Monday, June 4, 2012

Curhatan Random #1*


Astagaaa..!! Sudah berapa lama ya saya nggak nulis di sini?? Fiuuh~
Setelah sekian minggu lamanya disibukkan dengan kerjaan dan donlotan (ehm), saya jadi pengen nulis lagi. Dan jujur, meskipun kalo secara emosional hal-hal yang pengen saya tuliskan itu banyak banget, saya malah bingung mau cerita apaan.. Mmhh..

Dimulai dengan PR menggunung dan harus menghabiskan waktu weekend(s) [karena nggak cuma sekali weekend aja] saya untuk ngerjain PR *T.T*, saya jadi agak nggak minat untuk menulis. Bahkan due date essay yang sudah mendekat tetap membuat saya sulit mengalihkan fokus untuk mulai menulis. Eneg saya sama tulisan. Beneran deh. Bawaannya kalau pulang kerja cuma pengen buka laptop buat foya-foya (baca: nonton series dan video-video konser klip terbaru). I know, kurang will kayaknya.. Perlu dimodif nih prokrastinasinya.. *sigh*

Anw, beberapa minggu lalu, karena kehabisan series yang biasa saya update (habisnya, masa udah pada finale semua...!!!), saya mulai cari-cari series apa yang kira-kira bagus dan bisa saya donlot. Ketemulah di majalah Cinemags series berjudul Pretty Little Liars yang ternyata juga udah selesai season 2-nya. Setelah mencari-cari reviewnya, dan juga jumlah penontonnya per show, saya merasa series ini cukup worth it buat didonlot. Dan akhirnya, selama beberapa minggu, saya berasa kejar setoran. Nggak pengen berhenti nonton. Season 2-nya juga udah selesai ditonton. Sekarang saya bingung lagi mau nonton apaan sambil nunggu The Glee Project 2.. *muka nelangsa*

Jenuh. Jenuh. Jenuh.
Rasanya pengen keluar dari rutinitas sebulaaaaaann aja! Bisa nggak ya kerjanya libur sebulan gitu? Kan lumayan buat me-refresh pikiran dari beban pikiran yang numpuk dan tambah bikin galau.. *ngarep.com
Oke. Kembali ke realita.
Saya akhirnya dapat tantangan untuk donlot kali ini. See, DVD/BluRay Yokohama Arena Special Tour-nya ONE OK ROCK sudah keluar dan saya harus bisa dapet documentary-nya!!! (Sudah terbukti bahwa isi documentary sangat worth it buat DILIAT!!) Nah, masalahnya.. yang ngaplot ini BluRay terlalu baik dan bersedia memberikan aplotan kualitas super HD (1920x1080p) yang kalau diputer di laptop saya, kayaknya nyala pun enggak saking gedhenya. Guess what?? Documentary yang durasinya 1 jam lebih itu memakan space 13 GB. Belom konsernya mencapai 27 GB!! Kok rasanya tiba-tiba si Jobie (laptop saya) pengen tak kunyah ya?? T_______T
Dari situ, saya mulai berpikir, gimana caranya donlot ini file dulu (dengan cari JDownloader biar praktis), baru mikirin storage-nya dimana (dan artinya juga harus bersih-bersih HD yang space-nya cuma tinggal 30an GB), dan kemudian saya harus mikir gimana ngonvert file-nya ke .mkv dan lebih bagus lagi kalo resolusinya bisa dikecilin. Eh. Mbayanginnya aja saya udah pusing duluan. Tega nian ini yang ngaplot ngasih video 40 GIGA??!! *nangis darah*

Dan kesimpulannya:
Tulisan ini sangat random dan nggak jelas ke arah mana, meskipun bisa dikatakan semua yang saya tuliskan adalah curahan hati seorang karyawan yang dilematis gara-gara haus informasi akan band idolanya. Dan tambahan lagi, partner yang sefrekuensi dan bisa diajak berimajinasi malah susah dihubungi, meninggalkannya dalam kompleksitas yang lebih-lebih. Heaaaaa~

Sudahlah. Saya harus kerja lagi.
See ya.. *salam pinguin*


Note:
*) Siapa tahu lain kali ada curhatan eror yang kedua kalinya.. :p

Wednesday, May 2, 2012

DamnILoveONEOKROCK!!!*


*) Judulnya rada-rada ngadaptasi clothing line, tapi nggak papa lah.. :D

Ketika semua orang sedang digalaukan dengan boyband Korea, saya kembali diusik euforia satu-satunya band rock favorit saya dari Jepang. Bukan, bukan Laruku. Lebih tepatnya One Ok Rock. Terdengar tidak familiar? Atau familiar??
Well, OOR adalah satu-satunya band Jepang yang saya senengin dan kebetulan satu generasi dengan saya (halah! Hey, kan jarak umurnya cuma lebih tua mereka setaun? *nggak penting mode: on*). Kenapa saya suka band ini? Nggak papa deh saya ceritain bentar..
Sebenernya sih sejarahnya adalah ketidaksengajaan. Jadi, salah satu teman saya tau-tau ngopiin salah satu video klip OOR yang berjudul Naihi Sinsho ke laptop saya pas jaman kuliah dulu. Setelah itu video nangkring di laptop berminggu-minggu, saya penasaran, ini sebenernya apaan sih? Jadilah akhirnya saya puter juga itu video. Dan ternyata, setelah satu kali nonton videonya sampai selesai, saya mangap dan diam dalam posisi itu selama beberapa detik (I know, nggak indah banget memang). Dan suara di kepala saya berdentum-dentum. Itu band apa? Kok musiknya keren gitu? Namanya apa? Judul lagunya apa? Ada nggak lagu lain yang sekeren itu? Dan jadilah, saya suka OOR.. :)
Hal yang saya suka dari OOR adalah musiknya yang beda dengan band rock Jepang kebanyakan. See, temen saya ada yang maniak band rock Jepang dari A-Z. I know them pretty much. Dan jenis musik seperti itu jujur bukan genre saya. Saya suka rock tapi rock yang western, entah kenapa. Semacam hard rock yang alternative tapi juga rada heavy metal gitu lah.. Minimal kayak MCR atau Good Charlotte. Dan tiba-tiba saya disuguhi band Jepang yang pengaruhnya berasal dari band yang saya suka. Gimana nggak seneng??




