Beberapa waktu lalu saya dikenalkan dengan sebuah situs chat oleh teman saya. Situs chat ini menurut saya beda. Well, cause we're talking to strangers. Real strangers from around the world! Demi keamanan (nggak pengen dianggap menyesatkan atau malah dianggap promosi, nama situsnya nggak usah disebutin deh ya.. :p)
Pertama-tama, entah apa yang membuat saya pengen nyoba situs ini. Secara kan saya orang yang paling nggak suka ketidakjelasan, apalagi saya nggak hobi chatting (kecuali sama yang dikenal, itu aja jarang). Mungkinkah karena cerita temen saya itu yang pengalamannya bisa dikategorikan sebagai pengalaman cukup fantastis jadi mempengaruhi saya?? Hmm.. entahlah.. Mungkin karena saya begitu kurang kerjaan saat ini dan ingin mencoba hal baru.
So, basically, saya nyoba chatting di situs ini. And as I said, yang kita ajak bicara bener-bener asing. Nggak ada nickname, nggak ada info apapun. Bener-bener random chat. Satu hal lagi, sekali koneksi keputus, berakhir sudah lah percakapan itu. Kemungkinan besar kita nggak akan bisa ngobrol lagi kalau nggak tukar info satu sama lain. Jadi pas mulai dari awal lagi, yang diajak ngomong udah beda. Awalnya, sempet merasa aneh karena sumpah, orang-orang yang saya temuin sangat bervariasi. Mulai dari yang super geje, agak geje, sampai yang normal, dan yang terbaik, menyenangkan. Dan trust me, kebanyakan dari mereka adalah geje.. (-____-)
Situs ini cocok banget buat orang yang suka ngerjain orang. Saya pernah dikerjain satu kali, tapi bersyukur saya nggak kemakan umpannya. Ujung-ujungnya, sebelum saya nanya lebih lanjut, dia udah ngaku duluan. Jiaaahhh~
Untuk saya yang termasuk 'lurus', situs ini jadi sebuah cobaan karena di dalamnya banyak yang ngajak aneh-aneh. Terkadang belom-belom malah udah bikin ilfil. So, mesti pinter-pinter milih temen ngomong. Biasanya, kalau udah menjurus ke hal-hal yang aneh, langsung saya disconnect. Dari sini sebenernya kita bisa lihat mana yang niatnya beneran pengen ngobrol, ato niatan yang lain. Dan saya juga bisa belajar gimana caranya mendapatkan teman ngobrol yang sesuai dan nggak aneh-aneh, yang bener2 bisa memberikan kenyamanan dalam bertukar informasi.
Satu pengalaman menyebalkan adalah ketika saya sudah enjoy ngobrol dengan satu orang, dan menurut saya dia termasuk orang yang nice, tiba-tiba tanpa sengaja saya menekan backspace. Sial! Komunikasi terputus dan saya bahkan nggak pernah tau page dia apa. Nyesel banget! Apalagi sebelumnya dia udah sempat tanya page saya. Dasarnya saya punya prinsip 'you can't be too careful' di sini, jadinya permintaan itu saya hindari, dan dia merespon dengan santai dan sopan. And yeah! hilang sudah kesempatan dapat teman ngobrol yang lucu dan nyambung *sigh*. And believe me, kecelakaan kayak gitu nggak cuma terjadi satu kali.. T.T
Sekali saya dapet temen chatting orang Indo.. Rasanya ternyata emang beda ya.. Dan ternyata yang saya ajak chatting anak 16 tahun, baru lulus SMP (Oh! Ternyata kerjaan anak lulus SMP saat ini adalah ngerjain orang). Jujur jadinya ngaco banget! Ngakak terus dari awal sampe akhir. Mungkin karena pada dasarnya sense of humor-nya sama? Atau karena anaknya terlalu polos dan jujur? Ujung-ujungnya chat harus diakhiri karena dia dipanggil ibunya dan suruh ke minimarket.. xD
Sedikit banyak, pengalaman aneh ini bisa saya jadikan pembelajaran. Mulai dari beberapa orang yang setelah denger saya dari Indonesia, langsung disconnect. Atau beberapa yang nggak ngerti di Indonesia kayak gimana, biasanya malah saya jadi numpang promosi. Atau mungkin curhat gimana perasaan saya ketika orang-orang (bule) pada tau Bali tapi mereka nggak ngerti Indonesia di sebelah mananya Bali.
Yah, meskipun sejujurnya chatting kayak gini agak wasting time, secara kalau udah keasyikan ngobrol jadi keterusan, saya nggak pengen addicted. Berharap ini cuma jadi selingan aja ketika bingung gimana harus membunuh waktu. Dan berharap juga, semoga nantinya nggak nemu orang yang aneh-aneh dan bikin ilfil. :)))
Tuesday, June 7, 2011
Tuesday, May 24, 2011
I Couldn't Find Happiness in the Closet, Where is It??
Beberapa kali saya menonton film The Pursuit of Happyness. Beberapa kali juga saya menangis melihat perjuangan seorang ayah yang rela melakukan apapun untuk kebahagiaan putra satu-satunya.
Seperti itukah perjuangan yang sesungguhnya? Selama ini berani-beraninya saya bertanya-tanya, apakah yang saya lalui selama ini sudah cukup berat?
Tak bisa dipungkiri kalau saya sering mengeluh dalam melakukan sesuatu. Tak bisa saya tolak kalau selama ini saya sering merasa lelah dengan apa yang saya lakukan. Tapi saya tidak menyadari bahwa terkadang apa yang saya lakukan sama sekali tidak sesulit yang saya keluhkan. Saya hanya kurang bisa membuka mata dan melihat sekitar saya. Saya hanya kurang bisa melihat perjuangan orang lain yang lebih besar dari saya.
Pernah saya merasa bahwa Tuhan tidak adil. Pernah saya merasa bahwa sudah seharusnya saya mendapatkan apa yang saya inginkan selama ini. Dan sekarang, pantaskah saya bilang seperti itu?
Saya punya banyak mimpi. Saya punya cita-cita. Dan saya yakin suatu hari saya bisa mencapai semua yang saya cita-citakan itu. Saya tak ubahnya sosok ayah dalam "Pursuit of Happyness" yang mencoba mencari kebahagiaan dalam hidup. Bedanya, saya mencari kebahagiaan lebih untuk diri sendiri saat ini. Tapi dia mencari kebahagiaan untuk anaknya, baru dirinya sendiri.
Mungkinkah saya membuka mata di suatu pagi dan menyadari bahwa apa yang saya inginkan tercapai? Bisa jadi. Tapi sampai sejauh ini, belum banyak yang bisa saya rasakan. Pertanyaan lain kemudian muncul. Apakah saya kurang bersyukur?
Manusia tak ubahnya sosok yang addict akan hadiah. Ketika Tuhan memberikan satu, ia akan meminta satu lagi. ketika satu lagi itu sudah tercapai, ia masih berani meminta lagi. Salahkah? Saya tidak bisa menyalahkan karena saya masih sering seperti itu. Saya tidak bisa juga membenarkan karena benar dan salah juga relatif. Lantas?
