Thursday, May 5, 2011

Populer, eh..??!!

Tiba-tiba ingin menulis masalah musik lagi. Terinspirasi dari kegiatan belakangan ini dimana hobi saya adalah evaluasi semua musik di laptop saya baik yang baru maupun yang lama, dan tentunya fakta bahwa eksistensi saya sedang berada di tangan satu hal simpel bernama musik.

Oke. Jadi, setelah saya telusuri dengan seksama dan sungguh-sungguh, saya menemukan fakta bahwa di playlist saya, musik yang saya dengarkan adalah jenis musik atau jenis lagu yang tidak semua orang tahu. Hmmm.. sok-sokan eksklusif kah?? Nggak tau juga. Yang saya tahu, saya selama ini suka dengan rock alternative. Saya mendengarkan band-band alternative yang cukup tidak dikenal (setidaknya oleh orang-orang di sekitar saya) meskipun saya masih mendengarkan musik pasaran normal yang lain. Tapi ternyata, ada satu perbedaan. Ketika teman-teman saya riweuh download musik-musik Lady Gaga, saya nggak ngeh Lady Gaga itu lagunya yang kayak apa. Atau ketika mereka asik joget-joget dengan lagu Katy Perry, saya malah nggak tau Katy Perry itu yang mana. Or.. ketika dulu sedang demam-demamnya Bieber, saya juga nggak ngeh sama lagu-lagunya. Aneh kan?? Lebih belakangan baru saya tau style musik mereka seperti apa, lagu-lagunya, itu pun saya masih memutuskan untuk tidak menjadikannya playlist utama. Ya, saya memang nggak terlalu suka popular style. Ketika yang lain sibuk ngikutin lagu-lagu baru, saya malah nggak pernah ndengerin radio. Jadi, boro-boro tau lagu baru di radio apa aja. Karena yang jadi sumber pengetahuan utama saya selama ini untuk musik terbaru (favorit saya) adalah internet, dan tentu saja, selain chart rock alternative, yang saya cari adalah website dari band-band itu. Terdengar obsesif kah?? Hmmm..
Yang saya tau, sekarang saya merasa kesempatan saya untuk dapat lagu-lagu favorit seperti dulu sudah sangat menipis lewat jalan 'normal'. Taruhlah seperti ini: di TV, semua lagu yang diputer kalo nggak lagu Indonesia, ya lagu  pop barat populer yang musiknya ngebeat dan tentu saja, hip-hop (bukannya saya benci lagu Indonesia, tapi lebih kepada fakta bahwa lagu Indonesia jaman sekarang sangat dikuasai band-band bergenre Melayu yang lagunya sumpah bikin saya pening dengan nada menye-nya itu), di MTV pun udah nggak ada acara yang bisa dijadikan acuan informasi musik terbaru (kemanakah MTV Most Wanted, Asia Hitlist, dan MTV-MTV lainnya yang setidaknya dulu rutin memutar playlist favorit saya??? *sigh*), dan di radio, yang dulu pernah saya temukan acara bernama 'overal' = overload and alternative, acaranya sudah menghilang dan berganti dengan siaran entahlah.. Akhirnya saya frustasi dan mengutuk beberapa 'acara' tersebut karena lebih memilih popularisme dan familiarisme daripada memenuhi kebutuhan orang-orang dengan selera agak tidak biasa seperti saya dalam mendapatkan pelampiasan emosi. Atau mungkin, saya-kah yang selera musiknya kurang bisa bergeser seiring dengan jaman??

Entah kenapa selama ini saya merasa senang ketika menyukai sesuatu yang tidak biasa (lagi, setidaknya diantara orang-orang sekitar saya. orang-orang di luaran sana, who knows??). Ketika mendengarkan satu lagu yang benar-benar update dari penyanyi atau band favorit saya, saya senang bukan main. Misal, beberapa kali ketika saya dapat albumnya meskipun secara official belum rilis. Wuidihhh.. langsung deh puasnya sangat luar biasa. Tapi, waktu berjalan, dan ketika saya sudah bosan dengan lagu itu, sudah banyak orang yang tau dan mulai memutar dan menyanyikannya dimana-mana. Jadinya tambah bosan dan lagu yang dulu spesial itu berubah menjadi biasa sama sekali.
Atau ketika saya berburu album Avenged Sevenfold yang Self-Titled, di salah satu track saya menyadari perbedaan musik yang signifikan di Dear God. Untuk saat itu, saya terpesona dan menjadikan lagu itu salah satu favorit karena kekontrasannya dibandingkan track-track yang lain dengan nuansa country-nya. Tapi beberapa lama kemudian, setelah Dear God dipilih jadi single, semua orang seakan-akan menyanyikan lagu itu, meng-quote lagunya dimana-mana, dan kurang lebih setiap hari selalu saya dengarkan satu kali setidaknya di tempat-tempat yang kebetulan saya datangi. Oke, Dear God yang tadinya spesial buat saya jadi biasa sama sekali.

