Sunday, February 27, 2011

Pertama kalinya Ujian Skripsi (chapter 1)

Setelah minggu sebelumnya saya sempat ditakutkan oleh ujian skripsi, akhirnya semua terlewati juga. Persiapan yang menurut saya kurang maksimal dengan mental yang masih sering merasa parno oleh situasi serupa bagaimanapun mesti dilawan ketika hari-H datang. Yeah, I still remember that time, waktu seolah-olah berjalan lelet.

Okay, here's the story...
Pagi-pagi saya datang ke kampus dari rumah jam setengah 7 lebih dikit. Which means, sampai di kampus sekitar jam 7an. Mungkin lebih dikit, I'm not so sure.
Yang jelas, kampus sepi, secara saya langsung menuju ke gedung selatan yang hanya dipadati oleh karyawan pada jam segitu, dan langsung menuju ke gedung G lantai 2 yang akan menjadi tempat 'pembantaian'. Sebenarnya tempatnya sudah cukup familiar buat saya, mengingat saya sudah beberapa kali melihat proses 'pengganyangan' beberapa ujian, termasuk hari sebelumnya. Karena oh karena, salah satu penguji hari sebelumnya sama dengan penguji saya. Tentunya biar dapat gambaran kira-kira saya ditanya apa.. :p

Oke. Biar lebih jelas, saya cerita dulu siapa saja yang akan 'mambantai' saya waktu itu. Jadi, dari sekian banyak dosen yang bisa menjadi penguji, saya mendapatkan tiga orang dosen yang sama sekali belum pernah saya kenal sebelum saya menyentuh yang namanya skripsi. Dosen pertama, yakni dosen pembimbing saya, ada seorang profesor yang sangat disegani di kampus. Well, gambarannya adalah, bayangkan ketika saya ditanya semua teman-teman saya siapa DPS saya, dan saya jawab dosen A, rata-rata reaksinya adalah:
  1. Waoowww.. Kerennn.. / Mantep tuh! *sambil menyeringai
  2. Oh. Berjuang ya sai... 
  3. Kamu pasti berhasil!!!!
See.. I mean, siapa yang tahan kalo belom-belom udah dikasih gesture yang bikin nggak yakin sama apa yang ada di hadapan kita. Tapi ternyata oh ternyata.. Selama proses bimbingan berlangsung, semuanya berjalan baik-baik saja. Dan sesuai gelar yang disandang, yakni 'Prof. Dr.', beliau memang solutif, sangat membantu, dan ternyata tidak pengen menyusahkan kita dalam mengerjakan laporan akhir ini.

Okay, lanjut ceritanya.
So.. dosen ke dua, sebut saja adalah dosen B, adalah dosen yang tidak pernah mengajar saya. Hmmm.. Nggak terlalu tau karakteristiknya sebenernya. Tapi menurut berbagai sumber, dosen ini enak. Sebenarnya yang membuat saya agak ketar-ketir adalah, dosen satu ini dosen statistik. Jadi, tentunya ada bayangan bagaimana seorang dosen statistik menguji mahasiswa. Saya terus terang takut ditanyain yang macem-macem masalah statistik karena sejujurnya, statistik saya hancur, termasuk pemahamannya. Saya merasa sudah bodoh duluan. Tapi it's ok lah, karena masih ada dosen statistik lain yang terkesan lebih killer.
Nah, untuk dosen ke tiga, sebut saja dosen C, saya mendapatkan beliau karena adanya insiden kecil berupa salah liat jadwal. Jadi, yang dijadwalkan menguji sebenarnya adalah dosen lain. Tapi berhubung dosen tersebut berhalangan, jadinya saya dapat dosen C. Untuk kabar terakhir ini saya langsung panik. Why oh why?? Masalahnya, saya pernah diceritain kalo dosen (yang juga adalah seorang 'Prof. Dr.') ini termasuk orang yang sangat teliti. Selain itu, dosen ini juga pinter statistik. Jadi.. yah, begitulah ketakutan saya. Sesungguhnya saya juga belum pernah diajar dosen yang satu ini (teman-teman saya yang sudah pernah). Nggak ada reputasi buruk memang, justru malah bagus. Tapi terkadang yang bagus itu juga mengkhawatirkan *sigh*
Pada intinya, saya mendapatkan penguji: Dua Profesor Doktor dan dua dosen statistik. Hmm.. Cukup membuat saya bermimpi buruk. And hey, believe it or not, sebelum ujian ini saya sempat memimpikan proses jalannya ujian saya. Wow.. I called it a nightmare.

