Sunday, September 11, 2011

That's What Friends are For.. :)




Beberapa hari yang lalu, virus flu memutuskan untuk mengendap di tubuh saya.. Alhasil, beberapa hari berikutnya saya mesti berkutat dengan bersin, batuk, pilek, dan tidur yang sangat tidak nyaman.
Nah, beberapa minggu sebelumnya, saya dan teman-teman sudah punya rencana lebaran ini pengen plesir ke Borobudur. Entah dasarnya kurang kerjaan atau gimana (tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai 'quality time bersama') diputuskanlah tanggal plesirnya sekitar awal September.

Apa mau dikata, virus flu saya bandel. Disaat saya pengen banget bisa menghabiskan waktu di luar rumah dan menghindari 'nglangut', secara tidak langsung si virus malah 'menyuruh' saya diam di rumah dan istirahat. Dengan segala penyesalan, saya harus membatalkan rencana jalan-jalan yang sudah tersusun lama sebelumnya. Aaaargghh~

But hey, saya baru tahu kalau ternyata acaranya malah dibatalkan.. :OO
Pas saya tanya kenapa, teman saya bilang, "Daripada kamu dipaksain ikut terus jadinya nggak asik, mendingan di pending kan? Lagian, rencana berempat harus dilaksanain berempat juga.."
Yah, kurang lebih seperti itu lah..

It's a simple thing.. Tapi saya terharunya bukan main.. Merasa bersalah juga karena gara-gara saya mereka jadi batal jalan-jalan. Memang sih, cuma ke Borobudur doang. Tapi mengumpulkan kami berempat di saat yang sama adalah pekerjaan sulit. Kalo yang satunya bisa yang lainnya ini lah.. Belum lagi sehabis lebaran, kesibukan beberapa orang akan semakin padat.

"Don't worry my friends, I'll make it up to you.. Let's plan our next trip to togetherness."
Setidaknya itu yang bisa saya katakan pada mereka saat ini.. :) *huggles*

Friday, September 9, 2011

Antara 'distress' dan 'depressed'



Akhir-akhir ini saya merasa jadi orang depresi. (-.-)
Wait a minute! Kalau orang ngerasa depresi apakah dia bisa dikategorikan depresi?? Hmm..
Tapi tenang aja, depresi saya bukan jenis depresi yang mengarah ke kecenderungan bunuh diri kok. Kalau yang itu saya nggak berani-berani deh!

So, kenapa saya bisa merasa "depresi"? Oke. Yang pertama, tubuh saya yang bilang sendiri. Rambut saya rontok lebih parah dari biasanya (Oh, no! May haiiiiiirrr...!!! > <). Terus kecenderungan saya yang tidak bersemangat dan rasanya pingin tiduuur terus. Belum lagi saya jadi bad mood sepanjang hari. Gosh, what happened to me?? T.T
Apakah itu semua tanda stress? Entahlah.. Saya belum cari faktanya. Mungkin iya, mungkin juga hanya sugesti. Tapi keadaan ini semakin diperparah dengan imunitas tubuh yang menurun. Saya kena flu (lagi) dalam dua bulan terakhir ini. *sigh*

Anw, akhir-akhir ini dengan bekal internet cepat sementara yang dipasang di rumah, saya jadi sering banget download film. Dan film-film yang akhir-akhir ini saya buru kebanyakan adalah film lama. Let say: Life as A House, The Sisterhood of the Traveling Pants 1 dan 2, What's Eating Gilbert Grape, Finding Neverland, dan beberapa lagi yang kalau disebutin rasanya terlalu panjang.
Dan diantara seabreg film itu, ada satu kesamaan penting: saya kalau nggak terharu nontonnya, mesti nangis! Oh, my.. kayak belum cukup galau yang saya jalani, sekarang malah referensi film saya sedih semua.. hyaaa~
Cuma nggak papa, bisa dijadikan katarsis.. Daripada saya marah atau bete nggak jelas kan?? :p *defense*
Basically, saya yang (ngakunya) pecinta film ini merasa terhina karena banyak banget film-film bagus yang selama ini saya lewatkan. Oke. Memang sih, saya baru bener-bener ngikutin info film beberapa tahun yang lalu. Tapi ternyata setelah ditelusur, film bagus yang saya tonton lebih sedikit dibandingkan film bagus yang belum saya tonton selama ini. Huhuhu