Dalam pemikiran saya, mungkin cukup banyak orang dengan pemikiran seperti itu. Katakanlah, sebagai fans sejati dari sebuah band, menyukai dan menikmati hasil karya mereka sejak lama yang bahkan orang-orang belum 'ngeh' tentang keberadaannya, dan tiba-tiba saja banyak 'fans' yang mengerubuti ketika kepopulerannya bertambah adalah sebuah dilema. Antara bahagia bahwa band itu makin dikenal, dan ketidaksukaan karena seakan-akan 'orang-orang baru' yang suka itu hanya mengikuti arus populer yang mengarahkan mereka ke band yang sama. Hmm.. entahlah..
Yang saya tau, saya masih suka berburu musik yang tidak biasa. Yang ketika saya menyebutkan namanya banyak orang-orang bilang, "Apa itu?". Di sinilah uniknya. Menjelaskan dan menjelaskan tentang 'apa itu' sendiri..
Ya, saya memang aneh (dan sudah cukup banyak orang yang bilang begitu). But whatever, saya suka perbedaan seperti ini. It's exclusive.. And it's awesome.. :)

Saturday, April 23, 2011

Durch den Monsun



Seberapa inginnya kita kembali ke masa lalu dan mengubah sesuatu dalam hidup kita, hal itu tetap tidak mungkin terjadi...

Akhir-akhir ini saya menyadari bahwa saya bisa terasing di manapun, bahkan di tempat yang saya sebut rumah, yang menjadi lingkungan pertama tempat saya seharusnya mengadu emosi. Entah kenapa pemikiran-pemikiran lama ini muncul kembali. Apakah karena saya sedang depresi? Apa karena saya sedang mengalami masa frustasi? Saya nggak begitu ngerti. Pada intinya, saya menggarisbawahi fakta bahwa di rumah saya sendiri, saya cenderung menjadi bawang kosong, tak memiliki suara, dan yang jelas, tak cukup mengembangkan diri untuk berekspresi.

Saya hidup di lingkungan keluarga normal yang adem ayem, tentram, dan tidak bermasalah. Bahkan bisa dibilang keluarga saya adalah keluarga yang harmonis. "Lantas apa masalahnya?", mungkin sebagian orang mengatakan demikian. Permasalahannya adalah ketika baru saat saya menginjak remaja saya menyadari bahwa sebenarnya masih banyak hal yang saya butuhkan yang belum saya dapatkan dari keluarga saya. Oh, saya tau orang tua saya mencintai saya apa adanya. Mereka baik, perhatian, bukan tipe orang yang otoriter meskipun ayah saya adalah tentara, dan mereka cukup memanjakan saya. Tidak, yang saya butuhkan adalah kesempatan untuk bicara.
Dengan kekurangan yang ada dalam diri saya, saya tumbuh menjadi anak yang pemalu dan tipikal menghindari orang baru. Meskipun banyak orang berkata saya termasuk cerdas, saya tetap merasakan lubang menganga (even sampai saat ini) bahwa saya masih menjadi pengecut yang selalu menghindari masalah dan memilih untuk melampiaskannya pada hal-hal lain. Saya masih menyimpan semua hal yang menyakitkan untuk diri sendiri. Bahkan saya masih sering mendapati diri menangis, meringkuk seperti bayi, meratapi takdir saya, dan mencoba mengatasi itu semua SENDIRI. Entah Tuhan bermaksud demikian atau tidak, tapi seolah-olah Dia menciptakan saya tanpa satu hal: keberanian untuk buka suara.

