Tuesday, August 5, 2014

Tentang Baca..


[cr on the pic] [source: www.rifflebooks.com]

Saya kepingin bisa mendaftar target buku apa yang harus saya baca dalam kurun waktu tertentu, dan men-checklist mana yang berhasil saya selesaikan. Secara pribadi tentunya. Yah, simple. Tapi entah kenapa saya merasa bahwa harusnya saya sudah lakukan itu minimal setahun yang lalu.

Sebagai penggila buku, entah sudah berapa buku yang sudah saya baca, baik yang bentuknya buku beneran atau digital (e-book), buku sendiri atau buku pinjeman. 
Sejak pertengahan tahun lalu, saya semacam kejar target baca buku, setelah beberapa waktu sebelumnya saya merasa males-malesan, terutama karena deadline kerjaan yang menggila dan saya merasa kecapekan setelah pulang sehingga nggak ada waktu untuk baca. Tapi setelah menemukan pace yang pas, pada akhirnya saya berturut-turut bisa menyelesaikan buku-buku yang saya targetkan waktu itu. Jadilah, sejak awal tahun ini, saya mulai mencari buku-buku yang asyik untuk dibaca, dan mulai menghabiskan waktu luang untuk benar-benar melahap halaman demi halaman. Terutama karena akhir-akhir ini saya menemukan banyak sekali referensi buku-buku bagus yang daftarnya seolah nggak ada habisnya. Kadang saya bisa baca satu buku dalam sehari, dua hari, atau yang agak berat seperti Inferno-nya Dan Brown atau beberapa buku tebal lain, saya habiskan dalam seminggu atau lebih. Nggak maksa juga sih, yang penting ada waktu dan mood untuk melanjutkan ( <- biasanya kalau ini tergantung sama ceritanya juga). Tapi, saya baru merasa butuh membuat checklist dan target karena ada beberapa buku yang saya bahkan nggak ingat sudah pernah dibaca atau belum. Ada juga buku-buku yang baru saya baca sebagian dan terabaikan begitu saja, tanpa terselesaikan. Nggak bagus sebenarnya, karena kalau saya loncat dari buku tersebut ke buku lain jadinya memusingkan. Tapi faktanya gitu sih.. -_-

Pas saya lagi demam-demamnya (lagi) sama HTTYD, sama mulai membaca semua buku Cressida Cowell yang bisa saya temukan (dan ternyata sudah ada di file saya). Awalnya sih saya pikir memang saya belum baca, karena seingat saya juga saya baru baca buku pertama. Tapi menjelang buku-buku selanjutnya, pas saya baca, rasanya kok familiar dengan ceritanya. Bahkan saya sudah bisa menebak endingnya seperti apa. Semacam déjà vu gitu. Dan benar.. saya aslinya sudah baca tapi lupa. Apaan coba? -__- Semacam buang-buang waktu buat baca ulang nggak sih?

Dan beberapa waktu yang lalu, saya membeli buku 1Q84-nya Haruki Murakami yang tebelnya na’udzubillah itu (gabung 3 buku jadi 1). Nah, buku ini adalah salah satu buku yang paling lama saya selesaikan. Selain tulisannya yang kecil-kecil macam semut, saya juga bacanya kalau pas sempet aja, jadinya entahlah waktu itu dua buku saya selesaikan dalam waktu berapa lama. Pokoknya cukup lama. Dari segi ceritanya sih bagus, cuma mungkin saya agak bosen dengan pace yang agak lambat dan halamannya yang banyak. Meskipun terjemahan bahasa Inggrisnya enak banget sih, jadi nyaman-nyaman aja bacanya. Tapi di buku ke tiga, akhirnya saya stop. Niatnya sih waktu itu rehat dulu, tapi sampai sekarang akhirnya saya belum ngelanjutin baca lagi. Kenapa?
Satu. Saya banyak tergoda oleh buku-buku bagus lainnya yang sudah antri minta dibaca. Bahkan saya sempat dipinjami beberapa buku oleh teman saya di Jogja dan dari sekian buku tersebut, pada akhirnya saya cuma berhasil menyelesaikan satu buku. Lagi-lagi, karena interest saya terhadap buku lain lebih besar. Pada akhirnya, terbengkalailah beberapa buku yang niatnya saya baca.
Dua. Akhir-akhir ini, saya merasa lebih suka membaca buku digital/e-book. See, saya biasanya baca buku sebelum tidur. Pokoknya sampai mata rasanya berat dan akhirnya tertidur. Masalahnya, kalau saya baca buku beneran, saya harus menghidupkan lampu kamar (yang harus dimatikan kalau tidur) dan jaraknya jauh sama tempat tidur *excuse paling lame*. Nah, kalau ketiduran, lampu bakalan terus menyala dan tidur saya jadi nggak nyenyak. Akhirnya, saya jadi lebih suka baca e-book. Karena di HP kan sudah ada cahaya. Jadi gelap pun tidak masalah. Bahkan terkadang saking ekstrimnya, meskipun saya sudah punya buku fisiknya, saya tetap download yang ebook untuk dibaca sebelum tidur. Selain itu juga praktis, bisa dibaca dimana saja dan kapan saja.

Saat ini saya sedang baca series A Song of Ice and Fire karya George R.R. Martin. Awalnya, saya nggak begitu tertarik dengan series ini. Serial TV-nya juga saya nggak ngikutin. Tapi karena semua orang suka dan bilang bagus, saya akhirnya penasaran. Ditambah teman chatting saya pamer beli kelima bukunya pake harga diskon dan jadi murah meriah (padahal sini pengen beli boxed set-nya aja harganya hampir 700 ribu sendiri. Huhu). Setelah memutuskan untuk nonton seriesnya dan suka banget, saya akhirnya ingin coba baca. Dan, well.. ketagihan deh.. -__-
Sudah masuk buku ke tiga, dan saya nggak sabar sampai ke bagian lanjutan dari seriesnya. Wohoo!

Intinya, sebagai seseorang yang ngaku maniak buku, saya merasa harus punya target baca. Buat saya, bisa menyelesaikan buku dalam waktu yang cepat itu termasuk produktif. Sehari bisa berapa chapter aja sudah lumayan. Dan dengan men-checklist apa yang mau saya baca, mana yang sudah saya selesaikan, saya juga jadi tahu berapa banyak rata-rata jumlah buku yang saya selesaikan dalam waktu setahun. Keren nggak sih kalau kita sadar ternyata kita sudah baca ribuan buku (misalnya)? :3
Dan impian saya selanjutnya, saya mau bikin perpustakaan pribadi. Saya ingin mewariskan buku-buku saya ke anak-anak saya nanti *tsaaah*. Saya mbayangin saat dimana anak saya nanti akan tanya, “ini buku apa?” dan saya bisa memberikan dia edisi pertama terbitannya misalnya. Kan keren ya.. Atau saya bisa memberikan mereka buku-buku yang mungkin di jaman itu sudah tidak ada atau langka. Pokoknya saya pengen anak saya nanti nggak usah pusing-pusing kalau baca buku. Tinggal ambil aja mana yang mau dia baca, dan pilih. Berbagai genre, dan untuk berbagai rentang usia (disesuaikan pastinya).

Ngomong-ngomong, saya lagi seneng cari-cari bargain books yang harganya dibawah 50rb atau 100rb. Buku-buku itu aslinya bisa nyampe harga 200-300an. Tapi karena katanya cacat sedikit, akhirnya jadi buku bargain. Beberapa kali saya beli, dan saya puas banget karena saya bahkan nggak nemu cacatnya di sebelah mana, alias masih tampak baru dan lengkap. Dan ada satu pop-up book yang khusus saya simpan buat anak saya kelak (XDDDD) karena bagus dan jadi murah (padahal aslinya mahal banget).. :p

Sepertinya sindrom bookworm saya sudah mulai akut nih. Hmm… 

Wednesday, June 4, 2014

YEAH..!! DIVIDED!!!

