Friday, August 5, 2011

Bellower's Trip #1 - Depok Beach, Bantul, Jogjakarta






















• 29.07.11 •
© Thanks to Linggasari Rosnilawati, sang juru kamera :)) ©


"Like wave upon the sand
Like day and night
Like birds in flight
Like snowflakes when they land
But you and I are something else
Our friendship's here to stay
Like weeds and rocks and dirty socks
It never goes away!"


Wednesday, July 20, 2011




"You are like a diamond, a rough diamond
Only covered in dirt so you can't see it for yourself ..

And I'm like the one who discovered you
My role is to help you slowly scrape away the caked-on dirt
until we get to the diamond itself."


Taken from the book "Get Me Out of Here (My Recovery from Borderline Personality Disorder)
by Rachel Reiland

Tuesday, June 28, 2011

I Miss the Melodies ..

Baru saya menyadari sudah berbulan-bulan hobi saya (sok) bermusik terabaikan.. *sigh

I miss my piano (baca: keyboard dengan mode piano). I miss playing my inspiring sheets (baca: musik bagus yang setelah saya mainkan jadi abstrak). I miss my days.. T.T
Sudah beberapa bulan ini saya nggak pernah menyalurkan hobi bermusik saya yang pas-pasan itu. Entah kenapa, sejak saya mendapatkan SKL dulu, saya jarang banget menghabiskan waktu duduk di depan keyboard dan berusaha menjalin not-not kusut yang ada di pikiran saya jadi satu lagu. Apa karena sejak waktu itu saya begitu galau memikirkan masa depan (tsahhhh..) dan jadi nggak mood menyalurkan hobi? Damn, saya menyesallll...!! Saya menyesal karena sekarang saya sudah lupa hampir semua not yang ada di kepala saya.. And reality hits me! I need to learn (again).. *semakin sigh

Sekarang setiap duduk di depan keyboard bawaannya maleeeeessss mulu.. Mau maen lagu apa gitu, setengah jalan langsung nggak minat. Apakah interest saya sudah turun? Atau saya nggak mau main lagi? Nggak mungkin ah.. Terus?? Apakah gara-gara pikiran saya memang terlalu disibukkan dengan masa depan jadinya rada-rada buntu buat melakukan hal yang sedikit membutuhkan effort?

I'm telling you, maen keyboard buat saya nggak segampang mencet tuts dan menghasilkan nada. It's stressful!! Dulu saya butuh satu bulan dan setiap hari latihan hanya untuk memfasihkan dua lembar sheet music Schubert's Piano Sonata in A minor (bayangkan! cuma dua lembar!!). Dan sekarang saya bahkan nggak bisa inget notnya apa aja.. Oh, my god.. It's so pathetic.. -____-"


Dengan background saya yang amatiran kelas teri ini, memainkan keyboard/piano sama dengan siap-emosi-tingkat-tinggi-kalo-nggak-bisa-bisa. Saya inget saya bisa sewot sepanjang hari gara-gara nggak bisa memainkan beberapa measure dengan benar, atau lebih parah lagi, tangan kanan dan kiri nggak mau koordinasi. Dulu koleksi score yang sering saya donlot di internet akan saya print dan pelajari, saya timbang-timbang, kira-kira mana yang lebih gampang dan bisa dilatih dulu. Tapi sekarang? Semua terbengkalai. Ngoleksi doang tapi nggak pernah dimainin. Ah, shoot..
Sepertinya kebutuhan sekunder yang sempat berubah jadi kebutuhan tersier ini akan bergeser lagi jadi kebutuhan sangat amat tersier. T.T

Pengen main lagi..!! Dan pengen bisa latihan lagu susah lagi..!! *something quite impossible this time* *cakar guling-guling*

Thursday, June 9, 2011

Mungkin Tangannya Kepleset?? Oh, I Don't Think So..