Sebagai mahasiswa Psikologi, saya menyadari bahwa apa yang saya alami adalah sebuah hal yang seharusnya saya hindari. Kesehatan mental saya lebih penting daripada sekedar menelan gengsi untuk mulai 'berbicara' dengan orang lain, terutama orang tua saya. Sejak kecil saya merasa tidak pernah dibiasakan untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan dalam diri saya. Sejak saya kecil saya tidak biasa mengucapkan kata-kata cinta untuk keluarga saya seperti yang semua orang di TV/film itu lakukan. Sejak kecil saya tidak terbiasa memeluk orang tua saya dan mengatakan betapa sayangnya saya sama mereka. Tapi kami sama-sama tahu. Tanpa mengucapkan kata-kata pun kami sudah saling memahami bahwa kami menyayangi satu sama lain, layaknya telepati. Saya rasa hal itu cukup untuk mereka. Tapi untuk saya? Sekian tahun saya menjalaninya, saya selalu merasakan ada yang salah dalam diri saya. Saya selalu merasakan ada 'makhluk' yang ingin keluar dari dalam diri saya, membebaskan diri, melepaskan belenggu, tapi saat ini sialnya dia masih terpenjara.
Saya iri ketika melihat seorang anak dengan mudahnya bisa mengungkapkan apa yang ada dalam pemikirannya kepada sang Ibu. Saya iri melihat seorang anak mengatakan selamat malam dengan peluk dan ungkapan 'I love you' sebelum tidur kepada sang ayah. Saya iri melihat teman-teman saya di telpon ketika jauh dari orang tua tiba-tiba mengumbar senyumnya dan mengatakan 'I miss u'. Sekeras apapun saya berusaha, tidak ada satu kata 'cinta' pun yang bisa saya ucapkan. Bahkan jauh di lubuk hati saya yang berulang kali saya tekankan dengan jawaban 'IYA', saya selalu bertanya, "Apakah saya normal?".

Dulu, alasan saya masuk ke psikologi adalah ingin memperbaiki diri. Bertahun-tahun kuliah di sana saya akhirnya mendapatkan gambaran bagaimana sehat mental itu, bagaimana seseorang bisa mencapai aktualisasi diri, dan berbagai macam teori lainnya yang entah dalam aplikasinya mudah ataukah sulit setengah mati untuk dilakukan. Dan dalam pemikiran saya, saya punya sebuah gambaran ideal tentang bagaimana saya nantinya. Pada akhirnya, perlahan-lahan saya mulai memperbaiki diri. Saya yang dulu selalu peduli apa kata orang mengenai saya lambat laun mulai belajar untuk menulikan diri. Bukan, bukan menjadi pribadi yang acuh, tapi lebih kepada bagaimana menyaring semua pemikiran-pemikiran nggak penting itu supaya tidak masuk ke dalam diri saya. Bagi saya saat ini, yang paling penting bagi adalah pemikiran diri saya sendiri atau orang-orang yang cukup mengerti saya untuk berani mengatakan sesuatu. Tapi ternyata dibalik perubahan yang sedikit demi sedikit itu, masih ada sisa-sisa penyakit masa lalu yang tak kunjung sembuh. Inferioritas yang dulu menggerogoti saya masih ada akarnya. Rasa minder, malu, tidak PD, itu adalah hal biasa yang saya alami. Mungkin cukup banyak yang menyebut saya berani, namun nyatanya, justru terkadang saya malah merasa kata 'berani' itu jadi persona tersendiri bagi diri saya ketika saya sedang menjalani fase 'insecure'. Di balik kemarahan yang terkadang saya keluarkan, saya merasa takut. Perubahan memang tidak akan terjadi secara instan. Saya bersyukur atas kesempatan saya untuk memperbaiki diri, tapi saya masih sempat mengutuk diri saya untuk semua 'keberanian' yang saya lalui selama ini. Dengan adanya kesadaran berbicara-dengan-teman-ternyata-lebih-mudah, saya mendapati diri saya pelan-pelan beranjak dari 'keterpurukan eksistensi' ini dan mulai belajar memahami diri.

Saya tidak menyalahkan orang tua saya atas apa yang saya rasakan. Tuhan tahu betapa saya sangat bersyukur memiliki orang tua yang begitu sabar menghadapi saya. Meskipun pada akhirnya saya selalu berfikir masih ada yang kurang dari mereka, saya menyadari bahwa kesempurnaan adalah hal yang mustahil. 'Kehangatan' yang tidak mereka tunjukkan pada saya dari kecil adalah sebuah hasil dari pembelajaran budaya, dan bukan sepenuhnya hal buruk. Nyatanya saya masih bisa menyayangi dan mencintai orang lain meskipun caranya sedikit lebih bisu.

Saya bersyukur untuk setiap hal baik yang Tuhan berikan untuk saya. Saya bersyukur untuk keluarga yang selalu mendukung saya. Sejauh apapun mimpi saya untuk menjadi orang yang lebih baik, setidaknya sempurna di mata saya meskipun masih banyak lubang di sana-sini, semua itu sedang dalam proses. Saya masih meyakini bahwa jauh dibalik semua kekurangan ini, saya punya suatu hal yang patut dibanggakan dan mungkin melebihi orang lain. Dan satu hal yang pasti, meskipun saya tidak bisa mengubah masa lalu, saya bisa mengubah masa depan yang terbentang di hadapan saya.