Berasanya blog saya akhir-akhir ini isinya cuma review buku semua. Tapi ya gimana.. lagi seneng baca.. :p
Dan barusan kelar baca bukunya Elsie Chapman yang judulnya Divided

Sebelumnya, saya pernah review Dualed (buku pertamanya) di sini. So now, it's time for the sequel! :D

Way earlier, Elsie asked me for a review. Sebelumnya sempat mikir apa mau bikin review pake bahasa Inggris (which is gonna be the first time for this blog), tapi karena dia bilang nggak papa pake bahasa Indonesia aja (dan saya berharap dia nggak baca :p), so here it is. As promised, Elsie. My review for Divided

Jauh-jauh hari sebelum bukunya terbit, saya udah pengen order. Jadi, lewat periplus.com (saya nggak iklan, tapi beneran ini online store satu servisnya sangat memuaskan. I suggest you buy your books from here) saya coba browsing, mengingat saya beli Dualed juga di situ. Tapi ternyata, pas dicari-cari, bukunya belum nampak. Akhirnya saya e-mail customer service-nya, dan menanyakan ketersediaan buku buat PO. Satu minggu sebelum rilis, saya cek masih belum ada juga di daftar, akhirnya saya ingatkan biar saya dikasih notif kalo udah bisa PO (yea, well.. saya memang semacam reminder kalo pengen order sesuatu di tempat-tempat tertentu). Dua hari kemudian, saya diemail dan dikasih link bukunya. Instantly, saya langsung PO. Sebenarnya agak merasa rugi karena biasanya kalo beli buku baru, member bisa dapat diskon 10%, which is lumayan banget itu, karena harganya kan lumayan juga. Tapi karena saya nggak mau nunggu lama dan mau cepet-cepet dapet, dan takutnya malah ribet dan nggak sempet order di kemudian hari, saya ikhlaskan saja itu diskon. Eh, ternyata bukunya nyampe ke saya cuma selang waktu 6 hari (plus hari libur) dari tanggal rilis. Padahal di situsnya dibilang kalo proses pemesanannya sendiri memakan waktu 12-20 hari (hari libur nggak dihitung) dari tanggal rilisnya. Saya jadi mikir, mungkin tidak adanya diskon membuat saya bisa dapat buku lebih cepat dari yang saya duga.. :3


Daaan.. cukup menghabiskan waktu 1,5 hari saja membaca Divided. Dan buku ini jauuuuhh lebih bagus daripada buku pertamanya! huhu
Well, saya suka buku pertamanya, tapi ada beberapa hal yang menurut saya masih agak minus. Bahkan di beberapa bagian saya juga merasa kurang puas. Tapi ternyata, buku kedua ini benar-benar sesuai ekspektasi. Nggak salah review yang saya temukan di Goodreads beberapa hari sebelumnya, yang bilang kalo yang nggak suka Dualed pun bakal seneng sama sequel-nya. Karena memang improvement-nya keliatan banget! >.<

Okay. Now the story..
Cerita dari buku ini sendiri masih meneruskan kisah dari West Grayer, di suatu tempat bernama Kersh, yang sekarang sudah berstatus complete karena dia berhasil membunuh Alt-nya, hasil rekayasa genetika yang menggabungkan gen orang tua-nya dan sepasang orang tua lain untuk nantinya menghasilkan dua anak yang sangat identik dan dikemudian hari mereka harus bertarung untuk membuktikan siapa yang bisa survive dan lebih layak hidup. Setelah lepas dari kecemasan harus diburu dan bertarung dengan Alt-nya, West berusaha hidup normal seperti sebelumnya dengan bekerja sebagai asisten guru kelas weaponry-nya yang bernama Baer. West juga bisa dibilang sedikit mendapatkan trauma psikologis gara-gara pengalamannya tersebut, jadinya dia juga masih dalam proses pemulihan dan terapi. 
Suatu hari, West diminta ikut ke Board headquarters (semacam pemerintahannya Kersh) oleh seorang officer. Awalnya West curiga dan takut kalau dia akan ditangkap gara-gara dia pernah jadi Striker (meskipun udah nggak lagi). Tapi ternyata, sesampainya di fasilitas Board tersebut, seorang officer level 1 (level yang paling tinggi), menawarkan sebuah pekerjaan untuk West, yaitu menjadi striker lagi, dengan membunuh tiga orang Alt yang katanya adalah Alt dari tiga anak petinggi Board di level 1. Jika bersedia, West dijanjikan kalau anaknya nanti nggak bakalan punya Alt dan tidak harus membunuh demi bertahan hidup. Tapi permintaan si officer ini sendiri sebenarnya lebih ke arah ancaman, karena dia tahu West bekerja sebagai Striker sebelum beralih status sebagai seorang complete. Karena menginginkan masa depan yang baik untuk anaknya nanti, dan karena hampir tidak ada pilihan lain, akhirnya West menyetujui. Tapi ternyata, dari sini, banyak hal-hal tidak terduga yang ditemukan oleh West yang juga mengungkap rahasia di balik permintaan sang officer dan menyangkut masa lalu dari Board dan beberapa orang yang West kenal. Intinya begitu.

Banyak sekali twist di buku ini yang menjadikan ceritanya sendiri semakin kompleks. Saya suka surprise-surprise di beberapa bagian yang cukup tidak bisa ditebak, dan akhirnya bikin betah baca dan nggak pengen berhenti. Di buku ini, deskripsi yang diberikan juga lebih detil. Bahkan saya merasa banyak sekali jawaban-jawaban yang saya temukan untuk pertanyaan yang saya pikirkan sewaktu baca buku pertama. Sejarah Kersh sendiri diberikan dengan detil, bagaimana ternyata Kersh itu adalah wilayah terisolasi dari sekelilingnya (yang di buku disebut dengan Surround, dunia kita yang biasa), dan dibangun oleh tiga orang sahabat yang masing-masing punya kapasitas dan skill di area-area tertentu dan alasan akhirnya mereka mencetuskan aturan untuk penciptaan Alt itu sendiri. Pembagian wilayah Kersh juga diceritakan, termasuk tingkat kesejahteraannya. Dan karena yang dijual dalam ceritanya adalah aksi, saya harus akui nilai plus penceritaan Elsie ada di area itu. Oh, satu lagi. Di buku sebelumnya, saya sempat merasa agak aneh dengan jalinan cinta West dan Chord yang masih kurang smooth. Tapi saya nggak menemukan keanehan itu di sini karena romance mereka berdua jauh jauh jauh lebih pas dan lebih mulus di sini. And I love Auden!! X) *jarang-jarang saya naksir sama cowok yang bukan tokoh utama dan munculnya agak belakangan*

Overall, bukunya recommended banget! Meskipun di bagian awal-awal saya merasa agak susah memahami deskripsinya (Elsie banyak banget pake vocab yang bikin saya harus ngulang baca setiap kalimatnya), seiring berjalannya waktu dan seiring bertambahnya chapter, bacanya juga lebih mengalir. Nggak terlalu mengganggu lah.. 
Oh. And you know what? Gara-gara baca buku ini semalam suntuk saya jadi kesiangan paginya dan hampir nggak ngantor kalau nggak di BBM sama teman saya dan akhirnya bisa bangun.. XD Bahkan saya juga bela-belain baca buku ini di kantor dan setelah selesai rasanya langsung sumringah mbahas isinya dan ngirim mesej ke Elsie sampe pengen ngasih spoiler ke yang belum baca. 

So yes, Elsie! Congrats!! You've done a great job finishing the story! (in case you read it, but I still hope you don't) Sayang karena bukunya cuma dwilogi, jadinya ya nggak ada terusannya. I sure hope she'll write more great books in the future! :D

Oke. Sekarang lanjut baca buku yang lain lagi.. :3

Friday, May 23, 2014

Just Another Thoughts on Books

Akhirnya, setelah berminggu-minggu tenggelam oleh ber-season-season series, saya akhirnya bisa lagi baca buku yang masih banyak diutangin. Belum selesai sih baca IQ84-nya Haruki Murakami (tinggal buku terakhir, semangat!), tapi karena bukunya terlalu tebal dan saya masih agak males nerusin, akhirnya mencoba membaca buku lain. Selesailah dua buku, The Graveyard Book karangan Neil Gaiman, dan Pivot Point karangan Kasie West

Temen saya minjemin The Graveyard Book pas saya pulang ke Jogja bulan lalu. Diantara 5 buku yang dia pinjemin, baru satu ini yang bisa saya selesaikan, meskipun sebenarnya saya sudah punya ebook-nya sejak jaman dahulu kala. Yang lain masih antri. Untuk Pivot Point sendiri, buku ini sudah masuk waiting list berbulan-bulan yang lalu. Salah satu teman di tumblr bikin saya ngeh sama buku ini dan kayaknya seru. Akhirnya kesampaian juga menyelesaikan satu buku, tinggal cari waktu untuk baca lanjutannya. 

