Wednesday, September 4, 2013

THE 4TH BOOK! FINALLY!

Karena hari ini saya lagi nggak ada kerjaan yang jelas, baiklah.. review buku aja deh.. 

Sooo.. beberapa hari yang lalu saya dapat lanjutan buku dari The Lorien Legacies. Buku ke empat lebih tepatnya, yaitu The Fall of Five. Dan memang sudah seperti yang saya duga sebelumnya, rasanya waktu baca buku ini.. saya nggak pengen berhenti baca!! X) Seriously.. this book is addictive!! 
Padahal biasanya saya kalau baca buku bisa aja gitu disambi-sambi. Kadang malah bisa juga baru baca dua halaman, terusin lagi nanti sore, atau malemnya. Pokoknya tergantung mood dan bisa lama banget selesai. Nah ini kok.. saya yang lagi nggak mood aja tetep keukeuh mau nyelesein ini buku karena setiap ending di satu chapter, rasanya terlalu penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Yes, I blame the author for making such a good book to read! huhuhu

Jadi, kalau sudah familiar dengan I Am Number Four, intinya adalah cerita lanjutan dari para Garde planet Loric yang dikejar-kejar sama Mogadorian. Lima Garde (nomor 4, 6, 7, 8, dan 9) dan satu orang Loric lagi yang lebih kecil (dan ternyata adalah nomor 10) pada akhirnya bersatu. Nah, setelah di buku sebelumnya mereka hampir kalah dari petinggi Mogadorian yang bernama Setrakus Ra, mereka sepakat untuk mempersiapkan diri mereka dengan berlatih dan berusaha mengembangkan legacy masing-masing sampai maksimal, sambil mencari nomor 5 yang masih belum bergabung dengan mereka. Intinya begitu lah.. 


Oke, karena kalau saya lanjutkan bisa jadi yang baca malah tambah bingung dengan alurnya yang padat, jadi ringkasannya segitu aja. Pokoknya, buku ini masih menceritakan lanjutan perjuangan mereka untuk bisa menyelamatkan Bumi dan menghidupkan kembali planet mereka, Lorien, yang sudah dihancurkan para Mogadorian. And I'm telling you.. twist ceritanya semakin lama semakin seru. 

Bisa dibilang, buku ini punya banyak tokoh. That's why sudut pandangnya pun juga banyak, nggak cuma satu orang saja. Dan gaya penceritaanya pun kalau saya bilang, sangat, sangat, sangat, sangat, bikin penasaran. 
Entah kenapa sejak saya baca buku pertama, saya udah jatuh cinta sama cara si pengarang menceritakan kisahnya. Antara lucu, tapi seru, dan menghibur sekali. Apalagi waktu itu menggunakan sudut pandang nomor 4 yang masih agak cupu dan naif, tapi sometimes juga bisa humoris. Dan semakin ke sini, semakin terlihat perubahan yang terjadi di setiap tokoh. Berkembangnya kedewasaan mereka dengan peristiwa-peristiwa yang dialami, dan bisa dilihat juga bagaimana pada akhirnya si nomor 4 di The Fall of Five ini juga bisa menjadi sosok pemimpin yang dipercaya oleh Garde lain. 
Dan alurnya, smooth banget! Kalau saya bilang sih, ending di setiap chapter bakalan bikin kita nggak tahan untuk buka halaman selanjutnya. Itulah kenapa pada akhirnya saya harus rela nggak tidur semalam suntuk dan membaca buku ini dari jam 2 sampai jam 6 pagi (meskipun akhirnya terpaksa stop ditengah jalan karena kepala saya udah cleng2an). But yeah. That good! :)

Sebenarnya yang bikin agak rancu adalah filmnya. Saya pernah bahas sebelumnya kalau film adaptasi dari I Am Number Four nggak terlalu bagus, dan beda banget sama bukunya. Beberapa orang yang saya kenal juga akhirnya nggak begitu tertarik baca series ini. Tapi kalau kita kesampingkan adaptasi filmnya (yang agak gagal itu) dan baca bukunya dari awal, sudah pasti bakalan betah mantengin kapan buku lanjutannya akan terbit. Terutama untuk yang suka genre fantasy dan action. Semakin lama pertarungannya juga keren. Bahkan pas baca buku ini, saya mbayangin adegan latihan mereka aja udah keren banget.
Oh iya, satu lagi. Saran saya sih baca yang bahasa Inggris karena entah kenapa bahasanya jauh lebih nyaman daripada yang terjemahan. Biasanya saya baca yang bahasa Inggris dulu, baru nanti saya beli versi bahasa Indonesianya untuk me-refresh sebelum buku lanjutannya terbit. Tapi tetep aja, bahasa asli memang lebih dapet feelnya. Dan joke-nya pun berasa lebih mantep. :D

Oh. Dan Lorien Legacies ini juga dilengkapi dengan novella yang terbit terpisah dari buku-bukunya. So far sepertinya sudah ada enam. Dan isi dari novella ini meskipun terpisah dari cerita utamanya (atau bisa dibilang tidak nyambung secara langsung), bisa menjadi cerita kunci yang membuat kita semakin paham alur keseluruhannya. Misalnya, latar belakang salah satu tokoh yang di buku tidak dijelaskan secara detil, atau masa lalu dari Garde yang akhirnya mengakibatkan mereka jadi seperti sekarang, dll. 
Biasanya novella diterbitkan diantara buku-bukunya. Dan untuk edisi bahasa Indonesia, novella 1-3 disatukan di terjemahkan buku kedua (The Power of Six). Mungkin nanti terjemahan The Fall of Five juga bakalan dikasih novella 4-6. Amiin. So far saya baru baca excerpt-nya yang disediakan di akhir buku. Bikin penasaran sumpah.. -_- Nggantung banget!