Saya nggak tahu jawabannya. Yang saya tahu, saya hanya berusaha untuk tidak menjadi orang yang terlalu egois. Saya berusaha untuk menjadi orang yang lebih menghargai apa yang saya punya, dan terutama, lebih melihat apa yang diraih seseorang sebagai buah dari apa yang ia usahakan.
Jadi, saya masih belum mewujudkan beberapa mimpi saya. Hanya satu kemungkinan. Karena saya tidak berusaha sekeras seharusnya. Atau karena saya belum berjuang semaksimal yang saya bisa. Atau yang lebih klise lagi, karena takdir memang belum mengijinkan demikian.
Apa yang mereka bilang itu? Penyesalan selalu datang terlambat?
Ya, ada bagian dari diri saya yang menyesal karena saya tidak menyadari hal ini sedari dulu. Tapi bagian diri saya yang lain meyakinkan saya bahwa tidak ada kata terlambat. Sounds too cliche? Mungkin. Tapi itu yang benar-benar saya rasakan selama ini. Bagaimanapun, cliche adalah bagian dari kehidupan.
Jadi, saat ini saya ingin menyemati diri saya, "You go, Girl!!!"
Seperti itukah perjuangan yang sesungguhnya? Selama ini berani-beraninya saya bertanya-tanya, apakah yang saya lalui selama ini sudah cukup berat?
Tak bisa dipungkiri kalau saya sering mengeluh dalam melakukan sesuatu. Tak bisa saya tolak kalau selama ini saya sering merasa lelah dengan apa yang saya lakukan. Tapi saya tidak menyadari bahwa terkadang apa yang saya lakukan sama sekali tidak sesulit yang saya keluhkan. Saya hanya kurang bisa membuka mata dan melihat sekitar saya. Saya hanya kurang bisa melihat perjuangan orang lain yang lebih besar dari saya.
Pernah saya merasa bahwa Tuhan tidak adil. Pernah saya merasa bahwa sudah seharusnya saya mendapatkan apa yang saya inginkan selama ini. Dan sekarang, pantaskah saya bilang seperti itu?
Saya punya banyak mimpi. Saya punya cita-cita. Dan saya yakin suatu hari saya bisa mencapai semua yang saya cita-citakan itu. Saya tak ubahnya sosok ayah dalam "Pursuit of Happyness" yang mencoba mencari kebahagiaan dalam hidup. Bedanya, saya mencari kebahagiaan lebih untuk diri sendiri saat ini. Tapi dia mencari kebahagiaan untuk anaknya, baru dirinya sendiri.
Mungkinkah saya membuka mata di suatu pagi dan menyadari bahwa apa yang saya inginkan tercapai? Bisa jadi. Tapi sampai sejauh ini, belum banyak yang bisa saya rasakan. Pertanyaan lain kemudian muncul. Apakah saya kurang bersyukur?
Manusia tak ubahnya sosok yang addict akan hadiah. Ketika Tuhan memberikan satu, ia akan meminta satu lagi. ketika satu lagi itu sudah tercapai, ia masih berani meminta lagi. Salahkah? Saya tidak bisa menyalahkan karena saya masih sering seperti itu. Saya tidak bisa juga membenarkan karena benar dan salah juga relatif. Lantas?
Saya nggak tahu jawabannya. Yang saya tahu, saya hanya berusaha untuk tidak menjadi orang yang terlalu egois. Saya berusaha untuk menjadi orang yang lebih menghargai apa yang saya punya, dan terutama, lebih melihat apa yang diraih seseorang sebagai buah dari apa yang ia usahakan.
Jadi, saya masih belum mewujudkan beberapa mimpi saya. Hanya satu kemungkinan. Karena saya tidak berusaha sekeras seharusnya. Atau karena saya belum berjuang semaksimal yang saya bisa. Atau yang lebih klise lagi, karena takdir memang belum mengijinkan demikian.
Apa yang mereka bilang itu? Penyesalan selalu datang terlambat?
Ya, ada bagian dari diri saya yang menyesal karena saya tidak menyadari hal ini sedari dulu. Tapi bagian diri saya yang lain meyakinkan saya bahwa tidak ada kata terlambat. Sounds too cliche? Mungkin. Tapi itu yang benar-benar saya rasakan selama ini. Bagaimanapun, cliche adalah bagian dari kehidupan.
Jadi, saat ini saya ingin menyemati diri saya, "You go, Girl!!!"
It's (Not) A Hide-and-Seek
Semua orang memiliki tempat persembunyian. Entah dalam bentuk yang nyata maupun abstrak.
Saya ingat ketika kecil, setiap sudut rumah adalah area permainan. Di bawah meja dapur yang cukup luas, kami (saya dan teman-teman) biasa membuat kemah (atau pura-puranya rumah) yang dibuat dari kain jarik dan dijepit dengan jepitan jemuran di sana-sini. Di bawahnya kami taruh kasur, bantal, selimut, dan menjadikan area tersebut sebagai 'rumah' untuk menyempurnakan pemainan role play keluarga (bapak-ibu-anak) yang akan kami lakukan. Seharian kami bisa berada di dalam tenda. Melakukan hal-hal yang seru (saat itu); masak-masakan, nggosip (peringatan semuanya, kebiasaan nggosip adalah pembelajaran sejak dini), tidur-tiduran, dan baca komik. Kurang penerangan? Tinggal pakai senter atau lampu portabel. Jika sekarang saya melakukan hal yang sama, hmmm.. saya sendiri akan merasa agak kurang waras.
Alasan utama kami membangun tenda itu, selain untuk bermain, adalah untuk bersembunyi. Ya, tempat tertutup yang cukup gelap itu adalah persembunyian bagi kami dari orang-orang dewasa. Yang boleh masuk hanya anak-anak, teman sepermainan (dan cewek!). Saya ingat, ibu saya bahkan nggak boleh mbuka pintu tenda sekalipun.
Saya ingat ketika saya sedang bosan sendirian, bingung mau ngapain, saya akan mengambil satu buku yang bisa dijadikan bacaan dan bersembunyi di area segitiga pojok ruang tamu, dibalik sofa berwarna cokelat tua. Ruang yang sempit memang. Tapi untuk ukuran saya waktu itu (SD), lumayan juga buat duduk bersandar tembok dengan kaki ditekuk atau meringkuk. Bahkan tempat ini adalah tempat persembunyian ketika saya marahan dengan kakak atau orang tua saya. Beberapa hari yang lalu, saya coba 'masuk' pojokan itu lagi, dan ouch! Sudah nggak muat. Saya cuma bisa berdiri di sana, Bahkan untuk duduk pun nggak bisa. (laugh)
Setiap orang tentunya punya tempat persembunyian. Dari kecil, kita punya tempat dimana kita bisa melakukan apapun tanpa orang lain tahu. Tempat rahasia. Tempat kita menangis, menyembunyikan sesuatu, dan tempat kita mencari perlindungan entah dari apapun itu. Saya hampir tidak ingat bahwa dulu saya suka bersembunyi di tempat yang sempit dan gelap. Semakin kecil tempat itu, semakin aman, Syaratnya cuma satu: tempat itu harus familiar. Bahkan bersembunyi di kolong tempat tidur bisa dibilang adalah kegiatan rutin saya.