Beberapa hari yang lalu, setelah secara kebetulan (lebih tepatnya kebetulan ingat) saya buka situs oneokrock.net, saya menemukan satu file ter-update yang diupload oleh member lain. File concert OOR This is My Budokan tahun 2010. Saya yang haus info OOR ini langsung kalap dan nekat mau donlot 11 part DVD + 2 part extra tour final itu hari itu juga.. Dan rasa kangen sama mereka tiba-tiba berkembang dan tidak terbendung (Tsaahhh.. bahasanya..) ..
Sejujurnya, akhir-akhir ini saya agak murtad jadi fans OOR. Memang sih, saya masih update kalo ada info album baru atau apa. Tapi lagu-lagu mereka sudah cukup jarang saya sentuh dan dengarkan. Dan kemarin, saya tersadarkan kembali bahwa saya masih suka banget sama band yang satu ini.
Proses donlot DVD sebesar 2 GB itu (Oh, hardisku.. bertahanlah.. T.T) untungnya cuma memakan waktu 1 hari dengan internet kantor. Cuma, part 6 sempet bermasalah dan pada akhirnya baru bisa saya donlot beberapa hari kemudian. Tapi proses bersusah-susah dan bergalau-galau menunggu itu terbayar juga. Konser mereka KEREN! Dan satu hal yang saya noticed, secara nggak langsung saya seperti melihat mereka tumbuh dan berkembang. Dulu, mereka yang manggungnya cuma di semacam arena kecil dan berasa jadi semacam band underground, sekarang sudah berkembang menjadi band rock yang banyak penggemarnya dan bisa manggung di tempat-tempat keren dan luas banget semacam stadion. Secara nggak langsung, saya merasa bangga dengan perjuangan mereka. Benar-benar berjuang dari nol, dari yang, yah.. mungkin banyak yang masih menghubungkan si Taka sama News, sampai sekarang sudah terbukti dia lebih mumpuni jadi vokalis band rock daripada member boyband. Pokoknya saya berniat sampai kapan pun akan tetep suka sama mereka. Semoga..

Malam itu pas saya nonton DVD konser mereka, saya bener-bener kayak orang gila di kamar kos. Setiap lagu favorit saya dimainin, saya bakalan histeris sendiri (dengan suara tertahan *mohon maklum, di kosan kan harus rada jaim*) sambil menyanyikan lagu itu bersama dengan mereka dan ribuan penonton yang ada di dalam DVD (eh??), dan pas lagunya udah selesai, saya bakal tepuk tangan penuh semangat karena memang perform mereka keren!! Dan pas konsernya selesai, muka Taka yang rada-rada terharu bikin saya jadi mau nangis juga karena saya merasa pengeeeeeeeenn banget liat mereka langsung! Dan akhirnya resolusi saya bertambah. One day, I'll see them live!! >.<
Jujur ya, terkadang saya merasa jadi ABG labil kalau ada momen seperti ini. Tapi nggak labil-labil amat sih.. Saya juga nggak mau jadi orang labil yang nangis-nangis nungguin mereka di Bandara karena pengen liat mereka lewat doang.

Salah satu lagu favorit saya di konser ini ^^

Dulu di OOR, saya suka Alex. Tapi semenjak kabar nggak sedap yang akhirnya membuatnya didepak (atau secara halus mengundurkan diri) dari OOR, saya jadi fokus total sama band-nya. Ini adalah cobaan berat bagi penyuka personil band. Tapi ternyata, saya masih suka mereka seperti dulu. Saya masih mendukung mereka menjadi band yang semakin Oke meskipun tanpa Alex. I miss him though. Alex Onizawa adalah salah satu gitaris yang oke kalo menurut saya. Sayang aja dia nggak bisa tumbuh bareng 4 anggota lain dalam band yang sama. Even sampai sekarang nggak tau juga tu anak kabarnya gimana.. :(

Dan sekarang, kabar yang bisa bikin galau malah nambah. OOR sudah mulai World Tour ke luar Jepang dan memutuskan untuk mengunjungi Singapore. Damn. Beruntung banget itu Spore disambangin. Saya iriiiiiiiii...!!! >.<
Pokoknya, kalo mereka ke sini, saya harus nonton! *bertekad bulat*
Yes, that's a promise to myself. Meanwhile, mari dengarkan dulu lagu-lagu mereka, sambil mengobati duka saya nggak bisa nonton Avenged Sevenfold di Jakarta.. (Yep. That's another disappointing story)

Ngomong-ngomong, fakta bahwa OOR berkontribusi di album Nevermind Tribute untuk Nirvana dan menyanyikan lagu mereka yang Smells Like Teen Spirit membuat saya agak shock. Sekaligus excited. Shock karena saya tahunya telat banget, tapi excited mbayangin gimana jadinya si Taka nyanyiin lagunya Nirvana yang nge-grunge begitu. Belum lagi saya khawatir pronounciation katanya 'bermasalah'. Dan ternyata... *jeng!jeng!jeng!* *musik serem* BAGUS BANGET!!! Suara Taka bisa membuat lagu ini hidup dengan ciri khasnya sendiri. Dan saya semakin bangga sama mereka..!! XDD *udah berasa kayak emak-emak yang liat anaknya juara kelas*
Bagi yang penasaran silahkan googling dan disimak sendiri.. :ppp *promosi nanggung*