Bagi yang suka sci-fi, action, dan petualangan, sepertinya memang wajib mencoba membaca buku ini.. :D

Wednesday, July 31, 2013

Ticketing Stuff


Setelah pengumuman penjualan tiket konser band yang saya tunggu-tunggu akhirnya dikeluarkan juga, rasanya hati ini nggak tenang. Yang pertama, pemindahan venue. Yang tadinya indoor jadi outdoor. Jujur saya sih kecewa berat. Mengingat November dan konser outdoor di Indonesia itu kalau digabungkan auranya agak membahayakan (baca: hujan). Dan lagi band ini berasa lebih gimanaaaaa gitu kalau konsernya indoor. But well, mau gimana lagi? Sudah ada pengumumannya, dan sudah fixed. Mau nggak mau tetep harus diterima meskipun kuciwanya setengah mati.

Yang ke dua, harga tiket. Sejujurnya, saya berharap harga tiketnya jauh lebih mahal dari yang dituliskan sama promotor. Bahkan saya ngarep banget bisa ada zones juga seperti konser yang di KL (dimana di sana zone-nya dibagi menjadi 4). See? Ternyata di sini hanya ada dua jenis tiket dengan selisih harga yang kurang signifikan dan asumsi pertama saya waktu itu, zone-nya setidaknya ada dua lah. Ternyata.. saya salah besar. Hanya ada satu kelas, kelas festival. Dan dua harga yang saya bilang selisihnya kurang signifikan tadi ternyata adalah beda harga antara yang pre-sale dan reguler. Seketika itu juga saya lemes. Kelas festival semua berarti saya harus berjuang supaya bisa nonton di depan sendiri. Terutama dengan sistem pertiketan konser di Indonesia yang nggak ada nomernya, pembagian section masuknya, dan harus ditukarkan di hari-H dengan aturan first come first served. Artinya, saya harus atur strategi biar bisa dapat posisi di paling depan. Baiklah. Kita tinggalkan dulu yang itu karena konsernya juga masih lama.

Dan terakhir, yang paling krusial adalah, berburu tiketnya.
Entah benar atau tidak, tapi saya merasa banyak yang mengeluhkan kinerja dari promotor konser ini. Yah, memang sih, mereka mem-promote tur yang sama di tiga negara berbeda, dan juga masih banyak event (lebih besar) yang mereka selenggarakan. Tapi terkesan sangat suck kalau beberapa hari menjelang penjualan tiket pun tidak ada informasi jelas. Apalagi dari pihak labelnya sudah mengumumkan penjualan tiket akan dilakukan serentak. Dan info yang di Indonesia, meskipun tiketnya sudah ketahuan bakal dibeli dimana, tetap saja informasinya juga belum jelas. Ketar-ketirlah kami, terutama dengan pengalaman fans lainnya yang pernah tidak kebagian tiket. Well, akhirnya saya, teman saya di Jogja, dan dua orang Philippines yang mau nonton bareng di sini juga langsung atur strategi. Tujuannya adalah, kami pengen dapat tiket secepatnya. Biar nggak deg-degan lagi dan semua urusan kelar. Dan Senin kemarin, fiuuhh.. akhirnya semuanya kelar juga. Well.. not really..

Awalnya pengumumannya bilang penjualan tiket dilakukan serentak jam 9 pagi. Ini berita official-nya. Dan ada juga informasi yang didapat sebelumnya kalau penjualan kemarin hanya berlaku online. Jadi kita belum bisa beli secara offline di outlet/kantor yang ditunjuk. Saya sih happy-happy aja karena saya memang tujuannya cari tiket yang online. Apalagi dengan berkurangnya saingan, well.. seneng kan ya? Eh, ternyata, H-1 ada pengumuman kalau pembelian secara online baru bisa dilakukan jam 10 pagi, sedangkan pembelian offline (di kantornya langsung) bisa dilakukan sejak jam 9 pagi. Otomatis saya senewen. Apalagi di grup sudah mulai ribut. Saya semakin stress. Nggak tau apa yang memicu saya stress pokoknya saya pengen dapat cepet-cepet aja.
Setelah kami berempat online dan menunggu sampai sekitar jam setengah 10 kurang, saya sempat mengamati riweuh-nya teman-teman saya yang dari Philippines itu buat cari tiket yang di KL. Antara mupeng karena mereka dapat red zone (which is depan sendiri dan dekat sekali T__T), dan tidak lama setelah mereka dapat, red zone-nya sold out. -__-“ Oke. Saya mulai shock.

Beberapa kali refresh akun saya di situs online penjualan tiketnya, itu event belum available-available juga buat dipesan. Akhirnya sekitar jam setengah 10 lebih sedikit, saya refresh dan taraaaa..!! di sanalah event yang saya cari. Dengan panik saya langsung klik dan ikuti prosedur yang sebelumnya sudah saya pelajari. Sambil berkomunikasi dengan teman-teman saya tentunya, pada dapet apa nggak. Bahkan yang di Jogja juga mback-up-in dengan order juga, in case saya gagal dapat. Bodohnya, karena panik, waktu masuk page opsi pembayaran, saya nggak lihat metode yang bisa saya pilih, dan dengan sangat bego-nya langsung saya back (karena panik jangan-jangan saya lupa mencet apaaa gitu). Akibatnya, saya harus ngulang dari awal lagi dan baru ke dua kalinya saya sadar kalau saya cuma harus scrolling halamannya ke bawah. *tepok jidat* Dan setelah itu, well.. bayar dan akhirnya saya bisa dapet tiket presale-nya. Begitu juga dengan kedua teman yang berjuang di negara lain itu (meskipun mereka semacam lebih riweuh).. :D
Nah, yang mengejutkan, cuma beberapa menit setelah itu, ada pengumuman kalau tiket presale sudah tidak available, habis. Wow. Ternyata cepat juga habisnya. Dan bahkan ada yang laporan kalau sejak counternya di buka jam 9 sampai tiket presale-nya habis itu, yang dilayani di sana baru 11 orang. Cuma mereka yang kebagian. Gee. I didn't expect that.. XD