Ketika maen ke kosan salah satu teman saya, saya menemukan buku ini: "Mengubah Kepribadian melalui Tulisan Tangan". Yak! Graphology, atau ilmu yang mempelajari tulisan tangan memang pernah saya dengar sebelumnya. Bagi kami mahasiswa psikologi, sedikit banyak ilmu ini pasti familiar. Bahkan nggak sedikit orang yang mengasosiasikan lulusan psikologi sebagai 'cenayang' yang bisa membaca tulisan tangan, tanda tangan, dan hal-hal terkait itu. Padahal kalau dipikir-pikir, sebenarnya graphology adalah cabang ilmu yang berbeda. Setidaknya berdasarkan buku Vimala Rodgers ini. :))

Jadi, apa yang saya pelajari??
First of all, impression saya dulu terhadap orang yang bisa membaca karakteristik orang melalui tulisan tangan. Sekitar semester awal kuliah, saya terpesona oleh salah satu dosen saya yang suka menunjukkan kemampuannya dalam membaca orang lewat penampilan dan tulisan tangannya. Suatu waktu, kami sedang melakukan semacam study tour ke Rumah Sakit Jiwa yang terkenal di Jogja di daerah Pakem, dan melanjutkan perjalanan itu ke Magelang. Di bis, bapak dosen yang terkenal menyenangkan ini membuat suasana tambah rame dengan melakukan 'penerawangan karakter'. Bingung?? Yeah? Jadi gini. Dosen saya itu menunjuk satu orang mahasiswa yang duduk di belakang sendiri, dan mencoba membacakan karakteristiknya. Singkatnya, beliau mengungkapkan karakteristik tersebut berdasarkan cara berpakaian teman saya itu. Eh, setelah dibeberkan semuanya, orang yang 'diterawang' mengakui kalau apa yang disebutkan dosen saya benar adanya. Kami terkagum-kagum. Yang muncul di pikiran saya pertama kali: "Huwaaaaa.. Pak Y keren bangetttt..!!!". Dan untuk membuktikan kebenarannya, dosen saya itu mengulang prosesnya pada mahasiswa lain.
Dari situ bapak dosen mulai bercerita tentang keanekaragaman ilmu psikologi. Intinya, ilmu psikologi itu bisa diterapkan dalam berbagai macam hal. Bahkan saat itu yang belum cukup familiar dan sangat menarik buat saya adalah psikologi warna. :D
Surprisingly, di tengah-tengah perjalanan yang membosankan, dosen saya itu membuat sebuah hiburan dengan membaca tanda tangan mahasiswa yang ada di KTP. Langsung deh banyak yang ngantri, terutama mahasiswa cewek. Saya sebenernya sangat tertarik, tapi waktu itu belum kesampaian karena sudah keburu sampai lokasi dan kemepetan waktu. :(

Dari situlah saya mulai mengenal graphology, didukung oleh ketemunya salah satu buku bersampul warna hijau di perpustakaan kampus yang mengungkap pengetahuan tentang graphology, sayangnya belum sempet saya baca. Buku itu selalu kalah kesempatan kalau disandingkan bacaan buat bahan skripsi (karena terpaksa). -_____-
Pokoknya, sedikitnya saya tau tentang graphology. Dan sekarang tiba-tiba saya menemukan satu buku ini yang nggak hanya mengungkap tentang graphology tapi juga gimana cara mengubah kepribadian lewat itu. Ok. That's the first.. :O

