sedikit trauma :p). And I thought, oh, no! I really don't need this kind of thing. Yes. Kekhawatiran saya bertambah.

Hmmmm.. terusin di chapter dua aja kali ya.. pegel juga ternyata nulis cerita ini.. ;)

(to be continued)
:D

Thursday, February 17, 2011

Pergilah ke mana Hati Membawamu

Dan kelak, di saat begitu banyak jalan
terbentang di hadapanmu
dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil,
janganlah memilihnya dengan asal saja
tetapi duduklah dan tunggulah sesaat
Tariklah napas dalam-dalam
dengan penuh kepercayaan,
seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini
Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu
Tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi
Berdiam diri lah, tetap hening,
dan dengarkan hatimu
Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah,
dan pergilah ke mana hati membawamu... 



(Taken from the book Va dove ti porta il cuore --Pergilah ke mana Hati Membawamu-- by Susanna Tamaro)

Skripsi, Oh.. Skripsi

Akhirnya tahap 'belajar' untuk sementara ini sudah mendekati garis akhir. Dari yang awalnya ribut memikirkan tema dan rancangan, sampai pusing menuliskan pembahasan, dan akhirnya mikir bikin kesimpulan (dan revisi). Memang belum bisa dikatakan 'menang' karena 'cobaan' yang sesungguhnya memang belum saya lewati. Namun setidaknya saya sudah bisa sedikit bernapas lega. Setidaknya kekhawatiran saat ini sudah jauh berkurang dibandingkan pemikiran-pemikiran negatif yang dulu selalu datang hampir setiap waktu.

Apa yang saya bicarakan?
Yup! Ujian! I'm talking about 'the real final exam'. Bukan cuma ujian tentang materi yang dihafalkan beberapa hari sebelumnya, bukan pula ujian open book yang hanya menuntut kesiapan materi secara lengkap. Ujian ini ujian yang membutuhkan usaha dan doa yang ekstra. Ujian yang ini menuntut saya untuk mempertahankan apa yang saya kerjakan satu semester terakhir (sebingung apapun sebenarnya yang saya rasakan sama materinya). Well, say the magic word: skripsi!!

Mendekati 'ujian akhir', saya jadi berpikir lebih mengenai apa yang akan saya lakukan di masa mendatang. Sesuai dengan apa yang pernah saya tuliskan di essay saya dulu, saya selalu bertanya-tanya, will I get a job after graduation? Cari kerja mau nggak mau adalah satu hal yang mesti dilakukan kalo saya mau nabung biaya kuliah (lagi). Dan kesan pertama saya mengikuti Job Fair adalah, cari kerja itu susah, ribet, capek, belum lagi suasana hectic yang ditawarkan. Semua orang seakan-akan minta kerjaan. Semua unemployment tumpah di satu momen, berdesakan, dan ribut. Dan yang saya rasakan waktu itu, saya kapok.
Bukan kapok cari kerjaan, tapi lebih kapok dengan suasana yang saya lihat waktu itu. I'm not really a 'crowd' person. Saya tidak nyaman dengan keramaian dan kebisingan. Saya paling suka melakukan sesuatu dengan diam. Pikiran pertama saya waktu itu: "Mampus kalo tiap cari kerja selalu kayak gini". Yang ada sebelum maju udah patah arang duluan.

Meski begitu, saya harus tetap berjuang! Demi mendapatkan 'kenyamanan' di akhir cerita, dalam prosesnya saya harus rela berdarah-darah. Melakukan hal-hal yang nggak saya sukai untuk kemenangan di akhirnya. Sounds like fairytale, huh? But yes. Our life is our fairytale. Kita sendiri yang menulis kisahnya, kita sendiri yang menentukan takdirnya. Mau happy ending atau sad ending adalah pilihan kita. And for me, though I kinda like sad-ending story for books, I'd love to see my life in a happy ending. Dan saya sadar jalannya akan berkelok-kelok dan berbatu-batu sebelum pada akhirnya saya sampai di jalan bebas hambatan yang beraspal.

Tapi untuk mencapai itu, saya perlu menjalani langkah (hampir) terakhir ini. Langkah yang sebenarnya selalu dibilang tidak siap untuk dilakukan, langkah yang katanya adalah masa-masa living hell, atau langkah yang mau nggak mau harus dijalani kalo mau dapat gelar. And right now, I'm on my way there.

Things to do: Minta restu dari siapa pun. Berharap diberikan yang terbaik. Dan, belajar!!! :D

Come on, Ping! You can do it!! ^^