"Semua permasalahan harus dihadapi", entah sejak kapan saya mempelajari kalimat itu. Pada dasarnya, lambat laun, saya mulai berhenti bersembunyi secara harafiah dan mencoba menyelesaikan apapun yang saya alami dengan berpikir. Setidaknya ketika tiba saatnya untuk bersembunyi, saya melakukannya dengan 'persona'. Apa mungkin tempat persembunyian saya beralih? Yang dulunya bisa ditemukan di sudut-sudut rumah, sekarang hanya bisa ditemukan di sudut kepala saya dimana nggak ada seorangpun yang tahu tanpa saya ingin dia tahu. Hmm.. interesting.
Pada dasarnya, menjadi dewasa adalah berubah. Enaknya menjadi anak kecil adalah ke-simple-an hidup yang kita jalani (setidaknya buat saya). Makan, main, tidur, sekolah, main lagi. Hal yang menjemukkan mungkin hanya mengerjakan PR, belajar buat ulangan, atau marahan dengan teman. Hidup terasa ringan meskipun saat itu masalah kecil = neraka. But then, life's a playground. Semakin dewasa, permasalahan akan terus datang sesuai dengan tugas perkembangan yang kita jalani. Masalah yang dulu lebih sering dihadapi dengan cara dihindari (dan bersembunyi) sekarang harus dihadapi dengan tindakan. No action, no glory. Lucu ketika pada titik tertentu, saya merasa ingin jadi anak kecil lagi, rindu dengan ke-simple-an hidup. Padahal dulu, setengah mati saya ingin cepat tumbuh dan jadi orang dewasa.
Whatever it is, I'm in a new stage. Just say 'Hi', for God sake..
*dalam ke-galau-an yang tak berujung dan keinginan akut untuk 'bersembunyi'*
Saya ingat ketika kecil, setiap sudut rumah adalah area permainan. Di bawah meja dapur yang cukup luas, kami (saya dan teman-teman) biasa membuat kemah (atau pura-puranya rumah) yang dibuat dari kain jarik dan dijepit dengan jepitan jemuran di sana-sini. Di bawahnya kami taruh kasur, bantal, selimut, dan menjadikan area tersebut sebagai 'rumah' untuk menyempurnakan pemainan role play keluarga (bapak-ibu-anak) yang akan kami lakukan. Seharian kami bisa berada di dalam tenda. Melakukan hal-hal yang seru (saat itu); masak-masakan, nggosip (peringatan semuanya, kebiasaan nggosip adalah pembelajaran sejak dini), tidur-tiduran, dan baca komik. Kurang penerangan? Tinggal pakai senter atau lampu portabel. Jika sekarang saya melakukan hal yang sama, hmmm.. saya sendiri akan merasa agak kurang waras.
Alasan utama kami membangun tenda itu, selain untuk bermain, adalah untuk bersembunyi. Ya, tempat tertutup yang cukup gelap itu adalah persembunyian bagi kami dari orang-orang dewasa. Yang boleh masuk hanya anak-anak, teman sepermainan (dan cewek!). Saya ingat, ibu saya bahkan nggak boleh mbuka pintu tenda sekalipun.
Saya ingat ketika saya sedang bosan sendirian, bingung mau ngapain, saya akan mengambil satu buku yang bisa dijadikan bacaan dan bersembunyi di area segitiga pojok ruang tamu, dibalik sofa berwarna cokelat tua. Ruang yang sempit memang. Tapi untuk ukuran saya waktu itu (SD), lumayan juga buat duduk bersandar tembok dengan kaki ditekuk atau meringkuk. Bahkan tempat ini adalah tempat persembunyian ketika saya marahan dengan kakak atau orang tua saya. Beberapa hari yang lalu, saya coba 'masuk' pojokan itu lagi, dan ouch! Sudah nggak muat. Saya cuma bisa berdiri di sana, Bahkan untuk duduk pun nggak bisa. (laugh)
Setiap orang tentunya punya tempat persembunyian. Dari kecil, kita punya tempat dimana kita bisa melakukan apapun tanpa orang lain tahu. Tempat rahasia. Tempat kita menangis, menyembunyikan sesuatu, dan tempat kita mencari perlindungan entah dari apapun itu. Saya hampir tidak ingat bahwa dulu saya suka bersembunyi di tempat yang sempit dan gelap. Semakin kecil tempat itu, semakin aman, Syaratnya cuma satu: tempat itu harus familiar. Bahkan bersembunyi di kolong tempat tidur bisa dibilang adalah kegiatan rutin saya.
"Semua permasalahan harus dihadapi", entah sejak kapan saya mempelajari kalimat itu. Pada dasarnya, lambat laun, saya mulai berhenti bersembunyi secara harafiah dan mencoba menyelesaikan apapun yang saya alami dengan berpikir. Setidaknya ketika tiba saatnya untuk bersembunyi, saya melakukannya dengan 'persona'. Apa mungkin tempat persembunyian saya beralih? Yang dulunya bisa ditemukan di sudut-sudut rumah, sekarang hanya bisa ditemukan di sudut kepala saya dimana nggak ada seorangpun yang tahu tanpa saya ingin dia tahu. Hmm.. interesting.
Pada dasarnya, menjadi dewasa adalah berubah. Enaknya menjadi anak kecil adalah ke-simple-an hidup yang kita jalani (setidaknya buat saya). Makan, main, tidur, sekolah, main lagi. Hal yang menjemukkan mungkin hanya mengerjakan PR, belajar buat ulangan, atau marahan dengan teman. Hidup terasa ringan meskipun saat itu masalah kecil = neraka. But then, life's a playground. Semakin dewasa, permasalahan akan terus datang sesuai dengan tugas perkembangan yang kita jalani. Masalah yang dulu lebih sering dihadapi dengan cara dihindari (dan bersembunyi) sekarang harus dihadapi dengan tindakan. No action, no glory. Lucu ketika pada titik tertentu, saya merasa ingin jadi anak kecil lagi, rindu dengan ke-simple-an hidup. Padahal dulu, setengah mati saya ingin cepat tumbuh dan jadi orang dewasa.
Whatever it is, I'm in a new stage. Just say 'Hi', for God sake..
*dalam ke-galau-an yang tak berujung dan keinginan akut untuk 'bersembunyi'*
Thursday, May 5, 2011
Populer, eh..??!!
Tiba-tiba ingin menulis masalah musik lagi. Terinspirasi dari kegiatan belakangan ini dimana hobi saya adalah evaluasi semua musik di laptop saya baik yang baru maupun yang lama, dan tentunya fakta bahwa eksistensi saya sedang berada di tangan satu hal simpel bernama musik.