Jadi, pada intinya, si Vimala Rodgers ini menginterpretasikan makna di balik penulisan sebuah huruf. Simple-nya gini: si Rodgers ini membagi abjad menjadi kelompok-kelompok. Ada abjad yang menunjukkan cara komunikasi, pembelajaran, evaluasi diri, kreativitas, status, penghargaan, bahkan kepercayaan diri seseorang. Nah, dari sini, Rodgers menjelaskan typical penulisan huruf tertentu dan makna dari cara penulisan itu. Oke. Sampai di sini yang kita dapatkan adalah pengetahuan dan pemahaman tentang huruf. Tapi ternyata buku ini nggak berhenti di situ. Rodgers juga menyusun sebuah konsep graphoteraphy, yang intinya adalah terapi tulisan tangan. Singkatnya gini deh: Vimala Rodgers ini menciptakan sebuah konsep penulisan alfabet yang dinamakannya Abjad Vimala. Jadi menurutnya, abjad-abjad ini adalah penulisan sebuah huruf secara ideal yang nantinya dapat memaksimalkan potensi yang ada di diri kita. Kalau kata Pak Mario Teguh sih untuk menciptakan kepribadian yang super. Pokoknya, kalau tulisan kita masih ada yang belum sesuai dengan cara penulisan abjad Vimala, suggestion-nya si Rodgers, kita disuruh berlatih untuk menulis huruf dengan cara seperti itu. Tapi satu hal yang pasti: butuh determinasi dan waktu. Saya sudah nyoba dan sumpah ya, susah banget mengubah kebiasaan menulis dengan huruf-huruf baru. Terutama untuk orang dewasa yang notabene sudah cenderung menemukan self-identity dibandingkan remaja yang masih labil dan suka gonta-ganti tulisan. Belum lagi halangan estetis (saya pribadi) yang sering merasa hurufnya kurang oke dan kurang enak dipandang. *sigh

Jujur saya tertarik dengan graphoteraphy. Keknya seru mengubah kepribadian hanya lewat tulisan tangan. Belum lagi pengetahuan bahwa ternyata penggunaan kertas, margin, tanda tangan, lup, ataupun ligatur juga berperan besar dalam manifestasi kepribadian seseorang. Buku ini sangat menggelitik, terutama untuk orang-orang yang punya permasalahan self-empowering dan ternyata menemukannya dalam deskripsi abjad, termasuk saya. Cuma dalam benak saya masih ada yang agak diragukan. See, Rodgers adalah orang barat. Standar kebiasaan menulis yang dia ungkapkan di buku bisa dibilang karakteristik tulisan tangan orang barat yang biasanya latin, atau huruf tegak bersambung (iya nggak sih?? O.oa) yang biasa kita tulis dalam pelajaran bahasa Indonesia SD dengan kertas khusus. Nah, setahu saya, orang Indonesia mah kebanyakan nulisnya pake huruf putus-putus a.k.a bukan latin. Pastinya ada perbedaan dong, coz however, details make differences. Jadi itu yang membuat saya agak bingung. Apa kemudian saya yang sukanya nulis dengan huruf putus-putus harus nulis latin karena ini? Atau jangan-jangan malah konsep kalau nulis huruf putus semua adalah salah? Masak kita mau menyalahkan sistem kita? Ini kan udah pelajaran dari SD, jadi nggak bisa main salah-salahan juga karena ada unsur budaya.
Intinya, kayaknya bakalan menarik kalau nantinya ada penelitian tentang graphology dan terapannya di Indonesia. Mungkin bisa dibandingkan dengan hasil penelitian yang ada di luar sana. Bisa jadi nantinya akan ada buku tentang graphoteraphy yang dibikin oleh orang Indonesia dan bisa diterapkan 100% di Indonesia..
I really hope so.. :DDD

Tuesday, June 7, 2011

I Dare Enough to Talk to Strangers

Beberapa waktu lalu saya dikenalkan dengan sebuah situs chat oleh teman saya. Situs chat ini menurut saya beda. Well, cause we're talking to strangers. Real strangers from around the world! Demi keamanan (nggak pengen dianggap menyesatkan atau malah dianggap promosi, nama situsnya nggak usah disebutin deh ya.. :p)
Pertama-tama, entah apa yang membuat saya pengen nyoba situs ini. Secara kan saya orang yang paling nggak suka ketidakjelasan, apalagi saya nggak hobi chatting (kecuali sama yang dikenal, itu aja jarang). Mungkinkah karena cerita temen saya itu yang pengalamannya bisa dikategorikan sebagai pengalaman cukup fantastis jadi mempengaruhi saya?? Hmm.. entahlah.. Mungkin karena saya begitu kurang kerjaan saat ini dan ingin mencoba hal baru.

