Monday, May 27, 2013

Festival. Tribute. And of course.. Dreams.

  1. Sudah sejak beberapa bulan lalu, di grup sempat ramai bahwa tanggal 25-26 Mei 2013 akan ada festival Jepang Ennichisai dan rencananya, bakalan ada performance dari beberapa band yang akan membawakan lagu-lagu dari band favorit saya. Oke. Saya tertarik sih, tapi sebatas itu aja. Nggak ada rencana lebih jauh apakah saya nanti mau nonton, atau saya lewatkan begitu saja.

  2. Sekitar dua bulan yang lalu, sempat heboh kabar dari salah seorang vokalis band alternative di Indonesia yang saat itu lagi ke Jepang dan nonton band favorit saya manggung (bahkan ketemu personilnya langsung). Orang ini bilang kalau mereka bakalan ke sini dua bulan lagi! Hell! Tentu saja orang tersebut bikin fandom Indonesia geger. Belum lagi semua langsung pada nggak santai dan menebak-nebak kapan mereka bakalan datang. But then, there weren’t any official news, dan pada akhirnya, isunya berlalu (meskipun kadang masih ramai dibicarakan).

  3. Sebulan yang lalu sepertinya, salah seorang admin grup yang memang sangat getol meminta kami semua datang ke Ennichisai untuk support acara tribute-nya, dapat kabar yang cukup bikin shock. Katanya, pihak Ennichisai sudah bicara dengan direktur dari label band favorit saya di Jepang itu dan akan mengirimkan footage acara tribute-nya nanti. Yang bikin nggak santai adalah, kalau mereka lihat dan merasa bahwa antusiasme penonton di sini tinggi, mereka bakal merencanakan untuk konser ke sini, soon.

    Reaksi saya atas berita-berita di atas:
  1. Hmmm.. saya biasa aja dengerin yang ini. I mean, sudah banyak sih festival-festival yang ada, dan band yang mengcover band favorit saya itu sudah banyak. Jadi saya nggak merasa ini special-special amat.
  1. Galau.Sumpah saya galau gara-gara si vokalis (tidak bertanggung jawab) itu seenaknya menyebar berita yang tidak jelas juntrungannya. Terlebih tidak diikuti dengan informasi yang lebih jelas. Pada akhirnya saya nggak bisa tidur dan bingung. Tapi lama-lama biasa aja sih, terutama setelah otak saya lebih encer dan bisa menganalisis faktor-faktor kemungkinan yang bisa dikaitkan.
  1. Panik.Yang ini jujur yang paling membuat panik. Karena dengan pengumuman itu, mau nggak mau saya harus datang dan nonton. Saya harus berpartisipasi. Malu dong ya rasanya selama ini cuma ngarep mereka datang tapi nggak ada usaha maksimal. Maka dari sinilah, saya bertekad untuk ikutan.

Nah, masalahnya, teman yang saya asumsikan bisa diajak janjian malah nggak bisa datang karena suatu hal. Otomatis saya harus improvisasi. Mencoba mengajak beberapa teman lainnya, saya masih gagal. Pada nolak/nggak bisa semua.
Oke. Mungkin bingung kenapa saya harus ada temennya? Satu, karena saya nggak tau tempatnya. Dua, acaranya malem dan saya nggak mau jadi anak ilang sendirian. Tiga, saya masih belum siap mental menghadapi ramainya suasana di sana sendirian. 

Dan akhirnya jelas sudah. Saya tidak ada temannya. Tapi di hari H, tepatnya hari Minggu kemarin, saya akhirnya berniat ke diri sendiri mau ke sana, entah gimana caranya. Sempat berpikir untuk naik ojek, karena jelas si abang bisa lebih tahu tempatnya. Naik angkot opsi kesekian karena saya nggak yakin juga turunnya dimana. Bisa tanya sih, tapi jiwa petualang saya masih malu-malu buat keluar dari persembunyiannya. Dan naik taksi? Hmm.. ini opsi yang paling mahal dan sebisa mungkin ditekan kemunculannya.

Karena saya bingung menentukan transportasi, akhirnya saya tanya ke salah satu teman kantor saya yang berniat ke sana juga hari Sabtunya (which is sudah lewat). Setelah whatsapp-an, teman saya malah menawarkan bareng karena ternyata hari sebelumnya dia nggak jadi ke sana. Seneng dong ya? Saya sambut dengan riang dan akhirnya kami rencanakan perjalanan hari itu. Dari sore.
Celakanya, saat saya sudah siap berangkat dan tinggal berdiri aja gitu, hujan deras tiba-tiba mengguyur daerah kosan saya. Hujan yang kalau saya prediksi bisa mengakibatkan banjir di jalan sebelah kalau terus-terusan turun sepanjang  hari. Agak putus asa, saya akhirnya panik. Jadi apa enggak?! Mana teman saya nggak bisa dihibungi. Setelah menunggu reda dan minta kepastian (tentunya dengan susah payah dan berkali-kali ada keinginan mbanting HP saking keselnya), akhirnya kami berangkat juga, janjian di satu tempat.

Sampai sana, oh my God.. Ramainya melebihi job fair. Kami hampir nggak bisa gerak. Rencananya saya sama temen saya ini mau misah. Dia ada janji sama temennya yang lain, dan saya jelas mau nongkrongin panggung sambil nunggu acaranya mulai. Dan setelah telpon-telponan dengan si admin beberapa kali (karena benar-benar kami seperti anak ilang dan tidak tau arah), sampailah juga di depan panggung setelah bersusah payah menyeruak kerumunan. Suasana sudah ramai. Dan segera saat acara mau mulai, saya ditinggal teman saya sendirian.

Dan di sinilah bagian yang tidak terduga. Saya bisa enjoyeven saya nggak kenal sama sekali sama samping kanan, kiri, depan, dan belakang saya. Orang-orang itu asing semua. Tapi saat semua band-nya perform, kami punya kesamaan, sama-sama antusias. Nggak kebayang deh gimana lost control-nya saya waktu itu. Mungkin orang yang kenal saya nggak akan nyangka saya bisa jumpingheadbang, sampai nyanyi sekenceng mungkin yang akhirnya membuat tenggorokan saya sakit dan suara saya habis. But hey, I had fun. Dan meskipun akhirnya saya harus rela pulang naik taksi karena kaki saya rasanya sudah nggak karuan, plus saya hari itu cuma makan satu kali (sebelum nonton itu), tak apalah.. Saya lebih pengen berharap bahwa apa yang saya lakukan nggak sia-sia. Saya cuma pengen satu: keinginan saya yang sedari dulu saya bangun dalam mimpi itu bisa jadi kenyataan.