Oke. Jadi, setelah saya telusuri dengan seksama dan sungguh-sungguh, saya menemukan fakta bahwa di playlist saya, musik yang saya dengarkan adalah jenis musik atau jenis lagu yang tidak semua orang tahu. Hmmm.. sok-sokan eksklusif kah?? Nggak tau juga. Yang saya tahu, saya selama ini suka dengan rock alternative. Saya mendengarkan band-band alternative yang cukup tidak dikenal (setidaknya oleh orang-orang di sekitar saya) meskipun saya masih mendengarkan musik pasaran normal yang lain. Tapi ternyata, ada satu perbedaan. Ketika teman-teman saya riweuh download musik-musik Lady Gaga, saya nggak ngeh Lady Gaga itu lagunya yang kayak apa. Atau ketika mereka asik joget-joget dengan lagu Katy Perry, saya malah nggak tau Katy Perry itu yang mana. Or.. ketika dulu sedang demam-demamnya Bieber, saya juga nggak ngeh sama lagu-lagunya. Aneh kan?? Lebih belakangan baru saya tau style musik mereka seperti apa, lagu-lagunya, itu pun saya masih memutuskan untuk tidak menjadikannya playlist utama. Ya, saya memang nggak terlalu suka popular style. Ketika yang lain sibuk ngikutin lagu-lagu baru, saya malah nggak pernah ndengerin radio. Jadi, boro-boro tau lagu baru di radio apa aja. Karena yang jadi sumber pengetahuan utama saya selama ini untuk musik terbaru (favorit saya) adalah internet, dan tentu saja, selain chart rock alternative, yang saya cari adalah website dari band-band itu. Terdengar obsesif kah?? Hmmm..
Yang saya tau, sekarang saya merasa kesempatan saya untuk dapat lagu-lagu favorit seperti dulu sudah sangat menipis lewat jalan 'normal'. Taruhlah seperti ini: di TV, semua lagu yang diputer kalo nggak lagu Indonesia, ya lagu pop barat populer yang musiknya ngebeat dan tentu saja, hip-hop (bukannya saya benci lagu Indonesia, tapi lebih kepada fakta bahwa lagu Indonesia jaman sekarang sangat dikuasai band-band bergenre Melayu yang lagunya sumpah bikin saya pening dengan nada menye-nya itu), di MTV pun udah nggak ada acara yang bisa dijadikan acuan informasi musik terbaru (kemanakah MTV Most Wanted, Asia Hitlist, dan MTV-MTV lainnya yang setidaknya dulu rutin memutar playlist favorit saya??? *sigh*), dan di radio, yang dulu pernah saya temukan acara bernama 'overal' = overload and alternative, acaranya sudah menghilang dan berganti dengan siaran entahlah.. Akhirnya saya frustasi dan mengutuk beberapa 'acara' tersebut karena lebih memilih popularisme dan familiarisme daripada memenuhi kebutuhan orang-orang dengan selera agak tidak biasa seperti saya dalam mendapatkan pelampiasan emosi. Atau mungkin, saya-kah yang selera musiknya kurang bisa bergeser seiring dengan jaman??
Entah kenapa selama ini saya merasa senang ketika menyukai sesuatu yang tidak biasa (lagi, setidaknya diantara orang-orang sekitar saya. orang-orang di luaran sana, who knows??). Ketika mendengarkan satu lagu yang benar-benar update dari penyanyi atau band favorit saya, saya senang bukan main. Misal, beberapa kali ketika saya dapat albumnya meskipun secara official belum rilis. Wuidihhh.. langsung deh puasnya sangat luar biasa. Tapi, waktu berjalan, dan ketika saya sudah bosan dengan lagu itu, sudah banyak orang yang tau dan mulai memutar dan menyanyikannya dimana-mana. Jadinya tambah bosan dan lagu yang dulu spesial itu berubah menjadi biasa sama sekali.
Atau ketika saya berburu album Avenged Sevenfold yang Self-Titled, di salah satu track saya menyadari perbedaan musik yang signifikan di Dear God. Untuk saat itu, saya terpesona dan menjadikan lagu itu salah satu favorit karena kekontrasannya dibandingkan track-track yang lain dengan nuansa country-nya. Tapi beberapa lama kemudian, setelah Dear God dipilih jadi single, semua orang seakan-akan menyanyikan lagu itu, meng-quote lagunya dimana-mana, dan kurang lebih setiap hari selalu saya dengarkan satu kali setidaknya di tempat-tempat yang kebetulan saya datangi. Oke, Dear God yang tadinya spesial buat saya jadi biasa sama sekali.
Dalam pemikiran saya, mungkin cukup banyak orang dengan pemikiran seperti itu. Katakanlah, sebagai fans sejati dari sebuah band, menyukai dan menikmati hasil karya mereka sejak lama yang bahkan orang-orang belum 'ngeh' tentang keberadaannya, dan tiba-tiba saja banyak 'fans' yang mengerubuti ketika kepopulerannya bertambah adalah sebuah dilema. Antara bahagia bahwa band itu makin dikenal, dan ketidaksukaan karena seakan-akan 'orang-orang baru' yang suka itu hanya mengikuti arus populer yang mengarahkan mereka ke band yang sama. Hmm.. entahlah..
Yang saya tau, saya masih suka berburu musik yang tidak biasa. Yang ketika saya menyebutkan namanya banyak orang-orang bilang, "Apa itu?". Di sinilah uniknya. Menjelaskan dan menjelaskan tentang 'apa itu' sendiri..
Ya, saya memang aneh (dan sudah cukup banyak orang yang bilang begitu). But whatever, saya suka perbedaan seperti ini. It's exclusive.. And it's awesome.. :)
Oke. Jadi, setelah saya telusuri dengan seksama dan sungguh-sungguh, saya menemukan fakta bahwa di playlist saya, musik yang saya dengarkan adalah jenis musik atau jenis lagu yang tidak semua orang tahu. Hmmm.. sok-sokan eksklusif kah?? Nggak tau juga. Yang saya tahu, saya selama ini suka dengan rock alternative. Saya mendengarkan band-band alternative yang cukup tidak dikenal (setidaknya oleh orang-orang di sekitar saya) meskipun saya masih mendengarkan musik pasaran normal yang lain. Tapi ternyata, ada satu perbedaan. Ketika teman-teman saya riweuh download musik-musik Lady Gaga, saya nggak ngeh Lady Gaga itu lagunya yang kayak apa. Atau ketika mereka asik joget-joget dengan lagu Katy Perry, saya malah nggak tau Katy Perry itu yang mana. Or.. ketika dulu sedang demam-demamnya Bieber, saya juga nggak ngeh sama lagu-lagunya. Aneh kan?? Lebih belakangan baru saya tau style musik mereka seperti apa, lagu-lagunya, itu pun saya masih memutuskan untuk tidak menjadikannya playlist utama. Ya, saya memang nggak terlalu suka popular style. Ketika yang lain sibuk ngikutin lagu-lagu baru, saya malah nggak pernah ndengerin radio. Jadi, boro-boro tau lagu baru di radio apa aja. Karena yang jadi sumber pengetahuan utama saya selama ini untuk musik terbaru (favorit saya) adalah internet, dan tentu saja, selain chart rock alternative, yang saya cari adalah website dari band-band itu. Terdengar obsesif kah?? Hmmm..