Dan jadilah hari itu saya malah semacam memantau perkembangan penjualan tiketnya. Well, I can't help it. Lagipula anak-anak grup banyak yang protes dan ribut juga, entah gimana cara bayarnya, harganya berapa, dll (and honestly, that’s kind of annoying). Dan bahkan sekitar siang itu (belum sore pokoknya), ada kabar bahwa dari 3000 kuota yang disediakan, 2000-an udah terjual. Mehh.. Seriously?? :O Saya antara bangga tapi juga jadi nervous besok pas nonton gimana. LOL

Well, yang jelas, kata salah satu yang memantau di kantor penjualan tiket resminya, petugasnya sampai kewalahan ngurusin semua pembeli yang ternyata memang hari itu membludak sekali. Bahkan sempat ada insiden pajak yang harus dibayarkan untuk tiketnya lupa dimasukkan ke harga tiketnya sekalian. Jadilah besok saya pas nonton harus bawa duit pajak buat dibayarkan. XD Dan pihak promotornya pun ikut jualan tiketnya langsung jadinya, tapi cuma di Bandung.

Saya nggak tahu sejauh mana kepopuleran band ini di sini. yang jelas sih jauh, jauuuhh lebih banyak dari awal pertama kali saya suka (ya iyalah~). Waktu itu, dengar namanya pun mungkin orang sudah berasa "ziiiiiinng~, apaan tuh?”. Sekarang? Banyak sekali yang menunggu mereka datang. Bangga, jelas. Tapi harapan saya, semoga yang suka dengan mereka benar-benar suka dan nggak cuma ngikutin arus saja. As I said over and over again, I hate mainstream. And this band's too precious to be one of them. Dan saya berharap semoga tahun depan saya bisa lihat dimanaaa gitu. Mengingat tahun ini saya "belum direstui" untuk bisa nonton di KL atau S'pore. Tapi, dengan terwujudnya beberapa harapan saya di tahun ini, saya semakin yakin kalau tahun depan saya bahkan bisa mengusahakan ke sana.. :3
Well, kepedean sih. tapi biarlah. Amiin~ Dan beruntung sekali beberapa orang di fandom benar-benar bisa menyemangati saya untuk itu. Yeah~ Mungkin kami malah bisa reunian di sana suatu hari (eh, tapi kan belum pernah ketemu langsung ya? apa bisa disebut reunian? XD).

Oh, well..

LET'S WAIT FOR NOVEMBER!! I'M COMING, BABY~!!!! *excited*

Sunday, July 21, 2013

Impulsive Buying. Again.


Beberapa waktu yang lalu, saat saya ke luar kota, ada satu ritual yang lakukan di Bandara. Dan ritual itu adalah book hunting di salah satu toko buku impor yang mudah saja ditemui di sudut-sudut bandara baik di Jakarta maupun di Surabaya (tempat saya pergi waktu itu). Yep, book hunting kali itu menghasilkan dua buah buku yang akhirnya menelan uang saku saya selama ke luar kota 2 hari. No, I'm not complaning.. :D

Anyway, pas di Surabaya, kebetulan penerbangan saya ditunda berapa jam gara-gara semua jadwal penerbangan waktu itu molor. Kami (saya, si bos, dan satu orang klien dari salah satu perusahaan farmasi) akhirnya harus cari tempat santai yang pas untuk menunggu. Pilihan mereka jatuh ke tempat pijat refleksi, sementara saya agak enggan dipencet-pencet meskipun sempat diajak refleksi juga sama si bos. Akhirnya secara impulsif saya putuskan untuk masuk ke toko buku yang letaknya bersebelahan dengan tempat refleksi. 

Sebenarnya, niat saya waktu itu adalah nyari Dualed (buku si Elsie yang pernah saya bahas di sini). Cuma, saya cari-cari sampai stress pun nggak akan ketemu karena setelah saya tanya, bukunya beneran nggak ada. Bahkan di bandara di Jakarta sekalipun saya sudah coba. Belakangan saya tahu kalo pemesanan di toko ini yang online pun bukunya harus diimpor dulu. Ya ampun, Elsie.. Ngenes banget sumpah cuma mau beli bukumu aja.. -_-
Dan dengan demikian, saya otomatis harus kreatif nyari buku apa yang mau saya beli, mengingat, saya bertekad harus keluar membawa 'sesuatu'. 