I know it seems silly. Mungkin beberapa menganggap hal itu tidak penting. But they’re my energy. Salah satu hal yang bisa membuat saya waras ditengah ketidakwarasan. Dan meskipun untuk orang lain perencanaan yang saya lakukan cukup remeh temeh, saya merasa “alangan” yang saya hadapi sebelumnya menjadi sebuah bukti yang bisa lebih memantapkan hati bahwa keinginan saya bisa tergenggam sebentar lagi. 

Soon dear, we’ll meet each other soon.. :)

PS. Saya hampir lose control saat berpapasan dengan salah satu cosplayer yang memerankan Jack Frost, karakter animasi satu-satunya yang bisa membuat saya jatuh cinta (#eh). Entah berapa lama saya memandangi masnya dalam diam saat dia lewat. Dua kali bahkan. Tapi saya terlalu tengsin mau minta foto.. -___-"

Sunday, May 19, 2013

Volunteering in AFS Program


Beberapa waktu yang lalu, saya sempat diajak oleh bos saya untuk jadi volunteer seleksi program AFS (American Field Study) di Karawang. Bagi yang belum tahu AFS itu apa, itu lho.. yang waktu kelas 1 atau 2 SMA mungkin ada teman yang menghabiskan waktu sekitar 1 tahun untuk exchange ke luar negeri. Nah, pas ditawarin untuk jadi volunteer seleksi, well, okelah. Karena waktu itu saya cukup nggak enak untuk menolak dan kebetulan juga cukup penasaran prosesnya seperti apa, akhirnya saya terima tawaran tersebut. FYI, si bos ini aktif sekali di program AFS, bahkan kadang kesibukan kantor ikut diriweuhkan sama kesibukannya di program ini. Apalagi ditambah anaknya salah satu Returnee yang dulu sempat pertukaran ke Italy selama sekitar 1 tahun. 
Nah, di program seleksi ini, saya didaulat menjadi interviewer untuk menggali kepribadian si bocah-bocah yang lulus seleksi tahap pertama. Well, mungkin karena dasarnya saya sudah biasa interview orang makanya sama si bos saya diajakin juga. Beberapa teman dari kantor juga diajak sih.. Dan nantinya, di bulan Juni, saya juga diminta menjadi observer untuk seleksi Dinamika Kelompok. Oke, kalau yang ini mungkin karena saya sudah sangat biasa, sampai eneg sepertinya, mantengin simulasi Grup Diskusi melulu… -_-

Nah, akhirnya kemarin, setelah bingung-bingung gimana saya mau ke Karawang hari Minggu-nya karena bagaimanapun panitia harus ngumpul jam 8 pagi sedangkan saya ada di Pancoran yang nun jauh di sana. Mau berangkat jam berapa saya? Belum transportnya yang nggak jelas mau naik apa. 
Akhirnya, permintaan si bos adalah, nginep aja di rumahnya di Bekasi. Well, sempat sih awalnya ragu, dan males tentunya. Karena saya sangat begitu nyamannya menghabiskan waktu di kosan, ngerjain hal-hal yang saya senengin. Tapi, setelah dipertambangkan dan memikirkan jauhnya, saya akhirnya terima juga tawaran si bos. Dan Sabtu malam, saya diantar ke Bekasi oleh salah satu karyawan di kantor yang sudah sering bolak-balik ke bekasi (ke rumah yang dituju). Dan akhirnya juga, hari ini saya mengalaminya; interview calon anak-anak peserta AFS. Dalam prosesnya sendiri, masing-masing interviewer dipasangkan dengan salah satu interviewer lain. Sebenarnya ada dua jenis interview sih tadi; kepribadian dan bahasa Inggris. Tapi saya dapat jatah interview kepribadian. Yang Bahasa Inggris biarlah para Returnee saja yang menghandle.. wkwkwk

Gimana rasanya?
Seru juga. I mean, setiap kali melihat mereka, saya sebenarnya jadi semacam refleksi masa-masa SMA dulu waktu saya mupeng banget ingin ikut program ini tapi masih belum punya nyali. Sumpah saya dulu cemen banget deh anaknya. Krisis PD saya bisa dibilang parah. Setiap mau ikut sesuatu, pikirannya selalu negatif duluan. Bahkan kalau nggak ada temennya nggak mau. Tapi saya bersyukur pada akhirnya memilih masuk psikologi dan memperbaiki diri pelan-pelan. Meskipun ada rasa penyesalan, tapi apa mau dikata. Sudah terlanjur.. <- eh, kok malah jadi curhat?

Anw, waktu saya pertama kali ngomong sama anak-anaknya, errrr.. sumpah! Mereka lucu-lucu banget! X) Dan layaknya proses seleksi pada umumnya, saya pernah mendapatkan anak yang diinterview sangat stand-out sekali, tapi ada juga yang terlalu cupu dan bahkan saya heran kenapa dia bisa lolos tahap seleksi ini. Mendengar jawaban-jawaban mereka juga terkadang rasanya pengen ketawa sendiri. Disamping mereka masih polos, saya juga jadi membayangkan apa jawaban saya kalau saya seumur mereka dulu dan ditanyai pertanyaan yang sama. Apakah saya juga akan membuat interviewer saya ngakak dalam hati? Atau saya justru malah bakalan bikin mereka geleng-geleng saking bingungnya?