Yang saya tau, sekarang saya merasa kesempatan saya untuk dapat lagu-lagu favorit seperti dulu sudah sangat menipis lewat jalan 'normal'. Taruhlah seperti ini: di TV, semua lagu yang diputer kalo nggak lagu Indonesia, ya lagu pop barat populer yang musiknya ngebeat dan tentu saja, hip-hop (bukannya saya benci lagu Indonesia, tapi lebih kepada fakta bahwa lagu Indonesia jaman sekarang sangat dikuasai band-band bergenre Melayu yang lagunya sumpah bikin saya pening dengan nada menye-nya itu), di MTV pun udah nggak ada acara yang bisa dijadikan acuan informasi musik terbaru (kemanakah MTV Most Wanted, Asia Hitlist, dan MTV-MTV lainnya yang setidaknya dulu rutin memutar playlist favorit saya??? *sigh*), dan di radio, yang dulu pernah saya temukan acara bernama 'overal' = overload and alternative, acaranya sudah menghilang dan berganti dengan siaran entahlah.. Akhirnya saya frustasi dan mengutuk beberapa 'acara' tersebut karena lebih memilih popularisme dan familiarisme daripada memenuhi kebutuhan orang-orang dengan selera agak tidak biasa seperti saya dalam mendapatkan pelampiasan emosi. Atau mungkin, saya-kah yang selera musiknya kurang bisa bergeser seiring dengan jaman??
Entah kenapa selama ini saya merasa senang ketika menyukai sesuatu yang tidak biasa (lagi, setidaknya diantara orang-orang sekitar saya. orang-orang di luaran sana, who knows??). Ketika mendengarkan satu lagu yang benar-benar update dari penyanyi atau band favorit saya, saya senang bukan main. Misal, beberapa kali ketika saya dapat albumnya meskipun secara official belum rilis. Wuidihhh.. langsung deh puasnya sangat luar biasa. Tapi, waktu berjalan, dan ketika saya sudah bosan dengan lagu itu, sudah banyak orang yang tau dan mulai memutar dan menyanyikannya dimana-mana. Jadinya tambah bosan dan lagu yang dulu spesial itu berubah menjadi biasa sama sekali.
Atau ketika saya berburu album Avenged Sevenfold yang Self-Titled, di salah satu track saya menyadari perbedaan musik yang signifikan di Dear God. Untuk saat itu, saya terpesona dan menjadikan lagu itu salah satu favorit karena kekontrasannya dibandingkan track-track yang lain dengan nuansa country-nya. Tapi beberapa lama kemudian, setelah Dear God dipilih jadi single, semua orang seakan-akan menyanyikan lagu itu, meng-quote lagunya dimana-mana, dan kurang lebih setiap hari selalu saya dengarkan satu kali setidaknya di tempat-tempat yang kebetulan saya datangi. Oke, Dear God yang tadinya spesial buat saya jadi biasa sama sekali.
Dalam pemikiran saya, mungkin cukup banyak orang dengan pemikiran seperti itu. Katakanlah, sebagai fans sejati dari sebuah band, menyukai dan menikmati hasil karya mereka sejak lama yang bahkan orang-orang belum 'ngeh' tentang keberadaannya, dan tiba-tiba saja banyak 'fans' yang mengerubuti ketika kepopulerannya bertambah adalah sebuah dilema. Antara bahagia bahwa band itu makin dikenal, dan ketidaksukaan karena seakan-akan 'orang-orang baru' yang suka itu hanya mengikuti arus populer yang mengarahkan mereka ke band yang sama. Hmm.. entahlah..
Yang saya tau, saya masih suka berburu musik yang tidak biasa. Yang ketika saya menyebutkan namanya banyak orang-orang bilang, "Apa itu?". Di sinilah uniknya. Menjelaskan dan menjelaskan tentang 'apa itu' sendiri..
Ya, saya memang aneh (dan sudah cukup banyak orang yang bilang begitu). But whatever, saya suka perbedaan seperti ini. It's exclusive.. And it's awesome.. :)
Saturday, April 23, 2011
Durch den Monsun
Seberapa inginnya kita kembali ke masa lalu dan mengubah sesuatu dalam hidup kita, hal itu tetap tidak mungkin terjadi...
Akhir-akhir ini saya menyadari bahwa saya bisa terasing di manapun, bahkan di tempat yang saya sebut rumah, yang menjadi lingkungan pertama tempat saya seharusnya mengadu emosi. Entah kenapa pemikiran-pemikiran lama ini muncul kembali. Apakah karena saya sedang depresi? Apa karena saya sedang mengalami masa frustasi? Saya nggak begitu ngerti. Pada intinya, saya menggarisbawahi fakta bahwa di rumah saya sendiri, saya cenderung menjadi bawang kosong, tak memiliki suara, dan yang jelas, tak cukup mengembangkan diri untuk berekspresi.
Saya hidup di lingkungan keluarga normal yang adem ayem, tentram, dan tidak bermasalah. Bahkan bisa dibilang keluarga saya adalah keluarga yang harmonis. "Lantas apa masalahnya?", mungkin sebagian orang mengatakan demikian. Permasalahannya adalah ketika baru saat saya menginjak remaja saya menyadari bahwa sebenarnya masih banyak hal yang saya butuhkan yang belum saya dapatkan dari keluarga saya. Oh, saya tau orang tua saya mencintai saya apa adanya. Mereka baik, perhatian, bukan tipe orang yang otoriter meskipun ayah saya adalah tentara, dan mereka cukup memanjakan saya. Tidak, yang saya butuhkan adalah kesempatan untuk bicara.
Dengan kekurangan yang ada dalam diri saya, saya tumbuh menjadi anak yang pemalu dan tipikal menghindari orang baru. Meskipun banyak orang berkata saya termasuk cerdas, saya tetap merasakan lubang menganga (even sampai saat ini) bahwa saya masih menjadi pengecut yang selalu menghindari masalah dan memilih untuk melampiaskannya pada hal-hal lain. Saya masih menyimpan semua hal yang menyakitkan untuk diri sendiri. Bahkan saya masih sering mendapati diri menangis, meringkuk seperti bayi, meratapi takdir saya, dan mencoba mengatasi itu semua SENDIRI. Entah Tuhan bermaksud demikian atau tidak, tapi seolah-olah Dia menciptakan saya tanpa satu hal: keberanian untuk buka suara.
Sebagai mahasiswa Psikologi, saya menyadari bahwa apa yang saya alami adalah sebuah hal yang seharusnya saya hindari. Kesehatan mental saya lebih penting daripada sekedar menelan gengsi untuk mulai 'berbicara' dengan orang lain, terutama orang tua saya. Sejak kecil saya merasa tidak pernah dibiasakan untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan dalam diri saya. Sejak saya kecil saya tidak biasa mengucapkan kata-kata cinta untuk keluarga saya seperti yang semua orang di TV/film itu lakukan. Sejak kecil saya tidak terbiasa memeluk orang tua saya dan mengatakan betapa sayangnya saya sama mereka. Tapi kami sama-sama tahu. Tanpa mengucapkan kata-kata pun kami sudah saling memahami bahwa kami menyayangi satu sama lain, layaknya telepati. Saya rasa hal itu cukup untuk mereka. Tapi untuk saya? Sekian tahun saya menjalaninya, saya selalu merasakan ada yang salah dalam diri saya. Saya selalu merasakan ada 'makhluk' yang ingin keluar dari dalam diri saya, membebaskan diri, melepaskan belenggu, tapi saat ini sialnya dia masih terpenjara.