-Untuk semua sahabat-sahabat saya yang menjadi tumpuan titik balik persona itu sendiri, terima kasih atas segala kesempatannya untuk berbagi. You know I couldn't ask more..

Wednesday, April 20, 2011

Meraih Mimpi

Bermimpi itu indah. Bermimpi itu menyenangkan.
Semua hal yang tidak kita dapatkan saat ini bisa tercapai melalui mimpi. Mimpi adalah 'jalan keluar' untuk semua permasalahan. Mimpi adalah 'masa depan' yang diharapkan akan segera datang.

Banyak hal di sekitar kita seolah menjual mimpi. Novel-novel roman (picisan) yang banyak kita baca menjual mimpi tentang cinta. Iklan-iklan produk dan poster-poster yang kita baca di pinggir jalan pun menawarkan mimpi. Mimpi untuk menjadi secantik boneka porselen dengan macam-macam produk kecantikan, mimpi untuk menjadi milyuner dengan undian, dan banyak mimpi-mimpi lainnya yang menjadikan pengharapan dalam diri semakin besar.

Pertanyaannya, salahkan kita bermimpi? Atau mungkin harus saya bilang, haruskah kita bermimpi tinggi?

I must say, I'm a dreamer. Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang termakan dengan bujuk rayu mimpi. Harapan-harapan kehidupan yang selama ini belum bisa saya dapatkan, kesempurnaan yang sekirannya tidak mungkin terjadi, semua itu saya lampiaskan dengan bermimpi.
Tapi apa gunanya mimpi ketika kita tidak berusaha mendapatkannya? Maka inilah jalan ke dua setelah 'bermimpi': menggapainya.

Setinggi apa seseorang dapat bermimpi? Ada yang mengatakan, "bermimpilah setinggi-tingginya". Atau satu kalimat lain yang sangat menyentuh hati, "bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu". Lalu bagaimana dengan realita?


"Berdamailah dengan realita, agar kau tak jatuh terlalu jauh."

"Mungkinkah aku berdamai dengan realita ketika mimpi yang kubangun terlalu tinggi?"

"Mungkin."

"Bukankah ketika aku harus berdamai dengan realita aku mesti meletakkan sebagian dari mimpi itu?"

"Mungkin."

"Dan itu berarti aku tidak bisa bermimpi terlalu tinggi."

"Tidak juga."

"Lalu apa yang harus kulakukan?"


***


Bermimpi tinggi memiliki sebuah syarat: menabahkan hati untuk kekecewaan yang cukup dalam. Selayaknya burung belajar terbang, ia akan selalu jatuh. Maka apa yang diharapkan seseorang dalam mimpinya bisa sewaktu-waktu terenggut meskipun mimpi dan semangat meraih mimpi itu sedang dalam titik tertinggi.

Lalu, apakah saya kapok bermimpi?
Sepertinya tidak. Meskipun sebuah lubang menganga yang saya rasakan dalam diri saya masih perlu beradaptasi, saya tidak takut bermimpi. Mungkin sebagian dari saya belum siap menerima mimpi yang begitu besarnya menggerogoti pikiran saya selama ini. Dan mungkin sang waktu belum mengijinkan saya menyapa mimpi saya.

Tapi satu hal yang harus saya pelajari lagi, saya harus belajar berdamai dengan realita.


 And I ask You, God.. May the dream come true..