Well then, here are the reviews.. :3


THE GRAVEYARD BOOK

source: girlreporter.blogspot.com
Buku karangan Neil Gaiman ini terbilang unik. Selain setting ceritanya di pemakaman, tokohnya juga seorang anak bernama Bod (Nobody Owens) yang akhirnya diadopsi oleh sepasang hantu suami-istri yang sudah meninggal di pemakaman gara-gara waktu masih bayi, keluarganya dibunuh oleh seseorang bernama Jack. Sebenarnya sih si Bod juga harus dibunuh, tapi dia merangkak aja ke pemakaman, ditemu sama hantu-hantu di sana, dan akhirnya bisa lepas dari pembunuhnya. Penjaga makam yang bernama Silas (yang nggak jelas orang hidup atau orang mati) juga menjadi walinya dan bisa menghindarkan si Bod dari pembunuh (yang ngikutin dia sampai pemakaman). Hal ini juga menjadi salah satu alasan si Bod nggak boleh keluar dari pemakaman ketika tinggal di pemakaman.
Buku ini banyak menceritakan petualangan Bod sebagai seorang anak yang cukup nggak normal, karena dia nggak punya teman dan sehari-harinya hanya bergaul dengan hantu. Di sini juga diceritakan gimana si Bod bisa punya kemampuan yang cukup berbeda dari manusia kebanyakan. Sampai misteri tentang pembunuhan keluarganya dan rahasia di balik itu. 

Saya bilang sih bukunya seru. Jujur saya nggak terlalu banyak baca karangan Neil Gaiman, meskipun banyak yang bilang bukunya bagus-bagus. Tapi pas baca buku ini, memang tampak ketidakbiasaan yang tidak banyak ditemui di buku-buku lain. Saya juga merasa kasihan sama Bod. I mean, come on.. Selama belasan tahun dia hidup di pemakaman, belajar dari orang-orang mati (bahkan sekolah pun cuma berapa saat dan dia harus memudar diantara teman yang lain supaya nggak menonjol). Yah, meskipun tetap ada hal-hal yang agak ganjil sih buat saya. Bayi yang jalan merangkak menaiki bukit sampai ke pemakaman itu terdengar agak berlebihan (but I'm not complaining tho, the story turned out well). Sama satu lagi, obrolan Bod pas umur 5 tahun sama temannya yang dia temui di pemakaman itu terdengar terlalu cerdas, terutama untuk anak 5 tahun. But well.. yang penting endingnya sangat menyentuh buat saya. 

Saya bilang sih bukunya recommended. Bukan buku yang berat, tapi juga nggak ringan-ringan banget. Pas lah buat hiburan. Dan nggak terlalu tebal juga,. :p


PIVOT POINT

Sebelum tau buku ini, saya nggak pernah dengar tentang Kasie West. Tapi saya bersyukur saya bisa nemu ini buku di tumblr dan akhirnya penasaran untuk baca. Because I loved it!
Mungkin buku YA ini nggak terlalu jauh dari genre yang lagi booming sekarang. Tapi saya suka sekali dengan gaya penceritaan sang pengarang, yang akhirnya membuat saya ketagihan baca terus-terusan sampai selesai.. :)

source: kasiewest.com
Ceritanya berpusat pada Addison Coleman, remaja cewek yang tinggal di Compound (tempat yang terisolasi dari dunia manusia normal (Norm World) dan isinya full orang-orang yang punya kekuatan tidak biasa) dengan kemampuannya untuk melihat masa depan ketika dia dihadapkan pada dua pilihan. Kemampuannya ini disebut Divergence, tapi orang suka salah kaprah bilang dia Clairvoyant. Jadi, kalau dia merasa bimbang dengan apa yang harus dia pilih, dia bisa melakukan Search dan tau hasil dari masing-masing pilihan yang akan dia ambil. Yah, semacam cenayang mungkin, tapi hanya berlaku untuk dirinya sendiri, dan dalam situasi harus menentukan sebuah pilihan. 
Addie punya satu sahabat namanya Laila, yang punya kekuatan untuk menghapus ingatan seseorang. Dua orang ini sudah berteman sejak kecil, and practically, kemana-mana selalu berdua. Suatu hari, orang tua Addie bilang kalau mereka mau bercerai. Dan Addie, sebagai anak satu-satunya diminta untuk memilih mau tinggal dengan siapa. Addie tadinya ingin bisa membagi waktu untuk mereka berdua, tapi ternyata sang Ayah (yang punya kekuatan bisa mendeteksi kebohongan) ini merencakan akan hidup di Norm, dunia biasa, yang isinya orang-orang normal dan tidak punya kekuatan. Yang mana jika Addie memilih tinggal bersama ayahnya, dia harus ikut ke sana. Atau ia bisa tinggal bersama ibunya (yang punya kekuatan Persuasiveness) di Compound dan melanjutkan hidupnya sekarang. Mau tidak mau, untuk menentukan pilihan, Addie harus melakukan Search.

Setelah sampai pada plot ini, bukunya dibagi menjadi dua kisah. Kisah pertama adalah jika Addie ikut ayahnya tinggal di Norm dan jauh dari sahabatnya, Laila, dan kisah ke dua adalah jika ia tinggal bersama ibunya di tempat ia tinggal sekarang. Ceritanya sediri berganti di setiap chapter. So the point of the story is WHAT IF. Dan semakin ke belakang, semakin kita menebak-nebak mana masa depan yang kita inginkan buat Addie, atau yang akhirnya dia pilih. 

Saya suka sekali cara pengarangnya membangun hubungan Addie dengan Laila, sahabatnya. Bahkan di titik-titik tertentu, komunikasi mereka sangat relatable dengan saya sendiri (yang agak dramatis - lol). Seperti misalnya, cara Laila merespon curhatan Addie yang sumpah mirip banget sama obrolan saya dengan teman saya dan bikin saya ngakak berkali-kali. Atau gimana alurnya benar-benar smooth, memainkan emosi, dan meskipun ide ceritanya nggak realistis tapi tetap bisa terkesan "biasa" sekali, saking manusiawinya. Pokoknya buku ini enak banget buat dibaca. Saya cuma butuh waktu dua hari buat menyelesaikan. Yes, THAT interesting! 
Saya juga suka gimana cara si pengarang membangun emosi antara Addie dengan cowok yang dia sukai secara perlahan. And oh my God, I looooove Trevor. Dia nggak dreamy-dreamy banget kayak lead character di kebanyakan buku, nggak perfect, even he seems so normal and sometimes he could be a weirdo. Tapi saya sukaaaaaa banget. Dan karakternya.. *sighs*  
Meskipun ada bagian-bagian yang membuat saya shock dan nangis (karena yang saya harapkan nggak kesampaian), tapi pada akhirnya jadi semakin penasaran sama lanjutannya. huhu

Jadi, ini buku sangat recommended! Silahkan dicari dan dibaca! :3 *manas2in*

And now I'm reading Split Second, the sequel.. *excited*

Monday, March 17, 2014

Avril Lavigne on Tour: A Short Experience


Jadi, beberapa hari yang lalu kebetulan saya nonton konser cewek imut dan cantik ini. I know, I was too lazy to write it immediately, dan baru sekarang sempat menuliskan kesan-kesannya. Hopefully my memory’s not playing tricks on me dan semua yang saya ceritakan akurat. Well, at least sesuai versi saya.
Okay, here we go

Jadi, saya ceritakan dulu kondisi saya di minggu itu. Basically, kerjaan saya cukup menggila. Dari hari Senin sampai Kamis saya sebenarnya menangani proyek di luar kantor yang cukup hectic dan melelahkan. Tapi beruntung saya bisa ambil cuti di tanggal 12-nya (hari Rabu) karena kalau enggak saya nggak mungkin bisa ijin pulang lebih awal biar bisa ngurusin penukaran tiket dan sebagainya. Oh iya, FYI, saya nonton konser dengan satu teman baik saya sejak SMA. Beruntung waktu saya mau beli tiket, dia mau diracuni untuk ikutan. Syaratnya, yah.. saya yang harus ngurusin semuanya karena konsernya weekdays dan dia nggak mungkin merelakan tugasnya di kantor untuk ngurusin beginian. Saya sanggupi deh. Dan akhirnya, datanglah hari H.