Yang pasti, dengan kebiasaan interview kandidat employee suatu perusahaan dan sekarang diharuskan interview anak SMA yang rata-rata masih 15-16 tahun, ekspektasi saya harus sedikit diturunkan. Mungkin yang biasanya dengan jawaban atau attitude tertentu saya bakalan kasih skor 2, di sini saya harus lebih bermurah hati untuk memberikan skor 3 (atau lebih). Kagok sih awalnya, apalagi kalau anak-anaknya ada yang abstrak sekali. Tapi lama-lama menyenangkan juga. Terutama kalau mereka malah jadi curhat.. :D

Yang jelas, pengalaman ini jadi hal yang baru dan cukup menarik buat saya. Meskipun saya harus rela tidur 4 jam saja gara-gara harus ke sana pagi-pagi, berpanas-panas ria di ruang kelas yang AC-nya abal-abal karena nggak kerasa dingin sama sekali, sampai pulangnya harus nahan pening di mobil, masuk angin, dan bahkan kehujanan pas dijemput balik ke kosan. But yeah.. I enjoyed it. Seenggaknya saya jadi tahu besok anak saya kalo ikut-ikut program kayak gini harus nyiapin apa aja.. :3 
Eh, kejauhan ya? Baiklah. Besok kalau saya cari beasiswa setidaknya saya harus tahu mau nyiapin apa.. <- maksa 

Friday, May 17, 2013

Additional Blog


Setelah memutuskan untuk bikin satu blog lagi yang lebih public (which means saya jadinya punya 3 blog termasuk ini), sepertinya saya bakalan jarang nulis di sini. Apalagi sekarang saya lagi hobi bikin gif! Yeah~ I’m in the middle of practicing my gif-ing capability!!! <- bikin istilah sendiri

So, pas weekend panjang kemarin, kebetulan saya memutuskan untuk pulang ke Jogja. Dan ternyata, setelah berhasil ketemu dengan sahabat saya yang selalu saya curhatin masalah apa-apa, saya malah diajari bikin gifset. Secara dia memang lebih jago masalah ngutak-atik photoshop dan hal-hal seperti ini juga. Saya sih seneng-seneng aja. Soalnya udah lama pengen bisa bikin. Apalagi kalau sudah masuk fandom dan liat gif bikinan orang, rasanya penasaran bin gatel gimana cara bikinnya.
Dan hasilnya.. Jengjengjeng!!! Saya malah semacam keranjingan.. wkwkwk

Meskipun pas bikin sangat takes time dan pegel (apalagi saya masih jauh dari jago yang membuat waktu yang saya gunakan jadi lebih lama), tapi setelah liat hasilnya, ada kepuasan tersendiri. Bahkan sekarang kalau ada waktu luang (di sela-sela nonton film atau series), saya bakalan nge-gif.. :3

Bagi yang mau lihat-lihat blog “lain” saya, bisa cek fleurdeliezt.tumblr.com..
But I warn you, bakalan banyak hal-hal yang sangat berbau fangirling di sana, dan juga hal-hal yang jadi kesukaan saya. Apapun itu. Jadi maaf aja nih kalau kebetulan yang mampir nggak satu selera sama saya.. Tapi kalau yang satu selera sih, well.. semoga bisa berbagi.. :)
Anw, the blog is new. Jadi postingannya masih belum banyak. But then, I’d be more active there, almost every day.. :D

Tuesday, March 26, 2013

Little Things...


There are two things happened today.. Well, several things actually. Maybe many. But the memorable one is only these two.. :p

Dimulai dari niatan ke Kantor Pos untuk maketin barang yang sudah direncanakan dari berbulan-bulan yang lalu. Niat banget dong tentunya, sampai hari Minggu kemarin saya ijin sama bos kalau pagi ini sebelum berangkat mau kantor pos dulu. Dan walaupun mengantongi ijin, ternyata saya malah disuruh bareng temen kantor yang diminta maketin barang ke luar negeri juga. Oke. Mental gratisan saya mulai menimbang-nimbang. Dan akhirnya setelah koordinasi, saya mau barengan. Ngirit ongkos juga sih..hoho

Meskipun sempat dagdigdug karena udah jam 10 lebih nggak berangkat-berangkat juga (saya agak parno kalau belum pasti sama kondisi), akhirnya dijabanin juga itu kantor pos Pasar Minggu (yang gedhe dan lebih deket dari kantor). Sampai sana, udah pede dong ya mau maketin. Langsung deh menghampiri mas-mas petugasnya. Pas ditanya mau ngirim ke mana dan pake service apa, saya jawab (saya maketin pake EMS btw). Dan setelah dikasih formulir buat diisi, masnya nanya apa alamat yang dituju ada nomor telpon-nya. Enggak ada. Dan dari situlah ternyata dramanya dimulai.

Yang namanya proses, memang nggak pernah dimuluskan (kalau buat saya)..
See, saya nggak yakin ini regulasinya dimulai kapan. Tapi setahu saya, beberapa rekan yang pernah mengirimkan hal serupa dengan service yang sama nggak pernah dimintai nomor telpon yang dituju. Saya mencoba berargumen sama masnya sampai-sampai bapak petugas (yang lebih senior) mendatangi saya dan mencoba 'meluruskan' niatan saya yang sudah pingin belok (baca: nekat ngirim tanpa nomor telpon) ke jalan lurus (baca: kalau nekat ngirim tanpa no. telp, sebelum keluar kantor pusat bakal langsung dikembaliin). Bahkan saya sempat merasa "making scene" di sana karena argumen kami yang cukup menggebu-gebu dan diperhatikan banyak orang. Tapi ya mau gimana lagi? Orang saya nggak ada data no. telp sama sekali. Dan saya dalam posisi nggak bisa kepo. Pemikiran "nggak jadi ngirim" rasanya terlalu berat, mengingat perjuangan prosesnya. Dan saya nggak mungkin nyerah gitu aja. Meskipun dalam hati rasanya udah mau nangis. Nyoba ngelobi tetep nggak bisa. Bapaknya berpegang teguh pada pendiriannya. Akhirnya dengan desperate, saya telpon salah satu teman yang kemungkinan bisa ngepo info yang lebih detil.