So, basically, saya nyoba chatting di situs ini. And as I said, yang kita ajak bicara bener-bener asing. Nggak ada nickname, nggak ada info apapun. Bener-bener random chat. Satu hal lagi, sekali koneksi keputus, berakhir sudah lah percakapan itu. Kemungkinan besar kita nggak akan bisa ngobrol lagi kalau nggak tukar info satu sama lain. Jadi pas mulai dari awal lagi, yang diajak ngomong udah beda. Awalnya, sempet merasa aneh karena sumpah, orang-orang yang saya temuin sangat bervariasi. Mulai dari yang super geje, agak geje, sampai yang normal, dan yang terbaik, menyenangkan. Dan trust me, kebanyakan dari mereka adalah geje.. (-____-)
Situs ini cocok banget buat orang yang suka ngerjain orang. Saya pernah dikerjain satu kali, tapi bersyukur saya nggak kemakan umpannya. Ujung-ujungnya, sebelum saya nanya lebih lanjut, dia udah ngaku duluan. Jiaaahhh~
Untuk saya yang termasuk 'lurus', situs ini jadi sebuah cobaan karena di dalamnya banyak yang ngajak aneh-aneh. Terkadang belom-belom malah udah bikin ilfil. So, mesti pinter-pinter milih temen ngomong. Biasanya, kalau udah menjurus ke hal-hal yang aneh, langsung saya disconnect. Dari sini sebenernya kita bisa lihat mana yang niatnya beneran pengen ngobrol, ato niatan yang lain. Dan saya juga bisa belajar gimana caranya mendapatkan teman ngobrol yang sesuai dan nggak aneh-aneh, yang bener2 bisa memberikan kenyamanan dalam bertukar informasi.
Satu pengalaman menyebalkan adalah ketika saya sudah enjoy ngobrol dengan satu orang, dan menurut saya dia termasuk orang yang nice, tiba-tiba tanpa sengaja saya menekan backspace. Sial! Komunikasi terputus dan saya bahkan nggak pernah tau page dia apa. Nyesel banget! Apalagi sebelumnya dia udah sempat tanya page saya. Dasarnya saya punya prinsip 'you can't be too careful' di sini, jadinya permintaan itu saya hindari, dan dia merespon dengan santai dan sopan. And yeah! hilang sudah kesempatan dapat teman ngobrol yang lucu dan nyambung *sigh*. And believe me, kecelakaan kayak gitu nggak cuma terjadi satu kali.. T.T
Sekali saya dapet temen chatting orang Indo.. Rasanya ternyata emang beda ya.. Dan ternyata yang saya ajak chatting anak 16 tahun, baru lulus SMP (Oh! Ternyata kerjaan anak lulus SMP saat ini adalah ngerjain orang). Jujur jadinya ngaco banget! Ngakak terus dari awal sampe akhir. Mungkin karena pada dasarnya sense of humor-nya sama? Atau karena anaknya terlalu polos dan jujur? Ujung-ujungnya chat harus diakhiri karena dia dipanggil ibunya dan suruh ke minimarket.. xD

Sedikit banyak, pengalaman aneh ini bisa saya jadikan pembelajaran. Mulai dari beberapa orang yang setelah denger saya dari Indonesia, langsung disconnect. Atau beberapa yang nggak ngerti di Indonesia kayak gimana, biasanya malah saya jadi numpang promosi. Atau mungkin curhat gimana perasaan saya ketika orang-orang (bule) pada tau Bali tapi mereka nggak ngerti Indonesia di sebelah mananya Bali.
Yah, meskipun sejujurnya chatting kayak gini agak wasting time, secara kalau udah keasyikan ngobrol jadi keterusan, saya nggak pengen addicted. Berharap ini cuma jadi selingan aja ketika bingung gimana harus membunuh waktu. Dan berharap juga, semoga nantinya nggak nemu orang yang aneh-aneh dan bikin ilfil. :)))

Tuesday, May 24, 2011

I Couldn't Find Happiness in the Closet, Where is It??