Pagi itu, saya bangun dengan badan yang rasanya nggak karuan. Malam sebelumnya sebenarnya saya sudah merasa sedikit meriang. Tapi saya cuma minum obat herbal yang biasa saya minum kalau masuk angin dan berharap rasa nggak enak itu segera pergi setelah saya tidur. Tapi tidak saudara-saudara, badan saya malah semakin nggak karuan paginya. Tangan udah gemetaran, padahal perasaan juga udah lama banget nggak ngerasain begitu. Akhirnya segala cara saya lakukan untuk mencegah kondisi badan semakin parah. Kan nggak asik banget ya, udah cuti, niatnya mau seneng-seneng nonton konser, malah sakit.
Tapi ternyata, setelah mandi dan mau berangkat, saya rasanya malah mau pingsan. Saya udah mencoba BBM dan menghubungi temen saya, ngabarin kalau badan saya nggak karuan dan nggak jelas bisa melanjutkan rencana atau enggak, tapi nggak diangkat. BBM saya pun nggak sampe. Tambah panik. Mana taksi waktu itu udah mau datang dan sudah mendekati jam 3. Akhirnya saya paksakan untuk siap-siap sambil terus berdoa dan balsam-an. Yap, saya balsemin itu semua badan biar anget. Nggak peduli orang bakal nyium bau balsem kalo saya lewat. Yang penting badan saya oke-oke aja. Akhirnya, taksi datang, dan saya meluncur ke venue.

Sampai di venue, yang nggak jauh-jauh banget dari kosan saya, langsung saya ke booth penukaran tiket. Karena saya waktu itu beli kelas VIP Festival, saya dapat poster sama light stick. Lumayan lah. Tapi bodohnya, saya nggak bawa karet buat posternya karena akhirnya itu poster malah menyulitkan saya ngapa-ngapain. Akhirnya saya hubungi teman saya minta dia bawain karet gelang.
Rencana awalnya, saya sebenarnya mau datang lebih pagi supaya saya bisa ngantri. Tau sendiri kan kalau konser masuknya rebutan. Meskipun saya sudah pegang kelas VIP, yang saya bingung adalah, kenapa yang beli VIP banyak banget? Ini sih sama aja bo’ong VIP-nya. Teman saya baru bisa meluncur ke venue setelah jam pulang kerja. Tapi jujur waktu itu saya nggak kuat kalau harus antri langsung, mana berdiri pula. Saya takut pingsan. Itu lebih eww. Akhirnya saya cuma duduk-duduk aja gitu sambil chatting-an sama temen saya itu dan satu teman lain yang cukup bisa mengalihkan perhatian dari badan yang nggak enak. Saya juga sempat jalan ke food area buat beli satu slice pizza yang harganya 10 ribu (astaga!) dan satu bucket fries seharga 25 ribu (ya ampun, ini namanya perampokan -_- ) demi perut dan badan supaya bisa bertahan sampai malam. Diputuskan kami mau ngantri bareng pas teman saya udah datang. Pokoknya nggak usah “ngaya” katanya. Okelah.

Nah, karena gate-nya dibuka jam 6, otomatis saya berharap sebelum jam 6 temen saya udah dateng ya.. Tapi, saya mulai panik karena dia bilang jalanan begitu macet (iya sih, namanya juga jam pulang kantor), dan waktu sudah menunjukkan jam setengah 6. Area sekitar juga sudah mulai crowded. Sudah banyak banget yang antri dan saya jadi semakin panik. Yah, mungkin karena waktu konser sebelumnya saya sudah antri dari pagi demi mematenkan posisi di depan sendiri. Entah deh kali ini saya dapat baris ke berapa. Harapan saya sih setidaknya masih di tengah. Meskipun memang secara keseluruhan antusiasme penonton konser yang ini masih kalah dibandingkan konser yang satunya. Jauh malah..
Dan akhirnya jam 6 kurang seperempat teman saya datang. Langsung kami lari ke arah antrian VIP. Dan ya ampun.. panjangnya.. -____-“

Oh iya, satu hal yang jadi perhatian saya di sini, saya nggak terlalu puas dengan kinerja promotor. Entah kenapa, banyak hal-hal kecil yang mengganjal dan membuat saya eneg setengah mati. Misalnya, keterlambatan pembukaan gate. Katanya gate dibuka jam 6, tapi jam 6 lewat lama baru dibuka. Belum masuknya juga lama banget. Ke dua, mereka terlalu banyak bikin aturan-aturan yang pada akhirnya tidak dilaksanakan sendiri oleh mereka. Misalnya nih ya, beberapa hari sebelum hari H, mereka bikin pengumuman kalau pas konser nggak boleh pakai tas punggung dan hanya boleh pakai tas slempang. Okelah, tapi malam sebelum hari-H, direvisi lagi pengumumannya kalau tas selempangnya hanya boleh sepanjang 30 cm maksimal. WTH. Kenapa juga harus dadakan begini? Oke, saya masih bisa terima. Termasuk aturan tidak boleh membawa kamera dan mereka sudah sangat getol menyuarakan aturan-aturan ini di twitter. Tapi faktanya? Pas masuk venue, boro-boro dilakukan body check sesuai aturan yang mereka tulis, tas saya aja nggak dicek. Sungguh saya muak sama ketidakkonsistenan aturan seperti itu. Helloo.. kalo niat mau bikin aturan dipraktekkin atuh, jangan cuma buat pajangan.. *annoyed*
Oke. Mungkin ada yang merasa saya lebay dsbg. But hey, the last time I attended a concert, the promoter’s so good! Dibandingkan sama yang ini, jauuuuuh banget. Saya nggak tau apakah salah satu penyebabnya karena promotor yang satunya kemarin promotor asing (yang kebetulan ada cabangnya di sini jadi pelaksanaan dan aturannya juga strict), but yeah, it made me enjoy the whole show. A lot! Nanti akan saya jabarkan bedanya apa. Now, moving on to the show..


Setelah masuk ke venue (tanpa dicek apa-apanya itu), saya dan teman saya ternyata cuma bisa mendapatkan spot di tengah. Lumayan lah, batin saya waktu itu. Setidaknya saya masih bisa liat panggung dengan cukup jelas, dan Avril mungkin akan kelihatan cukup jelas. Akhirnya, sambil menunggu, kami ndeprok di lantai dan ngobrol. Sambil nunggu jam 8.
Menjelang jam 8 malam, beberapa anggota band sudah keluar dan melakukan sound check. Penonton tiba-tiba heboh dan semuanya langsung berdiri terus lari berebut spot yang lebih depan. Saya sama teman saya kaget tapi akhirnya terbawa arus. Akhirnya semua orang sudah heboh dan mulai memanggil-manggil nama Avril. Saya juga cukup enjoy mengamati mas-mas band-nya yang mempersiapkan peralatan. Ada satu gitaris yang manis sekali. Saya nggak tau namanya siapa, yang jelas saya ngeliatin masnya terus sambil nunggu.. :p

Oke. Karena memori saya sudah mulai bermasalah dengan runtutan kejadian selama konser, saya cuma mau nulisin intinya aja.
  • Posisi saya di tengah. Lumayan lah bisa keliatan cukup jelas panggungnya. Dan karena teman saya lebih pendek dari saya, dia yang di depan saya. Masalahnya, banyak juga mas-mas berbadan tinggi yang ada di depan kami dan (sepertinya) tidak mau mengalah. Beberapa penonton sempat protes sama mereka tapi siapa sih yang mau menggubris di saat-saat begini? Bahkan sebelah saya pun ada mbak-mbak mungil yang saya yakin nggak bisa ngeliat panggung sama sekali. Di poin ini, saya benar-benar mempertimbangkan mengambil tribune. Lebih keliatan kali. Yah, next concert mungkin..