Sunday, April 17, 2011

Perburuan Tengah Malam

Kemarin malam mungkin bisa dibilang sebagai saat yang aneh dan menyebalkan buat saya. Kenapa??
Karena ... *jengjengjeng (musik drum)* enggak biasanya malam hari saya isi dengan berburu kecoak.
Yeah, berburu kecoak. Lebih tepatnya, terpaksa berburu kecoak di kamar saya. Can you believe it??
Sekitar jam 23.20 malam, lagi enak-enaknya nonton tivi sendirian, saya dikejutkan oleh sebuah siluet di atas kepala saya. Hewan bersayap yang ukurannya lumayan gede dan terbang dengan tergesa-gesa ke tirai jendela. Oke. Saya pikir itu kupu-kupu, minimal ngengat lah, soalnya seinget saya warnanya coklat. Tapi kok setelah saya selidiki (dengan menjulurkan kepala dan memincingkan mata untuk melihat dengan jelas), saya baru sadar kalo hewan itu adalah kecoak. Yak! Benar sekali. Memang kecoa.
Bagi yang nggak percaya kalau kecoak bisa terbang, trust me! Saya sudah menyaksikan lebih dari 3 kali kalau kecoak memang kadang-kadang suka berharap nyaingin kupu-kupu. Hobinya loncat sana loncat sini dengan sayap bergetar yang, yah.. pretty much looks like flying. Bagi yang percaya, baguslah. Berarti saya nggak berhalusinasi. Jadi, saya langsung mikir, 'what the hell??'. Ngapain ni kecoak malem-malem hang-out di kamar saya? Nggak tau juga datang dari mana, masa tau-tau nongol? perasaan juga dikunci pintu sama jendelanya... Benar-benar kecoak yang kurang kerjaan.
Jadi, saya perhatikan gerak-geriknya. Pertama-tama, dia cuma nggremet (merambat) di sepanjang gorden jendela. Lalu tiba-tiba, kesannya kayak sok pamer gitu, kecoaknya terbang menyeberangi ruangan, melewati atas badan saya. Wuzzzz.. saya langsung dalam posisi siaga. Hmmm.. kecoak sebenarnya bukan hewan yang paling menyebalkan buat saya, selama mereka masih menghormati privasi saya dan nggak mengganggu. Tapi yang ini?? Pengecualian!! Saya nggak suka tiba-tiba ada intruder di kamar saya, bikin geli pula. Alhasil, saya siap-siap menyerang. Tapi ternyata, lama saya tunggu kecoaknya tetep stay di lantai bawah kasur dan nggak keliatan lagi. Okelah kalau gini, saya cukup tidak merasa terganggu, meskipun rasa sebel masih ada.
Di tengah menikmati film di tivi yang cukup menegangkan, tau-tau ada sesuatu yang nggremet di kaki saya. Awalnya saya pikir semut. Tapi saya langsung ingat kalau tadi ada kecoak terbang, langsung saya tangkis 'sesuatu' di kaki saya itu, yang tiba-tiba langsung pindah ke tangan saya. Great! Saya dirambati kecoak.. T^T *sesuatu yang tidak patut dibanggakan*. Kecoaknya, seakan sadar diri kalau jadi buruan, langsung lari bersembunyi di balik tumpukan majalah saya. Langsung aja saya ambil botol minum dan satu buah buku setebal 4 cm untuk persenjataan. Dan perburuan kecoak pun dimulai.
Saya obrak-abrik tumpukan majalah saya, saya hujam-hujamkan botol minum, tapi masih meleset. Saya pancing kecoaknya keluar dari tempat persembunyian pelan-pelan, dan langsung saya timpuk pake buku. Eh, nggak kena juga (sebenernya kasian sama bukunya, kan sayang kalo kenapa-kenapa. Tapi mau gimana lagi?? Kecoaknya?? Nggak, saya nggak kasian sama sekali ><). Akhirnya setelah berkali-kali muter-muter di kamar untuk memburu kecoa (sampai masuk ke kolong tempat tidur dan berkali-kali dikagetkan dengan serangan langsung kecoak ke arah saya yang saya respon dengan loncat karena saya nggak mau 'disentuh' kecoak lagi), tiba-tiba kecoaknya ilang.
Aaaaaarghhhh..!!! Antara geregetan, gemes, kesel, dan hasrat pengen nimpuk sesuatu. Males banget kan kalau di tengah tidur nyenyak saya harus terganggu dengan kehadirannya lagi?? Tapi nyatanya itu makhluk satu menghilang tanpa jejak. Akhirnya perang harus berakhir tanpa kemenangan.

Malam-malam yang seharusnya diisi dengan santai dan bersiap tidur, ternyata harus dilalui dengan sedikit olah raga gara-gara hama kecil menyebalkan yang nyasar ke kamar saya. Kadang-kadang saya merasa kamar saya jadi semacam tempat persinggahan untuk hewan-hewan penyusup. Sebelumnya, saya pernah kejar-kejaran dengan tikus kecil abu-abu yang suka tepe-tepe (mejeng) di atas lemari saya, dua kali. But that's another story. Untuk saat ini, males aja ketika tidur harus diresahkan oleh satu wujud yang bau dan menggelikan seperti kecoak.

Harapan di masa yang akan datang: Nggak ada lagi binatang-binatang yang nyasar ke kamar saya, kecuali kalau memang saya undang... (BeTe)

Sunday, March 27, 2011

Bukan.. Ini bukan Regresi..