Dan sekarang, yang ditunggu adalah.. DVD Live mereka di Yokohama Arena. Baru rilis tanggal 30 Mei besok, dan saya nggak tau juga kapan bisa dapet itu DVD. Sabar ya, Ping.. Waiting may lead to something.. *menghibur diri*

Monday, April 23, 2012

Well, Medan lagi..!!! #SoloTravelingStory



Dan akhirnya saudara-saudara..
Saya pergi ke Medan sendirian minggu lalu. Yak, di-note, sendirian!!
See, sendirian buat saya adalah sesuatu yang agak-agak amazing, mengingat saya ini orangnya nggak bisa tau (boro-boro apal) jalan kalau belum berkali-kali ke tempat tujuan. Dan terpaksa karena kekurangan personil, urusan kerjaan di luar kota harus dibagi satu-satu. Tandeman saya yang dulu pada akhirnya harus ke Makassar.
Well, sebenernya lumayan exciting. Soalnya saya deg-degan bisa melalui proses naik pesawat dengan baik dan bener apa nggak. Jujur saya lupa-lupa inget step-step-nya gimana, termasuk check-innya dimana, bla3. Dan untungnya walaupun saya mesti mbawa-mbawa koper buat nyimpen alat tes dan teman-temannya, koper yang dipake bukan koper segedhe gaban yang mesti masuk bagasi. Koper saya adalah koper ukuran sedang yang yah.. meskipun isinya cuma separo, beratnya lumayan bikin lengan saya keder (mengingat perjuangan yang dilalui bagaimana harus menaik-turunkan ini koper dari kabin pesawat). T.T
FYI, saya paling anti sama bagasi. Kenapa? Satu. Karena saya sama sekali nggak tahu prosedur baggage claim itu kayak apa. Bisa sih, terpaksanya liat orang-orang kayak gimana, niruin, terus ikut-ikutan, tapi plis deh, saya terlalu malas ngurusin kayak begitu sendirian. Jadi, dari awal, saya udah wanti-wanti sama orang kantor, pokoknya kopernya harus yang bisa masuk kabin. Titik.
Alasan ke dua, keluar dari airport adalah saat-saat yang lumayan rushed, terutama pas harus pesen taxi dll. Apalagi kalo di Soetta antrian taxi salah satu perusahaan yang sudah terpercaya bisa menggila dan terkadang harus bikin saya melamun berjam-jam nungguin antrian dapet taxinya aja. Coba bayangkan kalau saya masih harus ngambil barang yang di bagasi, baru lari-lari ke pos taxinya, belum dapet antriannya nomer berapa, dan voila! bisa-bisa saya sampe kos udah midnight meskipun dari airport maghrib. Hmm..

Oke. Sebenernya, jalan-jalan ke Medan kali ini, saya termasuk nggak produktif. Karena saya orangnya malas pergi kemana-mana kalau sendirian, ujung-ujungnya saya cuma diem di hotel. Mungkin juga karena faktor daerah di sekitar hotel yang lumayan sepi kalo malem-malem, akhirnya saya jadi males kemana-mana. Keluar dari Polonia, saya langsung menghampiri stall taxi bandara yang sumpah harganya nipu banget. Tapi karena saya udah males nego-nego nggak jelas, akhirnya ambil juga lah, yang penting nyampe hotel dengan selamat. Dan jadilah, nggak sampai setengah jam kemudian saya sampai hotel. Belanja bentar ke minimarket sebelah (baca: nyiapin ransum untuk malamnya), dan langsung check-in di hotel. Udah. Nggak kemana-mana lagi. Waktu dihabiskan dengan nonton tv kabel dan berguling-guling di kasur. Jangan lupakan kedinginan yang amat sangat gara-gara temperatur AC-nya nggak bisa dikecilin dan menyebabkan saya masuk angin. T.T
Dan paginya, langsung check-out, nunggu rental mobil pesenan yang ternyata salah mengartikan nama saya dan akhirnya memanggil 'Pak', dan berangkat ke kantor tujuan buat ngetes. Kepagian. Pun dari sana, karena saya nggak ada ide mau kemana, akhirnya sama supir rentalnya cuma diputer-puterin aja gitu jalannya habis mampir cari oleh-oleh bentar (liat Istana Maimun sama Mesjid Raya cuma dari mobil). Dan di bandara, saya sukses nglangut kayak anak ilang nunggu penerbangan. Yah, at least di tengah-tengah kebosanan, saya nemu mas-mas cakep yang bisa dijadikan vitamin mata, tepat duduk di depan saya dan terlihat bosan pula menunggu entah pesawat ke mana (terjawab. Masnya ke Aceh. Udah ngarep satu penerbangan padahal. huhuhu).