  • Waktu Avril keluar, semua penonton heboh. Jelas ya.. Saya juga ikutan heboh sih. Saya ikut teriak dan jerit-jerit. Nggak papa lah, mumpung suasananya pas. Kapan lagi saya bisa bebas jerat-jerit? #eh

  • Waktu pertama keluar, Avril tampak mengenakan atribut Hello Kitty. Pas sih sama lagu pertama yang judulnya juga Hello Kitty. Dia pake bando pita gedhe warna pink, blazer yang ada nuansa pink-nya juga, sama rok yang ada ornament kepala hello kitty-nya juga. Girly abis lah pokoknya.

  • Menjelang lagu kedua, Girlfriend, Avril mencopot semua atribut Hello Kitty. Dan yang tersisa adalah tank top hitam sama celana kulit. Pretty cool! Dan satu lagi, bagian kiri kepalanya kembali di shave. Sama rambutnya sudah kembali bernuansa pink setelah sebelumnya lebih cenderung blonde.

  • Suaranya bagus lho.. Cukup jernih untuk live. Tapi memang  kalau saya liat live performance-nya beberapa tahun terakhir, suaranya tambah bagus sih untuk live. Jadi ya nggak heran juga. Meskipun di beberapa lagu agak sedikit tenggelam sama instrumennya. But overall, she’s great! J

  • Di sebelah saya, ada sosok mas-mas yang menurut saya heboh banget. Sepanjang lagu, dia terus nyanyi-nyanyi (saya juga nyanyi-nyanyi terus sih). Tapi mas ini entah kenapa keliatan gimanaaa gitu. Di beberapa lagu, dia tetep keukeuh nyanyi-nyanyi meskipun dia nggak apal liriknya. Dan melihat saya heboh, dia juga sering ngelirik ke arah saya, seakan mastiin apa yang dia nyanyiin bener. Dia juga beberapa kali tanya ke saya ini lagu apa, kalau pas dia nggak tau lagu yang dimainin lagu apa. Sumpah saya berasa fans fanatik di konser itu (meskipun sebenarnya enggak). Dan sepanjang konser, dia selalu ngetwit! Mungkin semacam live report kali ya.. Ada deh setiap lagu dia ngetwit dua atau tiga kali. Saya sih ngerasa aneh aja.. XD

  • Saya harus bilang saya merasa berada di crowd yang salah. Well, don’t get me wrong. Sekitar saya cukup antusias dengan konsernya. Mereka cukup banyak yang nyanyi-nyanyi, terutama di lagu-lagu yang populer. Tapi sebagian besar terlihat kalem dan biasa aja gitu. Saya termasuk orang yang heboh sendiri. Saya akui nggak semua lagu baru di album Avril saya hafal. Misalnya, saya nggak terlalu suka Hello Kitty. Jadi pas lagu ini, saya cuma ngangguk-angguk sambil nyanyi bagian yang saya bisa aja. Atau pas Bad Girl, saya nggak hafal sama sekali. Tapi saya bisa enjoy dengan headbang sepanjang lagu (karena menurut saya musiknya pas sekali buat headbang). Dan sekitar saya banyak yang mliriki saya seolah-olah saya ini alien. Well, that’s my way of enjoying a concert dude.. Saya sih cuek aja.. :p

  • Di lagu Don’t Tell Me, Avril sempat bikin introduction, bilang kalo lagu ini dia tulis sama sahabatnya. Dan tiba-tiba foto Evan Taubenfeld nongol di layar besar. Saya dan banyak fans lainnya jerit-jerit, karena saya suka Evan dari dulu. Nggak nyangka aja namanya bakalan disebut-sebut setelah dia bukan bagian dari band-nya lagi. Tiba-tiba, mas heboh yang disebelah saya tadi bilang ke saya, “Ini Eric kan?”. Saya bingung, dalam hati mempertanyakan ini orang ngomong apa. Saya bilang ke dia, “Bukan. Ini Evan. Evan Taubenfeld.” Dan dia mengangguk, sambil ngetwit info yang saya bilang barusan. Oke, saya cuma bisa ngakak dalam hati.. XD

  • Beberapa kali Avril nggodain penonton. Di lagu He Wasn’t, dia sempet ngangkat tangannya beberapa kali, minta penonton teriak-teriak. Semakin ke atas tangannya semakin keras. Tapi habis itu dia bakalan nurunin tangannya dan musik terdengar semakin pelan, meminta kita untuk diam juga. Begitu terus-terusan, sampai saya rasanya capek dan bingung. Beberapa orang di sebelah saya bilang Avril lagi ngelawak. But it was fun. Dan kita juga asik-asik aja sih “digodain” begitu.

  • Di lagu Hush Hush, saya satu-satunya orang yang ada di area itu yang nyanyinya paling keras dari awal sampai akhir. Di titik ini, saya semakin sadar saya berada di kerumunan yang salah. Ini memang lagu baru sih. Tapi saya suka banget sama lagu ini, jadi udah hafal di luar kepala.

  • Nggak ada Chad Kroeger! Saya sempat berharap Chad bakalan ikutan konser ini. Karena di beberapa report yang saya baca sebelumnya, Chad sempat duet dengan Avril nyanyiin Let Me Go. But well, I guess we didn’t get the privilege. He wasn’t there. Jadi lagunya bukan lagu duet deh di konser ini. Huhu. Padahal kan suaranya Chad keren banget..

  • Lagu terakhir adalah I’m with You. And boy, everybody sang.. Suara koornya menggema sampai sudut stadium dan bikin saya merinding. Ini juga jadi lagu dengan bridge terpanjang. Berkali-kali Avril meminta penonton menyanyikan bridge-nya terus-terusan, over and over again.

  • Saya sudah bilang kan kalau saya naksir sama salah satu gitarisnya? XD He’s so cute! Tapi sayang saya nggak nangkep namanya waktu dikenalin sama Avril. Jeritan penonton mengalahkan suaranya.

  • Daaaaaan.. satu hal yang membuat saya dongkol sepanjang konser adalah, semua orang seakan berlomba-lomba untuk mengambil foto dan merekam. I mean, THE WHOLE TIME! Damn. Saya nggak habis pikir sama orang-orang ini. Sekali-dua kali foto oke lah. Tapi sepanjang konser? Geez! Nggak ada sedetik pun saya nggak liat tangan di udara sambil memegang kamera atau HP. Ini salah satu hal kontradiktif yang saya rasakan dari aturan yang dibuat. See? Pada akhirnya aturannya jebol. Dan ujung-ujungnya saya tidak menikmati. Saya jadi kangen konser OOR dimana semua security strict melarang kamera dan bakal langsung menggiring si perekam keluar venue.