Saya iri ketika melihat seorang anak dengan mudahnya bisa mengungkapkan apa yang ada dalam pemikirannya kepada sang Ibu. Saya iri melihat seorang anak mengatakan selamat malam dengan peluk dan ungkapan 'I love you' sebelum tidur kepada sang ayah. Saya iri melihat teman-teman saya di telpon ketika jauh dari orang tua tiba-tiba mengumbar senyumnya dan mengatakan 'I miss u'. Sekeras apapun saya berusaha, tidak ada satu kata 'cinta' pun yang bisa saya ucapkan. Bahkan jauh di lubuk hati saya yang berulang kali saya tekankan dengan jawaban 'IYA', saya selalu bertanya, "Apakah saya normal?".
Dulu, alasan saya masuk ke psikologi adalah ingin memperbaiki diri. Bertahun-tahun kuliah di sana saya akhirnya mendapatkan gambaran bagaimana sehat mental itu, bagaimana seseorang bisa mencapai aktualisasi diri, dan berbagai macam teori lainnya yang entah dalam aplikasinya mudah ataukah sulit setengah mati untuk dilakukan. Dan dalam pemikiran saya, saya punya sebuah gambaran ideal tentang bagaimana saya nantinya. Pada akhirnya, perlahan-lahan saya mulai memperbaiki diri. Saya yang dulu selalu peduli apa kata orang mengenai saya lambat laun mulai belajar untuk menulikan diri. Bukan, bukan menjadi pribadi yang acuh, tapi lebih kepada bagaimana menyaring semua pemikiran-pemikiran nggak penting itu supaya tidak masuk ke dalam diri saya. Bagi saya saat ini, yang paling penting bagi adalah pemikiran diri saya sendiri atau orang-orang yang cukup mengerti saya untuk berani mengatakan sesuatu. Tapi ternyata dibalik perubahan yang sedikit demi sedikit itu, masih ada sisa-sisa penyakit masa lalu yang tak kunjung sembuh. Inferioritas yang dulu menggerogoti saya masih ada akarnya. Rasa minder, malu, tidak PD, itu adalah hal biasa yang saya alami. Mungkin cukup banyak yang menyebut saya berani, namun nyatanya, justru terkadang saya malah merasa kata 'berani' itu jadi persona tersendiri bagi diri saya ketika saya sedang menjalani fase 'insecure'. Di balik kemarahan yang terkadang saya keluarkan, saya merasa takut. Perubahan memang tidak akan terjadi secara instan. Saya bersyukur atas kesempatan saya untuk memperbaiki diri, tapi saya masih sempat mengutuk diri saya untuk semua 'keberanian' yang saya lalui selama ini. Dengan adanya kesadaran berbicara-dengan-teman-ternyata-lebih-mudah, saya mendapati diri saya pelan-pelan beranjak dari 'keterpurukan eksistensi' ini dan mulai belajar memahami diri.
Saya tidak menyalahkan orang tua saya atas apa yang saya rasakan. Tuhan tahu betapa saya sangat bersyukur memiliki orang tua yang begitu sabar menghadapi saya. Meskipun pada akhirnya saya selalu berfikir masih ada yang kurang dari mereka, saya menyadari bahwa kesempurnaan adalah hal yang mustahil. 'Kehangatan' yang tidak mereka tunjukkan pada saya dari kecil adalah sebuah hasil dari pembelajaran budaya, dan bukan sepenuhnya hal buruk. Nyatanya saya masih bisa menyayangi dan mencintai orang lain meskipun caranya sedikit lebih bisu.
Saya bersyukur untuk setiap hal baik yang Tuhan berikan untuk saya. Saya bersyukur untuk keluarga yang selalu mendukung saya. Sejauh apapun mimpi saya untuk menjadi orang yang lebih baik, setidaknya sempurna di mata saya meskipun masih banyak lubang di sana-sini, semua itu sedang dalam proses. Saya masih meyakini bahwa jauh dibalik semua kekurangan ini, saya punya suatu hal yang patut dibanggakan dan mungkin melebihi orang lain. Dan satu hal yang pasti, meskipun saya tidak bisa mengubah masa lalu, saya bisa mengubah masa depan yang terbentang di hadapan saya.
-Untuk semua sahabat-sahabat saya yang menjadi tumpuan titik balik persona itu sendiri, terima kasih atas segala kesempatannya untuk berbagi. You know I couldn't ask more..
Wednesday, April 20, 2011
Meraih Mimpi
Bermimpi itu indah. Bermimpi itu menyenangkan.
Semua hal yang tidak kita dapatkan saat ini bisa tercapai melalui mimpi. Mimpi adalah 'jalan keluar' untuk semua permasalahan. Mimpi adalah 'masa depan' yang diharapkan akan segera datang.
Banyak hal di sekitar kita seolah menjual mimpi. Novel-novel roman (picisan) yang banyak kita baca menjual mimpi tentang cinta. Iklan-iklan produk dan poster-poster yang kita baca di pinggir jalan pun menawarkan mimpi. Mimpi untuk menjadi secantik boneka porselen dengan macam-macam produk kecantikan, mimpi untuk menjadi milyuner dengan undian, dan banyak mimpi-mimpi lainnya yang menjadikan pengharapan dalam diri semakin besar.
Pertanyaannya, salahkan kita bermimpi? Atau mungkin harus saya bilang, haruskah kita bermimpi tinggi?
I must say, I'm a dreamer. Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang termakan dengan bujuk rayu mimpi. Harapan-harapan kehidupan yang selama ini belum bisa saya dapatkan, kesempurnaan yang sekirannya tidak mungkin terjadi, semua itu saya lampiaskan dengan bermimpi.
Tapi apa gunanya mimpi ketika kita tidak berusaha mendapatkannya? Maka inilah jalan ke dua setelah 'bermimpi': menggapainya.
Setinggi apa seseorang dapat bermimpi? Ada yang mengatakan, "bermimpilah setinggi-tingginya". Atau satu kalimat lain yang sangat menyentuh hati, "bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu". Lalu bagaimana dengan realita?
"Berdamailah dengan realita, agar kau tak jatuh terlalu jauh."
"Mungkinkah aku berdamai dengan realita ketika mimpi yang kubangun terlalu tinggi?"
"Mungkin."
"Bukankah ketika aku harus berdamai dengan realita aku mesti meletakkan sebagian dari mimpi itu?"
"Mungkin."
"Dan itu berarti aku tidak bisa bermimpi terlalu tinggi."