Oia, sepertinya perlu saya ceritain kalo di Polonia saya beradu argumen dengan mas-mas rese yang hobinya (ehm. sebenernya kerjaannya sih) mbungkusin tas bagasi pake plastik. Jadi, setelah saya melewati pengecekan barang pertama, koper saya seenaknya aja langsung diambil dan hampir digubet plastik biru-biru itu. Untung saya langsung teriak, "Eh, itu tas saya mau diapain Mas? Saya kan nggak mau masukin ke bagasi??". Dan ternyata mereka menjawab bahwa tas saya terlalu berat untuk ditaruh di kabin. Dan ketika saya membela diri bahwa sebelumnya dari Jakarta saya udah naruh koper ini di kabin, dengan entengnya mereka menjawab kalo peraturan di Medan beda, berat maksimal 7 kg. Lhadalahh! Saya BETE! Udah mbayangin mesti ngurus baggage claim. Akhirnya saya tetep ngotot nggak mau, dan mereka merujuk saya untuk bertanya pada petugas check-in. Dan kepada bapak di petugas check-in itulah (sekalian check-in juga ceritanya) saya mencoba memasang muka innocent dan berharap dibolehkan membawa kopernya ke kabin. Finally, yuhuuu~ bapaknya bilang boleh, dan mengungkapkan rasa sebelnya kepada mas-mas sotoy sebelumnya. Sampe-sampe tas saya dikasih label 'cabin baggage'. Tapi kok, ujung-ujungnya bapaknya juga bilang di Medan maksimal 7 kg ya? Ah, sudahlah, yang penting sudah ada jaminan boleh. :)
Dan dengan PeDe tinggi, saya lanjut mbayar tax dan melaju ke ruang tunggu. (cerita balik lagi ke mas-mas cakep :p)

Dan akhirnya, sesampainya saya di Soetta, saya BETE ampun-ampunan. Rasanya udah capek seharian nggak istirahat, eh.. antri taxinya berasa kayak antri sembako. Akhirnya, ketika ada mbak-mbak yang  nawarin taxi tembak 150 ribu, saya ambil aja deh. Entah kenapa feeling saya bilang, 'ambil aja'. Dan ternyata bener. Sepanjang perjalanan pulang (ke kantor lebih tepatnya), jalanan macet parah. Si Taxi jalannya merambat (tapi tanpa si Komo lewat), dan saya harus membetahkan diri di dalam taxi selama hampir 2,5 jam ditemani Pak Supir yang sumpah cerewet banget. Nanyaaaaa mulu. Tapi berkahnya adalah, andaikan saya pake taxi argo, mungkin ongkos pulang sudah lebih dari 200ribu.

Pengalaman solo traveling pertama kalinya ini, jujur membuat saya jadi orang yang.. gimana ya? Beda gitu..
Biasanya, saya termasuk yang pemalunya minta ampun kalau di tempat umum. Apalagi kalau ada temen, mau ngapa-ngapain juga saya selalu nglempar semuanya ke orang lain. Tapi kemarin, saya harus melakukan semuanya sendiri. Apa-apa harus sendiri. Even kalau salah pun, harus ditanggung sendiri. Makanya, 2 hari di luar kota, rasa malu saya bener-bener dikesampingkan. Saya nggak peduli ketika saya salah jalan dari sana ke sini, atau ketika saya kelihatan bego nanya-nanya orang mulu. Dan lagi, saya harus belajar untuk mengambil keputusan sendiri dengan cepat. Misalnya, kira-kira oke nggak ya kalau pakai taxi dari sini ke sana segini? Atau enaknya gini aja, bla3. Dan terbukti, kalau diniatin saya bisa (well, lebih tepatnya kalau terpaksa). Dan akhirnya, saya malah merasa pergi ke luar kota sendiri adalah salah satu bentuk kemewahan untuk bisa belajar lebih cepat, sekaligus quality time untuk diri sendiri.

For next, kota mana lagi ya yang bakal saya sambangi sendirian?? :ppp

PS. Untuk jalan-jalan kali ini, bahkan saya pun nggak menghabiskan banyak waktu, even berpikir untuk foto-foto. Saking ribet dan malesnya kali ya...
Yah, sudahlah..

Monday, March 26, 2012

Yah, demi Koleksi..


Akhir-akhir ini saya kalap. Kalap beli buku lebih tepatnya.

Diawali dengan penemuan sebuah situs yang memberikan pelayanan online dalam belanja buku. Saya yang waktu itu pengen banget beli The Hunger Games trilogy langsung mendapatkan pencerahan gara-gara belanja online membuahkan diskon. Yak, saya desperate cari diskonan di sini. Secara saya orangnya males jalan-jalan jauh hanya demi cari diskonan buku yang entah carinya di mana. Apalagi kalau beli buku di toko buku terdekat nggak pernah bisa dapet diskon. Karena itulah, penawaran pembelian buku secara online ini benar-benar menggiurkan.

Tapi, beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan 'cobaan' dalam membeli buku. Saya beli 'The Power of Six'. Karena saya memang lagi buru-buru saat itu, saya nggak nyari sendiri tapi minta dicariin sama CS di toko bukunya. Lagian saya juga nggak nemu buku itu di bagian yang sama dengan 'I Am Number Four', buku pertamanya. Akhirnya, dicarikanlah bukunya oleh mbak CS. Pas ketemu, buku itu langsung saya bawa ke kasir dan saya bayar.
Buku saya buka pas nyampe di kos. Tapi karena ada agenda lain di hari itu, saya nggak sempet ngecek lagi. Baru hari berikutnya, pas saya sudah menamatkan The Hunger Games sama Catching Fire dan memutuskan untuk membaca 'The Power of Six', saya baru sadar halamannya banyak yang salah. SALAH!!! >.<
Jadi, di buku The Power of Six ini, di bagian belakangnya ada bonus buku ke satu-setengahnya (sebelum buku ke-2 kan buku ke-1,5 :p), The Lost Files, yang halamannya kembali lagi dari halaman 1. Dan halaman 17-32 yang ada di bagian depan ternyata malah dipasangi halaman 17-32 dari bagian belakangnya. Saya langsung senewen di tengah malam itu, sampai-sampai saya langsung kirim complain ke penerbitnya. Sebel sih.. :(
Dan akhirnya, setelah bertanya kepada salah seorang teman, saya memutuskan untuk meminta ganti ke toko bukunya aja (daripada ngirim ke penerbit yang kebanyakan regulasi masalah beginian itu).