Intinya, pagi itu hari Kamis, saya sudah nongkrong di depan ruangan ujian sambil berpikir (ya, saya nggak belajar lagi). Membayangkan kira-kira nanti prosesnya bakal gimana. Sebetulnya sambil menunggu teman-teman saya yang janjinya akan datang memberikan support. Sampai-sampai, saking keliatan kayak orang aneh duduk sendirian pagi-pagi banget, salah satu karyawan kampus yang lagi bersih-bersih bertanya, "ngapain?". Setelah saya jelaskan, akhirnya pintu ruang ujian dibuka supaya saya bisa siap-siap.

And there, saya melihat 'ruang keramat' ini untuk pertama kalinya sebelum mulai ujian saya sendiri.




Sumpah rasanya aneh banget. Super degdegan. Dan super khawatir saya nanti ngomongnya bakal kacau. Saya jadi ingat salah satu teman saya bilang, "kalau deg-degan sebelum maju itu bagus, biar nanti pas kamu presentasi dan diskusi deg-degannya ilang. Kalo enggak jadinya malah kacau". Oke. Kata-kata itu saya jadikan pegangan sambil berpikir, semua akan baik-baik saja.

Akhirnya teman-teman saya datang. Sambil mencoba mengobrol ke sana kemari untuk mengalihkan ke-nervousan, saya mencoba menenangkan diri dan tertawa-tawa. Waktu berjalan terus hingga akhirnya hampir semua teman yang saya undang datang. Yeah, at least I'm not gonna do this by myself, pikir saya waktu itu. Setidaknya ketika saya di depan nanti, saya bisa menoleh pada mereka dan mencari dukungan untuk menguatkan hati. :)

Dan tiba-tiba, setelah jam menunjukkan pukul 08.00 lebih sedikit, dosen pembimbing saya datang. Berjalan dengan mantap sambil menunjukkan ekspresi yang sebenarnya mengkhawatirkan. Oh, oh, oh! Ada apa ini? Saya jadi ingat sekali waktu saya konsultasi dan beliau sedang dalam kondisi nggak mood, keluar dari ruangannya saya langsung menjerit dalam hati (tentunya karena pengalaman di dalam yang membuat sedikit trauma :p). And I thought, oh, no! I really don't need this kind of thing. Yes. Kekhawatiran saya bertambah.

Hmmmm.. terusin di chapter dua aja kali ya.. pegel juga ternyata nulis cerita ini.. ;)

(to be continued)
:D

Thursday, February 17, 2011

Pergilah ke mana Hati Membawamu

Dan kelak, di saat begitu banyak jalan
terbentang di hadapanmu
dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil,
janganlah memilihnya dengan asal saja
tetapi duduklah dan tunggulah sesaat
Tariklah napas dalam-dalam
dengan penuh kepercayaan,
seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini
Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu
Tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi
Berdiam diri lah, tetap hening,
dan dengarkan hatimu
Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah,
dan pergilah ke mana hati membawamu... 



(Taken from the book Va dove ti porta il cuore --Pergilah ke mana Hati Membawamu-- by Susanna Tamaro)

Skripsi, Oh.. Skripsi

Akhirnya tahap 'belajar' untuk sementara ini sudah mendekati garis akhir. Dari yang awalnya ribut memikirkan tema dan rancangan, sampai pusing menuliskan pembahasan, dan akhirnya mikir bikin kesimpulan (dan revisi). Memang belum bisa dikatakan 'menang' karena 'cobaan' yang sesungguhnya memang belum saya lewati. Namun setidaknya saya sudah bisa sedikit bernapas lega. Setidaknya kekhawatiran saat ini sudah jauh berkurang dibandingkan pemikiran-pemikiran negatif yang dulu selalu datang hampir setiap waktu.

Apa yang saya bicarakan?
Yup! Ujian! I'm talking about 'the real final exam'. Bukan cuma ujian tentang materi yang dihafalkan beberapa hari sebelumnya, bukan pula ujian open book yang hanya menuntut kesiapan materi secara lengkap. Ujian ini ujian yang membutuhkan usaha dan doa yang ekstra. Ujian yang ini menuntut saya untuk mempertahankan apa yang saya kerjakan satu semester terakhir (sebingung apapun sebenarnya yang saya rasakan sama materinya). Well, say the magic word: skripsi!!