Sumpah. Nunggu infonya benar-benar bikin perasaan saya nggak karuan. Temen sekantor saya (yang akhirnya nggak jadi ngirim hari itu karena dia juga nggak dapat info no. telpon) sampai saya suruh pulang duluan karena saya keukeuh mau nunggu dapet infonya. Saya nggak akan nyia-nyiain kesempatan maketin yang lumayan susah didapat, apalagi hari-hari ke depan bakalan hectic banget. Saya bahkan sempat nanya sama bapak petugas (yang baik itu) kapan jam istirahatnya. Ternyata nggak ada istirahat, dan bapaknya mempersilahkan kalau saya mau ngendon di sana sampai jam setengah 7 malam (jam bapaknya pulang). Please deh, Pak.. Nggak selama itu juga sih.. -_-
Setelah menunggu berapa lama (sambil sms temen saya tadi yang isinya tulisan depresif semua), saya dapat juga apa yang saya cari. Dengan perasaan bahagia (*tsaaahh~*) saya langsung mengumumkan ke si bapak petugas kalau saya dapat nomor telponnya. Meskipun sebenernya saya juga nggak ngerti itu no. telp siapa. Biarlah~ yang penting paket saya bisa dikirim dan sampai ke alamat tujuan. Masalah telpon-telponan sih urusan pos-nya aja.. :p #eh

Anw, saya pengen ngacungin jempol buat bapak petugas yang saya sebut-sebut tadi. I mean, bapaknya sungguh sangat ramah, baik, dan helpful. Meskipun saya bisa dibilang cukup ngotot dan berusaha nyari celah biar dibolehin, dia bisa melayani dengan sabar, ngasih penjelasan, bahkan mencoba meng-influence saya dengan kejadian/cerita yang dia alami sebelumnya terkait pengiriman blablabla. Beda banget sebenernya attitude bapak ini dengan mas-mas yang pertama kali melayani saya. Si mas lebih jutek. Ngomong satu kalimat, terkesan final. Bahkan nggak ngeliatin saya lagi. Ketus pula jawabannya kalau ditanya. Nah, bapaknya sungguh berbeda. Selain ramah, dia juga bisa baca situasi. Misalnya, waktu saya keliatan bingung dan celingukan nyari orang yang bisa ditanyain (maklum, suasana kantor pos rame banget), sebelum saya manggil petugas, bapaknya sudah nanya ke saya apa ada yang mau ditanyain. There. Dengan reflek saya langsung bilang, "wah, bapak pinter". I know, polos banget ya.. =_= Habis saya seneng sih ada yang perhatian gitu, sadar kalau saya ini banyak nanya (sebagai orang yang cukup kritis dan nggak mau salah, wajar dong ya~).. Dan pas saya laporan sudah dapat nomor yang dimaksud, bapaknya langsung menyelamati saya dan meng-guide secara langsung cara mengisi data (yang lebih detil) karena saya agak bingung ngisinya gimana. Bahkan kami sempat tawar-menawar value barang kiriman yang harus diisi.. XD
Setelah semua beres, baru deh bapaknya meninggalkan urusan ini ke mas yang bertugas nginput data..

See. Little things. But that actually made me happy..
Saya nggak butuh hal-hal spektakuler untuk membuat saya impressed terhadap seseorang. Dan saya akui, bapak ini punya jiwa customer service yang mumpuni.. Kalau saya ng-interview bapaknya jadi CS, saya mungkin akan kasih rekomendasi "High".. *ups*
So, siapapun petugas lainnya yang merasa masih jutek, you need a lot to learn, man.. :/ Pelanggan itu bukan untuk didekte, tapi diberi pengertian dengan cara sebaik-baiknya. Bahkan saya yang ngeyel pun akhirnya bisa puas dan nurut kan meskipun pake pusing-pusing segala?
<- oke. ini kok jadi kemana-mana.. -_-

And that's it. Paket saya sudah dikirim. Dan satu tugas yang saya emban beberapa bulan ini tuntas sudah. Semoga kerja kerasnya berbuah manis.. Dan sekarang rasanya sepi. Sebelumnya, setiap pulang dari kantor selalu ada urge untuk ngerjain "proyek". Bahkan sampai nggak sempat nulis dan ngerjain yang lain. Sekarang, balik dari kantor, sepi. Nggak ada "deadline" lagi.. Rasanya aneh. Kangen malah.. It's pretty weird, you know.. :(


***


Dan di tengah galau kerja (yang berasa nggak ada habisnya), a little thing helped me again.. Just a video. Satu video aja, yang akhirnya bisa membuat suasana hati saya terobati.
Saya pernah nyeritain 2Cellos di sini. Duo cello ini nggak akan pernah bisa membuat saya stop suka sama mereka, baik dari cara main mereka, musiknya, dan juga "inovasi-inovasi" yang mereka lakukan, termasuk sekarang.

Well, check this out...




How could you not fall in love with them?? X)
I mean, please.. Mereka selalu berhasil membuat saya antara kagum sama geli. Ekspresi Stjepan berasa minta ditonjok saking bikin gelinya. Untung Luka masih cool meskipun posenya nggak banget waktu main berdua.. XD
Terakhir kali saya liat mereka bereksperimen, Stjepan main cello sambil lari-lari di antara penonton menggunakan semacam cello belt. Yah, alat yang bisa nahan cello yang diiket ke badan gitu lah. Jadi si cello-nya nggak perlu ditaroh di lantai seperti cara biasa, bisa dibawa kemana-mana sambil dimainin. Sumpah ini orang, udah lari-lari, headbang, heboh lagi.. That's why I love them. And they really deserve compliments!! X)


***


So, I guess today is made by little things. Hal-hal yang tidak diduga teryata bisa membuat saya merasa lebih baik di tengah ruwetnya pikiran.

Maybe they're right, you know? For little things that happened today, when we look back at it in the future, we may realize they're actually big things.. :)

Friday, March 8, 2013

DUALED


Whoaaaaaaa~ Sudah berapa lama saya nggak nulis di blog? XO

Well, kerjaan yang sangat sangat hectic dan menyita waktu saya sampai ke weekend berhasil membuat saya overwhelmed. Bahkan buat beres-beres kamar dan bersantai rasanya nggak ada. Belum lagi proyek yang akhir bulan ini udah harus selesai dan siap kirim juga butuh diperhatikan karena masih banyak yang belum dikerjakan. Oke. Time management saya lagi payah. Dan jadilah, ini blog terbengkalai.. (-_-)

Tapiiiiiiiiii, saya mencoba produktif baca. Dari bulan Januari, ada sekitar 6 buku yang saya selesaikan meskipun mostly dalam bentuk soft-file. Nggak papa lah, yang penting baca.
Dan kemarin saya selesai membaca satu buah buku yang menarik perhatian saya dan baru rilis juga di bulan Februari lalu. Judulnya “DUALED”. Okay, first of all, saya tau informasi mengenai buku ini sekitar akhir tahun lalu dari fandom salah satu band favorit saya. Kenapa? Karena ternyata, pengarang buku ini juga fans-nya si band itu, dan dia sangat aktif di tumblr, fangirling-an (di sela-sela nulis buku sepertinya), dan pada akhirnya malah jadi satu kontributor informasi utama di fandom yang saya bilang semakin menggila akhir-akhir ini.