Dengan penuh tekad, saya ke toko buku yang dimaksud. Merasa was-was bisa diganti apa nggak. Untungnya, saya ketemu dengan bapak-bapak CS yang baik (kayaknya atasannya Mbak-mbak CS yang sebelumnya melayani saya), yang mendengarkan dengan seksama keluhan saya dan akhirnya ketika saya minta ganti, dia langsung mengijinkan. Bahkan saya malah dikira mau ganti buku lain yang bukan itu (Bapaknya kan nggak tau saya sudah pernah baca versi aslinya dan tujuan membelinya bukan cuma untuk dibaca, tapi dikoleksi). Setelah dicarikan buku yang sama, bapaknya mulai ngecek halamannya. Bener. Ya udah, langsung saya bawa sambil mengucapkan terima kasih.

Ini memang pertama kalinya saya dapet buku cacat yang sangat fatal. Bayangin aja, lagi asyik-asyik baca, tau-tau di halaman berikutnya kata-katanya udah nggak nyambung. Oh, please. Sangat sangat sangat tidak menyenangkan. Mengganggu kekhidmatan. Semoga besok-besok buku yang saya beli selalu beres. Amin.


Beberapa buku yang akhir-akhir ini bikin saya kalap

Ngomong-ngomong, ada yang bilang saya kurang kerjaan beli buku-buku yang udah pernah saya baca sebelumnya. See, saya lebih sering cari versi aslinya dulu. Baru kalau bagus, saya beli bukunya. Sebenernya, alasan utama saya adalah, terkadang karena saya terlalu update, saya udah hampir lupa ceritanya pas buku selanjutnya mau terbit. Jadi mau nggak mau harus baca lagi. Tapi, ngulang baca e-book itu = penyiksaan tinggi karena ketidaknyamanan mata. Maka, demi kenyamanan membaca dan menghargai pengarangnya (:p), saya usahakan beli yang asli juga (note: untuk buku yang bener-bener bagus tapi :p). Dan karena beli buku yang versi b.inggris = kantong kering, maka pilihan ke dua adalah beli buku terjemahan. Walaupun terkadang lucu baca terjemahannya.. -____-"

Well, dan akhirnya koleksi buku saya di kos sudah semakin banyak. Merasa mulai bingung kalau pulang nanti bawanya gimana.. :(

Ngomong-ngomong, saya masih belum order Mockingjay (buku ke-3 dari 'The Hunger Games' trilogy) gara-gara stoknya habis waktu itu. Jadi, next target: Mockingjay, dan buku dari penerbit yang sama minimal satu! (sayang ongkos kirimnya)

Here I Am. A bookworm, dan lebih memilih ngirit (for now) demi buku daripada jajan. Hmm..

Happy Hunger Games!! :)


Setelah beberapa waktu lalu galau menunggu film yang saya nanti-nantikan, akhirnya Jumat tanggal 23 kemarin, saya sukses nonton The Hunger Games.

Hal yang menarik di sini adalah, saya nggak nyangka bioskop yang paling deket dengan kosan saya, yang notabene bisa dibilang termasuk bioskop kecil dan filmnya selalu telat, sukses menayangkan The Hunger Games on time, even bebarengan dengan bioskop besar yang lain. Yes! Serentak di seluruh dunia memang benar adanya. Bahkan yang jadwal rilisnya tanggal 23 pun, di Indonesia jadi tanggal 22.. Yeaaaaayyy~ \(^^,)/

Tanggal 22 malam, saya kebingungan menentukan jadwal nonton film. Jujur saya males sendirian. Nggak asik kan ya, nonton film di bioskop sendirian, nglangut gitu.. Berasa anak ilang. Akhirnya saya sukses membujuk temen sekantor saya untuk ikutan nonton. Meskipun dia nggak tau filmnya, saya mencoba membujuk dengan rayuan bahwa film ini bakal bagus (padahal belum yakin juga), dan akhirnya mau juga lah dia.. :D
Dan karena takut bakal ngantri panjang (parno dengan kondisi bioskop di Jogja yang kalau ngantri tiket berasa kayak ngantri BLT), akhirnya saya putuskan untuk datang dan ngantri lebih awal. Jam setengah 11 kalau menurut waktu bioskop Jogja adalah udah siang. Tapi ternyata, di bioskop yang saya tuju, jam setengah 11 = tutup! Belum buka!!
Dhoeeennnkkk!! Saya langsung masang tampang bete di depan bioskopnya. Please deh! Ini udah hampir tengah hari, hellooo...
Dengan penuh kedongkolan, sambil menunggu buka dan menunggu teman saya dateng, saya masuk dulu ke Gramedia. Cari buku buruan saya yang sudah lama pengen dibeli. Waktu dilalui dengan jalan-jalan, wira-wiri sendirian nggak ada juntrungannya, dan pada akhirnya jam setengah 12 bioskopnya buka juga. Dan udah banyak juga yang antri mau beli tiket.