Beberapa kali saya menonton film The Pursuit of Happyness. Beberapa kali juga saya menangis melihat perjuangan seorang ayah yang rela melakukan apapun untuk kebahagiaan putra satu-satunya.

Seperti itukah perjuangan yang sesungguhnya? Selama ini berani-beraninya saya bertanya-tanya, apakah yang saya lalui selama ini sudah cukup berat?
Tak bisa dipungkiri kalau saya sering mengeluh dalam melakukan sesuatu. Tak bisa saya tolak kalau selama ini saya sering merasa lelah dengan apa yang saya lakukan. Tapi saya tidak menyadari bahwa terkadang apa yang saya lakukan sama sekali tidak sesulit yang saya keluhkan. Saya hanya kurang bisa membuka mata dan melihat sekitar saya. Saya hanya kurang  bisa melihat perjuangan orang lain yang lebih besar dari saya.

Pernah saya merasa bahwa Tuhan tidak adil. Pernah saya merasa bahwa sudah seharusnya saya mendapatkan apa yang saya inginkan selama ini. Dan sekarang, pantaskah saya bilang seperti itu?

Saya punya banyak mimpi. Saya punya cita-cita. Dan saya yakin suatu hari saya bisa mencapai semua yang saya cita-citakan itu. Saya tak ubahnya sosok ayah dalam "Pursuit of Happyness" yang mencoba mencari kebahagiaan dalam hidup. Bedanya, saya mencari kebahagiaan lebih untuk diri sendiri saat ini. Tapi dia mencari kebahagiaan untuk anaknya, baru dirinya sendiri.

Mungkinkah saya membuka mata di suatu pagi dan menyadari bahwa apa yang saya inginkan tercapai? Bisa jadi. Tapi sampai sejauh ini, belum banyak yang bisa saya rasakan. Pertanyaan lain kemudian muncul. Apakah saya kurang bersyukur?
Manusia tak ubahnya sosok yang addict akan hadiah. Ketika Tuhan memberikan satu, ia akan meminta satu lagi. ketika satu lagi itu sudah tercapai, ia masih berani meminta lagi. Salahkah? Saya tidak bisa menyalahkan karena saya masih sering seperti itu. Saya tidak bisa juga membenarkan karena benar dan salah juga relatif. Lantas?

Saya nggak tahu jawabannya. Yang saya tahu, saya hanya berusaha untuk tidak menjadi orang yang terlalu egois. Saya berusaha untuk menjadi orang yang lebih menghargai apa yang saya punya, dan terutama, lebih melihat apa yang diraih seseorang sebagai buah dari apa yang ia usahakan.
Jadi, saya masih belum mewujudkan beberapa mimpi saya. Hanya satu kemungkinan. Karena saya tidak berusaha sekeras seharusnya. Atau karena saya belum berjuang semaksimal yang saya bisa. Atau yang lebih klise lagi, karena takdir memang belum mengijinkan demikian.

Apa yang mereka bilang itu? Penyesalan selalu datang terlambat?
Ya, ada bagian dari diri saya yang menyesal karena saya tidak menyadari hal ini sedari dulu. Tapi bagian diri saya yang lain meyakinkan saya bahwa tidak ada kata terlambat. Sounds too cliche? Mungkin. Tapi itu yang benar-benar saya rasakan selama ini. Bagaimanapun, cliche adalah bagian dari kehidupan.

Jadi, saat ini saya ingin menyemati diri saya, "You go, Girl!!!"

It's (Not) A Hide-and-Seek

Semua orang memiliki tempat persembunyian. Entah dalam bentuk yang nyata maupun abstrak.