See? Daya tariknya selain karena ringkasan ceritanya yang menurut saya menarik adalah karena yang bikin adalah “teman” fangirlingan.. :D Semangat dong ya??


sumber: elsiechapman.com

Oh iya, buku ini akan ada sekuelnya, DIVIDED, yang rencananya akan dirilis bulan Februari tahun depan.

Jadi, DUALED ini konsep ceritanya adalah ketika seseorang memiliki Alt (kembaran) dan di satu titik ia harus bertarung dengan Alt-nya tersebut untuk melihat siapa yang bisa survive. Setting ceritanya di  Kersh, sebuah tempat di mana semua orang dilahirkan dengan Alt masing-masing atas dasar rekayasa genetika sang Board (pemerintah) yang dari awal menginginkan penduduk mereka adalah orang-orang terpilih yang bisa bertarung dan pantas untuk hidup. Jadi, keluarga yang ingin memiliki anak harus datang ke Board dulu, baru nanti calon orang tersebut dan satu pasang calon orang tua lainnya akan “mendapatkan” anak yang serupa (Alts), semacam hasil kloningan gitu lah, yang menggabungkan keempat DNA calon orang tuanya. Nah, ketika mereka sudah besar (rentang umur 10-20 tahun), akan ada masanya mereka menjadi active, status dimana mereka diberikan waktu 31 hari untuk saling bertarung dan bertahan hidup. Apabila mereka berhasil membunuh Alt mereka, maka statusnya dari active akan menjadi complete (which is sudah menjadi pembuktian bahwa dia yang terhebat diantara dia dan Alt-nya sendiri). Nah, kalau dalam waktu 31 hari itu mereka nggak bunuh-bunuhan juga, maka self-detonate yang sudah diprogramkan ke mereka akan meledak dan dua-duanya mati. Jadi, mau nggak mau, semua orang dengan status active akan melakukan segala cara untuk bisa jadi complete (kalau dia mau survive).

Di DUALED ini, tokoh utamanya adalah West Grayer, cewek berusia 15 tahun yang hampir sebatang kara karena mayoritas keluarganya sudah meninggal semua. Yang tersisa cuma dia, salah satu kakaknya (Luc), dan sahabat kakaknya (Chord) yang juga love interest-nya West di buku ini. Dengan hanya kakaknya yang tersisa, si West ini pada akhirnya juga malah harus ditinggal mati sama Luc yang sempat mencoba membantu Chord membunuh Alt-nya. Sebatang kara lah si West. Nah, di buku ini sempat diceritakan secara singkat tahapan dan kelas-kelas training yang akan mereka dapatkan untuk mempersiapkan mereka dalam bertarung melawan Alt masing-masing. Hanya saja, si West belum bisa masuk kelas weaponry, kelas yang paling helpful untuk persiapan katanya, karena dia memang belum cukup umur. Sedangkan yang ngajarin dia survive selama ini adalah kakak-kakaknya. Dan pada akhirnya, ia bertemu dengan salah satu guru weaponry terhebat yang sempat mengajar kakak-kakaknya (Baer) yang akhirnya memotivasi West untuk bangkit. Dan atas rekomendasi dari Baer juga, West malah berniat untuk menjadi striker (seseorang yang dibayar oleh orang lain untuk membunuh Alt mereka)  demi mendapatkan pengalaman bertarung dan membunuh supaya nanti waktu statusnya jadi active dia bisa melawan Alt-nya dan survive. Dari sinilah serunya dimulai. Terutama ketika baru beberapa kali mendapatkan strike, si West sudah beralih status menjadi active dan harus memburu Alt-nya sendiri.

Basically, bukunya seru. Dari awal sampai akhir, pace yang dihadirkan cepat dan nggak mbosenin. Bahkan saya cukup terpacu untuk terus membaca sampai selesai. Hanya saja, ada beberapa kelemahan yang masih saya temukan (menurut saya lho ya..).

Di buku ini, deskripsi tentang situasi Kersh masih belum bisa saya tangkap dengan mudah. Entah karena saya bacanya terburu-buru atau memang informasi tersebut masih kurang. Dan lagi, istilah-istilah yang digunakan (dan cukup banyak), lumayan harus dihafalkan karena semakin ke belakang akan ada banyak singkatan. Kalau nggak hafal, jatohnya pasti bingung. Kayak misalnya AK (Assistant Killing), orang yang membantu membunuh Alt orang lain, dan masih ada beberapa lagi yang saya nggak hafal kepanjangannya apa. 
Terus, dalam hal cerita sendiri, penggambaran romansa si Chord sama West masih agak kurang greget kalau saya bilang. Saya belum bisa mendapatkan alur dan emosi yang smooth pas baca ini. I mean, ada beberapa cerita yang penggambaran kisah cintanya pas banget sehingga semakin dibaca emosi kita semakin berkembang. Nah, di buku ini, sayangnya, saya merasa kisah cinta mereka masih terlalu “ujug-ujug”. Meskipun di awal terlihat bahwa West ada rasa sama Chord, dan sebaliknya, emosi mereka masih belum terasa dan tiba-tiba di bagian menjelang akhir rasa cinta mereka malah digambarkan dengan lebih tajam. Jadi grafiknya terlalu menanjak, masih kurang smooth.
Dan yang terakhir, endingnya. Saya nggak akan ngasih tau endingnya karena saya males kasih spoiler. Cuma jelas ya akhirnya si West-nya bertahan. Kalau enggak, nggak mungkin ada buku ke dua, apalagi sudut pandang bukunya dari si West-nya. Yang pasti, yang bikin penasaran adalah, gimana caranya si West ini mengalahkan Alt-nya. Nah, ending di buku ini masih kurang shocking kalau menurut saya. Ada beberapa buku yang ketika masuk ending, saya bakalan langsung melotot dan senewen sendiri karena pemotongannya justru di bagian yang paling seru, dan akhirnya bikin nggak sabar untuk baca buku ke duanya. Nah, di buku ini, saya kurang mendapatkan emosi seperti itu. Bahkan bisa dibilang, sebenarnya kalau buku ini mau dibikin satu ini aja juga udah bisa. Jadi kurang ada keinginan yang menggebu-gebu untuk baca buku ke dua. Tapi, sisi positifnya, kita jadi blank sama sekali buku keduanya bakal nyeritain tentang apa. Jadi, saya sih nunggu-nunggu juga.. :D