Saya sempet takut nggak dapet tiket. Theater-nya kan terbilang kecil. Udah gitu antriannya lumayan panjang. Untungnya, hari itu, saya masih terselamatkan dengan film The Raid yang tayang perdana, dan Negeri 5 Menara (ngomong2, saya belom nonton dua-duanya :p) yang masih banyak diminati, dan untungnya juga (berdasarkan hasil analisis saya), belum banyak orang Indonesia yang tau kalau The Hunger Games adalah film dari buku yang bagus. Jadinya, waktu saya akhirnya sampai ke counter tiket dan ditanyain sama Mbak-nya mau nonton apa, yang beli tiket The Hunger Games ternyata baru satu orang. Yes! Bebas milih seat.. huhuhu

Bisa dibilang, acara nonton saat itu adalah pengalaman nonton terniat yang pernah saya lakukan di Jakarta. Sebelumnya, saya selalu nonton pas filmnya udah nggak banyak diminati dan theaternya sepi banget. Dan kemarin, saya harus rela ngrogoh kocek lebih dalam, mengingat hari itu tanggal merah dan libur *sigh*. Nggak papa lah, demi Peeta.. -______-

Tentang ceritanya (omong-omong, saya sudah pernah sedikit ngreview di sini), dari beberapa artikel review, banyak banget yang bilang film ini bagus. Even kalau di luar sana, The Hunger Games udah dapet critical acclaim. Salah satu faktornya bisa dibilang adalah akting Jennifer Lawrence sebagai Katniss yang saya akui keren banget. Dia bisa menghidupkan sosok Katniss sesuai dengan bayangan saya dari bukunya. Dan faktor ke dua, mungkin karena pengaruh si pengarang yang juga jadi script writer-nya?? :)
Sempet sih, saya agak ragu sama kebagusannya karena di bagian awal musiknya minim banget. Backsound-nya nggak banyak, berasa krik-krik! Cuma ternyata dari tengah sampai ending, terutama pas udah masuk bagian training dan di arena Games-nya, emosi saya bisa cukup dipermainkan, baik dengan dialognya maupun adegannya yang cukup banyak bikin kaget dan meringis (hey, it's a battle :D). Josh Hutcherson sebagai Peeta juga nggak mengecewakan saya. He's too cute. Dan dia berhasil jadi anak cowok yang agak cengeng sekaligus "Lover Boy" yang terlihat innocent banget dan pantas dilindungi, tapi cukup melumerkan hati. Terutama pas di scene interview Peeta dengan Caesar Flickerman yang bener-bener bisa bikin geleng-geleng kepala dan juga bilang, "awww..".




But, tetep aja, meskipun filmnya bagus, ada bagian-bagian yang menurut saya masih bisa diperbaiki. Beberapa detil di buku memang sengaja ditiadakan karena rasanya durasinya udah nggak mungkin ditambah lagi (hampir 2.5 jam lho filmnya). Masih bisa ditolerir lah, mengingat detil yang nggak ada juga nggak terlalu signifikan kalau ditaruh di filmnya. Cuma, saya merasa adegan romantisnya si Peeta sama Katniss masih kurang greget! Terutama dialognya yang terkesan sekenanya dan agak nanggung. Di buku, saya bener-bener bisa kebawa emosi membaca dinamika feeling-nya mereka berdua. Tapi di film kok rasanya agak kurang ya.. :( Rasanya belum cukup memainkan emosi gitu, meskipun udah nyrempet-nyrempet dikit. Bahkan kalau di film, saya jadi lebih suka bagian pas si sekutu kecil Katniss, Rue, mati. Daleeeeemmm banget. Sumpah saya nangis. Setidaknya adegan romantis yang masih kurang greget (menurut saya) itu terbayar dengan action yang keren. Brutal, tapi nggak berlebihan (masih oke lah kalau ditonton remaja tanggung). Bunuh-bunuhannya juga sesuai banget sama penceritaan yang di buku. Dan ini adalah poin plus dari film ini.






Kekurangan lain mungkin terasa karena di buku, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama (Katniss) yang membuat pembacanya bisa merasakan emosi sang tokoh dengan lebih dalem. Dengan sudut pandang orang pertama ini juga, konflik batin Katniss dan anggapannya ke Peeta bisa membuat pembaca merasa bingung motif si Peeta yang sebenernya apa. Bikin gregeten dan menduga-duga. Hal ini tentunya beda dengan film yang penceritaannya lebih objective dan cenderung membuat rasa penasaran ke Peeta jadi nggak terlalu mencolok. Cuma, kalau di film, kita jadi tahu kondisi di luar Games yang nggak pernah bisa digambarin Katniss di buku. Misalnya, kondisi di distrik-distrik pas mereka lagi nonton Hunger Games pake semacam layar tancep, atau pas si Gale jealous sama Peeta di adegan 'cave' dan membuat semua penonton di bioskop tertawa geli.. :p

Overall, saya merasa The Hunger Games pantas dapat review bagus. Dan saya nggak rela kalau banyak orang masih saja membandingkan film ini sama Twilight. Animo masyarakat luar sama Trilogy Hunger Games bisa dibilang sebanding dengan Twilight. Tapi saya merasa film ini nggak bisa dibandingkan. Dan kesukaan saya dengan Jennifer Lawrence (dari aktingnya, tentu saja) ternyata jauuuuuuuuhhhh banget melampaui 'kesukaan' saya sama Kristen Stewart (no offense buat para penyuka Kristen, personal opinion aja). Ditambah lagi, pace film ini nggak seperti Twilight yang fokusnya di romance. Pace film ini cepet, ceritanya padat, dan tentunya lebih kental aksi. Nggak sia-sia saya duduk di bioskop lama dan membayar uang ekstra (gara-gara libur) karena sepanjang film, fokus saya tetep ke layar.
Dan ternyata saya juga berhasil membujuk temen-temen saya yang nggak tau biar nonton ini. Yeah! :DDD

FYI, film ke dua katanya rilis November 2013 (lamaaaa... T.T). Tapi harus sabar, dan berdoa film ke dua juga sebagus bukunya, even bisa lebih bagus dari film pertama. Amin. *fingers crossed*

Wednesday, March 14, 2012

Otak Saya Nggak Sampe Kebakaran, kok..