Mendekati 'ujian akhir', saya jadi berpikir lebih mengenai apa yang akan saya lakukan di masa mendatang. Sesuai dengan apa yang pernah saya tuliskan di essay saya dulu, saya selalu bertanya-tanya, will I get a job after graduation? Cari kerja mau nggak mau adalah satu hal yang mesti dilakukan kalo saya mau nabung biaya kuliah (lagi). Dan kesan pertama saya mengikuti Job Fair adalah, cari kerja itu susah, ribet, capek, belum lagi suasana hectic yang ditawarkan. Semua orang seakan-akan minta kerjaan. Semua unemployment tumpah di satu momen, berdesakan, dan ribut. Dan yang saya rasakan waktu itu, saya kapok.
Bukan kapok cari kerjaan, tapi lebih kapok dengan suasana yang saya lihat waktu itu. I'm not really a 'crowd' person. Saya tidak nyaman dengan keramaian dan kebisingan. Saya paling suka melakukan sesuatu dengan diam. Pikiran pertama saya waktu itu: "Mampus kalo tiap cari kerja selalu kayak gini". Yang ada sebelum maju udah patah arang duluan.

Meski begitu, saya harus tetap berjuang! Demi mendapatkan 'kenyamanan' di akhir cerita, dalam prosesnya saya harus rela berdarah-darah. Melakukan hal-hal yang nggak saya sukai untuk kemenangan di akhirnya. Sounds like fairytale, huh? But yes. Our life is our fairytale. Kita sendiri yang menulis kisahnya, kita sendiri yang menentukan takdirnya. Mau happy ending atau sad ending adalah pilihan kita. And for me, though I kinda like sad-ending story for books, I'd love to see my life in a happy ending. Dan saya sadar jalannya akan berkelok-kelok dan berbatu-batu sebelum pada akhirnya saya sampai di jalan bebas hambatan yang beraspal.

Tapi untuk mencapai itu, saya perlu menjalani langkah (hampir) terakhir ini. Langkah yang sebenarnya selalu dibilang tidak siap untuk dilakukan, langkah yang katanya adalah masa-masa living hell, atau langkah yang mau nggak mau harus dijalani kalo mau dapat gelar. And right now, I'm on my way there.

Things to do: Minta restu dari siapa pun. Berharap diberikan yang terbaik. Dan, belajar!!! :D

Come on, Ping! You can do it!! ^^

Tuesday, January 18, 2011

It was Me (with the Photographs)

Tiba-tiba teringat kebiasaan masa kecil saya yang hampir saja terlupakan. Setelah membaca sebuah novel yang menceritakan orang yang mendadak terkenal, saya jadi ingat hobi saya waktu masih SD. Dan hobi itu adalah... mengirim surat ke artis/penyanyi cilik dan minta foto yang sudah ditandatangani.

Sejenak saya merasa bodoh. -Duh! kayaknya kok nggak penting banget hobi saya itu- apalagi sekarang setelah dipikir-pikir lagi, kok dulu saya sukanya buang-buang duit untuk hal-hal yang nggak penting seperti itu. Ngerti kan maksudnya? Beli kertas surat dan amplop yang gambarnya lucu dan berwarna-warni, perangko, dan fakta bahwa saya harus berdiam diri seharian memikirkan kalimat apa yang harus saya tulis di surat itu (yang setelah saya ingat2 lagi bener2 membuat saya merasa idiot).. -____- Really, it was sooooo stupid..

Mungkin yang harus saya salahkan saat itu adalah majalah Bobo. Ya, majalah Bobo yang adalah majalah favorit saya dulu dan menjadi langganan bertahun-tahun. Majalah yang memberikan banyak informasi untuk anak-anak, termasuk alamat-alamat artis yang bisa dikirimin surat dan membuat anak SD cupu seperti saya jadi kepengen nyoba dan akhirnya ketagihan.

Saya ingat betapa senangnya ketika suatu ketika, dari beberapa surat yang saya kirimkan, saya mendapat balasan yang isinya lumayan sesuai dengan yang saya harapkan. Salah seorang penyanyi cilik yang saat itu sedang naik daun (halah! bahasanya) membalas surat saya (meskipun tidak secara personal) dan mencantumkan kartu pos bergambar dirinya dan kalender yang dibaliknya juga ada gambar dia (cukup narsis ternyata setelah dipikir2). Reaksi saya pertama kali waktu membuka kiriman surat itu adalah jingkrak2. Bayangkan saja, dari beberapa surat yang saya kirim baru kali itu saya dapat apa yang saya mau.