Overall, saya merasa buku ini worth it dibaca. Apalagi untuk hiburan di kala bosan dan penat. Beberapa orang sempat memprotes kalau buku ini terlalu sadis untuk ukuran buku YA. Apalagi kan banyak adegan bunuh-bunuhan (mengingat West itu striker dan juga sedang memburu Alt-nya). Tapi kalau buat saya (yang cukup biasa dengan film-film thriller dan slasher), ceritanya nggak sadis juga.. :p

Mungkin setelah membaca buku ini, ada pertanyaan yang muncul dan sedikit mengganjal di pikiran (saking penasarannya). Well, bisa contact author-nya di sini kalau mau:


Dan sepertinya orangnya sangat welcome sekali diajak diskusi.
Ngomong-ngomong, saya jadi pengen minta tanda tangannya plus dikirimin satu koleksi majalah OOR yang dia punya.. :p #eh <- salah fokus

Tuesday, January 22, 2013

January Update!!


Baru sadar kalau tahun ini saya baru nge-post satu kali, awal Januari lalu. Belakangan agak sedikit menganaktirikan ini blog karena saya malah jadi lebih bisa curhat (bahkan menggalau) di tumblr.. Selain karena isi tumblr-nya dijadikan sebuah proyek juga sih.. :p
Anyways, sudah saatnya blog ini sedikit hidup lagi dengan tambahan tulisan. Here we go!

Belum ada satu bulan sejak tulisan terakhir, udah cukup banyak yang terjadi. Nah, apa saja yang terjadi dengan saya akhir-akhir ini? Ternyata mostly nggak jauh-jauh dari fangirling-an.
Well, ini dia update-an bulan ini..

1. Rilis Deeper Deeper/Nothing Helps
Yah, yang ini imbasnya lebih ke fangirling-an.. Setelah rasanya lama banget nunggu tanggal 9 Januari 2013 (tanggal rilis single yang sudah saya ceritakan di sini), akhirnya tanggal 7 Januari kemarin sudah ada video klip full dari Deeper Deeper (yang sebelumnya cuma teaser sepanjang 30 detik). Dan ternyataaaaaaa!!! Saya begitu cinta sama lagu ini (sebelum akhirnya lebih cinta sama lagu ke-3 di single-nya yang berhasil membuat saya mewek-setengah-mati-mau-didengerin-berapa-kali-pun) karena bener-bener terdengar alternative rock! :3
Dan pengaruh The Used yang ditangani sama John Feldman (yang sekarang memproduseri cowok2 ini) terdengar sangat nyata di kuping saya. Bahkan konsep videonya pun semacam lebih creepy begitu. Wokeh~ Love it deh pokoknya!! X)
Sayangnya, saya masih menunggu CD saya datang. Entah ini sudah berapa lama. Dua mingguan ada kayaknya, tapi masih belum datang juga.. Sabar..

2. Beban kerjaan terangkat sedikit
Hal ini dikarenakan teman saya yang cuti melahirkan sudah kembali bekerja. Yay~
Dan otomatis kerjaan saya berkurang karena nggak perlu ngurusin proyek yang dipegang mbaknya. Ow yeah~ At least saya bisa bernafas sedikit lega..
Meskipun pada akhirnya saya tetap dikasih jatah proyek lain sih.. Hmmm..

3. Banjir!!! >_<
Oke. Yang ini bagian nggak enaknya. Pas hujan deras dari malam sampai pagi kapan itu (kalau nggak salah sih tanggal 17 Januari), kantor saya kebanjiran! -_-
Well, untungnya kosan saya enggak sih.. Meskipun kosan dan kantor saya jalannya cuma
sebelahan (atau depan belakang?), ketinggian tanah yang berbeda (kantor lebih rendah tentunya) membuat perjalanan ke kantor jadi semacam “alangan” yang luar biasa. Biasanya kalau hujan, jalanan di depan kantor emang menggenang sih airnya, apalagi kalau deres. Tapi saya tidak menyangka kemarin airnya akan setinggi itu.
Diawali dari statement teman sekantor yang menginfokan bahwa ketinggian air di jalan depan kantor sudah lumayan. Tapi saya tetep pede dong ya mau berangkat pagi itu. Bersenjatakan mantel dan payung, saya mulai berjalan ke arah kantor. Pas sampai belokan, sudah terlihat air menggenang. Oke, semata kaki, nggak masalah. Saya mulai berjalan dan menggulung celana agak tinggi. Semakin berjalan dan berjalan, kok kayaknya semakin tinggi aja airnya. Dan akhirnya puncaknya adalah ketika saya merasakan gulungan celana saya yang sudah hampir sepaha itu basah. Yea, great! Saya kerendem banjir di atas lutut.. -_-
Mau balik lagi kok sayang udah setengah jalan. Mau terus kok ya takut, mana hujan semakin deras dan saya takut banget nyebur got yang ada di kanan-kiri jalan, makanya saya jalan di tengah-tengah. Akhirnya memutuskan untuk lanjut jalan sambil terus berdoa dan berjuang biar nggak kepleset. Kan nggak lucu ya kalo saya tau-tau jatuh dan nyebur. Mana jalanan sepi, nggak ada orang yang nglewatin itu banjir, dan hanya ada beberapa bapak-bapak dari rumah di kanan-kiri yang ngeliatin saya berjalan sambil agak terheran-heran begitu. Kagum kali ya saya begitu bertekadnya menyeberangi air yang lumayan tinggi itu..
And guess what? Tiba-tiba dari belakang ada mobil lewat, dan saya terpaksa "didorong" minggir, mendekat ke salah satu rumah yang saya yakin ada terasnya (karena saya masih nggak mau nyebur got). Dan pas mobil itu lewat di depan saya, gelombang yang diciptakan si mobil berhasil membuat pot-pot tanaman yang  berisi tanaman-tanaman hias agak gedhe (termasuk pohon palem dalam pot) di sebelah saya ambruk semua. Damn! Saya mengumpat sama itu mobil.
Sampai kantor selamat. Tapi di sana pun air sudah mulai masuk dan ruang tamu (yang juga ruang tunggu peserta tes) sudah seperti kolam. Akhirnya, kami harus mengevakuasi peserta tes ke gedung sewaan paling dekat untuk proses asesmen. Selebihnya, temen-temen sekantor saya pada ngepel. What a great day.. -_-
Untungnya sih sekarang di tempat saya dan di kantor baik-baik saja. Memang di daerah lain masih banyak yang parah. Yah, semoga cepat surut deh, dan ke depannya nggak ada masalah lagi.. Amin.. 