Analisis Jabatan. Dua kata yang pasti sangat terdengar familiar untuk mahasiswa psikologi, terutama mahasiswa psikologi yang fokusnya di PIO (Psikologi Industri dan Organisasi). Dan itulah yang saya lakukan beberapa minggu ini. Padahal saya dulu nggak fokus ke PIO.

Oke. Garis besarnya, nyemplung di konsultan adalah, mau nggak mau harus belajar PIO, terutama mengingat saya ini masuknya ke konsultan yang lebih fokus untuk rekrut dan asesmen karyawan perusahaan yang levelnya managerial ke atas. Mau nggak mau perilaku seorang manager yang notabene belum pernah saya jalani harus saya resapi sepenuh hati (seolah-olah jadi manager) demi mendapatkan gambaran bagaimana seorang manager yang baik itu. Dan di bulan pertama saya masuk waktu itu saya udah dapet "proyek" untuk membuat profil MBTI (saya aja pas itu belum pernah dites MBTI -____-), dengan sumber bacaan yang terbatas waktu itu, dan saya harus berkreasi dan menulis kata-kata yang bagus sampai profilnya lengkap dan bener. Even direvisi berkali-kali sama Pak Bos dan harus ngrombak lagi. Belum lagi habis itu saya disuruh presentasi dan studi kasus menggunakan beberapa profil kandidat dari klien. Meh!
Hasilnya, saya jadi lebih paham bagaimana karakteristik ideal seorang pemimpin (let say manager) yang baik. Apa yang diperlukan untuk jadi manager, bagaimana aspek pengambilan keputusan, banyak lah. Intinya, dari wejangan-wejangan Pak Bos yang sudah sangat berpengalaman masalah ini, saya yang sangat bau kencur bisa mudheng. 

Dan sekarang, salah satu tantangan yang harus saya hadapi adalah analisis jabatan.
Untuk yang satu ini, prosesnya memang membuat rambut saya seolah-olah pengen rontok semua. Dengan target hasil akhir berupa alat tes, kami harus nyari data dulu mengenai kegiatan-kegiatan si pemegang jabatan yang mau kita analisis ini. Sumber pencarian datanya pun macem-macem; responden yang sangat variatif, dengan hasil yang mungkin agak abstrak, dan yang jelas makan waktu lama. Proyek ini juga yang membuat saya kemarin mondar-mandir ke luar kota. Cari data!


Tantangan untuk melakukan analisis jabatan adalah, bagaimana kita menganalisis semua hal yang dikatakan oleh responden melalui interview (which is sangat-sangat banyak dan harus ditulis satu-satu), dan habis itu kita daftar, kita klasifikasikan, dan akhirnya kita analisis menjadi sebuah kalimat yang singkat-padat-jelas dan ngedhongin orang yang sama sekali nggak tahu, tapi tetap merangkum semua yang mereka maksud. I'm telling you, ngerjain itu rasanya kayak dibikin nangis berkali-kali sama Doraemon *nggak nyambung, saking mumetnya*.. :(
Intinya adalah, praktek di kehidupan nyata sangat jauh berbeda dengan apa yang pernah diajarkan di bangku kuliah. A lot more complicated, and a lot more stressful. Mungkin salah satu faktor yang ikut berkontribusi adalah tuntutan dari klien yang mau nggak mau harus siap dilaksanakan, padahal bisa jadi pola pikir kedua belah pihak ini beda dan maksudnya beda. Belum lagi masalah komunikasi di tengah-tengahnya. (curcol mode: on)

Selesai analisis jabatan dan bikin job description, kerjaan memang  belum selesai. Masih harus bikin model kompetensi dan alat ukurnya (I'm not doing that though). Setelah alat tesnya dibikin, akan ada try out dan analisis validitas dan reliabilitas (tuh kan berasa skripsi??). Baru deh kalau hasilnya valid dan reliabel, alat tes diserahkan ke klien yang bersangkutan. What a step!

Daaaaannn... Di tengah-tengah kegalauan bikin jobdesc, saya jadi geje (sebenernya sebelum ini pun udah banyak yang bilang saya geje). Tidak apa-apa lah, demi sesuap nasi.
Oh, by the way, sebelum masuk kerja pun saya dapat informasi bahwa di sini adalah tempat untuk belajar dan menimba ilmu (weissss). Jadi yaaaaa, kelelahan akibat otak yang terlalu panas sepertinya sudah biasa. Oh no, saya harus mulai biasa..

Oh, wow.. SEMANGAT!!! ^^/

Monday, March 5, 2012

"Hunger" for More!


The Hunger Games.

Preview filmnya saya baca pertama kali di Cinemags edisi Desember 2011. Waktu itu, saya cukup penasaran karena meskipun previewnya cuma dikit banget, sepertinya filmnya menarik. Tipe-tipe action tapi pasarnya adalah remaja. Dan dari situ, minat saya yang lebih jauh belum tampak.


Saya suka lambangnyaaaa..!!! >.<

Baru akhir-akhir ini pas saya dapat lagunya Taylor Swift ft. The Civil Wars yang judulnya Safe & Sound, dan di situ dicantumkan ini soundtrack film The Hunger Games, saya mulai tambah ngeh. Well, tambah penasaran tepatnya. Lirik lagunya bener-bener bikin merinding. So sweet banget kalo kata saya sih.. :p. Dan karena saya orangnya visual, apa yang saya dengerin langsung saya bayangin. Berasa kembali ke masa euforia Twilight meskipun beda versi dan ini cuma dari satu lagu!
Akhirnya saya putuskan untuk cari videonya. Tambah merinding, tambah penasaran, dan penggambaran sendunya juga gimanaaaa gitu. Dari situlah akhirnya keinginan untuk hunting buku Suzanne Collins akhirnya tak terbendung lagi. Yep, film ini memang adaptasi novel.