Full Setlist:

Hello Kitty
Girlfriend
Rock N Roll
Here’s to Never Growing Up
I Always Get What I Want
Hush Hush
Let Me Go
My Happy Ending
Don’t Tell Me
Complicated
Bad Girl
He Wasn’t
Losing Grip
Sk8er Boi
What the Hell
Smile
I’m with You

And that’s what happened. Setelah konser selesai suara saya langsung serak, hampir hilang, gara-gara terlalu banyak jejeritan. But hey, it was fun! Dan badan saya juga herannya malah nggak papa. Meskipun bisa dikatakan konser ini jauh tidak melelahkan dibandingkan konser pertama saya sebelumnya, saya cukup puas. Cuma ya itu, tangan dan kamera di mana-mana itu membuat kekhusyukan nonton jadi terganggu. Dan sepanjang konser saya juga nggak ngambil gambar satu pun. Menyesal kah? Enggak juga sih. Saya punya value dan prinsip sendiri dalam menikmati konser. Mungkin buat sebagian orang aneh. Tapi saya justru merasa aneh jika harus menghabiskan waktu satu setengah jam itu struggling dengan kamera dan tidak menikmati lagu dan musiknya sepenuh hati. Saya lebih pengen mengenang semuanya di kepala. Kalau mau gambarnya, kan bisa gugling dan mendapatkan hasil jepretan yang lebih bagus dari fotografer profesional?
Yang jelas, saya juga berharap promoter-promoter di Indonesia bisa lebih baik lagi, terutama dalam menjalankan peraturannya. Kan malu menjilat ludah sendiri. Overall, this promoter is not my favorite. Berharap jika suatu saat band yang saya tunggu kedatangannya ke sini beneran dateng, promoter yang dipakai adalah yang keren seperti yang kemarin. *fingers crossed*

Setelah selesai, saya dan teman saya langsung menuju keluar gedung untuk cari taksi pulang. Kami harus jalan menyusuri pinggir jalan dulu biar dapat taksi, mengingat yang nyetop taksi juga banyak dan pastinya rebutan. Teman saya sudah dapat, dan tinggal saya sendiri. Tapi ternyata, banyak taksi yang menolak ngangkut penumpang jam segitu. Alasannya sih karena mau pulang sekalian. Jadilah saya berkali-kali nyetop dan ditolak lima kali. Tapi akhirnya jam setengah 11 kurang saya bisa dapat taksi dan pulang. Dan meskipun keesokan harinya saya harus bangun pagi-pagi sekali demi melanjutkan tugas sebagai karyawan dengan kaki yang rasanya nggak karuan, saya tetap puas. Bisa refreshing, dapat hiburan dikit. Dan well.. tentunya berharap ke depannya akan lebih banyak konser yang bisa didatangi. That’s pretty much my dream btw.. so yeah, hopefully there would be many more to come.. J

Thursday, November 28, 2013

MEET UP!!!


Setelah lama nggak nulis, dan galau nunggu konser (yang bakalan jadi konser pertama saya sepanjang hidup -tsaaah-), akhirnya semua itu terlewati juga. Tepat hari minggu kemarin, adalah hari bersejarah saya.. :D

Anw, semua hal tentang konser (dari awal sampai akhir) sudah saya tuliskan di tumblr (read it here). Jadi saya males ngulang apa yang udah saya tulis di sini. Pada intinya, konser OOR kemarin keren banget! Saya yang bela-belain dateng dari jam setengah tujuh pagi demi antrian paling depan ini merasa sangat amazed. I love those guys and all I want right now is to see them more! Okay, start saving. Next year, I have to aim higher! *fingers crossed*

Dan yang lebih banyak mau saya ceritain di sini adalah pengalaman saya selama 3 hari bersama sahabat saya dan 2 teman baru. :D

Yes, after being pretty active on tumblr, saya kenal 2 orang ini, Ash dan Beth. Dua-duanya orang Filipina dan dua-duanya juga suka sama OOR. Yang pertama kenal sebenernya sahabat saya yang kemarin nonton bareng saya. Tapi lama-lama, saya cukup banyak ngobrol sama mereka berdua dan akhirnya mereka memutuskan mau datang ke Indonesia demi liat konser OOR (dan ketemu kami). Sebenernya mereka nggak cuma dateng ke konser yang di Jakarta. Mereka mulai nonton sejak show di KL, Singapore, dan terakhir Indonesia. Bahkan satu dari mereka ada yg sebelum KL nyambangin Bangkok dulu. Ya, demi satu band yang menyatukan interest kami dan akhirnya bikin kami jadi temenan. lol (sumpah ini cheesy banget XD)
Sebenernya saya sih pengen bisa kayak gitu juga, tapi mengingat pendapatan masih mepet dan saya masih punya banyak kepinginan, saya sampingkan dulu itu (bahkan curhat sama ibu saya juga akhirnya disuruh sabar dulu). Siapa tau taun depan saya bisa nekat ke Jepang malahan.. *grinJadi ya akhirnya saya nunggu show yang di sini aja lah. Dan terbukti kan saya nggak menyesal? :)

Anw, hari Sabtu kedua teman saya itu udah landing di Jakarta dari jam 9 pagi. Tapi karena mereka dari beberapa hari sebelumnya sudah muter-muter di beberapa negara, wajar kalo mereka kecapekan dan memilih untuk istirahat. Sedangkan saya sama sahabat saya malah memilih menghabiskan Sabtu itu untuk jalan-jalan; nonton Catching Fire (yang ngomong-ngomong keren btw, mungkin saya tulis aja kali ya kesannya nanti), nukerin tiket ke rajakarcis buat hari Minggunya (dan ternyata di sana kita malah harus antri panjang banget karena lagi ada penjualan tiket cowboy junior -entah penulisannya bener apa enggak-). Dan setelah itu kami juga memutuskan cari kertas kado dan hadiah buat empat cowok aneh yang rencananya mau kami kasih pas konser. Dan ternyata, sorenya, kedua temen yang sebelumnya tepar di hotel itu malah ngajak dinner. Dengan berat hati kami tolak, karena pertimbangannya harus nyelesein something handmade buat besoknya dan kalo kami mau ngantri dari pagi, otomatis harus tidur lebih cepet dong ya? Tapi ternyata, sampe kosan, mbungkus-mbungkus dan bikin sesuatu itu membutuhkan waktu yang lama dan pada akhirnya saya cuma tidur 3 jam, dan sahabat saya itu ga tidur sama sekali. Errrrr~

Akhirnya minggu pagi sekitar jam 6 kami berangkat ke
venue. Karena nggak terlalu macet, sekitar jam setengah 7-an kami udah nyampe. Dan turun dari taksi, kami langsung menghampiri dua orang yang terduduk sambil terkantuk-kantuk di tengah pager-pager yang belum diberdirikan. Dua orang yang selama ini cuma diliat dari foto doang. Dan setelah liat kami berdua, mereka langsung menghampiri kami dan berpelukan.. XD (teletubbies banget sumpah)

Dan dari situ, kami ngantri sama-sama. Berpanas-panasan ria sama-sama, bahkan pas diusir dari antrian (karena ngantrinya bukan di tempat yang benar). Hujan-hujanan, hampir di-cut berapa kali sama orang sampai-sampai si Beth mukanya udah kayak mau nyakar orang yang nyolek dia, dan akhirnya pas masuk dan lari ke venue jam 6 sorenya pun kami beneran sama-sama, sampe dijagain tempat segala.. :')

Di konser kami lompat-lompatan bareng,
headbang bareng, dan bahkan karena mereka udah cukup banyak ikut konser begini, kami dikasih beberapa advise untuk meminimalisir desekan dari belakang (mengingat kami ada di barisan pertama dan tendency didesek itu sangat absolut). Dan bahkan waktu sahabat saya mau nglempar sesuatu ke panggung, kedua teman saya ini ikut mbantuin. Apalagi mereka pengalaman nglemparin boneka gachapin ke Toru pas di KL (XD). Pas barangnya udah dilempar ke atas panggung dan dibuka bareng-bareng sama si drummer dan vokalisnya, kami jejeritan kayak orang gila. Semakin lama semakin keras sampe mungkin orang-orang sebelah dan belakang saya bingung kami ini kenapa. lol


Dan hari itu diakhiri dengan kepuasan tingkat dewa nonton
band yang selama 4 taun ini saya tungguin kedatangannya. Kelar konser kami foto-foto dan akhirnya saya menuju ke booth merch (dan parahnya barang-barangnya udah habis semua) sedangkan mereka berdua balik ke hotel. Nggak dapet merch, akhirnya pulang. Jalan dulu sampai ke jalan utama yang jaraknya lumayan jauh dari venue, dan untungnya langsung dapet taksi. Sudah bisa diperkirakan malam itu kami tepar. Tapi seneng.. :3


Besoknya, bangunnya jelas kesiangan dan berasa nggak pengen bangun dari tempat tidur. Tapi kami ada janji sama kedua temen saya yang dari Filipina itu buat jalan-jalan dan makan. Akhirnya, setelah berdiskusi dan mesej-mesejan via FB, kami sepakat ketemuan di fX Sudirman. Katanya mau janjian di
Coffe Bean. Okelah. Nyampe sana ternyata mereka belom ada, jadi kami berdua jalan-jalan dulu ke atas. Tapi setelah desperate dan nggak pengen beli apa-apa, kami ke coffee bean lagi dan niat mau nunggu di sana. Ternyata, kami harus pesen biar bisa duduk. Dan karena kami belum makan dari pagi, selain pesen minum kami pesen quiche juga (yang ternyata harganya na'udzubillah, tapi enak sih).