Pada saat itulah saya melihat ke dua buku ini: Don't You Forget about Me dan Reboot. Buku pertama, genrenya lebih drama (yang setelah saya baca benar2 masuknya ke romcom - romantic comedy). Sedangkan buku ke dua, lebih mengarah ke action sci-fi. Sejenis Dualed lah. Sangat bertolak belakang bukan?
Entah kenapa waktu pegang DYFAM, saya berasa nggak mau ngelepas buku itu karena tag-line yang dijual adalah, "A story for every girl who wishes she'd never met him" yang pas banget sama perasaan saya waktu itu (#eh, malah curhat). The point is, I didn't wanna let go of this book. And there's this Reboot yang pas dibaca sinopsisnya juga oke banget, dan bikin saya dilema. Meskipun sempat terpikir mau cari versi soft-file-nya Reboot aja, akhirnya saya nggak bisa nahan godaan. Dua-duanya saya bawa ke kasir. Ludes deh uang saku saya selama ke Bandung dan Surabaya.. (-__-)"

And here are the reviews:

1. Reboot (by Amy Tintera)



Buku ini berlatar belakang futuristik dan menceritakan tentang Wren Connolly yang setelah ditembak sampai mati di usia 12 tahun, dia bangkit lagi menjadi seorang reboot. Sebenarnya tidak semua orang yang sudah meninggal bisa jadi reboot. Hal ini bisa terkait beberapa hal, termasuk tangguh atau tidaknya orang tersebut semasa hidup. Adanya reboot sendiri diakibatkan oleh virus KDH yang menjangkit manusia. Jika seseorang kena virus itu dan tewas, maka kemungkinan besar ia akan menjadi reboot. Dan mostlyreboot hanya terjadi pada anak-anak dan remaja (jarang sekali orang dewasa menjadi reboot). Dan kalaupun seseorang meninggal tidak karena KDH, masih ada kemungkinan ia tetap me-reboot jika ia pernah beberapa kali terjangkit virus tersebut. Semakin lama seseorang yang sudah meninggal bangkit menjadi reboot, semakin powerful juga sosok reboot tersebut, termasuk semakin tidak mirip sifat mereka dengan manusia. Reboot digambarkan sebagai sosok yang kurang emosional, and well yeah.. pretty much like a robot. Bahkan reboot bisa menyembuhkan diri sendiri ketika mereka terluka. Jika waktu antara meninggal dengan bangkitnya orang tersebut semakin sedikit, sifat-sifat manusia dalam diri mereka cenderung masih terlihat. Reboot-reboot tersebut pada akhirnya akan diberdayakan menjadi tentara oleh HARC (Human Advancement and Repopulation Corporation). Karena bisa dikatakan bahwa sosok reboot sendiri ditakuti manusia awam (karena kekuatan mereka), sehingga setiap tingkah laku reboot juga harus dipantau dan dikontrol.

Wren sendiri mati selama 178 menit dan hal ini menjadikan dia reboot paling mematikan diantara yang lain (karena waktunya paling lama). Selain aktif berperan sebagai soldierreboot dengan nomor diatas 120 juga diberikan tugas untuk men-training reboot-reboot baru, dan Wren adalah salah satunya. Lima tahun kemudian, saat Wren berusia 17 tahun, dia menikmati sekali perannya sebagai seorang trainer reboot baru. Dan sejauh ini, Wren hanya melatih reboot dengan nomor tinggi yang survival skill-nya sudah tidak diragukan lagi. Tapi, seorang reboot baru dengan nomor 22 bernama Callum Reyes membuat Wren penasaran dimana akhirnya ia memutuskan untuk menjadi pelatihnya. Callum, yang hanya meninggal selama 22 menit sebenarnya bisa dibilang sangat manusiawi, jauh berbeda dengan Wren yang sifat-sifat emosionalnya hampir tidak terlihat lagi. Tapi dengan adanya Callum yang cenderung lemah, ditambah sosoknya sangat bawel dan banyak tanya bahkan memiliki tendensi tidak mematuhi peraturan, pada akhirnya Wren diperintahkan untuk  mengeliminasi Callum. Wren yang selama ini adalah reboot “normatif” dan selalu patuh pada perintah yang diberikan, mulai mempertanyakan keputusan yang diberikan kepadanya. Dan dari situ, serta beberapa fakta lain yang ia temukan terkait HARC, rencana pembelotannya dimulai.

Wokeh. Bahasa ulasan saya kaku banget. Saya nggak ngerti gimana mau mbahas dengan bahasa yang cenderung santai. Intinya adalah, buku ini bagus. Saya enjoy baca dari halaman pertama sampai terakhir. Dengan pace yang cepat, saya tidak merasa bosan. Bahkan hanya dalam beberapa hari saja saya sudah tamat baca ini buku (mengingat sekarang saya kalau baca buku cenderung lama). 

Saya bilang sih ide ceritanya cukup oke buat sci-fiI mean, memang sekarang sudah banyak tokoh perempuan yang tough dan jagoan, tapi novel ini entah kenapa bisa memberikan cerita yang cukup fresh buat saya. Dan saya cinta banget sama flow-nya, sumpah. Di awal, Wren yang digambarkan sangat tangguh, dingin, dan kaku, lama-lama setelah bertemu dan bergaul dengan Callum, jadi sosok yang pelan-pelan lebih hangat, lebih emosional. Dan perubahan itu terjadi dengan smooth. Nggak dadakan. Dan saya menikmati banget peran Callum di situ. Meskipun saya nggak sampai jatuh cinta sama Callum seperti saya jatuh cinta sama Peeta di Hunger Games, saya tetap suka sosok Callum yang di saat-saat tertentu bahkan bisa membuktikan kalau dia lebih tough dari Wren.

Buat yang suka sci-fi dan fantasy, bukunya direkomendasikan. Dan setelah saya cek akun si pengarang di twitter, ternyata movie right-nya sudah dibeli sama salah satu production house di Amrik sana. Tapi entah kapan ini buku mau dibikin film. Yang jelas, saya nunggu-nunggu buku ke duanya. Jelas karena ending-nya cukup nggantung dan bikin saya penasaran.

2. Don’t You Forget about Me (by Alexandra Potter)



Well, sebenarnya saya nggak familiar dengan Alexandra Potter karena saya juga jarang sekali sebenarnya baca buku-buku dengan genre romantis (selain Nicholas Sparks dan beberapa chicklit lain). Tapi saya udah bilang kan kalau saya tertarik banget sama buku ini gara-gara judul dan tag-line-nya? Ehm.