Saya ingat ketika kecil, setiap sudut rumah adalah area permainan. Di bawah meja dapur yang cukup luas, kami (saya dan teman-teman) biasa membuat kemah (atau pura-puranya rumah) yang dibuat dari kain jarik dan dijepit dengan jepitan jemuran di sana-sini. Di bawahnya kami taruh kasur, bantal, selimut, dan menjadikan area tersebut sebagai 'rumah' untuk menyempurnakan pemainan role play keluarga (bapak-ibu-anak) yang akan kami lakukan. Seharian kami bisa berada di dalam tenda. Melakukan hal-hal yang seru (saat itu); masak-masakan, nggosip (peringatan semuanya, kebiasaan nggosip adalah pembelajaran sejak dini), tidur-tiduran, dan baca komik. Kurang penerangan? Tinggal pakai senter atau lampu portabel. Jika sekarang saya melakukan hal yang sama, hmmm.. saya sendiri akan merasa agak kurang waras.
Alasan utama kami membangun tenda itu, selain untuk bermain, adalah untuk bersembunyi. Ya, tempat tertutup yang cukup gelap itu adalah persembunyian bagi kami dari orang-orang dewasa. Yang boleh masuk hanya anak-anak, teman sepermainan (dan cewek!). Saya ingat, ibu saya bahkan nggak boleh mbuka pintu tenda sekalipun.

Saya ingat ketika saya sedang bosan sendirian, bingung mau ngapain, saya akan mengambil satu buku yang bisa dijadikan bacaan dan bersembunyi di area segitiga pojok ruang tamu, dibalik sofa berwarna cokelat tua. Ruang yang sempit memang. Tapi untuk ukuran saya waktu itu (SD), lumayan juga buat duduk bersandar tembok dengan kaki ditekuk atau meringkuk. Bahkan tempat ini adalah tempat persembunyian ketika saya marahan dengan kakak atau orang tua saya. Beberapa hari yang lalu, saya coba 'masuk' pojokan itu lagi, dan ouch! Sudah nggak muat. Saya cuma bisa berdiri di sana, Bahkan untuk duduk pun nggak bisa. (laugh)

Setiap orang tentunya punya tempat persembunyian. Dari kecil, kita punya tempat dimana kita bisa melakukan apapun tanpa orang lain tahu. Tempat rahasia. Tempat kita menangis, menyembunyikan sesuatu, dan tempat kita mencari perlindungan entah dari apapun itu. Saya hampir tidak ingat bahwa dulu saya suka bersembunyi di tempat yang sempit dan gelap. Semakin kecil tempat itu, semakin aman, Syaratnya cuma satu: tempat itu harus familiar. Bahkan bersembunyi di kolong tempat tidur bisa dibilang adalah kegiatan rutin saya.

"Semua permasalahan harus dihadapi", entah sejak kapan saya mempelajari kalimat itu. Pada dasarnya, lambat laun, saya mulai berhenti bersembunyi secara harafiah dan mencoba menyelesaikan apapun yang saya alami dengan berpikir. Setidaknya ketika tiba saatnya untuk bersembunyi, saya melakukannya dengan 'persona'. Apa mungkin tempat persembunyian saya beralih? Yang dulunya bisa ditemukan di sudut-sudut rumah, sekarang hanya bisa ditemukan di sudut kepala saya dimana nggak ada seorangpun yang tahu tanpa saya ingin dia tahu. Hmm.. interesting.

Pada dasarnya, menjadi dewasa adalah berubah. Enaknya menjadi anak kecil adalah ke-simple-an hidup yang kita jalani (setidaknya buat saya). Makan, main, tidur, sekolah, main lagi. Hal yang menjemukkan mungkin hanya mengerjakan PR, belajar buat ulangan, atau marahan dengan teman. Hidup terasa ringan meskipun saat itu masalah kecil = neraka. But then, life's a playground. Semakin dewasa, permasalahan akan terus datang sesuai dengan tugas perkembangan yang kita jalani. Masalah yang dulu lebih sering dihadapi dengan cara dihindari (dan bersembunyi) sekarang harus dihadapi dengan tindakan. No action, no glory. Lucu ketika pada titik tertentu, saya merasa ingin jadi anak kecil lagi, rindu dengan ke-simple-an hidup. Padahal dulu, setengah mati saya ingin cepat tumbuh dan jadi orang dewasa.

Whatever it is, I'm in a new stage. Just say 'Hi', for God sake..
*dalam ke-galau-an yang tak berujung dan keinginan akut untuk 'bersembunyi'*