4. PF akhirnya dataaaaaaaaaaaanngg~
Dan satu hal yang saya tunggu-tunggu di bulan Januari adalah kembalinya seorang teman dari Jepang (yang membawa pesanan saya). Yang ditunggu banget sih jelas barangnya ya.. :p
Well, setelah bernegosiasi dengan teman tersebut yang ternyata ada kerjaan langsung setelah pulang dan mengakibatkan pengambilan barangnya harus mundur, saya meminta salah satu teman yang lain untuk mengambilkan dan memposkan itu Primal Footmark langsung ke saya. Pokoknya pake service yang sehari langsung nyampe! *saking nggak sabarnya* *padahal barang juga belum dibayar*
Dan benar saja, pas banjir-banjir itu paket saya datang lho, sampai kantor dengan selamat. Padahal saya nggak yakin dalam suasana “dimana-mana air menggenang” pak posnya bisa on time. Ternyata memang pelayanannya tidak mengecewakan.
Bisa mendapatkan barang yang sebelumnya agak impossible dibeli karena lumayan mahal (banget malah..) itu rasanya seneng-seneng gimanaaa gitu. Dan akhirnya sekarang saya sudah terdaftar jadi member resmi. Yeah~ Semoga ke depannya membership ini bisa membantu! Pokoknya resolusi yang nggak terbantahkan adalah konser! World Tour, please.. >_< Amin..


Penampakan PF di tangan saya.. :3


Some of the pics inside.. 


5. Jinsei x Boku =
Lagi-lagi postingan tentang empat cowok yang berhasil membuat saya "merana" akhir-akhir ini. Di saat saya masih menunggu single-nya datang ke saya dengan selamat, tega-teganya mereka mengumumkan Maret besok album baru mereka rilis. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaarrgghh~ *nggak santai*
Dan sebagai fans yang baik (dan sudah pernah berjanji akan mulai mengoleksi karyanya), saya mau nggak mau harus mulai merencanakan PO dari sekarang. Sayang album yang Limited Edition (dan berhadiah DVD) sudah habis diorder, bahkan di situs resminya sekalipun. Jadi, saya terpaksa mengandalkan album reguler saja, serta berharap nanti ada yang nge-share isi DVDnya..  *sigh*

6. Menang Giveaway..
Yap. Sekitar akhir Desember atau awal Januari lalu saya ikut Giveaway yang diadakan di blognya Tanti. Dan beneran nggak disangka-sangka, saya menang. Lumayan deh, dapat buku sama kartu pos~ :3
Soalnya memang saya jarang buanget kepilih kalo undi-undian begini. Dari sejak lahir mungkin, nggak pernah kepilih, baik doorprize, undian berhadiah promo, atau kuis di majalah. Makanya suka males aja gitu ikut kuis-kuis begituan. Eh, sekarang kebagian juga. Memang ya, kalau sudah rejeki nggak akan kemana.. Dan mengingat hadiahnya buku, mungkin memang sudah nasib saya (yang ngaku suka baca buku) ini bisa menang.. *pede*
Dan jadi inget juga waktu si Tanti ke Jepang saya merongrong dia biar dikirimin kartu pos dari sana. Sekarang tanpa diminta pun saya dapat lagi.. :p
Anyway, makasih Tanti..!! ^^

Thursday, January 3, 2013

Lone Wolf: A Touching Story


Pas saya tugas ke Medan untuk kesekian kalinya Desember lalu, saya yang sebelumnya sudah bertekad untuk tidak beli buku sementara menunggu di Bandara akhirnya masuk Periplus juga. Katakanlah ini sudah semacam ritual yang biasa saya lakukan kalo pas lagi nunggu boarding. Jadi, waktu saya semacam pengen nggak masuk ke toko buku dan nunggu di luar gate aja, rasanya begitu hampa. Dan ujung-ujungnya, teman menunggu boarding saya berhasil "nyetani" dengan bilang kalo nggak ada salahnya saya masuk ke toko buku. Itung-itung liat-liat aja.. Jadilah, saya masuk juga.

Di dalam, saya mulai mengeksplor. Buku apa ya yang baru?? Dan ternyata jawabannya, banyak! T_T
Saya menemukan seri Lorien Legacies (The Rise of Nine) yang waktu saya ke situ terakhir kali belum ada. Saya juga nemuin The Mark of Athena (dari Heroes of Olympus) yang baru aja kelar saya baca e-booknya dan rasanya gatel pengen beli. Ada juga Underworld-nya Meg Cabot yang belum saya baca sama sekali. Bahkan buku pertama, Abandon, aja udah hampir lupa ceritanya kayak gimana. Dan yang lebih heboh, saya nemu casebook-nya Sherlock (series di BBC) yang sumpah packaging-nya terlihat keren, tapi sayang, harganya di atas 200 ribu. Waktu saya pegang itu, rasanya jadi pengen nangis. 
Oke. Sebelumnya saya harus mengaku kalau saya masuk toko itu cuma bawa duit 150 ribu. Rencana awalnya sih malah nggak akan memakai uang (saku) itu buat beli buku. Tapi godaan buku-buku itu terlalu besar buat saya.. T_T Dan saya akhirnya memutuskan untuk cari buku yang cenderung lebih murah dari yang saya pengen dan sebutkan di atas (yang kisarannya dari 125 - 200 ribuan). 