"Tidak juga."
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
***
Bermimpi tinggi memiliki sebuah syarat: menabahkan hati untuk kekecewaan yang cukup dalam. Selayaknya burung belajar terbang, ia akan selalu jatuh. Maka apa yang diharapkan seseorang dalam mimpinya bisa sewaktu-waktu terenggut meskipun mimpi dan semangat meraih mimpi itu sedang dalam titik tertinggi.
Lalu, apakah saya kapok bermimpi?
Sepertinya tidak. Meskipun sebuah lubang menganga yang saya rasakan dalam diri saya masih perlu beradaptasi, saya tidak takut bermimpi. Mungkin sebagian dari saya belum siap menerima mimpi yang begitu besarnya menggerogoti pikiran saya selama ini. Dan mungkin sang waktu belum mengijinkan saya menyapa mimpi saya.
Tapi satu hal yang harus saya pelajari lagi, saya harus belajar berdamai dengan realita.
Semua hal yang tidak kita dapatkan saat ini bisa tercapai melalui mimpi. Mimpi adalah 'jalan keluar' untuk semua permasalahan. Mimpi adalah 'masa depan' yang diharapkan akan segera datang.
Banyak hal di sekitar kita seolah menjual mimpi. Novel-novel roman (picisan) yang banyak kita baca menjual mimpi tentang cinta. Iklan-iklan produk dan poster-poster yang kita baca di pinggir jalan pun menawarkan mimpi. Mimpi untuk menjadi secantik boneka porselen dengan macam-macam produk kecantikan, mimpi untuk menjadi milyuner dengan undian, dan banyak mimpi-mimpi lainnya yang menjadikan pengharapan dalam diri semakin besar.
Pertanyaannya, salahkan kita bermimpi? Atau mungkin harus saya bilang, haruskah kita bermimpi tinggi?
I must say, I'm a dreamer. Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang termakan dengan bujuk rayu mimpi. Harapan-harapan kehidupan yang selama ini belum bisa saya dapatkan, kesempurnaan yang sekirannya tidak mungkin terjadi, semua itu saya lampiaskan dengan bermimpi.
Tapi apa gunanya mimpi ketika kita tidak berusaha mendapatkannya? Maka inilah jalan ke dua setelah 'bermimpi': menggapainya.
Setinggi apa seseorang dapat bermimpi? Ada yang mengatakan, "bermimpilah setinggi-tingginya". Atau satu kalimat lain yang sangat menyentuh hati, "bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu". Lalu bagaimana dengan realita?
"Berdamailah dengan realita, agar kau tak jatuh terlalu jauh."
"Mungkinkah aku berdamai dengan realita ketika mimpi yang kubangun terlalu tinggi?"
"Mungkin."
"Bukankah ketika aku harus berdamai dengan realita aku mesti meletakkan sebagian dari mimpi itu?"
"Mungkin."
"Dan itu berarti aku tidak bisa bermimpi terlalu tinggi."
"Tidak juga."
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
***
Bermimpi tinggi memiliki sebuah syarat: menabahkan hati untuk kekecewaan yang cukup dalam. Selayaknya burung belajar terbang, ia akan selalu jatuh. Maka apa yang diharapkan seseorang dalam mimpinya bisa sewaktu-waktu terenggut meskipun mimpi dan semangat meraih mimpi itu sedang dalam titik tertinggi.
Lalu, apakah saya kapok bermimpi?
Tapi satu hal yang harus saya pelajari lagi, saya harus belajar berdamai dengan realita.
And I ask You, God.. May the dream come true..
Labels:
Thoughts
Sunday, April 17, 2011
Perburuan Tengah Malam
Kemarin malam mungkin bisa dibilang sebagai saat yang aneh dan menyebalkan buat saya. Kenapa??
Karena ... *jengjengjeng (musik drum)* enggak biasanya malam hari saya isi dengan berburu kecoak.
Yeah, berburu kecoak. Lebih tepatnya, terpaksa berburu kecoak di kamar saya. Can you believe it??
Sekitar jam 23.20 malam, lagi enak-enaknya nonton tivi sendirian, saya dikejutkan oleh sebuah siluet di atas kepala saya. Hewan bersayap yang ukurannya lumayan gede dan terbang dengan tergesa-gesa ke tirai jendela. Oke. Saya pikir itu kupu-kupu, minimal ngengat lah, soalnya seinget saya warnanya coklat. Tapi kok setelah saya selidiki (dengan menjulurkan kepala dan memincingkan mata untuk melihat dengan jelas), saya baru sadar kalo hewan itu adalah kecoak. Yak! Benar sekali. Memang kecoa.
Bagi yang nggak percaya kalau kecoak bisa terbang, trust me! Saya sudah menyaksikan lebih dari 3 kali kalau kecoak memang kadang-kadang suka berharap nyaingin kupu-kupu. Hobinya loncat sana loncat sini dengan sayap bergetar yang, yah.. pretty much looks like flying. Bagi yang percaya, baguslah. Berarti saya nggak berhalusinasi. Jadi, saya langsung mikir, 'what the hell??'. Ngapain ni kecoak malem-malem hang-out di kamar saya? Nggak tau juga datang dari mana, masa tau-tau nongol? perasaan juga dikunci pintu sama jendelanya... Benar-benar kecoak yang kurang kerjaan.
Jadi, saya perhatikan gerak-geriknya. Pertama-tama, dia cuma nggremet (merambat) di sepanjang gorden jendela. Lalu tiba-tiba, kesannya kayak sok pamer gitu, kecoaknya terbang menyeberangi ruangan, melewati atas badan saya. Wuzzzz.. saya langsung dalam posisi siaga. Hmmm.. kecoak sebenarnya bukan hewan yang paling menyebalkan buat saya, selama mereka masih menghormati privasi saya dan nggak mengganggu. Tapi yang ini?? Pengecualian!! Saya nggak suka tiba-tiba ada intruder di kamar saya, bikin geli pula. Alhasil, saya siap-siap menyerang. Tapi ternyata, lama saya tunggu kecoaknya tetep stay di lantai bawah kasur dan nggak keliatan lagi. Okelah kalau gini, saya cukup tidak merasa terganggu, meskipun rasa sebel masih ada.
Di tengah menikmati film di tivi yang cukup menegangkan, tau-tau ada sesuatu yang nggremet di kaki saya. Awalnya saya pikir semut. Tapi saya langsung ingat kalau tadi ada kecoak terbang, langsung saya tangkis 'sesuatu' di kaki saya itu, yang tiba-tiba langsung pindah ke tangan saya. Great! Saya dirambati kecoak.. T^T *sesuatu yang tidak patut dibanggakan*. Kecoaknya, seakan sadar diri kalau jadi buruan, langsung lari bersembunyi di balik tumpukan majalah saya. Langsung aja saya ambil botol minum dan satu buah buku setebal 4 cm untuk persenjataan. Dan perburuan kecoak pun dimulai.