Akhir-akhir ini saya masih lumayan sering meneruskan hobi membaca buku-buku karya pengarang favorit saya dulu, R. L. Stine. Yep! Saya memang lagi hobi baca (kembali) Goosebumps dan Fear Street. Dikarenakan saya nggak punya bukunya (maklum, dulu kan hobinya nyewa ato pinjem temen), maka yang sekarang saya lakukan adalah mencoba download e-booknya.. Yeiy!! Bernostalgia sambil mengisi waktu yang banyak sekali lowong karena secara teknis sudah jadi pengangguran (eh, nggak ding, profesi saya kan jobseeker? ahaha). Intinya, saya mulai banyak-banyak hunting donlotan buku R. L. Stine gratis. Tapi sayangnya, sumbernya terlalu sedikit. Dan saya nggak panen banyak. Padahal kan seri Fear Street sama Goosebumps banyak banget ya.. *pouts*

Dibandingkan dengan masa lalu (wkkkkk), saya merasa nggak bernyawa baca buku-buku ini. Tidak bernyawa bukan berarti tidak menikmati. Justru ketidakbernyawaan itu sangat saya nikmati. Dulu waktu baca, cukup ada perasaan tense yang keluar (maklum, masih sangat muda), apalagi Fear Street Saga. Sekarang, saya baca lagi, rasanya sangat biasa, bahkan ceritanya gampang banget ketebak. Tapi.. justru itulah seninya. Saya merasa sedang refreshing. Cerita yang mudah ketebak ini malah kadang-kadang terdengar konyol, nggak masuk akal. Yah.. namanya juga buku anak-anak. Tapi kok saya nggak nemu Fear Street Saga gratisan di internet ya?? Padahal di antara semua seri Fear Street, Saga yang paling saya suka. Lebih horor gitu. L

Terkadang saya merasa aneh, kenapa ya saya suka baca buku petualangan anak-anak sampai sekarang? Bahkan ada beberapa yang saya beli. Ketika teman-teman saya beli chicklit, novel berat, bahkan buku non-fiksi ataupun yang isinya sangat-sangat filsafat banget, saya justru suka sekali baca buku petualangan anak-anak. Saya dulu sempat-sempatnya beli buku How To Train Your Dragon (karangan Cressida Cowell) gara-gara jatuh cinta sama filmnya. Denger kalo ceritanya beda, saya penasaran setengah mati seperti apa ceritanya. Sampai di toko buku, ternyata ada, dan tanpa pikir panjang langsung saya beli. Setelah dibaca, hmmm... saya merasa jadi anak SD (huhuhu). Bukunya bagus, tapi sangat sederhana. Saya jadi mikir, "ini buku harus saya simpen sebaik-baiknya, untuk dilungsurkan pada anak saya nanti".
Meski sekarang pas beli buku hampir selalu dipikir dulu, saya masih suka hunting buku petualangan (anak-anak) via online (baca: gratisan). Katakanlah Percy Jackson. Di salah satu toko buku impor, saya menemukan buku itu dikategorikan di area 'children'. Hmm.. padahal saya suka banget sama Percy Jackson Series. Ngumpulin dari buku 1 sampai 5, plus companion book-nya, bahkan versi audio book-nya sering saya dengarkan sebelum tidur. Rasanya kayak didongengin. Believe it or not, it helps me to fall asleep. D

Basically, saya merasa buku-buku ringan ini membantu menjernihkan pikiran yang sudah sangat penat. Terkadang di tengah membaca, akan ada suara tawa yang terselip. Tapi yang penting adalah prinsip 'membaca buku menambah ilmu'. Nggak peduli se-nggakpenting apapun bukunya, pasti akan selalu ada hal baru yang saya dipelajari. Entah tersembunyi atau terang-terangan. Entah fakta atau pemahaman.

Pesan moral dari sini: banyak-banyaklah baca buku!! *serasa jadi duta membaca*

FYI, saya masih sangat heran sama orang yang nggak suka baca buku. Bahkan ada teman saya yang liat buku tebel aja udah alergi. Oh! Oh!
Tapi semua itu kan pilihan ya? Kalo saya sih suka... J

Saturday, March 26, 2011

Pada Akhirnya Masuk Daftar Favorit Saya

Wew…
Ternyata saya udah lama absen. Yak, waktunya kembali menulis.

Beberapa hari yang lalu, saya baru nonton film yang judulnya Schindler’s List. Okay, I know. Saya telat banget nontonnya. Itu film udah buatan taun 1993, udah gitu visualisasinya black & white yang membuatnya tampak seperti film sangat jadul. Tapi pembelaan saya: saya nggak pernah nemu film itu di TV, dan saya dulu (sebelum SMA) bukan penggemar film. Jadi..  wajar-wajar saja kalo saya baru tau film ini. Lagipula rilisnya juga pas saya masih umur 4 tahun. Hee… *meringis

Oke. Lanjut ke topik.