Ngomong-ngomong tentang The Sisterhood of the Traveling Pants, itu film bener-bener saya rekomendasiin. Beberapa waktu yang lalu, saya dapat e-book-nya, cuma masih terlalu malas membaca. Setelah liat filmnya, eh.. gairah untuk mulai baca malah muncul lagi. :))

Thursday, September 1, 2011

Saya nggak mau kata "I Envy You" menjadi kata paten di kepala saya yang siap dikeluarkan sewaktu-waktu! Seriously need to get rid of it!

Goal: GOODBYE, ENVY..!!! *wave

Friday, August 5, 2011

Bellower's Trip #1 - Depok Beach, Bantul, Jogjakarta






















• 29.07.11 •
© Thanks to Linggasari Rosnilawati, sang juru kamera :)) ©


"Like wave upon the sand
Like day and night
Like birds in flight
Like snowflakes when they land
But you and I are something else
Our friendship's here to stay
Like weeds and rocks and dirty socks
It never goes away!"


Wednesday, July 20, 2011




"You are like a diamond, a rough diamond
Only covered in dirt so you can't see it for yourself ..

And I'm like the one who discovered you
My role is to help you slowly scrape away the caked-on dirt
until we get to the diamond itself."


Taken from the book "Get Me Out of Here (My Recovery from Borderline Personality Disorder)
by Rachel Reiland

Tuesday, June 28, 2011

I Miss the Melodies ..

Baru saya menyadari sudah berbulan-bulan hobi saya (sok) bermusik terabaikan.. *sigh

I miss my piano (baca: keyboard dengan mode piano). I miss playing my inspiring sheets (baca: musik bagus yang setelah saya mainkan jadi abstrak). I miss my days.. T.T
Sudah beberapa bulan ini saya nggak pernah menyalurkan hobi bermusik saya yang pas-pasan itu. Entah kenapa, sejak saya mendapatkan SKL dulu, saya jarang banget menghabiskan waktu duduk di depan keyboard dan berusaha menjalin not-not kusut yang ada di pikiran saya jadi satu lagu. Apa karena sejak waktu itu saya begitu galau memikirkan masa depan (tsahhhh..) dan jadi nggak mood menyalurkan hobi? Damn, saya menyesallll...!! Saya menyesal karena sekarang saya sudah lupa hampir semua not yang ada di kepala saya.. And reality hits me! I need to learn (again).. *semakin sigh

Sekarang setiap duduk di depan keyboard bawaannya maleeeeessss mulu.. Mau maen lagu apa gitu, setengah jalan langsung nggak minat. Apakah interest saya sudah turun? Atau saya nggak mau main lagi? Nggak mungkin ah.. Terus?? Apakah gara-gara pikiran saya memang terlalu disibukkan dengan masa depan jadinya rada-rada buntu buat melakukan hal yang sedikit membutuhkan effort?

I'm telling you, maen keyboard buat saya nggak segampang mencet tuts dan menghasilkan nada. It's stressful!! Dulu saya butuh satu bulan dan setiap hari latihan hanya untuk memfasihkan dua lembar sheet music Schubert's Piano Sonata in A minor (bayangkan! cuma dua lembar!!). Dan sekarang saya bahkan nggak bisa inget notnya apa aja.. Oh, my god.. It's so pathetic.. -____-"