Jadi, sedikit review, tokoh utama di buku ini yang namanya Tess, baru saja diputusin sama pacarnya, Seb (yang digambarkan sebagai sosok yang perfect dan oke banget). Jelas karena patah hati, Tess bertanya-tanya kenapa si Seb sampai bisa mutusin dia. Bahkan dia mulai mengingat-ingat salahnya apa sampai-sampai hubungan mereka harus berakhir. Akhirnya, di suatu malam Tahun Baru, sendirian di apartemen, dan sambil memilah-milah barang-barang kenangannya dengan Seb, Tess melakukan sebuah ritual yang menurut salah satu saluran TV merupakan ritual tahun baru masyarakat tertentu. Tess membakar semua barang kenangannya ke perapian sambil berharap dia nggak pernah ketemu dengan Seb. Dan pagi harinya, dia baru sadar kalau permohonannya terkabul. Merasa mendapatkan kesempatan ke dua untuk memperbaiki hubungannya dengan Seb, Tess lalu merencanakan dengan matang setiap langkahnya untuk merebut hati pujaannya.

Well, cukup klise sih ceritanya kalau saya bilang. Bahkan bisa dibilang, formulanya sudah banyak ditemui di film-film Hollywood. Tapi memang yang menarik dari buku ini adalah cara penceritaannya. Meskipun saya pada dasarnya nggak nge-fan banget sama tokoh utamanya (si Tess ini), ada beberapa bagian yang bisa membuat saya terharu sampai menitikkan air mata. Dan ending-nya, well.. pastinya sudah bisa ditebak happy ending

Saya sih merasa buku ini mengajarkan kepada kita para wanita untuk tetap move on meskipun patah hati, sakit hati, marah dan benci-sebencinya kalau pas diputusin misalnya. Dan satu kalimat yang saya suka sekali dari sini adalah, “You need both the sun and the rain to make a rainbow”..

Direkomendasikan bagi yang suka chicklit. Tapi saya sih tidak menganggap buku ini spesial-spesial banget.. :D
Jujur saya malah agak kecewa dengan ceritanya. Sebenarnya lebih karena saya sudah punya ekspektasi tersendiri dengan jalan ceritanya (mengingat dari proses awal beli pun sebenarnya katarsis banget). Bayangan saya si Tess beneran amnesia dan nggak inget pernah pacaran sama si Seb (seriously, this was totally on my mind), eh, ternyata yang “amnesia” malah semua orang selain Tess sendiri. Nggak asik sih.. XD But well, it’s a good read. Bacaan yang ringan dan menghibur..

***

Dua buku yang saya review memang njegleg banget. Bahkan genre-nya sangat jauh.. Tapi karena saya lebih suka buku-buku petualangan dan fantasy, saya lebih suka Reboot-nya. Dan saya bersyukur banget feeling saya tidak membiarkan buku itu lepas dari genggaman. Meskipun buku ke dua belinya dengan latar belakang emosional yang luar biasa..
And the funny thing is, dua karakter di kedua buku ini punya nama belakang yang mirip;  Wren Connolly dan Tess Connelly. How weird is that? :p
Maybe these books were meant to be bought together by me.. *maksa*


Well, then. Sekarang target saya adalah menyelesaikan Awaken-nya Meg Cabot.
Oh iya. Dan saya sudah baca Inferno punya Dan Brown.. Bagus! Meskipun seolah butuh waktu bertahun-tahun buat menyelesaikan buku itu saking lamanya. *lol* Tapi Angels & Demons tetap menjadi buku favorit saya dari pengarang yang satu ini.. :D


So, grab a book and start reading.. :)

Monday, June 10, 2013

THE BIG DREAM IS COMING..!!!


Sorry. Saya nggak bisa santai nulis judulnya.. *lol*

Baru beberapa waktu yang lalu saya ngomongin hal ini, dan ternyata hari ini saya sudah mendapatkan jawabannya..

YES!! NOTE IT!! MY BIG DREAM IS COMING TRUE!! 
One of many at least.. :)

Jadi, hari ini, sehabis interview satu orang di kantor, saya kembali ke meja dan entah kenapa rasanya pengen banget ngecek News Feed di FB. Padahal biasanya saya males banget ngecek News Feed. Dan ternyata, setelah saya buka.. JENGJENGJEEEEENGG!!
Konser yang saya tunggu-tunggu kedatangannya diumumkan. Dan reaksi saya waktu itu adalah shock. Nggak berasa badan saya udah gemeteran saking seneng dan nggak percayanya. Bahkan beberapa jam setelah itu perasaan saya masih nggak tenang.

So, langkah selanjutnya saat itu adalah membawa hysterical gara-gara hal ini ke fandom tumblr dan saya malah semakin histeris. Bersama dengan fans lainnya. Great. Sebelum semuanya berakhir saya nggak akan bisa tenang.. Seriously.. -___-

But the point is, saya jadi lebih percaya sama firasat! Feeling! Apapun sebutannya itu!
See? Saya sudah menunggu konser ini dari tahun kemaren. Bahkan sebenarnya berharap mereka udah datang sejak dulu. Tapi ternyata masih belum bisa. Popularitas mereka belum terlalu naik (seperti sekarang) dan mereka masih memilih negara-negara yang terhitung common untuk didatengin sama band Jepang; Korea, Taiwan, dan Singapore. Pupuslah harapan saya headbang massal tahun lalu..