See, setelah susah payah cari sana-sini, akhirnya saya dapat tiga-tiganya. The Hunger Games Trilogy sudah di tangan. Dan pertanyaannya adalah, kapan mbacanya?? T.T
Oke. Saya memang sedang berada di tengah kegalauan karena dibanjiri oleh kerjaan yang menuntut rontoknya rambut saya satu-satu karena harus berpikir, dan juga tentunya, menyita banyak waktu. Pun dari pagi sampai malem saya di kantor, pulang juga biasanya nonton series atau film. Tapi akhirnya pelan-pelan (meskipun jalannya bisa dibilang merambat), saya coba membaca satu buku. Saking penasarannya sih..

Dan ternyataaaaaaa... (jeng! jeng! jeng!)
I LOVE THE BOOK!! 


Buku yang membuat saya enggan ngapa-ngapain. :)

Sedikit review; buku ini bersetting di masa depan di sebuah wilayah bernama Panem yang dulunya adalah kawasan Amerika Utara. Nah di Panem ini, wilayahnya terbagi menjadi 12 distrik. Setiap tahun, ceritanya untuk mengingatkan semua orang bahwa dulunya pernah terjadi perang yang mengakibatkan hilangnya banyak nyawa, diadakan sebuah games yang intinya adalah pertarungan hidup dan mati. Jadi, sepasang remaja cowok dan cewek dari masing-masing distrik dengan rentang usia 12 sampai berapa tahun gitu saya lupa (18 tahun kalau nggak salah), akan dipilih untuk berpartisipasi di games ini. Nah, nantinya, ke-24 remaja ini ditempatkan di satu arena untuk bisa bertahan hidup. Games dihentikan kalau sudah ada 1 pemenang, which means, 23 peserta yang lain mati dan hanya satu orang yang bertahan hidup.
Tokoh utama yang bernama Katniss, mengajukan diri untuk jadi tribute (sebutan untuk peserta The Hunger Games) gara-gara nama adiknya yang masih berumur 12 tahun yang terpilih. Katniss mewakili distrik 12 bersama dengan satu cowok yang namanya Peeta. Dan pokoknya, dari situ cerita berkembang, mulai dari persahabatan, permainan strategi untuk bertahan hidup, sampai cinta segitiga.

Idenya lumayan familiar sih sebenarnya. Semacam Battle Royale (film Jepang tahun 2000) tapi dengan kemasan yang beda. Cinta segitiganya juga cukup bisa ditebak mungkin. Tapi alur cerita buku ini bikin ceritanya jadi spesial kalau menurut saya. Dengan latar belakang action yang menurut saya kental banget (even agak sedikit brutal), gaya penceritaannya nggak membuat semua jadi suram. Konfliknya juga seru. Juga karakter tokohnya mencuri hati. > <
Bahkan, saya yang di awal cerita lumayan simpatik sama Gale (ini cowok lho, sahabatnya Katniss), lambat laun bisa dibikin jatuh cinta sama sosok Peeta yang diam-diam ternyata menghanyutkan. Dan akhirnya sama sekali saya nggak terlalu peduli sama Gale. Mwahahahaha..!!

Sumpah ini salah satu buku yang bisa membuat saya terpesona. Sumpah ini buku bisa bikin saya merasa beraaaaaat banget harus menutup laptop dan tidur karena sudah jam 12 malam dan besoknya harus bangun pagi. Dan sumpah ini buku bisa bikin saya ketawa-ketiwi, ngikik2 sendiri di kamar yang mungkin kalau temen kos saya denger bakalan mikir ini anak kenapa, dan ternyata ini buku juga bisa membuat saya menitikkan air mata karena terharu sama ceritanya.
Totally recommended! (terutama buat yang suka sci-fi dan kisah percintaan remaja) Hehehe..

Dan akhirnya, tiga buku selesai dibaca. Mencoba mencuri-curi waktu di tengah mengerjakan PR dan berhasil memalaskan diri di weekend (baca: nggak kemana-mana, cuma mantengin laptop seharian), rasa penasaran akhirnya terpuaskan juga. Bener-bener deh, entah emang lagi galau atau kenapa, kalau mbayangin Peeta (yang merepresentasikan cowok idaman saya *ngarep* :p) bawaannya pengen nangiiiiiis terus. Kebawa banget sedihnya.. Berasa kayak manusia selang air beneran deh..  T.T

Ngomong-ngomong, promosi filmnya gencar juga. Cara promosinya juga termasuk kreatif. Jadi, di official website filmnya, kita bisa tahu semua informasi tentang distrik-distrik di Panem. Kita juga bisa membuat semacam ID Card sebagai warga Panem, lho.. Jadi ceritanya seolah-olah kita ini imigran dari kota yang kita diami sekarang dan masuk ke Panem. Log in-nya lewat Facebook atau Twitter, dan nanti semacam tebak-tebak berhadiah, coba lihat kita dapat distrik berapa. Even pekerjaan kita juga udah ditentukan, mengingat di setiap distrik spesialisasi Sumber Daya-nya beda. Kalau mau coba boleh ke sini.

Tebak, saya nyoba dan dapat distrik berapa.. :p


Right. Saya dapetnya distrik 8.
Dan tau-tau saya berubah job jadi factory worker. Doh! (-o-)"

Dan sekarang tinggal berharap semoga film ini bisa segera datang ke bioskop Indonesia.. (-o-)
Secepatnya, please.. *keinginan nonton tingkat tinggi*