Saya obrak-abrik tumpukan majalah saya, saya hujam-hujamkan botol minum, tapi masih meleset. Saya pancing kecoaknya keluar dari tempat persembunyian pelan-pelan, dan langsung saya timpuk pake buku. Eh, nggak kena juga (sebenernya kasian sama bukunya, kan sayang kalo kenapa-kenapa. Tapi mau gimana lagi?? Kecoaknya?? Nggak, saya nggak kasian sama sekali ><). Akhirnya setelah berkali-kali muter-muter di kamar untuk memburu kecoa (sampai masuk ke kolong tempat tidur dan berkali-kali dikagetkan dengan serangan langsung kecoak ke arah saya yang saya respon dengan loncat karena saya nggak mau 'disentuh' kecoak lagi), tiba-tiba kecoaknya ilang.
Aaaaaarghhhh..!!! Antara geregetan, gemes, kesel, dan hasrat pengen nimpuk sesuatu. Males banget kan kalau di tengah tidur nyenyak saya harus terganggu dengan kehadirannya lagi?? Tapi nyatanya itu makhluk satu menghilang tanpa jejak. Akhirnya perang harus berakhir tanpa kemenangan.
Malam-malam yang seharusnya diisi dengan santai dan bersiap tidur, ternyata harus dilalui dengan sedikit olah raga gara-gara hama kecil menyebalkan yang nyasar ke kamar saya. Kadang-kadang saya merasa kamar saya jadi semacam tempat persinggahan untuk hewan-hewan penyusup. Sebelumnya, saya pernah kejar-kejaran dengan tikus kecil abu-abu yang suka tepe-tepe (mejeng) di atas lemari saya, dua kali. But that's another story. Untuk saat ini, males aja ketika tidur harus diresahkan oleh satu wujud yang bau dan menggelikan seperti kecoak.
Harapan di masa yang akan datang: Nggak ada lagi binatang-binatang yang nyasar ke kamar saya, kecuali kalau memang saya undang... (BeTe)
Karena ... *jengjengjeng (musik drum)* enggak biasanya malam hari saya isi dengan berburu kecoak.
Yeah, berburu kecoak. Lebih tepatnya, terpaksa berburu kecoak di kamar saya. Can you believe it??
Sekitar jam 23.20 malam, lagi enak-enaknya nonton tivi sendirian, saya dikejutkan oleh sebuah siluet di atas kepala saya. Hewan bersayap yang ukurannya lumayan gede dan terbang dengan tergesa-gesa ke tirai jendela. Oke. Saya pikir itu kupu-kupu, minimal ngengat lah, soalnya seinget saya warnanya coklat. Tapi kok setelah saya selidiki (dengan menjulurkan kepala dan memincingkan mata untuk melihat dengan jelas), saya baru sadar kalo hewan itu adalah kecoak. Yak! Benar sekali. Memang kecoa.
Bagi yang nggak percaya kalau kecoak bisa terbang, trust me! Saya sudah menyaksikan lebih dari 3 kali kalau kecoak memang kadang-kadang suka berharap nyaingin kupu-kupu. Hobinya loncat sana loncat sini dengan sayap bergetar yang, yah.. pretty much looks like flying. Bagi yang percaya, baguslah. Berarti saya nggak berhalusinasi. Jadi, saya langsung mikir, 'what the hell??'. Ngapain ni kecoak malem-malem hang-out di kamar saya? Nggak tau juga datang dari mana, masa tau-tau nongol? perasaan juga dikunci pintu sama jendelanya... Benar-benar kecoak yang kurang kerjaan.
Jadi, saya perhatikan gerak-geriknya. Pertama-tama, dia cuma nggremet (merambat) di sepanjang gorden jendela. Lalu tiba-tiba, kesannya kayak sok pamer gitu, kecoaknya terbang menyeberangi ruangan, melewati atas badan saya. Wuzzzz.. saya langsung dalam posisi siaga. Hmmm.. kecoak sebenarnya bukan hewan yang paling menyebalkan buat saya, selama mereka masih menghormati privasi saya dan nggak mengganggu. Tapi yang ini?? Pengecualian!! Saya nggak suka tiba-tiba ada intruder di kamar saya, bikin geli pula. Alhasil, saya siap-siap menyerang. Tapi ternyata, lama saya tunggu kecoaknya tetep stay di lantai bawah kasur dan nggak keliatan lagi. Okelah kalau gini, saya cukup tidak merasa terganggu, meskipun rasa sebel masih ada.
Di tengah menikmati film di tivi yang cukup menegangkan, tau-tau ada sesuatu yang nggremet di kaki saya. Awalnya saya pikir semut. Tapi saya langsung ingat kalau tadi ada kecoak terbang, langsung saya tangkis 'sesuatu' di kaki saya itu, yang tiba-tiba langsung pindah ke tangan saya. Great! Saya dirambati kecoak.. T^T *sesuatu yang tidak patut dibanggakan*. Kecoaknya, seakan sadar diri kalau jadi buruan, langsung lari bersembunyi di balik tumpukan majalah saya. Langsung aja saya ambil botol minum dan satu buah buku setebal 4 cm untuk persenjataan. Dan perburuan kecoak pun dimulai.
Saya obrak-abrik tumpukan majalah saya, saya hujam-hujamkan botol minum, tapi masih meleset. Saya pancing kecoaknya keluar dari tempat persembunyian pelan-pelan, dan langsung saya timpuk pake buku. Eh, nggak kena juga (sebenernya kasian sama bukunya, kan sayang kalo kenapa-kenapa. Tapi mau gimana lagi?? Kecoaknya?? Nggak, saya nggak kasian sama sekali ><). Akhirnya setelah berkali-kali muter-muter di kamar untuk memburu kecoa (sampai masuk ke kolong tempat tidur dan berkali-kali dikagetkan dengan serangan langsung kecoak ke arah saya yang saya respon dengan loncat karena saya nggak mau 'disentuh' kecoak lagi), tiba-tiba kecoaknya ilang.
Aaaaaarghhhh..!!! Antara geregetan, gemes, kesel, dan hasrat pengen nimpuk sesuatu. Males banget kan kalau di tengah tidur nyenyak saya harus terganggu dengan kehadirannya lagi?? Tapi nyatanya itu makhluk satu menghilang tanpa jejak. Akhirnya perang harus berakhir tanpa kemenangan.
Malam-malam yang seharusnya diisi dengan santai dan bersiap tidur, ternyata harus dilalui dengan sedikit olah raga gara-gara hama kecil menyebalkan yang nyasar ke kamar saya. Kadang-kadang saya merasa kamar saya jadi semacam tempat persinggahan untuk hewan-hewan penyusup. Sebelumnya, saya pernah kejar-kejaran dengan tikus kecil abu-abu yang suka tepe-tepe (mejeng) di atas lemari saya, dua kali. But that's another story. Untuk saat ini, males aja ketika tidur harus diresahkan oleh satu wujud yang bau dan menggelikan seperti kecoak.
Harapan di masa yang akan datang: Nggak ada lagi binatang-binatang yang nyasar ke kamar saya, kecuali kalau memang saya undang... (BeTe)
Labels:
Weird Experience
Subscribe to:
Posts (Atom)