Akhirnya saya dapat jawabannya kenapa saya nggak pernah nemu film ini diputer di channel TV kita. Satu, filmnya sadis, mayat bergelimpangan dimana-mana. Dua, filmnya rasis, Jews sangat sangat sangat sangat direndahkan di sini. Okelah, ini emang film sejarah, jadi bisa dimaklumi. Dan yang ke tiga, kejam! Saya nggak habis pikir gimana seseorang dengan gampangnya membunuh untuk bersenang-senang. Terlepas dari semua fakta yang membuat film ini dapat rating ‘R’, saya menemukan keharuan yang luar biasa di akhir cerita. I must admit, saya nggak hanya menangis di akhir film ini. Saya menangis tersedu-sedu. Mungkin bagi beberapa orang, menangis (tersedu-sedu) untuk sebuah film adalah hal yang cukup bodoh, tapi faktanya saya merasakan atmosfer adegan itu. Saat dimana seorang pebisnis yang awalnya memulai bisnis dengan memanfaatkan situasi dan korban perang berakhir menjadi sosok yang inspirasional karena keteguhannya mempertahankan orang-orang “rendah” bahkan sampai membuatnya bangkrut. Sosok yang sangat dihormati sampai-sampai Nazi sadis yang hobi membunuh orang mulai belajar tentang ide ‘memaafkan’ meskipun pada akhirnya nggak mempan juga.

Saya terpesona dengan sosok Schindler ini. Saya terpesona dengan ketulusan yang dia berikan pada orang-orang yang waktu itu dianggap menjijikkan oleh golongan tertentu, padahal sebenarnya ia berada di golongan yang sama. Saya terpesona dengan penyesalan yang ia rasakan ketika ia merasa seharusnya bisa melakukan lebih. Dan ya, ketika menulis ini, saya kembali terharu. Saya ingat musik yang dimainkan dalam adegan itu. Believe it or not, that music can ruin my day. Bisa-bisa seharian saya jadi melodramatis gara-gara ndengerin lagu itu. But yeah, this film is definitely on my list. Siapapun yang belum nonton, recommended! Emang sih.. lumayan banyak adegan kejamnya, tapi setidaknya gambar hitam-putih-nya bisa menklamufasekan darah yang banyak ‘mengalir’ di sini. :D





After all, salut untuk Steven Spielberg yang mengangkat kisah ini. Meskipun selama nonton saya ngerasain pegel-pegel (maklum, ini film durasinya 3 jam), dan bahkan sebelum mulai sudah harus berjuang mencari subtitle yang pas (bahasa Jermannya lumayan banyak euy! Aksennya juga sangat ngeblend), akhirnya puas juga. Satu hal yang saya pelajari dari film ini: Apapun yang terjadi, semua orang harus diperlakukan sama. Di masa-masa krisis perdamaian ini, sudah saatnya menerapkan diversity management. Berbeda itu indah. Dan memang begitulah adanya… :)

Saturday, March 5, 2011

Pertama Kalinya Ujian Skripsi (Chapter 2)

Oke. Lanjut ceritanya ke chapter 2

So, setelah dosen pembimbing saya masuk dengan muka yang agak horor (salah satu supporter -temen saya- mengakui kalau pertama kali liat beliau auranya memang cukup menyeramkan), beliau keluar lagi dengan langkah pasti. Hmmm.. Jangan-jangan sebel gara-gara dosen pengujinya telat semua? Maklum, DPS saya memang terkenal on-time.
Nggak lama kemudian, dosen penguji 1 (atau dosen B) datang. Bertanya kemana dosen A. Setelah saya jelaskan, beliau duduk sambil menunggu. Suasana ruangan jadi agak krik-krik. Beberapa menit kemudian, dosen C  datang dengan pertanyaan standar yang sama, kemana DPS saya. Setelah menjelaskan, dosen C duduk, ngobrol dan bersenda gurau dengan dosen B (bahkan sempat tukeran kursi segala. what the..??). Saya sih cuma bisa berdoa dalam hati, menyadari bahwa waktu saya tinggal sedikit lagi.
Mungkin kelamaan nunggu, dosen C tanya ke saya, kok dosen A nggak balik-balik? Akhirnya beliau mengajukan diri untuk nyari dosen A. Eh, pas dosen C keluar, dosen A masuk (aneh banget). Baru beberapa saat lagi dosen C muncul. Ini yang sama orang Jawa dinamakan 'tlisiban'. Dan setelah tiga-tiganya ngumpul, pembataian dimulai...