Agak lama, dua orang itu muncul. Setelah ngobrol cukup lama dan ketawa-ketawa ngakak ngomongin konser malam sebelumnya, kami transfer data sebentar dan akhirnya mencari tempat makan yang mau disambangin. Mereka sih pengennya nyoba makan nasi goreng (karena Taka sempet bilang dia suka nasi goreng malam sebelumnya). Tapi pas dicari, kami cuma nemu
Ngalam (restoran khas Malang) di sana, jadilah kami makan di situ. Tapi ngeliat mereka excited liatin menu dan nanya-nanya makanannya gimana itu rasanya nyenengin banget deh. Ada yang pesen rames, bawal goreng, trus mereka juga pesen es cendol, nyobain sate cumi saya. Dan bahkan mereka sempet beli kripik tempe setelah tanya ke saya itu apa. Selama di restoran kami terus aja ngakak-ngakak berempat sampe diliatin sama tamu-tamu lain. Sayangnya, pelayan di restoran tidak menunjukkan tanda-tanda bisa bahasa Inggris dan setiap kali temen saya ngomong ke mereka, mereka malah ngeliat ke arah saya. Oh, come on~ fX itu kan tempat banyak para bule kumpul. Please deh.. *rolling eyes*


Setelah menghabiskan waktu cukup lama untuk makan siang (karena yang makan ikan makannya lama banget karena disambi ngobrol banyak hal dan harus misahin duri-duri halusnya sampe bener-bener bersih XD), kami melanjutkan perjalanan ke Monas. Yep, kedua temen saya ini pengen banget ke Monas. Sebenernya jarak ke Monas lebih deket sih dari hotel 
mereka di Jalan Juanda. Cuma karena pengennya ditemenin, ya akhirnya kami ikutan juga, sambil njelasin dikit-dikit tentang Jakarta lah (meskipun saya sebenarnya sangat nggak expert). 
Nyampe di Monas,
beuuuugh~ pedagang-pedagang riweuh masukin gerobak, motor, dan lain-lainnya ke area Monas pake pintu buat pejalan kaki. Jadinya cukup chaos dan saya sempat merasa aneh. Apalagi beberapa orang mulai suit-suitin temen saya. Dan ternyata jalan dari pintu gerbang sampai monasnya jauh. Kaki saya yang hari sebelumnya harus bekerja keras buat konser terpaksa mengalah lagi demi jalan ke Monas. Wkwkwk. Dan sayangnya, meskipun kami pengen banget naik ke atas supaya bisa lihat pemandangan Jakarta, ternyata sudah tutup. Waktu kami ke sana, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dan habis tanya abang-abang yang jualan di sana, baru tahu kalau jam operasionalnya adalah jam 9 – jam 3 sore. Too bad.. :(

Ya akhirnya malah foto-foto di depan monasnya aja. Tapi kami jadi ngerasain gimana rasanya pas anak-anak OOR ke Paris dan pas di depan Louvre, ternyata tutup.. XD Senasib berarti ya.. :p

Dari Monas, temen saya ngajakin ke Istiqlal. Keliatan deket sih ya dari sana, apalagi
dome masjidnya keliatan banget. Tapi setelah menyambangi ke arah jalan raya, kami baru sadar kalau jaraknya jauh, mana harus nyebrang jalan gedhe lagi.. Akhirnya saking bingungnya dan adanya cuma bajaj, saya tanya ke abang bajaj, bisa apa enggak naik bajaj berempat gitu. Katanya bisa. Setelah diskusi sebentar, maka diputuskanlah kami naik bajaj.. XD
Sumpah naik
bajaj itu, udah duduknya pangku-pangkuan, kami malah jejeritan sendiri di jalan. Sahabat saya hampir trauma karena takut setengah mati, sedangkan kedua temen saya yang lain malah ngakak-ngakak dan ngambil foto kita berempat di dalam bajaj. Seru sih tapi.. XD


Sampai di Istiqlal, mereka pingin masuk. Nah, karena saya agak khawatir temen saya boleh masuk apa nggak ke area masjid (mengingat dia non-muslim dan kebetulan pakaiannya juga kurang sopan), saya nanya ke petugas kemananannya. Katanya sih boleh-boleh aja, karena nanti ada yang mandu dan temen saya bisa dikasih semacam penutup yang bisa dipake pas keliling-keliling. Akhirnya kami masuk. Lumayan juga ternyata naik tangga di Istiqlal dan jalan di antara koridornya, terutama karena kaki saya udah nggak karuan rasanya. Dan yang paling seru adalah, waktu kami ke ruang penyimpanan alas kaki, kami ketemu sama dua orang
staff dari konser malam sebelumnya. Satu orang sound checker (gitar), dan satu orang lagi Film Director yang sepanjang konser ngeshoot live-nya dan berkali-kali wira-wiri di depan saya sampe saya apal banget sama mukanya.. XD

Tapi sayang, nggak sempet nyapa dan nggak sempet bilang terima kasih. Saya jadi mikir, jangan-jangan ni bapak nyari landscape Indo karena nanti beneran mau dibikin DVD tour-nya.. Wuh! :3

Anw, setelah puas jalan-jalan ke Istiqlal dan poto-poto, dan juga banyak cerita-cerita, akhirnya saya dan sahabat saya pulang ke kosan, sedangkan mereka mau balik ke hotel, ngambil barang-barang, dan langsung otw ke airport meskipun pesawatnya baru berangkat sekitar tengah malam. Dan pas pulang, duh.. macetnya bener-bener deh. Saya jadi inget waktu Beth dan Ash bilang salah satu hal yang mereka benci dari Jakarta adalah macetnya. Saya juga akhirnya jadi semacam curcol kalau salah satu hal yang bikin saya males keluar-keluar kalau di sini adalah kemacetannya. Untungnya hal-hal lain seperti orang-orangnya, makanannya, mereka suka sekali. Jadi mereka janji bakal datang lagi dan semoga next year kami berempat bisa ngumpul lagi. Yeaaah~ (with Elsie too, I hope.. :D)

Oh iya, pas makan di fX, Ash mulai bagi-bagi oleh-oleh. Ada coklat Apollo, majalah buat sahabat saya karena dia suka
translate artikel di tumblr dan memang dia suka majalah itu dari lama, dan kendama buat saya (yang ukurannya gedhe, bukan yang kecil yang sempat dibawa Ash ke venue biar nggak bosen). Kenapa kendama? Pas saya tanya alasannya, katanya karena Ash tau saya suka Taka yang notabene jago main kendama and she thought that I should too. LOL 
Sumpah deh ini alasan paling
cheesy tapi so sweet.. Thank you, Ash! :D Dia juga ngasih saya gelang bikinan salah satu OORer di tumblr yang dia beli dan ada tulisannya “TAKA”. Awwww~ :’)


Ngomong-ngomong, kenapa oleh-oleh buat kami ujung-ujungnya dari Jepang semua? Hahaha




Beneran deh. Semoga taun depan saya bisa nonton band ini lagi, entah di mana. Dan semoga saya bisa ketemu lagi sama teman-teman saya yang awesome ini. Japan, maybe? That would be really cool and a dream come true~ *whistling*

(PS. Saya pengen masang foto-foto kami di konser dan pas jalan-jalan sih, tapi karena bukan punya saya, jadi nggak usah aja kali ya.. :p)

Saturday, November 2, 2013

What I've Been Doing Lately..