Lucu juga mengingat kejadian-kejadian konyol yang pernah kita lakukan, dimana sekarang pas kita ingat2, rasa-rasanya yang ingin dilakukan hanya ketawa dan berdecak heran. Mungkin sekarang saya merasa bego pernah menjalani fase nggak penting seperti itu. Tapi dulu, dalam situasi yang sama, saya sangat bersyukur dengan apa yang saya lakukan. Karena bagaimanapun, hal-hal kecil yang sekarang saya anggap bodoh adalah hal yang membuat saya bersemangat menjalani hari-hari saya, belajar menjadi orang yang kreatif, dan yang pasti, memberanikan diri untuk melakukan sesuatu (yang cukup bodoh :p). Saya sampai sekarang nggak ingat foto-foto artis itu di mana. Mungkin sudah terbuang?? Nggak tahulah.. Yang jelas, saya hanya ingin tertawa mengingatnya. Nostalgia masa kecil memang rasanya berbeda ya... :)

Sekarang, saya sudah punya idola baru. Idola yang berbeda dari masa kecil (ya iyalah). Dan mungkin pandangan baru terhadap apa yang saya idolakan. Dulu, saya suka seseorang karena lagunya bagus, dia lucu, terkenal, dan atribut-atribut lain yang nggak cukup penting. Tapi sekarang, idola adalah sosok dimana saya nggak hanya suka sama apa yang disajikan di depan mata saya, tapi juga dibalik semua yang dia lakukan. Idola untuk saya sekarang adalah bagaimana seseorang itu memahami suatu hal, menjadikannya pegangan dan nilai yang berarti, dan akhirnya muncul dalam sebuah kekaguman akan apa yang ia lakukan.
Ya, mungkin beda-beda tipis. Tapi setidaknya sekarang saya nggak seekstrim dulu sampai nulis surat minta foto. Kalopun nulis surat (yang pernah saya lakukan -dalam bentuk email- buat satu-satunya band rock Jepang favorit saya sebagai bentuk apresiasi, cuma sekali lho ya!! *defense*), yang saya tulis adalah saran dan kritik juga apresiasi saya terhadap musik mereka.

Tapi bagaimanapun, saya tetap bangga menjalani masa kecil yang cukup bodoh seperti itu. Dan mungkin di jamannya, apa yang saya lakukan memang populer (meskipun seingat saya nggak ada temen saya yang melakukan hal sama). Dengan berkembangnya teknologi, cari foto idola bisa langsung dilakukan dengan googling. Bahkan berkomunikasi langsung dengan mereka sudah bisa dilakukan via twitter, hal yang tidak saya dapatkan ketika masih SD. Jeez, tiba-tiba merasa tua dengan perubahan yang begitu drastis. But hey, that's life by the way... :D

Friday, January 7, 2011

More Than Words


Tenang… Postingan ini nggak mbahas lagunya Mr. Big… =D

Seorang teman pernah berkata kepada saya ketika kami sedang membicarakan musik, “Apa sih enaknya ndengerin musik instrumental? Apalagi musik klasik gitu. Kan nggak ada liriknya. Malah bikin ngantuk.”
Ya, memang. Saya seorang penggemar musik instrumental, meskipun tidak seluruhnya (tetep pilih-pilih, sama kayak kalau kita milih lagu favorit). Saya suka mendengarkan musik klasik, dan saya suka mendengarkan soundtrack film yang biasanya berupa score. Saya nggak pernah bisa membagi kesukaan saya terhadap satu musik instrumental ke orang lain karena kebanyakan dari mereka tidak punya hasrat yang sama. Ketika saya suka satu lagu rock (yang juga merupakan genre favorit saya), saya tahu siapa yang harus saya ajak berbagi, atau ketika saya nemu satu lagu pop yang populer, saya tahu harus minta ke siapa. Tapi ketika saya menemukan score yang saya suka, saya tidak membaginya. Saya menikmati sendiri. Saya membuat kisah sendiri. Seakan-akan saya punya rahasia, kepribadian yang orang lain nggak tahu ada di diri saya.
Saya punya ketertarikan sendiri dengan beberapa instrumen musik, dan bahkan saya akan mendengarkan lagu apa saja yang di dalamnya terdapat unsur alat musik tersebut. Berlebihan kah? Saya rasa nggak. Semua orang punya gejala ‘kegilaannya’ sendiri. Dan saya merasa inilah ‘kegilaan’ saya. 