Dengan background saya yang amatiran kelas teri ini, memainkan keyboard/piano sama dengan siap-emosi-tingkat-tinggi-kalo-nggak-bisa-bisa. Saya inget saya bisa sewot sepanjang hari gara-gara nggak bisa memainkan beberapa measure dengan benar, atau lebih parah lagi, tangan kanan dan kiri nggak mau koordinasi. Dulu koleksi score yang sering saya donlot di internet akan saya print dan pelajari, saya timbang-timbang, kira-kira mana yang lebih gampang dan bisa dilatih dulu. Tapi sekarang? Semua terbengkalai. Ngoleksi doang tapi nggak pernah dimainin. Ah, shoot..
Sepertinya kebutuhan sekunder yang sempat berubah jadi kebutuhan tersier ini akan bergeser lagi jadi kebutuhan sangat amat tersier. T.T

Pengen main lagi..!! Dan pengen bisa latihan lagu susah lagi..!! *something quite impossible this time* *cakar guling-guling*

Thursday, June 9, 2011

Mungkin Tangannya Kepleset?? Oh, I Don't Think So..

Ketika maen ke kosan salah satu teman saya, saya menemukan buku ini: "Mengubah Kepribadian melalui Tulisan Tangan". Yak! Graphology, atau ilmu yang mempelajari tulisan tangan memang pernah saya dengar sebelumnya. Bagi kami mahasiswa psikologi, sedikit banyak ilmu ini pasti familiar. Bahkan nggak sedikit orang yang mengasosiasikan lulusan psikologi sebagai 'cenayang' yang bisa membaca tulisan tangan, tanda tangan, dan hal-hal terkait itu. Padahal kalau dipikir-pikir, sebenarnya graphology adalah cabang ilmu yang berbeda. Setidaknya berdasarkan buku Vimala Rodgers ini. :))

Jadi, apa yang saya pelajari??
First of all, impression saya dulu terhadap orang yang bisa membaca karakteristik orang melalui tulisan tangan. Sekitar semester awal kuliah, saya terpesona oleh salah satu dosen saya yang suka menunjukkan kemampuannya dalam membaca orang lewat penampilan dan tulisan tangannya. Suatu waktu, kami sedang melakukan semacam study tour ke Rumah Sakit Jiwa yang terkenal di Jogja di daerah Pakem, dan melanjutkan perjalanan itu ke Magelang. Di bis, bapak dosen yang terkenal menyenangkan ini membuat suasana tambah rame dengan melakukan 'penerawangan karakter'. Bingung?? Yeah? Jadi gini. Dosen saya itu menunjuk satu orang mahasiswa yang duduk di belakang sendiri, dan mencoba membacakan karakteristiknya. Singkatnya, beliau mengungkapkan karakteristik tersebut berdasarkan cara berpakaian teman saya itu. Eh, setelah dibeberkan semuanya, orang yang 'diterawang' mengakui kalau apa yang disebutkan dosen saya benar adanya. Kami terkagum-kagum. Yang muncul di pikiran saya pertama kali: "Huwaaaaa.. Pak Y keren bangetttt..!!!". Dan untuk membuktikan kebenarannya, dosen saya itu mengulang prosesnya pada mahasiswa lain.
Dari situ bapak dosen mulai bercerita tentang keanekaragaman ilmu psikologi. Intinya, ilmu psikologi itu bisa diterapkan dalam berbagai macam hal. Bahkan saat itu yang belum cukup familiar dan sangat menarik buat saya adalah psikologi warna. :D
Surprisingly, di tengah-tengah perjalanan yang membosankan, dosen saya itu membuat sebuah hiburan dengan membaca tanda tangan mahasiswa yang ada di KTP. Langsung deh banyak yang ngantri, terutama mahasiswa cewek. Saya sebenernya sangat tertarik, tapi waktu itu belum kesampaian karena sudah keburu sampai lokasi dan kemepetan waktu. :(

Dari situlah saya mulai mengenal graphology, didukung oleh ketemunya salah satu buku bersampul warna hijau di perpustakaan kampus yang mengungkap pengetahuan tentang graphology, sayangnya belum sempet saya baca. Buku itu selalu kalah kesempatan kalau disandingkan bacaan buat bahan skripsi (karena terpaksa). -_____-
Pokoknya, sedikitnya saya tau tentang graphology. Dan sekarang tiba-tiba saya menemukan satu buku ini yang nggak hanya mengungkap tentang graphology tapi juga gimana cara mengubah kepribadian lewat itu. Ok. That's the first.. :O