Dan akhirnya awal tahun 2013, saya memastikan kepada diri sendiri bahwa mereka pasti bakalan ke sini, apapun yang terjadi. Lalu kemudian, single dan album mulai keluar dimana diantaranya padat jadwal recording. Dan setelah itu festival. Belum lagi sekarang masih ada national tour. Dan akhir-akhir ini ada pengumuman European Tour. Oh God. Saya sempat khawatir keinginan saya harus dipending untuk tahun depan, tapi tetap percaya mereka ke sini secepatnya. Dan ternyata… O YEAH~!!! Betapa bahagianya saya Amuse mengumumkan Asia Tour dan Indonesia masuk di dalamnya.. :3

Sebenarnya saya masih belum santai. Perjuangan masih cukup panjang. Yang paling menakutkan adalah ticket war! Mungkin seharusnya nggak terlalu khawatir seperti itu sih. Tapi masalahnya, fandom band ini terlalu loyal dan bahkan fans dari luar Indonesia pun niat banget mau dateng ke konser yang di sini. Mau nggak mau saya harus bener-bener siap mental untuk rebutan. Belum lagi, hal ini diperparah dengan fakta bahwa tiket European Tour yang dijual beberapa waktu lalu langsung ludes dalam kisaran waktu 2 menit (dan akhirnya pihak promotor nambah tanggal lagi setelah di-"abuse" sama fans yang nggak kebagian tiket). WHAT THE..??!! Sah sah saja kan saya jadi parno begini? -_-

Well then. Yang jelas, salah satu mimpi saya mulai terlihat. Meskipun belum sepenuhnya tergenggam, saya jadi lebih percaya dengan keyakinan. Mungkin gambar yang saya bayangkan di kepala saya setiap malam itu akan berbuah manis. I hope so.. I really hope so.. 
And now.. Prepare for the battle!!! *pasang ikat kepala* *aktifkan radar*

Monday, May 27, 2013

Festival. Tribute. And of course.. Dreams.

  1. Sudah sejak beberapa bulan lalu, di grup sempat ramai bahwa tanggal 25-26 Mei 2013 akan ada festival Jepang Ennichisai dan rencananya, bakalan ada performance dari beberapa band yang akan membawakan lagu-lagu dari band favorit saya. Oke. Saya tertarik sih, tapi sebatas itu aja. Nggak ada rencana lebih jauh apakah saya nanti mau nonton, atau saya lewatkan begitu saja.

  2. Sekitar dua bulan yang lalu, sempat heboh kabar dari salah seorang vokalis band alternative di Indonesia yang saat itu lagi ke Jepang dan nonton band favorit saya manggung (bahkan ketemu personilnya langsung). Orang ini bilang kalau mereka bakalan ke sini dua bulan lagi! Hell! Tentu saja orang tersebut bikin fandom Indonesia geger. Belum lagi semua langsung pada nggak santai dan menebak-nebak kapan mereka bakalan datang. But then, there weren’t any official news, dan pada akhirnya, isunya berlalu (meskipun kadang masih ramai dibicarakan).

  3. Sebulan yang lalu sepertinya, salah seorang admin grup yang memang sangat getol meminta kami semua datang ke Ennichisai untuk support acara tribute-nya, dapat kabar yang cukup bikin shock. Katanya, pihak Ennichisai sudah bicara dengan direktur dari label band favorit saya di Jepang itu dan akan mengirimkan footage acara tribute-nya nanti. Yang bikin nggak santai adalah, kalau mereka lihat dan merasa bahwa antusiasme penonton di sini tinggi, mereka bakal merencanakan untuk konser ke sini, soon.

    Reaksi saya atas berita-berita di atas:
  1. Hmmm.. saya biasa aja dengerin yang ini. I mean, sudah banyak sih festival-festival yang ada, dan band yang mengcover band favorit saya itu sudah banyak. Jadi saya nggak merasa ini special-special amat.
  1. Galau.Sumpah saya galau gara-gara si vokalis (tidak bertanggung jawab) itu seenaknya menyebar berita yang tidak jelas juntrungannya. Terlebih tidak diikuti dengan informasi yang lebih jelas. Pada akhirnya saya nggak bisa tidur dan bingung. Tapi lama-lama biasa aja sih, terutama setelah otak saya lebih encer dan bisa menganalisis faktor-faktor kemungkinan yang bisa dikaitkan.
  1. Panik.Yang ini jujur yang paling membuat panik. Karena dengan pengumuman itu, mau nggak mau saya harus datang dan nonton. Saya harus berpartisipasi. Malu dong ya rasanya selama ini cuma ngarep mereka datang tapi nggak ada usaha maksimal. Maka dari sinilah, saya bertekad untuk ikutan.

Nah, masalahnya, teman yang saya asumsikan bisa diajak janjian malah nggak bisa datang karena suatu hal. Otomatis saya harus improvisasi. Mencoba mengajak beberapa teman lainnya, saya masih gagal. Pada nolak/nggak bisa semua.
Oke. Mungkin bingung kenapa saya harus ada temennya? Satu, karena saya nggak tau tempatnya. Dua, acaranya malem dan saya nggak mau jadi anak ilang sendirian. Tiga, saya masih belum siap mental menghadapi ramainya suasana di sana sendirian. 

Dan akhirnya jelas sudah. Saya tidak ada temannya. Tapi di hari H, tepatnya hari Minggu kemarin, saya akhirnya berniat ke diri sendiri mau ke sana, entah gimana caranya. Sempat berpikir untuk naik ojek, karena jelas si abang bisa lebih tahu tempatnya. Naik angkot opsi kesekian karena saya nggak yakin juga turunnya dimana. Bisa tanya sih, tapi jiwa petualang saya masih malu-malu buat keluar dari persembunyiannya. Dan naik taksi? Hmm.. ini opsi yang paling mahal dan sebisa mungkin ditekan kemunculannya.