Pernahkah terpikirkan bahwa sebuah musik instrumental itu punya makna? Saya sadar kalau kita mendengarkan musik, hal yang cukup diperhitungkan adalah liriknya. Kalau kita mencoba memasukkan sebuah lagu ke dalam video yang kita buat di movie maker misalnya, yang pertama dipertimbangkan mungkin adalah liriknya, sesuai apa nggak. Tapi saya cenderung berpikir bahwa musik instrumen adalah musik yang lebih kaya makna dibandingkan lagu biasa (berlirik). Bagaimanapun juga, musik instrumental diciptakan karena sebuah kisah.

Coba kita liat scoring di film-film. Ketika saya melihat sebuah film, saya menyadari, yang membuat saya nangis (sebagian besar) selain ceritanya yang sedih adalah backsound film yang suaranya sangat syahdu, sendu, dan tanpa terasa air mata udah jatuh (mbrebes mili). Saat saya nonton film horror/thriller, yang bikin merinding adalah musik yang misterius, ‘mengiris’, dan kelam (tapi tidak dengan Paranormal Activity yang ‘garing’ :p). Itulah kenapa saya suka score film. Saya suka karena dalam sebuah lagu itu tersimpan cerita yang dalam, tak terbatas. Dan yang menakjubkan adalah, kita bisa bikin skenario film sendiri di kepala kita ketika dengar theme tersebut. J Saya sangat menikmati score film How to Train Your Dragon yang dikomposisi oleh John Powell. Saya bilang dia jenius. Pertama kali saya dengar Test Drive, saya langsung merinding dan pengen belajar mainnya. Hari berikutnya saya download satu album. Atau ketika saya dengar The Battle karya Harry Gregson-Williams di Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe, saya langsung pengen download dan ndengerin berulang-ulang. Saya memperlakukan musik instrumen seperti saya memperlakukan lagu yang berlirik. Kalau di lagu berlirik biasanya saya nyanyi-nyanyi, di musik instrumen, saya akan humming. Dan itu menyenangkan, meskipun memang rasanya nggak maksimal. (-o-)

Untuk musik klasik, saya berterima kasih pada Nodame Cantabile yang telah memberikan saya pencerahan dan pengetahuan yang baru tentang dunia orkestra, terutama karya-karya luar biasa komposer klasik yang belum pernah saya tahu sebelumnya. Satu obsesi saya yang sebenarnya ragu bakalan bisa tercapai hanya satu: Pianis. Saya dari dulu pengen banget jadi pianis (terlebih lagi setelah suka Maksim). Saya merasa pianis itu keren, karena dia bisa menciptakan nada-nada indah (dan rumit) yang keluar dari piano. Tapi kenapa mesti pianis? Jawabannya gampang: karena selama ini, instrumen yang paling dekat dengan saya adalah keyboard (yang bisa dijadikan mode piano), yang bisa sedikit saya mainkan, dan bisa buat latihan (meskipun saya sama sekali tidak mahir). Saya juga suka biola dan cello, instrumen berdawai yang menurut saya bisa mengeluarkan nada yang sangat syahdu dan menawan. Kalo saya denger suara piano, biola, dan cello dipadupadankan dalam sebuah lagu, saya pasti langsung meleleh. Jadi, buat yang bingung sebenernya selera musik saya apa, ada jawaban gampangnya: Saya suka musik dan lagu yang ada suara pianonya. Sukur-sukur ada suara string orkestra yang biasanya langsung bisa membuat bulu kuduk saya berdiri. Genre lagu yang awalnya susah saya senengin (kata teman-teman, genre lagu kesukaan saya tidak biasa [baca: ekstrim kanan-kiri]), kalo ada salah satu atau lebih unsur tersebut, kemungkinan besar saya akan langsung donlot atau simpen lagunya. Sesimpel itu kan?? *laugh* Saya suka Hurricane-nya 30 Seconds To Mars yang terdengar syahdu sekali dengan sentuhan rocknya yang khas dan tambahan sedikit hip-hop, saya suka Believe Me-nya Fort Minor yang nge-beat dan enak buat joget (meskipun saya nggak bakalan joget-joget), saya suka A Little Piece of Heaven-nya Avenged Sevenfold yang berlirik cukup sadis dengan musik rock yang masih sweet, tapi saya juga suka Piano & Violin Sonata-nya Mozart yang sangat mellow dan mungkin orang-orang bilang itu lagu bikin ngantuk. Atau Apocalyptica yang bisa membuktikan bahwa mereka bisa nge-rock tanpa gitar. Karena mereka punya kesamaan: sama-sama berunsur piano dan string