Oke. Jadi, yang pertama saya lakukan adalah presentasi. Pas diminta presentasi, jujur saya masih merasa nervous setengah mati. Entah kenapa, hal yang paling saya benci dari kuliah adalah presentasi. Tapi melihat bahwa saya nggak diperhatiin oleh ketiga dosen itu, saya jadi lebih santai. Setelah mempercepat kecepatan ngomong (karena waktu dibatasi 20 menit), dan mengakhiri presentasi dengan ngos-ngosan, saya dipersilahkan duduk. Oke. waktu itu saya berpikir, it isn't so bad (karena dosen pembimbing saya senyum dan menyuruh saya minum). Meskipun setelah itu saya melakukan hal yang bodoh dan membuat ketawa, saya bersyukur ajah. Setidaknya es-nya udah pecah. :p

Actually, kalau disuruh cerita detil prosesnya gimana, saya sudah lupa-lupa ingat. Soalnya kan emang fokus saya pas itu lebih kepada bagaimana menjawab pertanyaan tajam yang diajukan para dosen itu, jadi malah nggak ingat seluk-beluknya. Tapi intinya, saya cukup dibabat. Yang jelas, judul saya yang panjang banget itu dipermasalahkan. Jalan keluarnya, ditambahin jadi lebih panjang *sigh*. Lanjut, permasalahan saya dipertanyakan. Plus rumusan hipotesisnya.. T-T
Dan yang jelas, metode penelitian saya dibabat abis, secara dua dosen penguji adalah expert statistik. Tapi untungnya, saya bisa ngeles. Setidaknya konsep metode saya sudah bener. Cuma kurang ngeh aja.. ha! (bingung mesti)
Oh, iya. Kesimpulan dan Saran saya juga dikomentari. Pokoknya intinya adalah salah. huhuhuhu
Pada dasarnya, yang parah dari skripsi saya adalah tata tulis. Yang istilahnya nggak ajeg lah.. pemakaian kata hubung lah.. bahasa yang masih ambigu.. dan seterusnya. Cuma, yang cukup mengagetkan saya adalah ketika dosen penguji 2 atau dosen C meminta saya untuk mengganti analisis. I thought, "okay. I am so dead". FYI, sebelum ujian skripsi saya sendiri, saya menyempatkan untuk liat ujian temen saya yang dapat dosen yang sama di hari sebelumnya. Parahnya, temen saya itu juga disuruh ganti analisis. Waktu itu saya cuma mbatin, jangan sampe aku disuruh ganti analisis, eh.. ternyata malah kejadian beneran *sigh*. Nasib... Dan akhirnya, mau nggak mau saya mesti coba pake analisis baru dengan resiko:
  1. Hasilnya beda
  2. Kalau hasilnya beda, ganti pembahasan
  3. Diskusinya juga ganti
I mean, seriously. I really don't need this.
Satu-satunya yang membuat saya cukup bernafas lega adalah ketika DPS saya meminta supaya saya nggak ganti analisis. Secara terang-terangan, DPS mengasihani saya (yes!) dan menyarankan kepada dosen C untuk tetap memakai analisis semula. Tapi apa mau dikata, sang profesor yang satu lagi tetep keukeuh minta saya ganti. Jadi ya.. keluar dari ujian (dengan adanya perdebatan seru antardosen 'ganti analisis atau enggak', saya malah nggak tau jadinya ganti apa nggak. Meskipun saya disuruh maen-maen (yeah, can u believe that? maen-maen?) pake analisis yang diminta.

Overall, semuanya berjalan lancar. Meskipun saya merasa telah melakukan beberapa hal bodoh yang membuat dosen-dosen itu berdecak heran (saking anehnya mungkin), even worse, diketawain, setidaknya saya sudah merasa lega. Waktu dipanggil lagi untuk mbahas revisian, saya sempat shock karena ditawarin untuk sidang ulang. Tapi saya menolak, meskipun pas ditanya kenapa saya cuma bisa senyum-senyum GeJe. Siapa yang mau coba?? Tapi yang melegakan adalah, ketika dosen pembimbing saya tersenyum dan menyatakan kalau saya lulus, yeah! That was the best part. Sayangnya waktu itu nggak bisa langsung tau nilainya berapa (Hey, boleh aja kan kalau penasaran?? :pppp)
Menatap revisian yang diberikan, saya cukup lemes, merasa banyak. Tapi ternyata enggak juga. Apalagi pada akhirnya saya tetep pakai analisis lama (Well, that's another long story). Dan sekarang, semuanya sudah selesai pada akhirnya.

Waktu itu dalam hati, saya cuma berkata, "Congratulation. You are now a jobseeker."
Dan seperti kata teman baik saya beberapa hari yang lalu, "Selamat! Anda resmi berkubang dalam zona jobseeker!"

Oh, life.. Just another dilemma..