Jadi, pada intinya, si Vimala Rodgers ini menginterpretasikan makna di balik penulisan sebuah huruf. Simple-nya gini: si Rodgers ini membagi abjad menjadi kelompok-kelompok. Ada abjad yang menunjukkan cara komunikasi, pembelajaran, evaluasi diri, kreativitas, status, penghargaan, bahkan kepercayaan diri seseorang. Nah, dari sini, Rodgers menjelaskan typical penulisan huruf tertentu dan makna dari cara penulisan itu. Oke. Sampai di sini yang kita dapatkan adalah pengetahuan dan pemahaman tentang huruf. Tapi ternyata buku ini nggak berhenti di situ. Rodgers juga menyusun sebuah konsep graphoteraphy, yang intinya adalah terapi tulisan tangan. Singkatnya gini deh: Vimala Rodgers ini menciptakan sebuah konsep penulisan alfabet yang dinamakannya Abjad Vimala. Jadi menurutnya, abjad-abjad ini adalah penulisan sebuah huruf secara ideal yang nantinya dapat memaksimalkan potensi yang ada di diri kita. Kalau kata Pak Mario Teguh sih untuk menciptakan kepribadian yang super. Pokoknya, kalau tulisan kita masih ada yang belum sesuai dengan cara penulisan abjad Vimala, suggestion-nya si Rodgers, kita disuruh berlatih untuk menulis huruf dengan cara seperti itu. Tapi satu hal yang pasti: butuh determinasi dan waktu. Saya sudah nyoba dan sumpah ya, susah banget mengubah kebiasaan menulis dengan huruf-huruf baru. Terutama untuk orang dewasa yang notabene sudah cenderung menemukan self-identity dibandingkan remaja yang masih labil dan suka gonta-ganti tulisan. Belum lagi halangan estetis (saya pribadi) yang sering merasa hurufnya kurang oke dan kurang enak dipandang. *sigh

Jujur saya tertarik dengan graphoteraphy. Keknya seru mengubah kepribadian hanya lewat tulisan tangan. Belum lagi pengetahuan bahwa ternyata penggunaan kertas, margin, tanda tangan, lup, ataupun ligatur juga berperan besar dalam manifestasi kepribadian seseorang. Buku ini sangat menggelitik, terutama untuk orang-orang yang punya permasalahan self-empowering dan ternyata menemukannya dalam deskripsi abjad, termasuk saya. Cuma dalam benak saya masih ada yang agak diragukan. See, Rodgers adalah orang barat. Standar kebiasaan menulis yang dia ungkapkan di buku bisa dibilang karakteristik tulisan tangan orang barat yang biasanya latin, atau huruf tegak bersambung (iya nggak sih?? O.oa) yang biasa kita tulis dalam pelajaran bahasa Indonesia SD dengan kertas khusus. Nah, setahu saya, orang Indonesia mah kebanyakan nulisnya pake huruf putus-putus a.k.a bukan latin. Pastinya ada perbedaan dong, coz however, details make differences. Jadi itu yang membuat saya agak bingung. Apa kemudian saya yang sukanya nulis dengan huruf putus-putus harus nulis latin karena ini? Atau jangan-jangan malah konsep kalau nulis huruf putus semua adalah salah? Masak kita mau menyalahkan sistem kita? Ini kan udah pelajaran dari SD, jadi nggak bisa main salah-salahan juga karena ada unsur budaya.
Intinya, kayaknya bakalan menarik kalau nantinya ada penelitian tentang graphology dan terapannya di Indonesia. Mungkin bisa dibandingkan dengan hasil penelitian yang ada di luar sana. Bisa jadi nantinya akan ada buku tentang graphoteraphy yang dibikin oleh orang Indonesia dan bisa diterapkan 100% di Indonesia..
I really hope so.. :DDD