Dan akhirnya, setelah bingung buku mana yang harus saya pilih, saya memutuskan untuk mengambil satu buku dari Jodi Picoult yang berjudul Lone Wolf. Setelah bergalau-galau ria di dalam toko dan menimbang-nimbang sedemikian rupa (sampai diliatin oleh salah satu ibu-ibu bule yang belanja di sana karena aneh mungkin), saya bawa juga buku itu ke kasir. And then, menghilanglah uang 90 ribu saya.. Huks. Antara menyesal dan enggak, tapi saya masih punya feeling nggak akan menyesal beli buku itu, jadi ya lumayan biasa sih rasanya..
Dan pas saya keluar bawa tentengan, teman saya yang nunggu di luar sambil duduk-duduk ketawa dan nyukurin karena pada akhirnya saya tidak jadi berhemat untuk menabung dan malah beli buku juga.. Dasar nggak sopan! -_-
Siapa coba yang awalnya nyaranin buat masuk?? #carikambinghitam


Ini versi yang saya dapat. Masih ada beberapa versi cover lain.



Anw, buku yang saya pilih tadi sebenarnya sangat random. Saya kurang familiar dengan karya-karya Jodi Picoult. Dan saya juga cuma baca My Sister's Keeper aja dari seluruh bukunya yang entah sudah ada berapa. Yang saya tahu sih, karakternya Jodi Picoult kalau nulis buku itu selalu ada masalah hukum yang diangkat (CMIIW). Dan ternyata, saya juga menemukannya di buku Lone Wolf ini.
Entah kenapa pas saya pegang bukunya di toko buku dan membaca sinopsis cerita di belakang bukunya, saya tertarik. Dari judulnya pun entah kenapa sudah sangat mencuri perhatian saya. Kenapa? Karena saya sangat tertarik dengan serigala. Dari dulu. Setiap liat serigala di Discovery Channel atau apaaaa gitu, rasanya langsung pengen berhenti ngapa-ngapain dan ngamatin aja. Buat saya sosok hewan serigala itu cakep, tangguh, dan entah kenapa terkesan bisa jinak aja meskipun mungkin enggak. Makanya dari situ saya jadi suka banget sama Siberian Husky yang perawakannya mirip banget sama serigala. By the way, dengan ketertarikan berlebih saya sama serigala itulah akhirnya saya langsung tertarik sama buku ini. Terlebih setelah dibaca, sang tokoh utama yang digambarkan di situ ternyata sangat suka hidup di alam bebas dan bergabung dengan kawanan serigala. Penasaran dong ya.. 
O ya, judul Lone Wolf-nya sendiri mengacu pada serigala yang tidak tergabung dalam kawanan manapun.




So, basically, inti cerita buku ini adalah tentang seorang laki-laki paruh baya bernama Luke yang berprofesi sebagai zoologist dan sangat curious dengan kehidupan kawanan serigala. Dari situ akhirnya dia memutuskan untuk mempelajari semua seluk-beluk serigala secara natural. Dan nggak cuma ngamatin aja, bahkan si Luke ini pada akhirnya ikut bertingkah seperti serigala dan sampai menghabiskan waktunya selama 2 tahun untuk hidup dan menjadi bagian dari kawanan serigala liar di Canada. Di buku dideskripsikan dengan sangat detil pemahaman si Luke tentang serigala, kawanannya, pembagian peran dalam kawanan, bahkan makna dari howling-nya para serigala itu (termasuk gimana caranya mereproduksi howling tertentu untuk tujuan tertentu) serta cara-cara mereka dalam merekrut kawanan baru. Detil banget. Dan dari sinilah saya merasa saya nggak salah memilih buku.
Dan karena nggak mungkin bukunya cuma ngomongin serigala aja karena ini adalah novel drama, ceritanya sendiri punya konflik yang cukup seru. Si Luke ini mengalami kecelakaan dan akhirnya koma. Dokter sih memprediksi kondisinya nggak bakal berubah dan meminta keluarganya mempertimbangkan untuk mencabut life support yang sejauh ini membuatnya bisa bertahan. Nah, dari sisi keluarganya sendiri ada perebutan tempat untuk menjadi pengambil keputusan. Dua anak Luke masing-masing berebut untuk memutuskan, tapi dengan keputusan yang berbeda dan bertolak belakang. Dan saking rumitnya masalah, kasusnya juga akhirnya banyak melibatkan hukum di situ.

Saya bilang sih penggambarannya oke. Jodi Picoult dengan detilnya bisa memberikan informasi luar biasa yang bisa bikin saya terkagum-kagum bacanya, terutama dalam hal serigala. And FYI, saya baru tahu kalau pemahaman masyarakat luas terkait Alfa, Beta, Omega, dll di kawanan serigala itu salah besar. Kenapa saya bisa yakin buku ini yang benar dan bukan anggapan selama ini yang benar? Karena buku ini ditulis dengan fakta-fakta yang nyata. Singkatnya, ada "Luke" nyata yang menjadi sumber inspirasi dari buku ini dan juga menulis buku tentang pengalamannya itu. Kesimpulan saya setelah baca: Oke. Berarti Stephenie Meyer itu salah banget nggambarin kawanan werewolf di Twilight.. :3

Buku ini, selain bisa bikin saya yang awalnya agak males-malesan baca buku karena capek, semangat untuk membuka halaman demi halaman. Dan entah di berapa bagian, saya nangis sesenggukan karena terharu sama ceritanya. Beneran deh, saya jadi semacam galau baca buku ini karena sedih dan kasihan. Dan akhirnya setelah saya menyelesaikan bukunya, saya sama sekali tidak menyesal karena memilih buku ini secara random dan hanya berdasarkan feeling. Saya malah jadi percaya lebih sama feeling saya. Terbukti sih.. wkwkwk

So, bagi yang suka baca buku dan suka genre drama, bukunya recommended. Dan yang saya suka banget dari buku ini jelas adalah informasi yang bisa saya dapatkan. Ini seperti kompilasi novel sama ensiklopedi kalau buat saya, lebih tepatnya ensiklopedia serigala.. :)

Nah kan? Sekarang saya malah jadi pengen punya serigala.. -_-