Udah lama banget nggak nulis di blog ini. Antara males tapi nggak ada bahan buat diceritain. Well, sebenernya lebih banyak malesnya sih.. -___-"

Anw, sedang tergila-gila membaca Mortal Instruments akhir-akhir ini. Sejak nonton filmnya dan merasa bahwa ceritanya agak complicated dan juga review yang bilang kalo filmnya jauh kurang bagus dari bukunya, rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Jadilah, cari-cari bukunya sampe ketemu lima-limanya dan sekarang sudah memasuki buku ke empat. Yes, the books are better. IS better than the film. Kalau enggak saya nggak bakal ketagihan. :p

And this? This is (also) my latest addiction!


Knew this book from tumblr. Banyak ngreblog puisi-puisi dari pengarangnya, dan akhirnya memutuskan untuk cari ini buku (yang sumpah susah banget dicari). Pas galau-galaunya nggak bisa dapet dan bingung karena semua toko online minta cc buat bayar, akhirnya nemu di periplus.com. Pun harus diimpor dulu dan harganya bisa dibilang na'udzubillah untuk satu biji buku puisi. Tapi akhirnya tetap memutuskan untuk beli. Godaannya terlalu berat. Dan setelah hampir satu bulan menunggu.. akhirnya bisa megang juga.. X)

I know. Saya nggak pernah mbayangin bakalan beli buku puisi sebelumnya. Tapi entah kenapa puisi-puisi di dalam buku ini bagus banget. Pengen aja punya. Dan setelah menamatkan baca (yang sebenernya bisa diselesaikan dalam waktu setengah jam-an), pengen rasanya bisa ngasih beberapa puisi di buku ini buat seseorang (#eh #kokmalahcurhat).

So that's pretty much what happened. Beside the overwhelming work, pre-concert nervousness and all the preparations related to it, making a (ridiculous) shirt and fanart, I don't think something's really happened. But that's quite a lot if you ask me. Weww~ :3

Okay. Semoga nanti-nanti bakal ada yang lebih seru untuk diceritakan. And to end this post, here's two of my favorite poems from Lang Leav:


Wednesday, September 4, 2013

THE 4TH BOOK! FINALLY!

Karena hari ini saya lagi nggak ada kerjaan yang jelas, baiklah.. review buku aja deh.. 

Sooo.. beberapa hari yang lalu saya dapat lanjutan buku dari The Lorien Legacies. Buku ke empat lebih tepatnya, yaitu The Fall of Five. Dan memang sudah seperti yang saya duga sebelumnya, rasanya waktu baca buku ini.. saya nggak pengen berhenti baca!! X) Seriously.. this book is addictive!! 
Padahal biasanya saya kalau baca buku bisa aja gitu disambi-sambi. Kadang malah bisa juga baru baca dua halaman, terusin lagi nanti sore, atau malemnya. Pokoknya tergantung mood dan bisa lama banget selesai. Nah ini kok.. saya yang lagi nggak mood aja tetep keukeuh mau nyelesein ini buku karena setiap ending di satu chapter, rasanya terlalu penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Yes, I blame the author for making such a good book to read! huhuhu

Jadi, kalau sudah familiar dengan I Am Number Four, intinya adalah cerita lanjutan dari para Garde planet Loric yang dikejar-kejar sama Mogadorian. Lima Garde (nomor 4, 6, 7, 8, dan 9) dan satu orang Loric lagi yang lebih kecil (dan ternyata adalah nomor 10) pada akhirnya bersatu. Nah, setelah di buku sebelumnya mereka hampir kalah dari petinggi Mogadorian yang bernama Setrakus Ra, mereka sepakat untuk mempersiapkan diri mereka dengan berlatih dan berusaha mengembangkan legacy masing-masing sampai maksimal, sambil mencari nomor 5 yang masih belum bergabung dengan mereka. Intinya begitu lah.. 


Oke, karena kalau saya lanjutkan bisa jadi yang baca malah tambah bingung dengan alurnya yang padat, jadi ringkasannya segitu aja. Pokoknya, buku ini masih menceritakan lanjutan perjuangan mereka untuk bisa menyelamatkan Bumi dan menghidupkan kembali planet mereka, Lorien, yang sudah dihancurkan para Mogadorian. And I'm telling you.. twist ceritanya semakin lama semakin seru. 

Bisa dibilang, buku ini punya banyak tokoh. That's why sudut pandangnya pun juga banyak, nggak cuma satu orang saja. Dan gaya penceritaanya pun kalau saya bilang, sangat, sangat, sangat, sangat, bikin penasaran. 
Entah kenapa sejak saya baca buku pertama, saya udah jatuh cinta sama cara si pengarang menceritakan kisahnya. Antara lucu, tapi seru, dan menghibur sekali. Apalagi waktu itu menggunakan sudut pandang nomor 4 yang masih agak cupu dan naif, tapi sometimes juga bisa humoris. Dan semakin ke sini, semakin terlihat perubahan yang terjadi di setiap tokoh. Berkembangnya kedewasaan mereka dengan peristiwa-peristiwa yang dialami, dan bisa dilihat juga bagaimana pada akhirnya si nomor 4 di The Fall of Five ini juga bisa menjadi sosok pemimpin yang dipercaya oleh Garde lain. 
Dan alurnya, smooth banget! Kalau saya bilang sih, ending di setiap chapter bakalan bikin kita nggak tahan untuk buka halaman selanjutnya. Itulah kenapa pada akhirnya saya harus rela nggak tidur semalam suntuk dan membaca buku ini dari jam 2 sampai jam 6 pagi (meskipun akhirnya terpaksa stop ditengah jalan karena kepala saya udah cleng2an). But yeah. That good! :)

Sebenarnya yang bikin agak rancu adalah filmnya. Saya pernah bahas sebelumnya kalau film adaptasi dari I Am Number Four nggak terlalu bagus, dan beda banget sama bukunya. Beberapa orang yang saya kenal juga akhirnya nggak begitu tertarik baca series ini. Tapi kalau kita kesampingkan adaptasi filmnya (yang agak gagal itu) dan baca bukunya dari awal, sudah pasti bakalan betah mantengin kapan buku lanjutannya akan terbit. Terutama untuk yang suka genre fantasy dan action. Semakin lama pertarungannya juga keren. Bahkan pas baca buku ini, saya mbayangin adegan latihan mereka aja udah keren banget.
Oh iya, satu lagi. Saran saya sih baca yang bahasa Inggris karena entah kenapa bahasanya jauh lebih nyaman daripada yang terjemahan. Biasanya saya baca yang bahasa Inggris dulu, baru nanti saya beli versi bahasa Indonesianya untuk me-refresh sebelum buku lanjutannya terbit. Tapi tetep aja, bahasa asli memang lebih dapet feelnya. Dan joke-nya pun berasa lebih mantep. :D

Oh. Dan Lorien Legacies ini juga dilengkapi dengan novella yang terbit terpisah dari buku-bukunya. So far sepertinya sudah ada enam. Dan isi dari novella ini meskipun terpisah dari cerita utamanya (atau bisa dibilang tidak nyambung secara langsung), bisa menjadi cerita kunci yang membuat kita semakin paham alur keseluruhannya. Misalnya, latar belakang salah satu tokoh yang di buku tidak dijelaskan secara detil, atau masa lalu dari Garde yang akhirnya mengakibatkan mereka jadi seperti sekarang, dll. 
Biasanya novella diterbitkan diantara buku-bukunya. Dan untuk edisi bahasa Indonesia, novella 1-3 disatukan di terjemahkan buku kedua (The Power of Six). Mungkin nanti terjemahan The Fall of Five juga bakalan dikasih novella 4-6. Amiin. So far saya baru baca excerpt-nya yang disediakan di akhir buku. Bikin penasaran sumpah.. -_- Nggantung banget!

Bagi yang suka sci-fi, action, dan petualangan, sepertinya memang wajib mencoba membaca buku ini.. :D