Karena saya bingung menentukan transportasi, akhirnya saya tanya ke salah satu teman kantor saya yang berniat ke sana juga hari Sabtunya (which is sudah lewat). Setelah whatsapp-an, teman saya malah menawarkan bareng karena ternyata hari sebelumnya dia nggak jadi ke sana. Seneng dong ya? Saya sambut dengan riang dan akhirnya kami rencanakan perjalanan hari itu. Dari sore.
Celakanya, saat saya sudah siap berangkat dan tinggal berdiri aja gitu, hujan deras tiba-tiba mengguyur daerah kosan saya. Hujan yang kalau saya prediksi bisa mengakibatkan banjir di jalan sebelah kalau terus-terusan turun sepanjang  hari. Agak putus asa, saya akhirnya panik. Jadi apa enggak?! Mana teman saya nggak bisa dihibungi. Setelah menunggu reda dan minta kepastian (tentunya dengan susah payah dan berkali-kali ada keinginan mbanting HP saking keselnya), akhirnya kami berangkat juga, janjian di satu tempat.

Sampai sana, oh my God.. Ramainya melebihi job fair. Kami hampir nggak bisa gerak. Rencananya saya sama temen saya ini mau misah. Dia ada janji sama temennya yang lain, dan saya jelas mau nongkrongin panggung sambil nunggu acaranya mulai. Dan setelah telpon-telponan dengan si admin beberapa kali (karena benar-benar kami seperti anak ilang dan tidak tau arah), sampailah juga di depan panggung setelah bersusah payah menyeruak kerumunan. Suasana sudah ramai. Dan segera saat acara mau mulai, saya ditinggal teman saya sendirian.

Dan di sinilah bagian yang tidak terduga. Saya bisa enjoyeven saya nggak kenal sama sekali sama samping kanan, kiri, depan, dan belakang saya. Orang-orang itu asing semua. Tapi saat semua band-nya perform, kami punya kesamaan, sama-sama antusias. Nggak kebayang deh gimana lost control-nya saya waktu itu. Mungkin orang yang kenal saya nggak akan nyangka saya bisa jumpingheadbang, sampai nyanyi sekenceng mungkin yang akhirnya membuat tenggorokan saya sakit dan suara saya habis. But hey, I had fun. Dan meskipun akhirnya saya harus rela pulang naik taksi karena kaki saya rasanya sudah nggak karuan, plus saya hari itu cuma makan satu kali (sebelum nonton itu), tak apalah.. Saya lebih pengen berharap bahwa apa yang saya lakukan nggak sia-sia. Saya cuma pengen satu: keinginan saya yang sedari dulu saya bangun dalam mimpi itu bisa jadi kenyataan.

I know it seems silly. Mungkin beberapa menganggap hal itu tidak penting. But they’re my energy. Salah satu hal yang bisa membuat saya waras ditengah ketidakwarasan. Dan meskipun untuk orang lain perencanaan yang saya lakukan cukup remeh temeh, saya merasa “alangan” yang saya hadapi sebelumnya menjadi sebuah bukti yang bisa lebih memantapkan hati bahwa keinginan saya bisa tergenggam sebentar lagi. 

Soon dear, we’ll meet each other soon.. :)

PS. Saya hampir lose control saat berpapasan dengan salah satu cosplayer yang memerankan Jack Frost, karakter animasi satu-satunya yang bisa membuat saya jatuh cinta (#eh). Entah berapa lama saya memandangi masnya dalam diam saat dia lewat. Dua kali bahkan. Tapi saya terlalu tengsin mau minta foto.. -___-"

Sunday, May 19, 2013

Volunteering in AFS Program


Beberapa waktu yang lalu, saya sempat diajak oleh bos saya untuk jadi volunteer seleksi program AFS (American Field Study) di Karawang. Bagi yang belum tahu AFS itu apa, itu lho.. yang waktu kelas 1 atau 2 SMA mungkin ada teman yang menghabiskan waktu sekitar 1 tahun untuk exchange ke luar negeri. Nah, pas ditawarin untuk jadi volunteer seleksi, well, okelah. Karena waktu itu saya cukup nggak enak untuk menolak dan kebetulan juga cukup penasaran prosesnya seperti apa, akhirnya saya terima tawaran tersebut. FYI, si bos ini aktif sekali di program AFS, bahkan kadang kesibukan kantor ikut diriweuhkan sama kesibukannya di program ini. Apalagi ditambah anaknya salah satu Returnee yang dulu sempat pertukaran ke Italy selama sekitar 1 tahun. 
Nah, di program seleksi ini, saya didaulat menjadi interviewer untuk menggali kepribadian si bocah-bocah yang lulus seleksi tahap pertama. Well, mungkin karena dasarnya saya sudah biasa interview orang makanya sama si bos saya diajakin juga. Beberapa teman dari kantor juga diajak sih.. Dan nantinya, di bulan Juni, saya juga diminta menjadi observer untuk seleksi Dinamika Kelompok. Oke, kalau yang ini mungkin karena saya sudah sangat biasa, sampai eneg sepertinya, mantengin simulasi Grup Diskusi melulu… -_-