Saking ngefansnya dengan musik klasik, saya pernah punya satu cita-cita pas semester awal kuliah. Saya pengen skripsi saya nantinya ada hubungannya dengan musik. Saya pengen nantinya saya bisa ngublek-ngublek diri seseorang melewati musik (yang sebenarnya adalah proyeksi pribadi). Rencananya ya tentu saja pake musik klasik (dan rock). Berhasilkah cita-cita saya diwujudkan? Ternyata belum. Saat ini saya masih terlalu praktis untuk mengerjakan skripsi yang ribet, butuh perjuangan dalam eksperimen, dan tentunya persiapan reward yang besar serta waktu yang lama. Akhirnya saya malah mengerjakan skripsi yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan musik. Menyesalkah? Honestly, memang ada sedikit penyesalan. Karena saya pada akhirnya kurang menikmati apa yang saya kerjakan sekarang, dan saya merasa sangat tidak termotivasi membaca jurnal. Tapi saya masih punya mimpi itu. Another research about Music and Emotional Perception? Yeah! Someday, I’ll do it! Idealisme saya harus tetep jalan kan??? ^^

Yang pasti, saya bukan musisi (walaupun saya ingin jadi musisi). Saya cuma penikmat musik. Meskipun ada satu kebiasaan yang ingin saya pertahankan. Saya ingin tetep men-donwnload score-score musik favorit saya, dan berharap suatu saat nanti bisa berlatih memainkan lagu tersebut. Saya berharap suatu hari saya nggak hanya akan mendengarkan musik instrumen dengan cerita di kepala tapi juga bisa menciptakan setidaknya satu bentuk harmonisasi yang berasal dari tangan saya. Namun untuk sekarang, saya hanya bisa melihat dan mendengarkan lewat mp3 dan video, meresapi apa yang saya dengarkan, dan pada akhirnya menjadikan lagunya menetap di playlist saya dan didengarkan setiap hari. Karena masih sering saya terharu mendengar Overture 1812. Sering juga saya terkagum-kagum dengan kejeniusan Tchaikovsky dalam Violin Concerto in D-nya atau Bach dalam Hapsichord Concerto in D minor-nya, dan saya tetap mengagumi Liszt yang bisa menciptakan harmonisasi rumit yang bahkan saking rumitnya orang bisa kurang menikmati. Satu hal yang pasti, saya jadi tahu kenapa musik klasik tidak pernah mati. Musik-musik pop bisa jadi terlupakan, tapi musik klasik adalah hasil karya kejeniusan, yang saya percaya bahkan saat ini sangat tidak banyak orang yang bisa menciptakan jenis musik seperti itu. Dan sebuah musik klasik adalah film, yang panjang, yang memiliki konflik dan resolusinya sendiri, terdiri dari beberapa movements, dengan cerita dan emosi yang berbeda di setiap movement-nya. 

Jadi, kenapa saya suka musik klasik/instrumental? Jawabannya sudah ada: Karena setiap tone punya makna dan emosi yang berbeda-beda. Dan yang terpenting, karena kita bisa belajar bercerita tanpa kata-kata, bahkan melebihi kata-kata. J

Soundtrack of the post: 30 Seconds to Mars – Hurricane; Alex Band – Only One; Apocalyptica – Not Strong Enough, Broken Pieces; The Pretty Reckless – Nothing Left to Lose, Just Tonight

Thursday, December 30, 2010

Why?

Awalnya saya nggak berminat menulis blog. Meskipun sedang tren. Meskipun banyak orang langsung berbondong-bondong memutuskan untuk membuat blog. Kenapa?? Karena dulu saya masih gaptek. Karena dulu saya tidak mau ikut-ikutan.
Jadi, kenapa sekarang?
Karena saya merasa sudah sedikit berubah. Sedikit saja. Saya ingin bicara. Dan terkadang saya tidak tahu harus bicara sama siapa.
Inikah akhirnya? Mungkin iya. Meskipun hal-hal yang saya bagikan nggak penting, meskipun apa yang saya tulis sudah pasaran. Tapi saya ingin mencoba. Mengasertifkan diri untuk kesehatan mental saya (:p) dan mencoba memandang sesuatu dari sudut pandang saya.

Because, hey.. everyone wants to be heard. And it's just one way to get it.
So, here I am..
Welcome...