Nah, akhirnya kemarin, setelah bingung-bingung gimana saya mau ke Karawang hari Minggu-nya karena bagaimanapun panitia harus ngumpul jam 8 pagi sedangkan saya ada di Pancoran yang nun jauh di sana. Mau berangkat jam berapa saya? Belum transportnya yang nggak jelas mau naik apa. 
Akhirnya, permintaan si bos adalah, nginep aja di rumahnya di Bekasi. Well, sempat sih awalnya ragu, dan males tentunya. Karena saya sangat begitu nyamannya menghabiskan waktu di kosan, ngerjain hal-hal yang saya senengin. Tapi, setelah dipertambangkan dan memikirkan jauhnya, saya akhirnya terima juga tawaran si bos. Dan Sabtu malam, saya diantar ke Bekasi oleh salah satu karyawan di kantor yang sudah sering bolak-balik ke bekasi (ke rumah yang dituju). Dan akhirnya juga, hari ini saya mengalaminya; interview calon anak-anak peserta AFS. Dalam prosesnya sendiri, masing-masing interviewer dipasangkan dengan salah satu interviewer lain. Sebenarnya ada dua jenis interview sih tadi; kepribadian dan bahasa Inggris. Tapi saya dapat jatah interview kepribadian. Yang Bahasa Inggris biarlah para Returnee saja yang menghandle.. wkwkwk

Gimana rasanya?
Seru juga. I mean, setiap kali melihat mereka, saya sebenarnya jadi semacam refleksi masa-masa SMA dulu waktu saya mupeng banget ingin ikut program ini tapi masih belum punya nyali. Sumpah saya dulu cemen banget deh anaknya. Krisis PD saya bisa dibilang parah. Setiap mau ikut sesuatu, pikirannya selalu negatif duluan. Bahkan kalau nggak ada temennya nggak mau. Tapi saya bersyukur pada akhirnya memilih masuk psikologi dan memperbaiki diri pelan-pelan. Meskipun ada rasa penyesalan, tapi apa mau dikata. Sudah terlanjur.. <- eh, kok malah jadi curhat?

Anw, waktu saya pertama kali ngomong sama anak-anaknya, errrr.. sumpah! Mereka lucu-lucu banget! X) Dan layaknya proses seleksi pada umumnya, saya pernah mendapatkan anak yang diinterview sangat stand-out sekali, tapi ada juga yang terlalu cupu dan bahkan saya heran kenapa dia bisa lolos tahap seleksi ini. Mendengar jawaban-jawaban mereka juga terkadang rasanya pengen ketawa sendiri. Disamping mereka masih polos, saya juga jadi membayangkan apa jawaban saya kalau saya seumur mereka dulu dan ditanyai pertanyaan yang sama. Apakah saya juga akan membuat interviewer saya ngakak dalam hati? Atau saya justru malah bakalan bikin mereka geleng-geleng saking bingungnya?

Yang pasti, dengan kebiasaan interview kandidat employee suatu perusahaan dan sekarang diharuskan interview anak SMA yang rata-rata masih 15-16 tahun, ekspektasi saya harus sedikit diturunkan. Mungkin yang biasanya dengan jawaban atau attitude tertentu saya bakalan kasih skor 2, di sini saya harus lebih bermurah hati untuk memberikan skor 3 (atau lebih). Kagok sih awalnya, apalagi kalau anak-anaknya ada yang abstrak sekali. Tapi lama-lama menyenangkan juga. Terutama kalau mereka malah jadi curhat.. :D

Yang jelas, pengalaman ini jadi hal yang baru dan cukup menarik buat saya. Meskipun saya harus rela tidur 4 jam saja gara-gara harus ke sana pagi-pagi, berpanas-panas ria di ruang kelas yang AC-nya abal-abal karena nggak kerasa dingin sama sekali, sampai pulangnya harus nahan pening di mobil, masuk angin, dan bahkan kehujanan pas dijemput balik ke kosan. But yeah.. I enjoyed it. Seenggaknya saya jadi tahu besok anak saya kalo ikut-ikut program kayak gini harus nyiapin apa aja.. :3 
Eh, kejauhan ya? Baiklah. Besok kalau saya cari beasiswa setidaknya saya harus tahu mau nyiapin apa.. <- maksa 

Friday, May 17, 2013

Additional Blog


Setelah memutuskan untuk bikin satu blog lagi yang lebih public (which means saya jadinya punya 3 blog termasuk ini), sepertinya saya bakalan jarang nulis di sini. Apalagi sekarang saya lagi hobi bikin gif! Yeah~ I’m in the middle of practicing my gif-ing capability!!! <- bikin istilah sendiri

So, pas weekend panjang kemarin, kebetulan saya memutuskan untuk pulang ke Jogja. Dan ternyata, setelah berhasil ketemu dengan sahabat saya yang selalu saya curhatin masalah apa-apa, saya malah diajari bikin gifset. Secara dia memang lebih jago masalah ngutak-atik photoshop dan hal-hal seperti ini juga. Saya sih seneng-seneng aja. Soalnya udah lama pengen bisa bikin. Apalagi kalau sudah masuk fandom dan liat gif bikinan orang, rasanya penasaran bin gatel gimana cara bikinnya.
Dan hasilnya.. Jengjengjeng!!! Saya malah semacam keranjingan.. wkwkwk

Meskipun pas bikin sangat takes time dan pegel (apalagi saya masih jauh dari jago yang membuat waktu yang saya gunakan jadi lebih lama), tapi setelah liat hasilnya, ada kepuasan tersendiri. Bahkan sekarang kalau ada waktu luang (di sela-sela nonton film atau series), saya bakalan nge-gif.. :3

Bagi yang mau lihat-lihat blog “lain” saya, bisa cek fleurdeliezt.tumblr.com..
But I warn you, bakalan banyak hal-hal yang sangat berbau fangirling di sana, dan juga hal-hal yang jadi kesukaan saya. Apapun itu. Jadi maaf aja nih kalau kebetulan yang mampir nggak satu selera sama saya.. Tapi kalau yang satu selera sih, well.. semoga bisa berbagi.. :)
Anw, the blog is new. Jadi postingannya masih belum banyak. But then, I’d be more active there, almost every day.. :D